
Sebuah pesawat baru saja mendarat di bandara kota, menghantarkan ratusan orang turun dengan urusan masing-masing. Bersama kaki-kaki yang berjalan cepat memasuki pintu kedatangan, Galang dengan sepatu kulitnya yang berwarna coklat tua berjalan dengan tegap. Meski ia harus didampingi oleh petugas dari pengadilan negeri, ia cukup yakin karena disampingnya juga ada Pak Haris, pengacaranya dan PA sekaligus sepupunya, Rayyan.
"Pak Haris sudah yakin kan tentang semua berkas dan jalannya persidangan hari ini?" tanya Galang saat mereka sudah duduk di mobil.
Pak Haris membenarkan posisi kacamatanya dan mengangguk yakin. "Saksi korban akan hadir dengan menggucanakan video conference tetapi pengacaranya akan hadir di pengadilan. Mari berdoa bersama agar sidang berjalan lancar."
Rayyan dan Galang saling tatap sejenak dan mengangguk bersamaan. Lalu Rayyan membuka ponselnya dan memastikan kembali jadwal bosnya itu. Selepas dari persidangan, Galang harus menghadapi 'para tetua' untuk memastikan nego pembayaran dana kerugian client mereka. Meski didalam hati Rayyan yakin bahwa orang-orang tua yang duduk disana akan kekeuh agar Galang mengadakan siaran pers permohonan maaf.
Begitu sampai di area kantor pengadilan negeri, sejumlah wartawan langsung mengerubungi mobil yang berisi Galang dan Team. Di dalam hati, Galang mengakui bahwa memang saksi korban alias Ikhsan sebaiknya tidak menghadiri sidang di kantor pengadilan. Kepalanya akan sangat sakit sekali melihat respon dari para wartawan ini. Galang menarik nafas dalam-dalam saat ia memasuki ruang persidangan dan kemudian duduk di kursi pemeriksaan terdakwa.
Saat persidangan dimulai dan layar putih menghadirkan Ikhsan yang tengah duduk di tempat tidurnya dengan perban kecil dikepala, Galang sedikit terkejut. Kondisi Ikhsan sungguh banyak kemajuan, ia bahkan tidak terlihat speerti orang yang pernah mengalami koma. Seluruh wajahnya sudah segar kembali, tidak ada bekas membiru atau bengkak seperti cerita dari Pak Haris 2 hari yang lalu. Ikhsan juga memberi senyum dan salam saat memastikan ia terhubung pada video conference di ruang persidangan. Galang menghembuskan nafas lega, ia punya firasat baik atas jalannya persidangan hari ini. Terlebih lagi, ia yakin bahwa Maya sudah melakukan permintaannya, yaitu memastikan Ikhsan tidak memberikan keterangan yang memberatkan Galang.
***
1 jam sebelum jalannya persidangan, Ikhsan sedang berbicara serius dengan Pak Jason, pengacaranya. Meski sudah sepakat akan keterangan yang akan Ikhsan berikan, Pak Jason butuh memastian sekali lagi tidak ada perubahan tuntutan pada Galang nantinya.
Yrene baru saja kembali dari lobi rumah sakit, mengantarkan asi perahnya pada layanan ojek online untuk dikirim pada Ianvs. Tubuhnya terasa sangat enteng hari ini, sekaligus sedikit lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Semalaman ia menghabiskan waktu bersama Ikhsan, membicarakan banyak hal dan saling jujur terhadap perasaan masing-masing. Meski memang terkadang ada perasaan ngilu yang menelusup saat mendengar perkataan jujur Ikhsan, tetapi entah mengapa Yrene justru merasa lebih ringan melangkah. Rasa percayanya pada cinta yang ia miliki untuk Ikhsan semakin menguat.
