The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Never been easy



Sebuah mobil sedan merah melintasi gate sebuah perumahan elite dan berhenti di rumah dengan gerbang hitam. Pengemudi dan penumpang mobil itu tak segera turun melainkan hanya menurunkan kaca jendela lalu menutupnya lagi.


"Ikhsan udah di rumah, Rene," ujar Tania yang dibalas anggukan oleh Yrene.


"Thanks ya, Tan. You have been so supportive!" Yrene memeluk leher Tania dan Tania membalas pelukan Yrene dengan erat seolah ia berniat untuk menyaurkan semua energi positif pada sahabatnya itu.


Yrene hendak membuka pintu mobil namun kemudian teringat sesuatu, "Tan! Masih inget pertanyaan gue ke Bibi Andrew, kan? Soal mimpi gue tentang Ikhsan yang pindah rumah? Lo udah tanyain ke Bibi Andrew?"


Tania tampak mengingat-ingat namun sedetik kemudian wajahnya memucat. Air muka Tania langsung berubah menjadi gusar, perempuan dengan potongan rambut bob itu juga menarik nafas panjang beberapa kali.


Yrene bingung terhadap reaksi Tania, "Tan?"


"Rene, gue inget dan udah gue tanyain ke Bibi Andrew," Tania menggantung kalimatnya.


"Then?"


Tania menggenggam tangan Yrene dan seketika itu juga Yrene paham bahwa ada kabar yang tidak akan menyenangkan dari mulut Tania.


"Menurut gue itu hanya mimpi kosong belaka sih, Rene. Lo gak perlu risaukan mimpi itu lagi, ya?" pinta Tania. Tapi bukan ini jawaban yang Yrene ingin dengar, hal itu terlihat dari alis Yrene yang masih berkerut tanda ia tak puas sebelum mendengar jawaban yang ia nantikan.


Tania akhirnya mendengus, anata ia kesal bahwa Yrene masih bersikukuh juga ia tak ingin menyampaikan pesan dari Bibi Andrew. Tania mengigiti bibir bawahnya beberapa saat lalu akhirnya mengeluarkan ponselnya.


"Lo yakin tetep mau dengar apa kata Bibi Andrew?" tanya Tania, Yrene mengangguk dengan cepat meski jantungnya terasa seperti mencelos mengkhawatirkan kabar yang akan ia dengar.


Menghela nafas lagi, Tania segera membuka aplikasi chat dan menatap sebuah pesan dari contact bernama 'Aunt Andrew'.


Tania membuka mulutnya dan bersuara dengan raut wajah khawatir, "Mimpi itu artinya kurang bagus. Dalah dunia ramalan rumah dianggap sebagai tempat kehidupan. Ya semacam bumi, lah. Jadi kalau mimpi pindah rumah dan tak kembali itu semacam pertanda bahwa subject tersebut meninggalkan kehidupan. Sebagai jaga-jaga, coba cek kesehatan dulu. Toh, tidak ada salahnya juga kan? Mimpi tak 100% benar, iringi saja dengan banyak doa."


Usai Tania berkata, ia menoleh dan terkejut mendapati reaksi Yrene. Sahabatnya itu sudah menutup mulutnya seakan mencegah dirinya untuk berteriak histeris. Tubuh Yrene bergetar dan ia mulai menangis histeris. Tak pernah ia duga bahwa arti mimpinya tentang Ikhsan pindah rumah berarti bahwa pertanda Ikhsan akan meninggalkannya, juga meninggalkan kehidupan.


Tania tak juga kuat menatap Yrene yang tengah menangis, tangannya bergetar mengambil beberapa helai tisu dan memberinya kepada Yrene. Tania ikut menghapus air matanya sendiri. "Rene, sabar ya, gue yakin itu mimpi gak sepenuhnya berarti buruk begitu," katanya sambil terisak juga.


Selang beberapa waktu, Yrene sudah dapat mengendalikan tangisnya dan perlahan berhenti. Ia menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas di kursi mobil. Untung saja baby Ianvs masih pulas tertidur di baby seat. Tania masih terus mengelus pundak kanan Yrene.


