The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Tuhan, Tolonglah



Maya sedikit lebih tenang setelah turun dari taksi online.


Ia turun disebuah tempat favoritnya di kota ini.


Tempat ini adalah sebuah pelabuhan kecil dimana para pelancong kaya biasanya melabuhkan diri setelah berlayar dengan yacht ataupun sail boat.


Tidak begitu banyak bangunan tapi setiap hotel memiliki gaya khas nya tersendiri. Beberapa bangunan restaurant merupakan restaurant pribadi milik chef ternama.


Karena terbilang mahal dan mewah serta sangat di jaga keamanannya, tempat ini tidak sepenuhnya komersial.


Untuk dapat berkunjung ke area ini, perlu memiliki akses tertentu.


Bagi komersial, membership harus dibeli dengan harga yang cukup mahal dan dengan level tertentu pula.


Bagi yang memiliki koneksi, mereka mempunyai tanda pengenal semacam kartu khusus yang menandakan bahwa kartu itu diberikan oleh salah satu owner bisnis di area itu.


Maya termasuk golongan yang ke dua. Ia pernah membantu seorang janda tua yang terseret hutang untuk merebut kembali bangunan sebuah restaurant di area ini. Ia meliput berita tersebut dan hasilnya viral.


Dukungan dari warga net serta publikasi menyeluruh membuat ranah hukum menjadi lebih bijak.


Kasus hukum diselesaikan dengan pantas dan si pemilik bangunan memenangkan kasus dari rentenir picik yang juga merupakan mantan suaminya.


Maya mendapatkan kepercayaan dari si pemilik bangunan sebagai kerabat dan diberikan kartu akses khusus tersebut.


Sebuah reward yang sangat menyenangkan.


Ia sering mengunjungi tempat ini sendirian saja sebagai escape moment.


Tak banyak tempat yang Maya kunjungi di area ini sebab ia sudah sangat nyaman dengan restaurant favoritnya.


Restaurant milik si janda tua.


Arsitekturnya sangat unik, sebuah kapal layar yang sangat besar.


Sering kali Maya teringat komik masa kecilnya yang sangat ia sukai, tentang bajak laut dan teman-temannya yang bermimpi menguasai lautan dengan menjadi bajak laut terkuat di dunia.


Mengunjungi dan makan di restaurant ini rasanya seperti sedang ikut berlayar di kapal bajak laut tersebut.


Maya memasuki restaurant "The Cabin" dengan menunjukkan sebuah kartu akses.


"Bienvenue, Ma Lady" sapa pelayan di pintu masuk sambil menunduk dengan tangan mendekap di dadanya.


"Merci" Maya mengangguk dan membalas dengan senyum. Ia kemudian dipandu ke sebuah meja yang selalu ditempati Maya.


Tentu saja sang pelayan hapal, karena Maya selalu duduk di kursi tersebut setiap kali datang.


Tak lama berselang, Madame Sophie menghampiri Maya. Ia adalah sang janda tua yang telah menjadi kerabat Maya.


"Oh ma belle Maya, apa kabar?" sapa hangat Madame Sophie sambil memegang tangan Maya.


"Baik Madame, Madame sehat?"


"Duduklah duduk, saya sehat. Kamu terlihat lebih kurus dari yang sebelumnya, dear" ucap Madame Shope dengan nada khawatir layaknya seorang ibu pada anaknya.


"Benarkah? Mungkin saya hanya lelah bekerja, Madame. Hidup sendirian di kota ini tidak mudah" ujar Maya ringan. Kalimat terakhirnya dia ucapkan dengan gaya berbisik seolah malu kalau ada yang mendengar kata 'hidup sendiri'.


"Oh dear, apa perlu Madame carikan Monsieur untuk mu? Aduh, tapi Madam tidak punya kenalan Monsieur muda.


Tidak apa-apa kah yang tua juga? Asal banyak uang?" tanya Madame Sophie sambil tersenyum genit.


"Tentu saja Madame, kalau perlu carikan yang sangat kaya dan umurnya hanya tinggal 2 bulan!" jawab Maya lagi tak kalah genit.


Keduanya lalu tertawa hangat dan saling menggoda layaknya teman lama.


Madame sampai harus mengelap setitik air mata karena tertawa bersama Maya.


"Hidup memang suka bercanda, dear" ujar Madame Sophie kemudian.


