
Di sebuah kolam renang belakang rumah yang terlihat mewah, Tania sedang berdiri mematung sambil melipat tangannya. Rambutnya basah sehabis berenang bersama anak dan suaminya. Ia pikir aktivitas tadi dapat mendinginkan kepalanya dari beban pikiran tentang permintaan Yrene agar membantu menyiapkan pernikahan Maya. Ternyata, ia masih juga terbebani. Tiga puluh menit yang lalu, Tania akhirnya memutuskan untuk mengundang tiga sahabat lainnya, Nina, Virsa dan Adel untuk datang ke rumahnya dan berdiskusi.
"Bu, tamu ibu sudah datang, "ucap salah seorang asisten rumah tangga Tania.
Tania menoleh dan mendapati ketiga sahabatnya itu berjalan menuju ke arahnya. Sejenak berpelukan, wajah mereka tidak sepenuhnya terlihat senang. Masing-masing dari mereka memahami, akhir-akhir ini aktivitas berkumpul lebih sering disebabkan oleh permasalahan yang sedang meliputi sahabat mereka lainnya yaitu Maya dan Yrene.
"Duh kenapa sih kalau lo manggil begini gue bawaannya gak tenang banget, ada apa lagi?" tanya Adel sambil menghempaskan dirinya ke sofa.
Tania menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai menceritakan pesan dari Yrene. "Sorry, tapi gue sekarang bahkan bingunguntuk menilai apakah kabar yang gue bawa ini merupakan kabar baik atau kabar buruk. Gue cuma punya satu kabar, tapi kabar ini rasanya seperti dua bilah mata pisau."
Menatap tegang wajah para sahabatnya, Tania melanjutkan kalimatnya. "Maya akan menikah, dengan Ikhsan yang notabene suami Yrene."
Tepat setelah Tania selesai bicara, mereka serempak memejamkan mata dan mengeluh sedih.
"Gila ya, tadinya gue masih berharap gak akan terjadi sampai seperti ini," lirih Nina.
"Terus kita harus gimana sekarang?" tanya Virsa dengan wajah bersungut-sungut, membuat semuanya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Virsa mengalihkan pandangannya pada Adel, "Del, setahu gue lo adalah orang yang lebih dekat dengan Maya diantara kita. Juga orang yang lebih awal mengenal Maya, kan. Kayaknya lo harus ngomong ke Maya gak sih?"
Adel mengerutkan alisnya, "Maksud lo? Apa yang harus gue omongin ke Maya? Meminta Maya untuk menghentikan rencana nikahnya gitu?"
"Ya ngomong apa kek, gue gak tega banget sama posisi Yrene," jawab Virsa kesal.
"Gue memang lebih dulu kenal Maya daripada kalian. Gue juga saat itu tahu kalau Maya pernah suka sama Ikhsan saat pertama kali kenal. Tapi gimana gue bisa tahu kalau ternyata perasaan suka Maya ternyata adalah perasaan cinta. Dia gak pernah cerita apapun ke gue. Apalagi kalau sampai kejadian akhirnya begini, gue bisa apa, Vir!" Adel tidak terima di pojokkan oleh Virsa. Walau bagaimanapun, dia merasa tidak berdaya untuk ikut campur pada perasaan Maya saat ini.
Mendengar nada suara Adel meninggi, Tania mencoba untuk menengahi. "Udah, udah. Benar kata Adel, kita gak bisa ikut campur terlalu jauh. Peran yang dibutuhkan dari kita bukan seperti itu."
"Tapi, menurut gue Yrene juga benar," Tania mengelus pundak Adel kemudian melanjutkan, "Selama ini kita cenderung lebih berpihak ke Yrene. Gue paham kita semua secara natural sebagai perempuan melihat Yrene yang paling menderita disini. Ini jelas gak adil buat Maya, kan. Menurut gue, kita harus jalin komunikasi lebih dekat lagi ke Maya. Juga memberikan dukungan apapun yang mungkin dibutuhkan saat ini."
Nina mendekap tubuhnya sendiri dan mulai berbicara dengan nada pelan, "Jujur, gue merinding. Seumur hidup gue gak pernah ngebayangin membantu menyiapkan pernikahan seseorang yang akan menjadi istri ke dua. Ternyata sekarang akan gue alami dan itu adalah sahabat gue sendiri, yang menikahi suami dari sahabat gue yang lain. Sesek banget gue, sumpah."