Memasuki ruangan Ikhsan, Yrene memberikan senyuman agar suaminya itu semangat. Yrene tahu bahwa persidangan hari ini, seperti yang semalaman mereka bicarakan, hanya sebagian besar formalitas. Yrene menuruti saran dari Bimo untuk memastikan Ikhsan agar tidak memperpanjang masalah dengan tidak memberikan keterangan yang memperberat posisi Galang. Yrene membantu Pak Jason untuk melakukan setting kamera agar posisi Ikhsan bagus saat dilaksanakan video conference nanti.
Sementara itu, Maya baru saja sampai di lobi rumah sakit. Ia menerima pesan singkat dari Galang yang berisi mohon doanya. Maya tersenyum dan membalas dengan sebuah emoticon tangan berotot dan kalimat 'I knew you, You can do it.'
Saat Maya memasuki ruangan rawat Ikhsan, ia menarik nafas. Ia tiba-tiba teringat akan pesan Galang, ia benar-benar ingin membicarakan hal itu beruda saja dengan Ikhsan. Tetapi, ruangan ini justru sekarang ternyata dipenuhi oleh banyak orang.
"Hai May," sapa Ikhsan saat menyadari kehadiran Maya. Perempuan itu hanya tersenyum sebentar dan memilih duduk di sofa karena kursi disamping Ikhsan sudah diduduki Yrene dan Pak Jason, pengacaranya.
Maya meremas jarinya, mendoakan dalam hati akan kesempatan Galang bebas dari tuntutan. Kondisi Ikhsan toh juga sudah jauh membaik. Maya berharap permasalahan pelik ini terurai dan selesai di persidangan tanpa ada perpanjangan. Demi Galang, agar bisa melanjutkan hidupnya dengan baik.
Sebuah nada telepon terhubung pada ruangan sidang pengadilan negeri terdengar dengan baik. Maya menelan ludahnya. Ia meminta maaf sedalam-dalamnya pada Galang karena tidak sempat membujuk Ikhsan, meski kelihatannya Ikhsan juga tidak menaruh dendam pada Galang. Mungkin, juga dikarenakan Ikhsan akhirnya berhasil mendapatkan Maya. Saat persidangan sudah dimulai, maya memejamkan matanya, melantunkan doa agar hati Ikhsan melembut ketika memberikan keterangan sebagai saksi korban.
***
".... demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa Pengadilan Negeri yang memeriksa dan mengadli perkara-perkara pidana dengan acara pemeriksaan biasa pada tingkat pertama telah menjatuhkan putusan sebagai beriku..." ucap Hakim yang terdengar dari speaker ponsel Ikhsan saat hakim menjatuhkan putusan perkara pada Galang di kantor pengadilan.
Maya memejamkan matanya erat, dan menyebut nama Galang beberapa kali dalam doanya.
"... menimbang oleh karena terdakwa dibebaskan, maka haruslah dipulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, harkat serta martabatnya..."
Maya menghela nafas lega saat putusan bebas diucapkan oleh Hakim Ketua. Dan saat proses persidangan selesai, Maya melihat Yrene memeluk erat Ikhsan. Ia langsung menunduk, rasanya pemandangan itu benar-benar tidak nyaman baginya. Bukan karena ia tidak senang melihat Yrene yang memeluk Ikhsan, suaminya, tetapi Maya benar-benar merasa canggung pada situasi ini.
Yrene menyadari perubahan pandangan dan sikap Maya, ia segera melepas pelukannya pada Ikhsan dan berniat untuk segera pulang. Toh ia sudah meninggalkan Ianvs cukup lama di rumah tanpanya.
"May, gue pamit ya. Gue titip Ikhsan," ucap Yrene dan Maya mengangguk.
Sebelum Yrene berbalik, ia menghentikan langkahnya dan berbicara lagi, "Maya, terimakasih. Gue gak bisa pungkiri, Ikhsan pulih begitu cepat, mungkin karena keberadaan lo."
Maya menggeleng, "Kata Dr. Adrien justru tubuh Ikhsanlah yang merespon pengobatan dengan baik."