"Gue gak bisa hidup tanpa Ikhsan, Tan. Gue gak sanggup," Yrene mulai menangis lagi.


"Ssst, lo gak boleh ngomong gitu. Ikhsan kan masih ada disini, Sayang," Tania merasa ada batu yang mencekat tenggorokannya. Ia ikut membayangkan jika Yrene ditinggal pergi oleh Ikhsan selamanya. Tak pernah ia bayangkan jika Yrene harus menjanda dengan Ianvs yang bahkan belum berusia 2 bulan.


"Jika memang itu suatu pertanda, gue benar-benar harus mewujudkan kebahagiaan dia. Selagi masih ada waktu, Tan." Yrene menatap Tania dengan pandangan yang kabur oleh derai air mata.


Tania hanya bisa mengangguk. Jika benar Ikhsan akan pergi selamanya, memang itulah hal satu-satunya yang bisa Yrene lakukan. Yaitu kerap membahagiakan Ikhsan selagi masih ada waktu.


Udara sesak di dalam mobil sebab isak tangis kedua sahabat itu terpecah fokus saat baby Ianvs mulai menangis. Anak itu seolah ikut merasakan emosi ibunya yang sedang sedih. Dengan cepat, Yrene merapikan diri, menghapus air matanya dan berpamitan pada Tania. Ia lalu keluar dari mobil dan segera menggendong Ianvs dari baby seat mobil Tania. Dengan pelukan singkat, Tania berpesan agar Yrene selalu mengabarkan apapun yang ia butuhkan pada Tania.


Tangisan Ianvs membuat suster Mira keluar rumah dan segera menuju teras. Beberapa detik kemudian Ikhsan juga menyusul suster Mira. Begitu Ianvs sudah digendong oleh suster Mira, Yrene langsung menghambur memeluk Ikhsan erat. Begitu erat sampai Ikhsan merasa sedikit sesak.


"Sayang? Kamu kenapa, Yang?" meski merasa heran, Ikhsan membalas pelukan erta Yrene sambil mengelus kepala istrinya.


Terdengar tarikan nafas panjang dari Yrene sebelum ia mengangkat wajahnya dan menatap Ikhsan. "I miss you," ucap Yrene akhirnya. Yrene tak tahu apakah ia harus menyampaikan arti mimpinya dari Bibi Andrew pada Ikhsan. Ia merasa belum siap mengatakan hal itu.


Ikhsan tersenyum lebar memperlihatkan ceruk dalam lensung pipi kanannya. Dengan gemas, ia mencium kening, hidung, kedua mata dan terakhir, bibir istrinya itu. Ikhsan lalu mengangkat badan Yrene dengan tangan yang masih memeluk,  lalu memutar tubuh mereka beberapa kali. Tingkah Ikhsan membuat Yrene akhirnya tertawa.


Setelah mendapati air muka istrinya berubah menjadi lebih baik, Ikhsan kemudian menggendong Yrene menuju ruang keluarga. Suster Mira yang sedang memberi dot asi pada Ianvs memilih untuk melipir jauh ke teras belakang rumah menjauhi majikannya yang sedang bertingkah romantis itu. Pipi suster Mira memerah mendengar tawa cekikikan Yrene dan Ikhsan dari ruang keluarga.


Setelah sampai di sofa, Ikhsan mendudukkan Yrene yang sudah melepaskan rangkulan dari leher suaminya. Ia kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Ikhsan. Tiba-tiba Ikhsan memeberikan sentilan pelan pada dahi Yrene.


"Aw !" teriak Yrene pura-pura kesakitan sambil mengelus dahinya.


"Itu untuk kamu yang tega ngerjain aku. Nipu aku dan lebih memilih di jemput Tania," tukas Ikhsan dengan nada suara ngambek.


Yrene mengulum senyumnya dan kembali meletakkan kepalanya di bahu Ikhsan. "Sorry, aku gak bilang-bilang ke kamu soal the whole plan untuk hari ini. Tapi menurut aku, akan lebih leluasa buat Maya jika gak ada aku saat kamu menemui dia, Yang."