Kali ini mereka kompak menghela nafas bersamaan.
"Iya," timpal Virsa. "Gue juga gak tahu kira-kira bantuan apa yang bisa kita berikan ke Maya, ya. Lagian kita juga belum di info langsung loh sama Maya. Belum... diundang juga."
Tania memutar bola matanya, "Virsa, kalau lo di posisi Maya, gimana cara lo mau ngasih tau ke kita? Apa lo akan easily nyetak dan nyebar undangan pernikahan?"
Virsa menggeleng kemudian menunduk, "Sorry, otak gue bener-bener gak bisa jalan. Emosi gue doang yang meluap-luap."
"Lagian, gue juga ngerasa Maya ataupun Ikhsan tidak akan mengundang siapapun. You know, mereka juga akan nikah siri, kan," ucap Tania pelan seraya menjaga ekspresi mukanya agar tidak terlihat sedang mengasihani kisah Maya ataupun Yrene.
"Menurut gue, tidak perlu lah kita menerima informasi secara formal as per normal. Kisah Maya ini pelik, dan sebagai sahabat sudah sewajibnya kita memahami situasi Maya. Let's treat Maya just like a normal bride to be, like we used to do," usul Nina.
Adel mengangguk, "Ya, berhubung kita menduga Maya juga gak akan menyebar undangan pernikahan, kita juga gak bakal tahu kapan nikahnya, so... let's just bring her bridal shower?"
Sesaat mereka saling tatap, rasanya begitu aneh untuk melakukan kegiatan yang biasanya mereka lakukan dengan antusias namun kali ini dipenuhi dengan perasaan ragu. Seharusnya bridal shower Maya merupakan yang paling meriah sebab Maya adalah sahabat mereka terakhir yang belum nikah. Tetapi, dalam kondisi seperti ini keempat perempuan yang sedang berdiskusi itu terlihat begitu bingung.
Tania mengibaskan rambutnya seraya membuka bathrobe dan berjalan ke kamarnya, "Let's just move lah, Pajama's Party aja di hotel. Mainstream, mainstream deh sekalian. Yang penting kita harus beneran niat. Gue ganti baju dulu! Nina, set the party!"
Nina menelan ludahnya dan langsung tenggelam dalam ponsel memesan sebuah kamar hotel dan paket bridal shower. Sementara itu Virsa dan Adel saling tatap.
"Mesti langsung sekarang juga, ya? Susah nih gue nge set muka gue jadi bahagia. Lo gimana?" tanya Virsa. Adel mengangguk pelan menandakan setuju dengan ekspresi kesusahan.
***
Tania turun dari mobil dan melambai pada Arya. Membuat Arya berteriak ke arah dalam rumah untuk memanggil Maya. Tak lama, Maya muncul dan sedikit membuat Tania kaget. Tidak sampai 3 hari yang lalu Tania terakhir kali melihat Maya. Namun gaids itu sudah jauh terlihat kurus, pipinya begitu tirus dan wajahnya pucat. Tania mengigit bibirnya dan membatin sedih.
"Tan?" sapa Maya pelan.
Membalas pelukan Tania, mata Maya menghangat. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, tiga sahabat lainnya ikut turun dari mobil Tania dan bergabung dalam pelukan itu.
"Ah, kalian, thank you," ucap Maya dengan suara tercekat. Air matanya sudah menetes. Ia tidak menyangka bahwa ternyata ia masih sangat membutuhkan energi positif dari rasa sayang para sahabatnya itu.
"We will take you out tonight, our bride to be!" ucap Adel saat melepas pelukannya dan membuat Maya memiringkan kepala.
"Seriously, kalian gak perlu melakukan ini semua. Situasi gue mungkin bukan situasi yang bisa membuat kalian bahagia merayakannya," lirih Maya sambil menghapus air matanya.
Nina merangkul bahu Maya, "Lo, May. Ada di setiap nikahan kita dan selalu ikut hadir merayakan bridal shower kita semua. Demi apapun lo berhak atas apapun yang kita persembahkan untuk lo malam ini."
"Mungkin tidak semewah yang lo bayangkan tapi jujur, kita gak bisa melewatkan momen lo jadi bride to be, May!" Virsa ikut merangkul Maya.