"May," lirih Yrene. "Dalam dunia medis kita mengenal bahwa motivasi dan tujuan hidup sangat berpengaruh pada tahap kesembuhan pasien. Dan keberadaan serta harapan yang lo beri pada Ikhsan, memulihkan dia."
Yrene kemudian berkata lagi, "Juga, gue berharap lo memahami posisi gue. Gue akan selalu menguatkan diri dan belajar menerima lo di kehidupan Ikhsan. May, Maaf gue gak bisa berbohong kalau hati gue gak bisa sepenuhnya berbahagia melihat pernikahan lo ini. Tapi gue udah menyiapkan hadiah untuk hari spesial lo besok."
"Bb..be, besok?" tanya Maya heran.
Yrene langsung menyadari sesuatu, "Ah, lebih baik Ikhsan yang mengabarkan ini pada lo." Yrene tersenyum dan pamit pergi. Kali ini langkah tidak seberat hari-hari kemarin.
Yrene juga tidak bisa memahami mengapa semakin mendekati hari dimana Ikhsan akan menikahi Maya justru hatinya semakin merasa diringankan. Mungkin ini cara Tuhan untuk menolongnya, menguatkan dirinya. Seperti kata pepatah yang mengatakan, saat ujian berat jangan minta agar masalahmu dihilangkan melainkan mohonlah kekuatan. Ya, things that doesn't kill you, make you stronger.
Sesampainya di mobil, Yrene memutuskan tidak langsung pulang melainkan memacu mobilnya ke suatu tempat. Untuk membeli hadiah yang ia janjikan untuk pernikahan Maya dan Ikhsan. Hadiah yang hanya bisa dirinya seseorang yang memberikan. Menghembuskan nafas dan merasakan genangan air mata menghangat di pelupuknya, Yrene tersenyum.
Oh begini ya rasanya ikhlas, gumamnya.
Dan tanpa Yrene atau satu makhluk di dunia ini tahu, mungkin, mungkin, keikhlasan wanita yang sedang menahan air matanya agar tidak jatuh itu justru mengundang surga datang menyambutnya dengan pintu terbuka.
***
Ruangan rawat Ikhsan sudah sepi, meski kedua orangtua Ikhsan masih akan menunggui Ikhsan. Tetapi mereka seperti sengaja keluar dari ruangan dan pergi ke tempat lain untuk memberi ruang dan waktu pada Ikhsan agar ia bisa berbicara pada Maya, calon istrinya.
"San, tadi Yrene bilang besok hari spesial buat aku? Maksudnya apa ya?" tanya Maya langsung saat pintu ruangan Ikhsan baru saja di tutup oleh calon ibu mertuanya.
Ikhsan tersenyum, "Kamu sih, buru-buru pergi bareng Tania CS, gak mau tahu dulu apa yang dibicarakan Ayah dan Bundaku ke Mama dan Arya."
Maya menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Lamaran kan?" tebaknya.
Mengangguk, Ikhsan tak dapat menahan tawanya, "Juga tanggal nikah."
"Hah?!"
"Kok hah?"
Maya menyadari ekspresinya yang mungkin tidak pantas. Ia buru-buru memperbaiki postur tubuhnya dan bertanya lagi, "Kok seburu-buru itu? Kamu bahkan belu discharge dari rumah sakit juga, kan?"
"Iya, tapi kan rasanya gak pantes, kalau kamu dan aku terus bertemu dengan keadaan tanpa status yang jelas. Iya, kan, sayang?" Ikhsan terdengar kaku pada kalimat terakhirnya.
Mengulum bibirnya dan menahan diri agar tidak mendebat, Maya mencoba mencari tahu alasan yang tepat. Tetapi ia tidak dapat menyusun kata-kata.
