The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Your Turn 1



Suasana kantor TechnoMedia Corp. hari ini terlihat cukup sepi dan tenang. Hal ini dikarenakan ada rapat para pemegang saham & pimpinan perusahaan yang sangat penting, sedang berlangsung di Lantai 2. Bahkan di lantai 1 dan di depan ruangan rapat terdapat beberapa penjaga tambahan untuk memastikan keamanan dan kelancaran rapat. Seluruh staf dihimbau untuk melaksanakan rapat lain di luar kantor, sebisa mungkin kantor di jadikan sangat kondusif untuk agenda hari ini.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, menandakan pertemuan yang telah berlangsung sejak jam 7 pagi itu telah sampai di penghujung agenda yaitu, closing. Pemimpin rapat hari ini yang juga merupakan CEO TechnoMedia beranjak berdiri.


"Alright ladies and gentlemen, Thank you very much for all the effort and updates. It's been a very fruitful meeting.  Meeting minutes and summary will be delivered to you by email. See you in the next 6 months," ucap Galang dengan suara yang tegas dan senyum tipis. Kalimat penutup Galang tadi disambut anggukan ramah dari peserta rapat dan setelah itu, suasana di ruangan menjadi lebih santai.


Beberapa orang menghampiri Galang, mengucapkan selamat atas pencapaian luar biasa tahun ini. Meski ada gejolak pada bulan lalu, untung saja insiden penyebab gejolak itu cepat ditangani. Kejadian itu juga tidak banyak mempengaruhi performa perusahaan. Dan hari ini, tepat 8 tahun sudah Galang memimpin TechnoMedia tanpa cela.


Sebuah usaha yang tak mudah, juga merupakan sebuah pembuktian valid bahwa Galang sangat memahami tujuan bisnis perusahaannya. Setelah pertemuan ini pun, Galang harus melihat jadwal yang sudah di susun Rayyan. Kemungkinan besok atau lusa Galang akan menemui calon-calon perusahaan yang ingin bergabung menjadi anak perusahaan TechnoMedia. Galang terus menganggap bahwa keberuntungannya ini merupakan sebuah karunia yang tak terhingga. Menyebabkan ia wajib untuk berterimakasih, pada seseorang. Ya, seseorang yang juga duduk di ruangan itu, memandang Galang dengan senyum bangga. Dia adalah Pak Wijaya, seorang mentor yang juga memiliki saham dan pengaruh bagi perusahaan dan diri Galang. Dia juga adalah, ayah dari Ratri.


Galang berjalan dengan tenang ke arah bapak tua itu dan mengambil sebuah kursi untuk duduk disampingnya. "Pak Wijaya, Terimakasih sudah hadir dan sangat membantu seperti biasanya. Mari ke ruangan saya, Pak."


Tersenyum ramah dan beranjak berdiri dengan bantuan tongkatnya, Pak Wijaya berjalan disamping Galang. Setelah sampai di dalam ruangan Galang, Pak Wijaya menepuk pundak Galang beberapa kali lalu memeluk tubuh tegapnya.


"You have done very well, young man!" ucap Pak Wijaya dengan suara serak khas orang tua.


"Terimakasih, Pak! Kan, Semua ini juga berkat panduan bapak! Kalau tidak, bisa apa bocah tengil yang punya energi berlebihan seperti saya ini," kata Galang terkekeh lalu duduk di sofa bersamaan dengan Pak Wijaya.


Pak Wijaya dengan kedua tangan yang bertumpu pada tongkatnya itu memmelintir kumisnya, seolah memikirkan sesuatu. "Kelihatannya kali ini TechnoMedia memasuki tahapan dimana ia akan cukup stabil di puncak selama beberapa saat. Aku sudah dengar tawaran kerjasama dari perusahaan bendera biru tua itu. Tawaran yang sangat menguntungkan."


Belum sempat Galang menjawab, ada sebuah ketukan pelan di pintu. Galang tersenyum mengangguk saat Rayyan masuk ke ruangannya sambil membawa sebuah nampan berisi dua buah gelas tembikar yang mengepulkan asap dari teh panas. Harum teh itu segera menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Teh spesial ini disajikan hanya untuk tamu-tamu kehormatan Galang.


"Benar, sangat menguntungkan. Untunglah saat itu Rayyan bersikeras membujuk saya melakukan konferensi pers permintaan maaf itu. Permasalahan pribadi yang dulu tidak sempat mengganggu citra baik TechnoMedia," jelas Galang sambil memberi lirikan 'pergi' pada Rayyan. Tugasnya untuk menjual nama Rayyan saat sepupunya muncul di depan Pak Wijaya sudah selesai.


Rayyan yang merasa namanya sudah disebut tersenyum ramah pada Pak Wijaya, ia juga langsung pergi menurut saja pada sinyal yang Galang berikan. Meski sebenarnya sangat ingin memiliki nasib yang sama seperti bosnya yang mendapat sebagian besar modal usaha dari Pak Wijaya, Rayyan mau tidak mau harus tahu diri. Ia saat ini belum punya cukup nilai untuk dipandang oleh Pak Wijaya.


