The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
D Day 2



Sebuah gerbong kereta tampak lengang. Jendela-jendelanya yang terbuka di tembus pias cahaya matahari dari langit pagi. Kaki kecil Maya yang sedang duduk berayun-ayun, tangannya sibuk menyuapi makanan ringan berperisa coklat kedalam mulut kecilnya. Maya sedang memperhatikan pemandangan berupa hamparan sawah dan ladang yang sejak dulu ia kagumi.


Perjalanan dengan kereta ini merupakan kegiatan yang paling ia sukai semasa Sang Papa hidup dahulu. Biasanya setiap akhir bulan Papa Maya akan pergi mengunjungi rumah almarhum kakek dan neneknya yang sudah kosong tidak berpenghuni di sebuah desa yang jauh dari kota. Agar rumah itu tetap terjaga, maka selalu didatangi dan dibersihkan. Bagi Maya kecil, ini seperti liburan akhir pekan yang selalu ia nantikan. Kini, rumah itu di huni oleh Mama Maya.


"Maya? Hei? Sini!"


Saat Maya menoleh, ia mendapati papanya berdiri tepat dibelakang kursi yang ia duduki.


"Sini, itu bukan kursi untuk kamu. Ayo duduk disini, disamping Papa," ajak Papa Maya sambil mengayunkan pergelangan tangannya.


Maya mengerutkan alisnya dan bertanya-tanya dalam hati. Bukankah sejak tadi ia sudah duduk disitu? Kenapa kursi itu bukan untuknya? Namun, Maya yang saat ini sedang melihat melalui tubuh masa kecilnya itu tidak ambil pusing. Dengan riang ia melangkahkan kakinya menuju ke kursi belakang dan duduk bersama Sang Papa.


"Maya, Papa punya cerita. Mau dengar?" ucap Sang Papa sambil mengusap kepala putri nya.


Mengangguk, Maya menatap mata Papanya dalam-dalam, seolah Maya kecil tahu bahwa inilah waktu yang ia rindukan.


"Maya, suatu saat nanti kalau ingin pergi berlayar dan berpetualang, mau naik kapal seperti apa dan mau mengunjungi tempat yang seperti apa?"


Alis Maya langsung berkerut, gadis kecil itu tampak berpikir keras. Tak lama, bibir kecilnya tersenyum dan menjawab, "Maya mau naik kapal yang besar, kuat, dan bagus! Lalu mau mengunjungi tempat yang seru, banyak makanan enak dan menyenangkan!"


Sang Papa mengangguk, "Maya, jika kamu ingin memilih kapal, pilihlah kapal yang tangguh dan mampu menghantarkan kamu pada tujuanmu, Nak. Jangan sampai salah memilih dan menaiki kapal. Jika salah memilih kapal yang tidak tepat, kapal tersebut bisa menenggelamkan kamu pada lautan yang dingin dan dalam. Lautan yang ganas tak jarang mampu merebut kehidupan."


Papa Maya masih melanjutkan, "Jika salah menaiki kapal pun, kamu bisa tersesat. Tidak sampai pada tempat tujuan. Tersesat di tempat yang mungkin tidak pernah kamu inginkan ataupun bayangkan. Jadi, yang Papa inginkan adalah Maya juga harus cermat dan berani menentukan langkah kaki Maya. Melangkahlah pada kapal pilihan Maya hanya jika Maya benar-benar yakin bahwa kapal itulah yang akan membawa Maya pada tempat tujuan Maya."


***


Alarm ponsel Maya berdering berulang kali, memaksa matanya terbuka meski terasa begitu berat. Belum sempat ia duduk sempurna dari tidurnya, pintu kamar Maya terbuka.


"May! Ayo siap-siap!" perintah Arya sambil sigap membawa koper berisi peralatan yang sudah Mamanya siapkan.


"Kok lo yang semangat banget sih?" tanya Maya sambil menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap.


Arya menggelengkan kepalanya, "Ya iyalah, gue semangat! Akhirnya adek gue laku juga. Hahaha!"


Maya yang berdecak kesal, "Alah, paling lo kesenengan kan jadi wali nya gue?"