Kini tubuh Maya diapit oleh Nina dan Virsa, membuatnya tak bisa mengelak lagi. Maya menoleh ke belakang, disana ada Arya, Mamanya dan kedua orangtua Ikhsan. Maya sekilas melihat Mamanya menyapu ujung mata menghapus air yang menggenang disana, sementara Arya tersenyum lebar sambil melambai. Saat Maya hendak dibawa masuk ke mobil Tania, Arya berteriak. "Jangan parah-parah ya girls! Adek gue masih perawan lugu!"
Mau tidak mau teriakan Arya tadi mengundang tawa Maya dan sahabat-sahabatnya. Saat Tania menginjak gas mobil Maya mengepalkan tangannya. Ada perasaan aneh di hatinya yang ia tidak dapat pahami. Maya menduga ini hanyalah perasaan gugup, tetapi sisi kritis otak Maya seakan berbisik pada Maya bahwa bukan momen bridal shower seperti ini yang pernah ia bayangkan. Bukan, bukan dengan kondisi seperti ini.
***
Rayyan menyesap sebuah minuman kaleng dingin yang baru ia ambil dari kulkas rumah Galang. Ia lalu berjalan ke taman samping rumah dan mendapati Galang sedang melakukan push-up tanpa baju. Tubuh lelaki itu sudah mandi keringat dan rambutnya sudah lepek karena basah. Tetapi matanya, mata Galang tetap tajam. Jelas seklai bahwa pikirannya saat itu sedang tidak berada disini dan sedang memikirkan hal lain.
"Jadi apa strategi lo kalau Maya jadi nikah dengan Ikhsan?" tanya Rayyan saat Galang berhenti sejenak mengambil nafas.
"Strategi itu gak ada dalam list gue," ucap Galang singkat sambil terengah-engah.
Rayyan memiringkan kepalanya bingung, "Maksud lo?"
"Obviously, dia gak akan nikah sama Ikhsan!" Galang mengambil posisi sit-up.
Rayyan membuka mulutnya dan tergagap, "Lo... Lo masih berhutang permintaan maaf secara pribadi ke Ikhsan demi approval kerugian project platform web kita loh, man! Jangan bilang lo berniat mengacaukan pernikahan Maya dan Ikhsan. Udah gila lo?"
Galang meringis, "Gue semakin gak sudi melihat Ikhsan yang akan menikahi Maya dan menjadikan dia istri ke dua. Rasanya gue gak akan bisa meminta maaf dengan tulus."
Rayyan menggelengkan kepalanya. "Terus mau lo apa?"
Menghela nafas di sela gerakan sit-up nya, Galang menjawab, "Mau gue, Maya gak nikah sama Ikhsan!"
"Terus nikahnya sama lo gitu?" tembak Rayyan yang mulai kesal. Lagi-lagi Galang berniat untuk berbuat sesukanya. Tapi kali ini, jangan harap Galang bisa melakukannya. Ia akan sekuat tenaga menjaga level kewarasan sepupunya itu.
Galang menggeleng, "Engga. Maya bukan typical cewek yang melihat cinta seperti memilih barang. Jika ada yang bagus lalu segera beralih. Dia bisa menjaga perasaan cintanya bertahun-tahun. Gak akan mudah untuk membuat Maya memalingkan mukanya karena ingin menggandeng pria lain. Dia ga segampangan itu, man."
"Lalu?" tanya Rayyan yang tidak paham kemana arah pembicaraan Galang.
"Entahlah, gue saat ini sebenarnya sedang sangat bergantung pada rasa percaya gue ke Maya. Jika Maya masih percaya sama gue, itu artinya gue masih punya kesempatan. Dan itu, gak akan gue sia-siakan meski gue harus mempertaruhkan segalanya," jawab Galang dengan pandangan tajam.
"Bergantung?" tanya Rayyan lagi.
"Ya. Gue meminta Maya untuk memastikan Ikhsan tidak memperburuk kondisi gue saat memberi keterangan di persidangan besok. Lalu jika Maya memang melakukan itu dan berhasil, that's it! That's it yang gue butuhkan. Itu adalah green light, sinyal jelas bagi gue untuk berjuang sepenuhnya, termasuk hadir dan membatalkan pernikahan mereka kalau perlu," jelas Galang.
Rayyan membuka matanya lebar-lebar dan menumpahkan minuman dari sela bibirnya. Ia kini yakin bahwa sepupunya itu sudah gila.
***
Halo pembaca yang baik!
Mohon dukungannya untuk like, comment dan votenya ya!
Love, Author.