The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
All I want is, you 1



"Kamu Galang, kan?!" Maya tidak dapat menahan diri untuk tidak berteriak. Suara itu, memang tidak terlalu banyak kata yang terucap untuk bisa yakin mengidentifikasi, tetapi Maya tahu itu, suara Galang. Bos pemilik TechnoMedia. Mau apa pula dia kemari?


Di balik topi dan pandangan yang menunduk, pria itu tersenyum. "Oh, jadi mbak nya ini mau ngajakin kenalan, ya? Bilang dong baik-baik," dan pria itu membuka topinya lalu menjulurkan tangan.


Manik mata Maya membesar, ia melihat wajah itu lagi. Alih-alih menyambut uluran tangan pria tadi, Maya kembali berteriak. "Galang! Ngapain lo disini? Lo ngikutin gue ya?"


Maya sebenarnya tidak ingin sejudes itu menyapa sang bos setelah dua bulan tidak bertemu. Tapi entah kenapa dia bersikap seperti ini, ia juga tidak tahu. Bisa saja mungkin karena Maya belum siap berbicara atau berhubungan dengan orang lain sejak peristiwa besar itu


Alis mata pria itu berkerut, "Hey! Siapa yang ngikutin siapa?" Ia kemudian mengarahkan telunjuknya pada motor Maya yang terparkir di samping halaman rumah.


"Mbaknya yang kemarin sore lewat depan rumah saya sambil geber-geber motor, kan? Nah kalau mbaknya memang sepenasaran itu, Ayo mulai kenalan baik-baik," ujar pria itu lagi, kembali mengulurkan telapak tangannya.


Menatap tajam dan kesal, Maya lalu membalik badannya. Ia menutup asal pintu gerbang dan berjalan cepat ke arah dalam rumah. Mukanya memerah, membuatnya mendadak merasa kepanasan. Ah, perasaan macam apa ini?! Segera Maya berlari masuk ke kamar dan merebahkan tubuh sebelum mamanya menanyakan perihal kejadian barusan.


Sementara di luar sana, pria itu masih terdiam menatap pintu rumah Maya yang tidak tertutup sempurna. "Jyah, dia ngambek," lirihnya.


Ia kemudian berjalan ke arah gerbang rumah Maya dan menutup slot kunci gerbang. Ia menaiki sepedanya dan mulai mengayuh pedal. Melanjutkan sisa agendanya pagi ini. Tentu, dengan senyum terukir di wajahnya.


Saat cahaya matahari lembut dan hangat menerpa tubuhnya, ia menghentikan sepedanya sejenak lalu memejamkan mata. Merasakan terpaan halus angin dingin yang mulai menghangat serta meresapi suara cicit burung dan hewan pagi lainnya.


"Hai Pagi, bantu aku menyapanya hari ini," bisiknya, masih sambil tersenyum.


***


Maya memeluk gulingnya dengan gusar. Ia sudah membolak-balik tubuhnya beberapa kali ke kanan dan ke kiri. Matanya kali terpaku pada layar ponsel yang menyala, membuka sebuah halaman chat dengan contact bernama 'Galang.' Terakhir kali akun itu online adalah 30 menit yang lalu.


Pria tukang koran itu, sudah pasti Galang. Tetapi kenapa ada perasaan tidak yakin di hati Maya? Mengigit ujung jempol tangan kanannya, Maya memutar kembali memori penampilan pria tukang koran itu. Tidak seperti yang terakhir kali ia lihat, jika benar pria itu adalah Galang, berarti Galang telah kehilangan banyak berat tubuhnya. Sebab ia terlihat lebih kurus. Maya tidak pernah melihat Galang kurus sebelumnya. Juga, kulit pria itu memang lebih gelap seperti terlalu sering terbakar matahari.


Maya menggelengkan kepalanya menghapus bayang pria tukang koran tadi dari pelupuk matanya. Seharusnya ia tinggal menelepon nomor Galang dan menanyakan tentang kebenaran hal ini. Tetapi, ia malah tidak yakin. Bagaimana kalau ternyata memang itu bukan Galang?!


"Ah, ngeselin!" keluh Maya sambil menarik tubuhnya untuk duduk.


"Siapa yang ngeselin, Maya?" tanya Mama Maya, tiba-tiba muncul dibalik pintu. "Mana korannya?" tanyanya lagi.


Tidak menjawab, Maya justru hanya mengangkat bahu. Ia lalu berjalan keluar kamar melewati mamanya. "Mama tahu, gak? Si tukang koran itu cuma ramah sama ibu-ibu!" keluh Maya.


Mama Maya sontak tertawa, "hahaha! Ah, masa sih?!"


"Ih, beneran. Malah ketawa si Mama," sungut Maya sambil menyuap sebuah roti panggang yang sudah tersaji di meja.


Ia sebenarnya ingin menceritakan perihal kecurigaan yang ia pikirkan. Namun percuma saja, toh mamanya tidak mengenal sosok Galang. Terlebih lagi ia juga saat ini tidak sepenuhnya yakin bahwa pria tukang koran itu Galang dikarenakan penampilan yang jauh berbeda.


Untuk menuntaskan rasa penasarannya, akal Maya bekerja tanpa diminta. Bagaimana aranya memastikan identitas bahwa pria itu memang Galang. Namun, ia tidak menemukan barang satu cara pun. Ia malah mendadak merasa kesal sudah ketahuan mengintip pria tukang koran itu sore kemarin.


"Ah, sebel!" bisiknya kesal.