Ikhsan menarik nafas panjang, ada rasa sesak di dadanya. Tak bisa ia bayangkan bahwa sekarang istrinya sedang berlaku seolah seorang cupid yang sedang berusaha mendekatkan ia dengan Maya. Ikhsan menggenggam erat tangan Yrene.


"Lain kali jangan kaya gitu, ya. Kata kamu kita sama-sama jujur untuk menghadapi ini semua?" Ikhsan meremas tangan Yrene, seolah memastikan bahwa ini adalah peringatan agar Yrene tak lagi melakukan itu. Ia tidak bisa bilang bahwa ia menyukai rencana Yrene tadi.


Yrene mengangguk pelan, ia lalu bertanya, "Terus tadi kok cepet banget ngobrol sama Maya nya? Kamu dah bilang bahwa kamu dan Maya harus bicara?"


"Udah. Seperti yang kamu suruh juga, Yang. Besok aku akan jemput Maya dan bicara dengannya." Ikhsan merasakan degup jantungnya berdetak keras. Ia sungguh sangat gugup akan melakukan semua ini.


Ikhsan lalu berlutut di karpet dan meletakkan kepalanya di pangkuan Yrene. "Aku gak tahu apakah aku sanggup melakukan ini, Yang. Mengejar Maya lagi, setelah memiliki kamu dan Ianvs."


Yrene menelan ludahnya. Benar saja, ini semua tak pernah menjadi hal yang mudah baik bagi dirinya, Ikhsan maupun Maya. Tidak ada yang merasa siap untuk saling berbagi hati. Tangan Yrene mengelus rambut Ikhsan. Tangannya kemudian ditangkap oleh Ikhsan lalu suaminya itu menciumi punggung tangan Yrene.


"Gimana kalau kita berhenti aja, disini?" tanya Ikhsan kemudian seraya mengangkat wajah dan menatap istrinya.


Ada hening diantara mereka, lalu Yrene berdehem. "Besok, putuskan lah semuanya besok setelah kamu temui Maya. Putuskan besok setelah kamu berbicara pada Maya, ya?"


Ikhsan mengangguk lemah. Entah sudah berapa kali tarikan dan helaan nafas panjang ia lakukan. Ikhsan lalu mengangkat tubuhnya dan kembali duduk disamping Yrene. Ia menarik tubuh Yrene dalam pelukannya lalu menyandarkan dagunya diatas kepala Yrene. "Aku harus ngomong apa ya, besok?" tanyanya.


Di dalam pelukan Ikhsan, Yrene bersuara, "Bicara lah seperti Ikhsan 15 tahun yang lalu."


***


"Hm, ini enak banget!" ucap Galang sambil menyantap makanannya. Makan malam yang Maya beli di aplikasi online delivery kali ini adalah bakmi jawa. Masih dengan mengunyah, Galang membalikkan kotak makanan untuk melihat nama toko yang menjual makanan ini.


"Ini bisnis sahabat gue yang namanya Adel. Teman sebangku gue di SMA dulu," jelas Maya yang membuat Galang mengangguk.


Setelah sesi makan malam mereka selesai, Maya tak langsung pamit. Ia terlihat berdiam diri seolah menimbang-nimbang sesuatu. Galang akhirnya memutuskan untuk buka suara.


"Lo bukannya mau istirahat? Lo bilang lo capek banget hari ini, May?" tanya Galang dengan lembut.


Maya yang sedang duduk di sofa Galang menekuk dan memeluk lututnya. "Gue lagi ngerasa galau banget, Lang."


Menghembuskan nafas panjang, Galang tahu bahwa saat ini Maya sedang butuh teman bicara. Ia lalu berdiri dan menyiapkan dua buah cangkir teh hangat. "I'm here listening," katanya.


