
Matahari sudah turun ke pelukan laut, tenggelam dalam sendu senja.
Dari atas geladak kapal, Maya dapat melihat lampu-lampu mulai dinyalakan.
Ia memutuskan untuk turun kembali ke restaurant, membayar bill dan pergi.
Saat Maya sampai di anak tangga terakhir, suasana restaurant sangat sepi.
Benar-benar tidak ada orang tersisa.
Ah, Ikhsan?
Dia sudah sedari tadi berpamitan pergi menuju bandara untuk terbang kembali ke kotanya, ke pelukan Yrene.
Maya berjalan pelan menuju meja tempat ia dan Ikhsan duduk satu jam yang lalu.
Meja itu sudah bersih seolah tak ada yang tersisa, padahal baru beberapa saat yang lalu tempat ini menjadi saksi kisah cinta yang tak bisa saling memiliki.
Walaupun rasa sesak masih bergumul di hati dan pikirannya, Maya tak bisa berlama-lama meratapi kesedihannya disini.
Ia lalu membuka tasnya untuk membayar bil tagihan makanan.
Baru saja Maya mengambil dompetnya, ia merasa ada yang datang mendekatinya dari belakang.
Saat Maya membalikkan badannya, ada Jose dan Madame Sophie berdiri membawa sebotol wine dengan muka sembab.
"Kesedihan yang mendalam itu layak dibagi, dear.
Kami sudah menutup restaurant dan berencana menghabiskan wine ini bersamamu.
Mari kita tenggak kisah sedih mu bersama-sama" ucap Madame Sophie dengan suara bergetar.
Madame lalu menyerahkan sebuah gelas wine ke tangan Maya yang tersenyum getir dan mulai merasa tak kuat menahan air matanya.
"Ah tunggu, ada sesuatu yang tertinggal saat aku membersihkan meja tadi" ucap Jose sedikit ragu.
Ia lalu mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya. Kertas putih milik Ikhsan yang tadi ia bacakan isinya pada Maya.
Maya menerima kertas itu dan perlahan membukanya.
Aneh, isi kertas itu adalah tulisan ketikan berisi perjanjian kerja yang berasal dari kantor Galang.
Maya mengerutkan keningnya.
Ikhsan, ia tidak membaca list pernyataan dan pertanyaan seperti yang ia bilang.
Ia hanya mencari alasan dan cara untuk mengungkap isi hatinya.
Ia ternyata membuat percakapan saat itu sesuai keadaan dan respon Maya, bukan berpandu pada kertas.
Maya tersenyum getir.
Pria itu, selalu berhasil mengesankanku dengan caranya, gumamnya.
***
Jam di dinding restaurant The Cabin masih menunjukkan pukul 20:00 malam.
Sekarang Maya berdiri di depan sebuah mini stage restaurant The Cabin.
Di tangannya ada sebuah gitar listrik yang belum menyala.
Di pojok stage, ada Jose dengan sebuah keyboard.
Sementara Madame Sophie sendirian duduk di meja terdepan berpura-pura menjadi penonton.
Benar, mereka bertiga dalam keadaan hanya seperempat sadar.
"Jose, hidupkan listriknya. Gitarku belum menyala!" ucap Maya sambil menepuk-nepuk gitarnya.
"Ah, roger that lady!" ucap Jose yang lalu terjatuh dari kursinya dan tertawa. Ia kemudian merangkak dan menekan tombol saklar untuk menyalakan gitar listrik yang dipegang Maya.
"Baiklah Madame, akan ku nyanyikan lagu perpisahan, okay?" ujar Maya di microphone.
Madame Sophie bersorak sambil mengangkat gelas wine nya.
"Sing it, baby! No man No cry!"
Maya tertawa terbahak-bahak.
"Oh Madame, aku tak bisa menyanyikan lagu Bob Marley 'No Women No Cry' dan mengubahnya menjadi No Man No Cry!" Maya tertawa dan terhuyung ke kanan dan kiri.
"Bagaimana kalau ku nyanyikan lagu yang ku hapal saja ya, Madame?!" lanjut Maya lagi dengan microphone masih di tangannya.
Madame menenggak seluruh sisa wine di gelasnya sambil mengangkat jempol tanda ia setuju saja.