Ikhsan menyadari Maya yang bingung, "Kita hanya akan menikah di depan penghulu, mengucapkan akad, dan resmi menjadi suami istri. Akad aku minta diadakan di Hotel Royale, gak jauh dari sini. Jadi aku akan menandatangani pemohonan pemberhentian perawatan di rumah sakit dan setelah akad akan pindah ke rumah sakit yang lebih dekat dengan rumah. Besok pagi, hari Jumat. Waktu yang bagus, kan?"
Maya memang menduga bahwa pernikahan dirinya dan Ikhsan akan berlangsung dalam waktu dekat, tapi ya tidak langsung besok juga. Ia sedikit memaki Tania CS yang buru-buru menculik dan menahannya semalaman menginap di hotel untuk merayakan bridal shower, yang menurut Maya cukup terkesan aneh dan dipaksakan. Yah, walaupun ia tetap menghargai usaha para sahabatnya itu. Pagi ini saja Maya tak sempat kembali ke rumah Arya dulu, ia langsung berangkat dari hotel menuju rumah sakit untuk menemani Ikhsan di persidangan. Sekaligus memastikan dan... mendoakan kebebasan Galang.
"Ada hal apa lagi, May? Kamu mau ditunda?" tanya Ikhsan pelan. Ia menatap mata Maya yang segera menunduk.
Maya menggeleng pelan, ia tidak sanggup berdebat dengan Ikhsan dan mata sendunya. Mungkin apa yang dikatakan Yrene benar, Ikhsan memang terlihat sangat baik saat ini. Mungkin karena ia bersemangat mengatur penikahan.
"Yah, aku kan belum... perawatan apa-apa juga sih, belum beli baju pengantin juga, yah... Yah meski pernikahannya tertutup, aku, gak perlu dandan aja gitu, ya?" tanya Maya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Ikhsan mempererat genggaman tangannya, "Aku punya teman, namanya Giska. Dia MUA, biasanya teman-teman photographer aku pakai jasa dia saat make-up in client di acara nikahan. Kamu bisa lihat profile nya nanti, sekaligus dia juga punya butik baju kebaya nikah. Kalau kamu gak suka, kamu bisa cari yang lain."
"Yah, kondisi kita kan memang lagi gak ideal. Lagian aku tahu kamu akan semakin gak nyaman kalau kita menunda pernikahan lebih lama lagi. Atau misal kita harus nunggu jum'at minggu depan. Aku janji, soon kondisi membaik, let's have a proper moment for everything," ujar Ikhsan sambil tersenyum, menunjukkan lesung pipitnya yang begitu dalam.
Maya mengangguk, ia mengambil ponsel Ikhsan yang sedang menampilkan profile Giska, teman MUA yang Ikhsan ceritakan. Pikiran Maya tidak bisa fokus, ia terpaksa menyetujui saya tawaran Ikhsan. Siang ini, ia akan menghubungi Giska dan menemuinya di kantin rumah sakit.
***
Jgrek!
terdengar suara sebuah pintu kamar hotel dibuka.
"Yrene?!" pekik Tania tak percaya akan keberadaan sahabatnya itu di depan pintu.
Yrene memutar bola matanya, mengetahui bahwa para sahabatnya yang sekaligus sudah jadi ibu-ibu semua itu masih mengenakan piyama di jam 12 siang.
"Anak-anak dan suami kalian gak protes apa kalian masih ngumpul disini?" tanya Yrene sengit sambil menyeruak masuk ke dalam kamar hotel. Keadaan kamar itu begitu berantakan, terlihat jelas sisa-sisa perayaan pesta lajang Maya disana. Lipstik dan tissue-tissue yang bernoda, bungkus minuman dan makanan, juga kertas dan balon yang berhamburan.
"Yah hitung-hitung kita juga break dan liburan tipis-tipis, lah, Rene," kilah Virsa yang baru keluar dari kamar mandi.
Tiba-tiba Yrene merasa tubuhnya remuk oleh pelukan seseorang. Tak lain itu adalah Nina yang baru saja terbangun dari tidur paginya.