"Ih kenapa sih kamu, May?! Moodnya berubah drastis semenjak ketemu tukang koran pagi ini ya? Kenapa sih, anaknya baik dan sopan gitu, kok," ucap Mama Maya yang bingung melihat tingkah Maya pagi ini.


Maya hendak menjawab perkataan mamanya, namun mamanya tampak sudah tenggelam dalam halaman resep majalah sambil mengunyah roti panggang sarapan mereka.


***


Menjelang sore matahari sudah turun dari peraduannya. Langit sudah terlihat lebih ramah, tidak lagi terlalu silau dan udara tidak lagi panas menyengat. Namun angin terasa lebih kencang dan dingin, seperti sedang memanggil awan hujan. Di suasana setenang itu, terdengar sebuah ketukan dari pintu.


Mama Maya yang saat itu berada di dapur segera mencuci lalu mengelap kering tangannya. Ia melangkah cepat dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ia, saat mendapati si tukang koran berdiri di sana. Dengan penampilan yang lebih rapi, dan tampan.


"Eh? Nak! Mari masuk," ucap Mama Maya. Mendatangi dengan sengaja rumahnya dan berpenampilan rapi, tentu anak ini punya hal yang ingin dia sampaikan. Begitu pikir Mama Maya.


"Bu, anak ibu ada di rumah?" tanya pria tukang koran itu saat dipersilahkan duduk.


Mama Maya yang telah pergi ke dapur dan kembali sambil menyuguhkan teh hangat di meja menjawab, "Oh ada, di halaman belakang rumah. Biasanya suka melihat anak-anak kecil main layangan di lapangan dekat kebun warga. Kelihatan kalau dari halaman belakang rumah kita."


"Oh," jawab pria itu singkat sambil menyeruput teh suguhan Mama Maya.


Mengetahui anaknya yang pertama ditanyakan, Mama Maya penasaran dan kembali bertanya. "Eh, ada apa ya tiba-tiba menanyakan anak saya?"


"Hm, jadi gini bu," pria itu membenarkan posisi duduk dan mencondongkan tubuhnya.


Mendengar cerita dari si pria tukang koran, Mama Maya tertawa. Ia teringat percakapan kemarin tentang dirinya yang memberi tahu dimana tempat tinggal tukang koran idola. ibu-ibu desa ini. Rupanya, sore saat menyuruh Maya belanja, anak itu benar-benar mengunjungi rumah tukang koran.


"Ya, ampun. Ada-ada saja Maya," kata Mama Maya sambil mendekap pipinya sendiri. Ikut merasa malu pada tingkah anaknya. "Tunggu sebentar ya, saya panggil anak saya," ucapnya lagi sambil beranjak pamit.


***


Maya mengerutkan dahinya saat namanya di panggil oleh sang mama. Biasanya mamanya akan sengaja membiarkan Maya berlama-lama disini. Karena saat menikmati sore sendiri ini, biasanya merupakan salah satu proses self healing paling menyenangkan bagi Maya


Berjalan ke arah rumah, Maya lalu bertanya, "kenapa, Ma?"


"Ada yang nyari kamu, di ruang tamu," jawab Mama Maya sambil merapikan rambut Maya yang sedikit berantakan terkena angin. Ia sebenarnya ingin menjelaskan siapa orang yang menunggu anaknya itu di ruang tamu, tetapi berhubung Maya tidak menanyai perihal itu, ia membiarkan Maya berjalan begitu saja.


"Dia lagi!" batin Maya sambil menahan nafasnya begitu melihat sosok yang duduk di sofa ruang tamu. Langkah kaki Maya bahkan terhenti, mematung di ujung ruang tamu.


Pria itu segera berdiri dan tersenyum. "Hai, aku mau ngajak kenalan baik-baik. Tidak seperti pagi tadi. Boleh?"


Mata Maya memicing tajam, memandangi puas-puas tampilan pria di depannya ini. Kali ini Maya sangat yakin bahwa sosok ini benar-benar Galang. Hanya saja ia lebih kurus dengan kulit lebih gelap eksotis.


Tiba-tiba, bahu Maya ditepuk pelan oleh Mamanya, "kok melamun disini sih, May?" Mama Maya lalu menari tangan putrinya untuk berdiri lebih dekat dengan pria tukang koran.


Sekali lagi mengulurkan tangannya, pria itu tersenyum dengan ramah. Maya menahan nafasnya, menahan diri untuk tidak segera naik oktaf. Melirik sekilas wajah mamanya yang masih menatap heran Maya, akhirnya Maya menjabat tangan pria itu.


"Aku, Galang. Galang Rahardja."


Akhirnya! Maya meremas erat tangan yang ia jabat itu sambil berkata dengan nada suara yang di tekan, "Hai Galang, Aku Maya."


"Hai, Maya! Senang akhirnya kenalan baik-baik sama kamu," ucap pria tukang koran itu, yang juga merupakan orang yang sama dengan bos nya di TechnoMedia.


***


Soundtrack kali ini adalah,


"*You'll always be my day one


Day zero when I was no one


I'm nothing by myself, you and no one else


Thankful you're my day one


Thankful you're my


I got lucky finding you


I won big the day that I came across you


'Cause when you're with me, I don't feel blue


Not a day goes by that I would not redo*" Day 1 by Honne.


***


Halo pembaca yang baik 🙋


Bersabar nunggu up ya. Hehe, saat ini author sedang sangat padat sekali jadwal kerja di real life. Sampai kalau tidur tidak tenang, kepikiran kerjaan. Haha.


Ada yang begitu juga? Tos!!


However, jaga kesehatan ya selalu!


Stay safe!


Love,


Author.