Maya mengedipkan matanya beberapa kali agar ia tidak terlalu pusing.
Ia lalu berdiri tegak sambil memegang standing microphone untuk memperbaiki posisi mic.
Maya menarik nafas dalam-dalam, dan mulai memetik gitarnya.
"*Selepas kau pergi
Tinggalah disini ku sendiri
Ku merasakan sesuatu
Yang tlah hilang didalam hidupku
Dalam lubuk hatimu
Kuyakin kau pun sebenarnya
Tak inginkan lepas dariku
Tau kah kau kini kuterluka
Bantu aku membencimu
Ku terlalu mencintaimu
Dirimu begitu berarti untukku
Kau telah mencinta dan dicintai kekasihmu
Ini tak adil bagiku, hilanglah damba tinggallah hampa"
(Selepas Kau Pergi by La Luna*)
***
Di sebrang kota sana, pesawat yang ditumpangi Ikhsan baru saja mendarat.
Ikhsan tertidur sepanjang perjalanan. Ia kelelahan, baik mental dan fisiknya.
Dalam mimpinya, ia masih berbicara dan tertawa bersama Maya yang masih berpakaian putih abu-abu di perpustakaan SMA mereka dulu.
Maya masih mengenakan lanyard merah favoritnya, favorit Ikhsan juga.
Rambut Maya yang di kuncir kuda bergoyang ke kanan dan kiri saat ia sibuk mencatat dan merekam apa-apa yang Ikhsan katakan.
Saat Ikhsan membuka matanya terbangun, ia masih ingat apa yang ia katakan dalam wawancara di mimpinya itu.
"Maya, kamu cantik
Maya, aku suka kamu
Maya, aku sayang kamu
Maya, jadilah pacarku
Maya, ayo jalani hidup bersamaku
Maya, mari kita ukir mimpi-mimpi kita bersama
Maya, biar kamu jadi wartawan yang menulis berita, lalu aku akan jadi photographermu
Supaya aku akan pergi, kemanapun kamu pergi"
Ikhsan mengerjapkan matanya sekali lagi untuk membantunya benar-benar sadar dari mimpi itu, kemudian menatap jam tangannya.
Beberapa menit lagi ia harus bergegas turun dari pesawat.
Ikhsan menunggu saat lampu tanda sabuk pengaman mati lalu dengan segera menghidupkan ponselnya.
Jemarinya cepat mengetik pesan mengabarkan bahwa ia sudah landing dengan selamat.
Pada Yrene, istrinya.
Di luar sedang hujan deras, untung Ikhsan membawa jaket.
Sebelum ia mengalungkan jaketnya untuk menutup kepala dan bahunya, Ikhsan membuka kembali ponselnya.
Jarinya bergetar saat berhadapan pada kontak dengan nama Maya dan tombol hapus.
Sambil memejamkan matanya, ia ketuk layar ponselnya dua kali dan menghapus nomor Maya.
Seraya berlari kecil menuju parkiran, ia mengigit bibirnya.
Bukan karena dingin, tetapi agar suara tangisnya tak lebih keras dari derasnya hujan.
***
Di dalam ruangan restaurant The Cabin yang sudah sepi,
Maya terbangun dari tidurnya karena merasa kedinginan.
Ia menarik pergelangan tangannya untuk melihat jam tapi lengannya terasa berat.
Rupanya ada kepala Madame Sophie menjadikan lengannya bantal.
"Uh, pardon me Madame" Maya menarik lengannya menyebabkan kepala Madame terguling dan membentur meja.
Namun Madame tak bereaksi, ia masih tertidur lelap.
Di lantai, ada Jose yang duduk tertidur sambil bersandar di kursi.
Maya bersusah payah berdiri dan segera ia merapikan bajunya yang ternyata terkena tumpahan wine.
Jam tangannya menunjukkan pukul 11:00 Malam dengan retakan besar di kaca jam.
Dengan langkah gontai, Maya berjalan keluar dari restaurant.
Hujan masih gerimis dan ponselnya sudah habis batrai.
Ia tidak bisa memesan taksi online dan mau tidak mau harus berjalan menerobos gerimis ke jalan besar lalu menyetop taksi dari sana.