"Yrene!! Huhuhu, lo kenapa sih pakai acara datang kesini? Hati lo udah sehancur apa? Ini pelukan gue membantu untuk merekatkan hati lo yang retak-retak gak, beb?" tanya Nina sambil menenggelamkan wajahnya pada punggung Yrene.
Yrene tersenyum, ia kemudian membalik badan dan membalas pelukan Nina.
"Nin," sapa Yrene.
"Hm?" jawab Nina.
"Lo bau banget tau, gak?"
Nina sontak melepas pelukannya dan berusaha mencium aroma badannya sendiri, membuat Yrene dan sahabatnya yang lain ikut tertawa.
"Ih, iseng banget sih lo, kan keki gue" ucap Nina sambil melipir ke arah tasnya dan merogoh parfum. Set, set, set, ia menyemprot parfum ke bagian atas tubuhnya dan tersenyum senang.
Sejenak, mereka melepas rindu dengan kehebohan seperti biasanya. Ada perasaan aneh di hati Tania, seolah Yrene datang dengan lebih ceria. Menyadari itu, Tania memberikan kedipan pada Adel. Sebuah sinyal agar Adel mengambil alih topik pembicaraan.
Giliran Adel yang membuka pembicaraan, "Sorry ya, Rene. Kita bukannya gak memahami situasi lo. Tapi rasanya aneh jika Maya menikah dan kita gak merayakan apapun. Sementara dia terus menerus mendampingi setiap kali kita nikahan."
Yrene tersenyum, "Duh, iya gue tahu. Kalian gak usah merasa bersalah gitu. Gue juga paham kok pasti sulit juga buat kalian merayakan ini. Juga buat Maya saat menerima perayaan ini."
Ada hening yang menggantung di udara. Yrene kemudian menghela nafas.
"Maya dan Ikhsan akan menikah besok." Ucapan Yrene ini membuat ke empat sahabatnya itu memekik dengan suara tertahan.
"Maya mungkin juga baru tahu hari ini. Sebenarnya keputusannya kemarin sore. Tapi belum sempat Maya tahu, dia udah di boyong kalian.Semuanya serba kilat sih untuk beberapa alasan yang gak bisa kita basah sebab akan begitu panjang dan lebar. Karena itu pula, Maya mungkin gak sempat mengatakan apapun pada kalian. So, here I am. Inviting all of you," kata Yrene mengangkat bahunya dengan tersenyum.
"Ya, akad mereka akan diadakan besok pagi, di Hotel Royale. Gue, gue gak tahu apakah bisa dan sanggup hadir. But, as Maya's best friend too, I should give her a wedding present. So here I give you all of this," ucap Yrene sambil memberikan mereka 2 buah tas kertas besar.
Tania menelan ludahnya, ia menduga ada sesuatu yang akan mengejutkan. Bersamaan dengan tangannya yang gemetar mengeluarkan isi dari tas kertas besar itu, suara Nina dan Virsa memekik lemah.
"Baju Bridesmaid? Untuk kita pakai di nikahan Maya?" tanya Adel dengan suara mencicit.
Virsa langsung memegangi keningnya, "Tunggu, tunggu, gue kayak ngerasa lagi deja vu tapi dengan perasaan yang lebih menyesakkan."
Berdiri sambil memegang dinding untuk memastikan ia tidak jatuh pingsan, Virsa kembali berkata, "Yrene, it's you again, give all of us a bridesmaid dress for a wedding, but not for your wedding?"
***
Halo pembaca yang baik?
Uh gemes kah anda sama jalan cerita yang terus memaksa bergerak maju?
Kapankah ini semua berakhir?
Masihkah anda menunggu kehadiran Galang yang 'katanya' berniat ingin membatalkan rencana Ikhsan?
Hihihi, jangan lupa dukungannya dengan like, komen, vote dan share ya!
Stay safe.
Love, Author.