Setelah menutup pintu ruangan Galang, Rayyan menyempatkan diri untuk mengintip dari sela jendela kaca yang tak tertutup. Ia ingin memastikan Galang menjual namanya lagi pada Pak Wijaya. Sebab jika saja orang tua itu memandangnya dan memberi modal usaha juga, Rayyan bahkan tidak akan segan untuk menerima syarat perjodohan dengan putri kedua Pak Wijaya. Adik Ratri yang bernama Kinasih dan berprofesi sebagai model, tentu tawaran yang tidak buruk. Tapi sayang, Galang yang menyadari bahwa Rayyan masih mengintip segera sadar dan menghampiri jendela lalu menutup sempurna tirainya.


"Ah ya, benar juga! Siapa itu perempuan yang terlibat urusan asmara sama kamu, Lang? Dia karyawan disini juga, kan?"


Ditanyai pertanyaan yang tak Galang duga, mukanya sedikit memerah. "Ah, saya pikir Pak Wijaya tidak menaruh perhatian untuk topik itu."


"Hahaha, awalnya tidak. Aku pikir kamu beneran baku hantam dengan konsultan kita. Tetapi rupanya karena perihal asmara juga."


"Mantap juga informan Pak Wijaya," puji Galang yang membuat orang tua di depannya itu kembali memelintir kumis.


Sempat ada hening sejenak, Pak Wijaya kembali berbicara. "Galang, jadi sudah selesai kah urusan dan permasalahan pribadi mu itu?"


Galang menhela nafas panjang, "Urusan dengan konsultan kita sudah selesai, Pak. Kerjasama tetap dilanjutkan, pembayaran kerugian klien sudah dibayarkan juga."


Pak Wijaya mengangguk, "bagus, Galang. Lalu dengan perempuan itu?"


Hampir saja Galang mengigit lidahnya, "hm, baginya mungkin sudah selesai. Tapi bagi saya, sepertinya belum."


Pak Wijaya kembali mengangguk, "dengar anak muda, tampaknya putri kedua ku tidak menaruh minat pada mu. Dia masih dendam perihal almarhumah kakaknya. Aku tidak bisa menawarkanmu jodoh yang baik lagi, jadi kamu harus mencarinya sendiri."


"Tidak perlu mencari, Pak. Saya merasa seperti sudah menemukan. Hanya saja dia tidak berbalik menemui saya," jawab Galang sambil menyesap teh, berusaha menetralkan pahit di ujung lidahnya.


"Kenapa perempuan yang justru menemui? Ah, kamu terbiasa memperlakukan mereka bagai bawahanmu, Galang. Belajarlah dari penyesalanmu dulu, berikan apa yang dulu tak kamu berikan. Mungkin waktu akan memberimu kesempatan lagi," Pak Wijaya beranjak berdiri hendak menuju pintu keluar.


"TechnoMedia saat ini sedang stabil, bahkan semesta sekarang memberimu waktu luang. Kejar lagi orang yang kamu tunggu itu. Dan berikan apa yang dulu tak mampu kamu berikan. Aku pamit, dan berikan salamku pada Rayyan si pemuda teh itu. Sajian dan pilihan rasanya selalu bagus."


Galang membelalakkan matanya, tak ia sangka strategi Galang berhasil untuk menambah penilaian Pak Wijaya terhadap Rayyan.


"Dan lagi," ucap Pak Wijaya sambil tiba-tiba berbalik. "Dia itu, si Rayyan suka menguntit akun sosial media Kinasih, semua foto dia sukai, hahaha! Jaman sekarang begitu cara kalian memberi sinyal suka, ya! Tidak gentle sama sekali! Suruh dia main ke rumah kalau berani, begitu kata Kinasih. Jadi, tolong sampaikan pada Rayyan, ya!"


Ah, kalimat perpisahan yang di ucapkan Pak Wijaya bagai angin segar untuk Galang. Kali ini ia bisa berbalik 'memeras' Rayyan untuk informasi dan kabar baik dari Pak Wijaya. Dengan riang, Galang melangkah keluar dari ruangannya setelah memastikan Pak Wijaya telah menghilang sempurna dari kantornya.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sebegitu pas nya keberuntungan Galang hari ini. Ia memergoki Rayyan yang sedang menatap layar ponsel yang menampilkan akun sosial media milik Kinasih.


"Heh! Lagi apa, lo?"


Suara dan kehadiran Galang yang hadir tiba-tiba mengejutkan Rayyan. Sontak ia berdiri dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kotak karton.


"Duh, ngagetin aja sih lo! Ada apa, sih?!" protes Rayyan. Ia lalu menjulurkan lehernya ke arah ruangan Galang.


"Udah pulang, Pak Wijaya mah. Lo lagi apa sih? Gak bosen stalking anaknya Pak Wijaya mulu?" pancing Galang.


"Ini, tadi gue habis nyabutin sticky notes dari pintu kaca ruangan Maya lagi. Udah kelar, ya gue nungguin lo buat makan siang bareng aja," jawab Rayyan sambil memunguti kertas warna warni yang berjatuhan dari kotak karton di bawah mejanya.