Tak begitu lama Maya berjalan, ia sudah sampai di gate pintu masuk dan keluar area pelabuhan ini.
Mungkin Maya bisa minta tolong pada satpam penjaga gate untuk memesan taksi online.
Tapi, tampaknya satpam itu sedang kedatangan tamu.
Tamu itu sepertinya sedang marah-marah dan menunjuk-nunjuk ponselnya.
Ia seorang pria dengan tubuh tegap yang tak asing dimata Maya meski sedang setengah sadar.
Oh Tuhan! Itu Galang!
***
"Hi Yang..." suara Ikhsan menyapa pelan.
Istrinya yang sedang hamil tua itu tertidur di sofa ruang tamu menunggu Ikhsan pulang.
Jari tangan Ikhsan yang dingin menyentuh lembut pipi Yrene yang sedikit menggembung.
Pipi tirus Yrene sudah berubah menjadi chubby dalam dua bulan terakhir.
Yrene benar-benar berusaha keras menaikkan berat badannya agar berat bayinya juga normal saat dilahirkan.
Yrene tak kunjung bangun meski Ikhsan sudah menyentuh pipinya beberapa kali.
Ikhsan lalu tersenyum dan menundukkan tubuhnya.
Ia lalu mengecup pipi Yrene lalu berbisik, "Honey, I'm home."
Perlahan mata Yrene membuka, ia terlihat sedikit bingung.
"You're home" ucap Yrene dengan suara serak dan berusaha untuk duduk.
Perutnya sudah sangat besar karena usia kandungannya telah cukup matang dan benar-benar tinggal menunggu waktu saja.
Meski di jadwalkan akan bersalin bulan depan, Yrene tetap bisa saja melahirkan sewaktu-waktu.
Ikhsan membantu Yrene duduk, tangan Yrene mengalung di leher Ikhsan.
Walaupun tubuh Ikhsan sedikit basah dan dingin, Yrene tak perduli, Ia menarik suaminya dalam dekapannya.
"I miss you, dear" ucapnya.
"I miss you too, a lot" balas Ikhsan sambil mengelus rambut istrinya itu.
"Kenapa tidur disini? Nanti pinggang kamu sakit" lanjut Ikhsan lagi.
Yrene menggeleng, ia melepas pelukannya dan menarik tangan Ikhsan agar duduk di sampingnya.
"Yang, aku mimpi udah lahiran tadi.
Aku udah lihat wajah anak kita.
Dia putih banget kaya aku, hehe.
Dia juga punya lesung pipit persis kayak kamu.
Rambutnya..
Ah.. Rambutnya.. Uh" Yrene tiba-tiba berhenti dan mematung.
"Yang?!"
Yrene memegangi perutnya, ia tadi merasakan ada bunyi letupan dari dalam perutnya.
Ia yakin, itu bukanlah tendangan dari bayinya.
Sedetik kemudian ************ Yrene terasa hangat dan basah.
"San! Ketuban aku pecah! Aku udah mau lahiran! Cepet cepet! Cepet bangunin mama dan papa!" perintah Yrene dengan panik.
"Hah?! Iya iya! Mama! Papa! Mbak! Yrene mau lahirin!"
"Lahiran!" koreksi Yrene dengan spontan sambil menepuk pipi Ikhsan yang juga ikut panik.
"Iya, Yrene lahiraaaan!" teriaknya diiringi oleh bangunnya seluruh penghuni rumah.
***
Pintu ruangan bersalin terbuka, Ikhsan dan 2 orang perawat mendorong sebuah tempat tidur beroda disusul oleh kedua orang tua Yrene dan Ikhsan menuju bangsal bersalin.
Di tempat tidur itu, Yrene sudah berpakaian seragam pasien rumah sakit dan
di hidungnya terpasang selang bantu oksigen. Tangannya memegang erat tangan Ikhsan.
Di ujung bangsal sudah ada seorang dokter yang sedang menunggu dengan tenang.
"Hi Yrene!" sapanya ramah.
"Dokter Jane" balas Yrene sekenanya.
"Okay, shall we?" tanya sang dokter sambil tersenyum.
Ikhsan membalik badannya pamitan pada orang tuanya dan orang tua Yrene.
hanya boleh satu orang masuk dan menemani proses persalinan Yrene.