Tangan kanan Madame kemudian menggenggam tangan Maya, tangan kirinya mengelus lembut pipi Maya.


"Ma belle Maya masih belum bisa melabuhkan cintanya.


Saya berdoa kali ini sangat tulus, agar Maya memiliki kesempatan mencintai dan memiliki.


Jangan terlalu lama berlayar Maya, lautan kehidupan kadang memabukkan.


Berlabuhlah agar kamu tidak larut dan lelah" suara lembuh Madame Sophie membuat bulu kuduk Maya berdesir hingga menelusup ke jantungnya.


"Merci beaucoup, Madame" sahut Maya lemah, ia sungguh terharu dengan sikap lembut dan penyayang Madame.


"Someone is calling you, dear" ucap Madame Sophie sambil memberi isyarat pada ponsel Maya yang berkedip di atas meja.


Ia lalu menunduk tanda berpamitan.


Maya mengambil ponselnya dan mengetuk tombol hijau di layar.


"Halo?" sapa suara di sebrang sana.


Suara yang sangat ia hapal, suara yang masih sama terputar di otaknya dan bersarang di pusara kenangan Maya.


"Halo." jawab Maya meski bibirnya kelu.


Maya mendengar helaan nafas lega dari suara di ponselnya.


"May, ini gue. Ikhsan"


Maya mengerdip berusaha agar ia tetap sadar.


Berada di restaurant dengan suasana menenangkan seperti ini dan mendengar suara Ikhsan lagi, membuatnya seperti diseret kembali berhadapan dengan perasaannya.


"Gue, udah selesai meeting dengan Galang.


Lebih cepat satu jam."


Suara Ikhsan terhenti, tapi Maya tidak tahu harus merespon apa.


Logikanya ingin bertanya kenapa jadwal meeting bisa secepat itu berakhir, tapi logika itu sembunyi meringkuk di tawan oleh perasaan yang berkecamuk di hatinya.


"Punya waktu?" tanya Ikhsan lagi. Suaranya pelan dan halus.


Seolah sangat berhati-hati atas reaksi Maya.


"Punya"


"Kamu sekarang dimana? Biar aku ke sana."


Setelah Maya memberikan detail lokasi dimana ia berada dan cara akses menuju ke restauran Madame Sophie, telepon berakhir.


Bulu kuduk Maya meremang, bukankah baru beberapa menit yang lalu Madame Sophie mendoakan hal baik pada Maya?


Bahkan Madame Sophie masih terlihat mondar-mandir di restaurant dan sekarang memberikan lambaian pada Maya yang menatapnya dari jauh.


Madame Sophie lalu mendatangi Maya kembali.


"Sudah mau Order?"


"Nanti, Madame" Maya menjawab ragu.


"I'm waiting for someone" jawab Maya pelan.


Madam Sophie tersenyum lebar, ia mengangguk dan mengedipkan matanya sembari berlalu dari meja Maya.


***



Ikhsan memarkir mobilnya dan segera turun. Cuaca masih cukup terik tapi langit begitu jernih berwarna biru.


Kepulan awan seputih kapas berkumpul di atas batas datar air laut.


Dengan bangunan antik layaknya kapal layar, restaurant yang berlatar belakang langit menjadi object yang sangat epic.


Ah, seandainya ia bisa menangkap momen ini di kamera.


Ikhsan berjalan memasuki ruangan restaurant, dan segera ia mengenali sosok Maya yang duduk membelakanginya.


Perempuan itu duduk ditepi sebuah jendela berbentuk lingkaran besar.


Pemandangan dari sana menampilkan lautan, langit, awan dan sebuah kapal yatch yang sedang berjangkar.


Benar-benar sebuah pilihan meja yang sangat bagus.


Perlahan, Ikhsan berjalan menuju Maya. Perempuan itu masih membelakanginya.


Dengan menarik nafas, Ikhsan melepas cincin nikahnya lalu menyelipkannya di saku celana.


Sambil berjalan, jari telunjuk dan jari tengah ia silangkan.


Bibirnya kemudian berbisik pelan pada dirinya sendiri, 'Tuhan, tolonglah.'


Ikhsan kemudian duduk di kursi sebrang Maya.


"Hi May" sapanya dengan senyum.



***


Hi pembaca yang baik 🙋


Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