"Pertemuan siang tadi dengan Yrene, membuat gue sekarang merasa seperti sedang berada disebuah persimpangan yang ujungnya ditutupi kabut. Gak bisa gue baca. Seumur hidup gue memendam perasaan cinta pada Ikhsan, gak pernah gue duga ternyata bisa berbalas. Dan ketika berbalas pun posisi Ikhsan sudah menikah bahkan dengan sahabat gue sendiri. Lalu saat gue selalu berusaha keras untuk melupakan, menjauh, merelakan justru gue kembali di pertemukan dengan Ikhsan. Sekarang justru Yrene, istri dari Ikhsan, yang meminta gue untuk memberi lagi Ikhsan kesempatan, pada cinta yang lama terpendam." Maya semakin erat memeluk lututnya sendiri.


"Gue takut salah mengambil keputusan. Gue gak bisa melihat apa yang akan terjadi seandainya gue dan Ikhsan bisa bersatu. Itu semua seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tapi disatu sisi, gue yakin terlalu banyak konflik yang akan terjadi." Maya menghembuskan nafas panjang lagi.


"Tapi jika gue menyerah kali ini, apakah itu artinya gue melakukan kesalahan yang sama seperti 15 tahun yang lalu? Menutup mata pada Ikhsan yang saat itu mempunyai rasa cinta pada gue? Apakah gue juga harus menutup mata lagi pada cinta Ikhsan dan cinta yang ada di hati gue? Apakah gue dengan angkuhnya menolak lagi kesempatan yang bahkan diberikan Yrene? Yang mungkin ditawarkan oleh Tuhan?" Maya terus bertanya-tanya sendiri tanpa mendengar jawaban apapun dari Galang.


Galang yang memang memilih diam menyesap teh hangatnya. "Minum dulu biar tenang, May," ucap Galang seraya memberikan secangkir teh hangat.


"Gue minta maaf ya, disaat lo kalut begini gue malah sempat-sempatnya menyatakan perasaan gue siang tadi." Galang memberi jeda, namun Maya tak bereaksi.


"Apa yang lo katakan tadi menurut gue memang sebuah konflik yang rumit. Jujur saja, gue adalah orang yang sangat ambisius and you know that well. Kalau gue ada di posisi lo, gue pasti akan menerima Ikhsan. Bahkan lebih jahat lagi, gue akan meminta Ikhsan menceraikan istrinya. Seandainya gue harus menyerah karena takut menghadapi konflik yang akan terjadi dari keputusan gue menerima cinta itu, gue mungkin akan kembali merasakan penyesalan yang dalam terlebih situasi saat ini seolah Yrene sudah memberi kesempatan juga."


Galang berdiri dan menghampiri Maya lebih dekat lagi. "Apa kata hati lo, May?"


Maya tak menjawab. Ia membayangkan semua akan terasa mudah jika Yrene tak memberikan kesempatan padanya, memang akan menyedihkan saat Ikhsan seandainya juga ikut menyerah terhadap kesempatan ini. Tetapi, nyala mata Ikhsan saat manik mata mereka bertemu, serta pesan singkat Ikhsan di cup kertas dingin siang tadi yang mengatakan 'Can't wait to see you tomorrow', menarik Maya kembali pada palung hatinya yang terdalam. Dimana ia menyimpan rapat perasaan cinta itu.


Andaikan Ikhsan masih sendiri...


Galang menatap tubuh ringkih gadis didepannya ini. Sungguh begitu berat beban hatinya. Menurutnya, Maya seperti merasa serba salah. Maya tampak tak sanggup lagi menghadapi sebuah penyesalan untuk kedua kali, ia sampai harus memeluk dirinya sendiri seperti itu. Tapi seperti kata Maya, menyatukan lagi cinta mereka dengan status Ikhsan yang sudah memiliki istri tentu bukan tawaran yang mudah untuk diambil Maya. Di lubuk hati Galang, ia sejujurnya menginginkan kebahagian bagi Maya. Ia juga tak sanggup melihat Maya bersedih lagi memendam cinta atau meratapi penyesalan.


Entah apa yang menggerakkan tubuh Galang, ia mendekati Maya, menarik tangan gadis itu dan memeluk erat tubuh Maya. Sebuah pelukan erat yang menghangatkan. Sebuah pelukan yang sarat akan dukungan. Dekapan erat itu sampai membuat Maya sedikit sesak.