Yrene memilih untuk lahiran secara normal dan sangat bersyukur karena kondisinya memungkinkan meski sepanjang waktu kehamilannya terbilang cukup sulit.
Begitu masuk ruangan lahiran yang dingin, suasana mendadak sepi.
"Huf huf huf uhhhhhhk" Yrene menahan dorongan khas dari kontraksi perutnya.
"Sabar dong, rene. Gue periksa dulu ya! kalau udah bukaan lengkap, baru boleh mengejan as you knew it well, right?" ucap dokter Jane dengan tenang.
Yrene mengangguk dan membiarkan dokter Jane menunduk dan memeriksa jalur lahir.
"Bagus, sudah bukaan akhir nih! Suster, ayo persiapan! Yrene, siapkan tenaga ya!" tukas dokter Jane masih dengan tersenyum.
"Mau minum dulu? Ayo Pak, istrinya dikasih minum dulu itu, jangan bengong aja!"
Ikhsan kaget dimarahi oleh dokter Jane, ia lalu dengan gugup membuka tas lahiran yang sudah dipersiapkan Yrene dan mengeluarkan satu botol air mineral.
Dengan tangan gemetar, Ikhsan menuangkan air ke mulut Yrene.
Dokter Jane berdiri dan membantu memperbaiki posisi Yrene.
Membuat Yrene membuka lebar kakinya.
"Ok, Yrene. Atur nafasnya. Dorong saat kontraksinya terasa, dorong yang kuat jangan berteriak ya.." pandu dokter Jane.
"Huf huf uhhhhhhhhhk!!" Yrene mencoba mendorong dengan sekuat tenaga kemudian terlihat kesakitan.
"Oh god!!" Pekiknya di akhir nafas.
"Ayo sayang kamu pasti bisa!" Ikhsan mengelus dan mengecup kening Yrene yang bercucuran keringat.
"Uhhhhhh!!" Yrene mencoba mendorong lagi.
"Ayo coba lagi, Yrene" dokter Jane mencoba memberi semangat.
Yrene menggelengkan kepalanya dan mulai menutup matanya.
"Yang? Ayo, for our baby!" bisik Ikhsan di telinga Yrene.
Yrene membuka matanya perlahan, ia berniat untuk berusaha mengejan lagi.
"Pak, sini lihat kepala baby nya sudah terlihat! Ayo kasih semangat lagi ke Yrene!"
Ikhsan berpindah ke posisi yang disuruh oleh dokter Jane untuk melihat kepala baby di jalur lahir Yrene.
Sedetik kemudian, ia membatu. Apa yang ia lihat tidak akan mungkin pernah ia lupakan.
Ikhsan memeluk Yrene erat, "Sayang, I love you so much!" ucapnya dengan suara bergetar sambil mengecup penuh kasih pipi Yrene.
Seolah diberi kekuatan oleh hangat peluk dan cium Ikhsan, Yrene menarik nafas panjang dan mengejan sekali lagi.
Waktu seperti melambat bagi Ikhsan, tapi momen itu akan selalu ia ingat.
"Owaaaaaaaaaaa!" suara tangis bayi memecah sunyi malam itu.
Tubuh Ikhsan gemetaran sementara Yrene sudah terkulai lemas dengan air mata mengalir di pipinya.
Yrene mendesah pelan, "Anakku, Anakku..."
Ikhsan tak kuasa menahan haru saat dokter Jane menyerahkan pada pelukannya bayi laki-laki yang masih merah terbungkus kain selimut.
Ia lalu memeluk, mencium bayinya dan mengumandangkan adzan merdu ditelinganya.
Bayinya tampak menimati pelukan Ikhsan, makhluk kecil itu berusaha membuka matanya mencari-cari suara yang sayup ia dengar.
Bagi Maya di seberang sana dan Ikhsan di bangsal lahiran, kisah mereka mungkin sudah berakhir.
Di sisi kehidupan lain, bagi sang Bayi... ini adalah sebuah permulaan yang dinamakan dengan, kehidupan.
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan berikan review di komentar ya, like, vote dan share ya 💞
Dukungan kalian sangat berarti bagi perkembangan karya author 🥰