Setelah bersih, Rayyan meletakkan kotak itu di meja. Galang mengambil satu per satu kertas yang terus bermunculan itu hampir setiap hari. Kertas itu merupakan bentuk protes karyawan TechnoMedia yang menginginkan Maya kembali bekerja. Sebab mendapatkan review pekerjaan langsung dari Galang sebagai pimpinan tertinggi disini, membuat mereka begitu frustasi. Ya, seperti janji Galang pada Maya, selama chief editor nya itu tidak hadir di kantor, maka semua pekerjaan Maya dilimpahkan pada Galang. Dengan begitu, pekerjaan tidak akan terhenti dan posisi Maya sebagai chief editor tidak perlu dicarikan penggantinya.


"Yah ngapain dicari sih, Lang? Semua orang yang baru keluar dari ruangan lo dan kena marah lo pasti langsung bakar dupa dan nempelin kertas doa alias sticky notes ini di ruangan Maya, berharap Maya kembali. Udah stres banget mereka punya ad interim chief editor kayak lo," jawab Rayyan sambil menahan tawa.


Galang menutup kotak karton itu dan mengambilnya. "Besok kalau lo ngumpulin kertas-kertas doa ini lagi, kasih ke gue ya!"


"Buat apa?" tanya Rayyan.


"Buat gue kirim ke orangnya langsung!"


"Hah, serius lo mau nemuin Maya?!"


Galang menaikkan alisnya, "kok kayaknya lo seneng banget?"


Rayyan berdehem, suaranya memang kelepasan begitu antusias. "Ya senenglah, udah capek gue ngadepin lo akhir-akhir ini. Yang bisa ngebuat lo mingkem manutan kan cuma Maya."


Hampir saja kepala Rayyan kena jitakan dari tangan Galang, untung ia gesit menghindar. Baginya, sudah terbiasa adu fisik seperti saling piting dengan Galang. Untuk orang yang tidak familiar dengan mereka, pasti bisa sangat salah sangka.


Membenarkan jas nya, Galang lalu duduk di atas meja Rayyan. "Hm, hampir aja gue lupa. Siang ini gue lagi pengen makan di resto apa itu, yang lo bilang private resto hanya bisa di kunjungi oleh registered member?"


"Arcturus? Hm bisa sih dikunjungi non member, tapi harus reservasi 1 minggu sebelum," jawab Rayyan.


"Nah, lo punya kan membershipnya? Sini buat gue!" ucap Galang sambil terkekeh.


"Hah?" Alis Rayyan terangkat tak mengerti topik yang dibawakan Galang.


"Gue punya kabar baik dari Pak Wijaya, buat lo!"


Hampir terpekik, Rayyan langsung mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas dari dompet dan menyerahkannya pada Galang.


"Sumpah, gampangan banget sih meras lo? Tau gini gue minta yang lebih mahal!" keluh Galang sambil menerima kartu dari Rayyan dan menyelipkannya ke dalam saku jas.


"Jadi," ucap Galang.


"Jadi?" potong Rayyan tidak sabar.


"Pfft," Galang menahan tawa. "Lo julurin lidah dulu deh, mata lo udah kaya anak anjing yang bakal diajak jalan sama majikannya!"


Rayyan menahan nafasnya, "serius dong, Lang. Ngarep banget gue, ini!"


"Gue juga serius!" balas Galang ketus.


Memutar bola matanya dengan kesal, Rayyan akhirnya melakukan apa yang Galang minta.


Setelah puas terbahak sambil memegangi pipinya yang keram, akhirnya Galang berkata, "Lo diundang Kinasih dan Pak Wijaya untuk datang ke rumah mereka."


Manik mata Rayyan membesar, "serius lo? Bakal apa gue kesana?"


Galang yang sudah beranjak pergi akhirnya menghentikan langkahnya. "Ah, itu. Gue juga lupa tanya. Di suruh nyajiin teh, kali?"


***


Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan Galang sudah cukup lapar. Setengah hari ini tenaga dan pikirannya benar-benar terkuras habis untuk rapat penting pagi tadi. Untungnya semua berakhir baik dan sempurna. terlebih lagi ia bisa memberikan kabar baik pada Rayyan. Membuat perasaannya hari ini begitu ringan.


Sambil menunggu makanan pesanannya datang, Galang memandangi buku menu. Semua visual tampak begitu menggiurkan. Ia tak sabar untuk datang lagi dan mencicipi menu lainnya. Ah, pasti sangat menyenangkan jika bisa mengajak seseorang kesini. Sayang, tadi Rayyan sudah terlanjur panik dengan undangan Pak Wijaya dan kehilangan selera makannya.


"Galang?"


Galang menoleh pada panggilan seseorang yang terdengar familiar. Saat ia menoleh, isi perutnya yang kosong mendadak terasa mual.


"Ikhsan?!"


***


Halo pembaca yang baik!


Jangan lupa like, komen dan votenya ya!


Stay Safe.


Love, Author.