"Menurut gue, lo bisa memutuskan setelah lo berhadapan sekali lagi dengan Ikhsan dan berbicara dari hati terdalam kalian. Bicarakan lah semua yang membuat lo gundah, yang membuat lo khawatir. Pertimbangkan semuanya dengan baik. Jika memang cinta menuntun kalian untuk bersama," Galang menahan kalimatnya. Tak ia sangka ada batu besar yang mencekat tenggorokannya. Mata Galang terasa panas dan perih seakan ada air mata yang menggenang disana.


"Jika memang cinta menuntun kalian untuk bersama dan menguatkan kalian untuk menghadapi semua konflik bersama, gue akan mendukung. Gue akan mendukung lo, May. Gue akan mendukung kebahagiaan lo."


Kini, giliran Maya yang terharu dan terisak oleh kata-kata Galang barusan.


"Gue juga gak akan tega melihat lo terpuruk kembali karena menyesal kehilangan kesempatan untuk menyatukan cinta lo dengan Ikhsan kali ini." Galang melepas pelukannya dan menghapus air mata pada pipi Maya.


"Ikuti kata hati lo, May. Dan putuskan setelah pertemuan lo besok dengan Ikhsan." Galang menatap manik mata Maya yang basah oleh air mata.


"Apapun yang terjadi, gue akan selalu mendukung dan membantu elo. Ok? Lo jangan takut. Gue akan selalu ada dibelakang lo!" Galang mengatakan kalimatnya dengan wajah serius seolah memberi sinyal bahwa ia memang bersungguh-sungguh.


"Besok, saat lo menemui dan bicara pada Ikhsan. Gue akan ada disekitar sana dan datang kapanpun lo butuh. Entah itu untuk merayakan kebahagiaan, atau untuk bersedih."


Maya hampir tak percaya dengan perkataan Galang barusan. Pria didepannya ini bukan hanya seorang bos dan teman yang baik, Galang saat ini sedang menunjukkan sebuah perasaan tulus dari seseorang yang sedang mencinta. Ia menginginkan kebahagian untuk Maya.


"Makasih ya, Lang. Terimakasih! Gue gak tau akan serapuh apa gue tanpa dukungan lo." Maya tanpa sadar memeluk erat leher Galang. Kalimat-kalimat baik Galang sungguh menghangatkan hatinya yang saat ini begitu lemah.


"Besok, jadilah diri lo sendiri May! Lo juga berhak bahagia mengikuti kata hati lo! Gue yakin Tuhan sayang sama lo sehingga kesempatan ini datang. Entah kesempatan ini untuk benar-benar mewujudkan cinta lo, atau memang untuk meyakinkan lo mengakhiri semuanya dengan terbuka."


Maya melepas pelukannya dari Galang, perasaannya jauh lebih baik daripada sendirian memendam kalut dihatinya. Merapikan rambutnya, Maya sekali lagi berterimakasih atas semua hal yang Galang lakukan. Ia kini tahu, jika esok ia gagal menemukan jalan pertemuan dengan Ikhsan, ia tahu bahwa Galang adalah orang yang tepat untuk kembali.


Sebelum berlalu dari kamar Galang, Maya membalik tubuhnya. "Promise me you will catch me if I fall tomorrow," ucap Maya.


"I will always be there unless you ask me to leave," kata Galang dengan nada suara yang begitu yakin.


Menghela nafas panjang, Maya berpamitan, "See you tomorrow,"


Galang mengangguk, "Get some rest, see you tomorrow."


***


Halo pembaca yang baik!


Jemari author bergetar nih menuliskan kata tomorrow.


Ada apa ya di kisah pertemuan antara Ikhsan dan Maya?


Yak, selamat berbaperan, galau ria, asal jangan sambil guling-guling ya.


Mohon dukungannya dengan komen, like dan votenya ya!


Kiss, Author.


Note: Minggu jangan ditagih update please. Haha