"Ih bukan!" kilah Arya, "kalau jadi wali doang mah, Insya Allah umur panjang anak gue nikah ya pasti bakal gue juga yang jadi wali nikahnya."


"Trus kenapa dong?" cecar Maya seraya berjalan masuk ke kamar mandi.


Arya menghentikan langkahnya sejenak sambil terlihat berpikir, "Hm, entahlah. Gue merasa hari ini akan menyaksikan kehebatan dan ketangguhan lo menghadapi hidup, May."


Maya memutar bola matanya, "Mengahadapi hidup? Mau tanding kali gue!"


Saat pintu kamar mandi tertutup, Maya mendadak teringat akan mimpinya tadi. Alis Maya berkerut dan ia menarik nafasnya dalam-dalam. Mimpi yang aneh, sebab Maya masih seolah mendengar kalimat-kalimat lengkap Sang Papa. Sambil menguyur kepala dengan hangatnya air shower, Maya mencoba memahami kembali apa arti nasehat Papanya.


***


Menunduk dan mencubit pipi Virsa, Tania terkekeh-kekeh. Masih pagi buta begini, Tania sudah dapat kesempatan untuk menjahili Virsa adalah salah satu kepuasan tersendiri. Mengingat sahabatnya yang satu itu memang sering kali membuat sebal dirinya dan sahabat lain.


"Duh, Tania! Sakit tau!" teriak Virsa saat terbangun sambil memegangi pipinya.


Teriakan Virsa membangunkan Nina yang mendadak berdiri sambil merapikan rambutnya, "Hah? Iya! Siapa yang sakit? Akadnya jadi batal aja?"


"HUSH!" Teriak Tania, Virsa dan Adel bersamaan. Adel baru saja keluar dari kamar mandi dan masih berbalut bathrobe. Mereka bertiga serempak menegur Nina yang mengigau karena terkejut saat bangun dari tidurnya.


Sontak Nina menepuk dan membungkam mulutnya sendiri, "Astaga, gak sengaja gue. Tertekan mental gue sampai kebawa mimpi. Sorry guys, I didn't mean it! Sumpah!"


Mendadak, bulu kuduk Tania meremang. "Duh, udah-udah. Cepat aja kita siap-siap. Lalu nanti barengan datengin dan surprise-in Maya dengan baju bridesmaid ini. Maya kan belum tahu kalau kita punya baju bridesmaid untuk nikahan dia."


Virsa menelan ludahnya lalu berkata, "Jujur gue nelangsa banget mau makai bajunya. Apalagi mengingat ini yang ngasih Yrene."


Adel pun terduduk di sofa, "Gue juga. Lemes banget rasanya. Gue gak tahu harus berekspresi seperti apa."


Mendadak suasana jadi suram, Nina jadi merasa bersalah. "Aduh, sorry ya. Bukan maksud gue bawa-bawa negative vibe. Cuma memang gue akan tertekan aja, terus terang gue resah banget. Kepikiran terus. Ingin bahagia karena Maya menikah, tapi disatu sisi hati gue nyut-nyutan mengingat Yrene."


Tania menghela nafas dan menepuk pundak Nina, "Kalian jangan lupa pesan Yrene dan alasan kenapa Yrene menyiapkan baju bridesmaid ini. Dia mau kita bisa mendukung Maya, karena dia tidak hadir. Orang tua Yrene juga melarang Yrene untuk menghadiri acara ini. Jadi ingat, ada harapan Yrene agar kita juga bisa menopang dan mendukung Maya. Terlepas dari situasi apapun. Yah?"


Ketiga sahabat Tania itu pun mengangguk pelan.


"Eh tapi," sela Virsa. "Sewaktu Yrene ngasih tas kertas buat kita semua, kenapa ada satu tas kertas yang dia bawa pulang ya? Itu tas isi belanja dia atau jangan-jangan..."


Nina, Tania dan Adel melirik tajam Virsa.


"Maksud gue, dia gak akan datang dengan baju bridesmaid, kan?" tanya Virsa lagi.


Nina, Tania dan Adel serempak menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, "Ya enggaklah!"


***


Halo pembaca yang baik?


Mohon dukungannya dengan like, komen dan vote nya ya!


Stay Safe and Shabar bisa kalique.


Wkwkwkwkwk


Love, Author