The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
All I want is, you 3



Maya sudah mengganti bajunya dan sekarang sedang duduk menghadap jendela, memandangi hujan di pekarangan depan rumahnya. Kali ini, hujan terasa begitu hening. Seolah gemuruhnya tak terdengar oleh Maya. Karena sekarang yang terdengar di telinga dan pikirannya hanyalah suara Galang, berulang-ulang.


Galang yang saat itu berdiri di depannya dengan berlatar belakang langit senja kelabu berkata, "Dan sekarang Maya, di dimensi waktu ini, aku, aku menginginkan cinta yang kamu miliki. Aku menginginkan cinta yang pernah kamu pendam lama selama bertahun-tahun itu. Aku ingin dicintai seperti cara kamu mencintai, Maya. Dan satu lagi, jangan pernah merendahkan diri kamu. Kamu tidak tahu betapa berharganya kamu dimata seseorang."


Tangan Maya meremas lagi jemarinya, memberikan rangsangan tekanan untuk menyadarkan diri agar kembali dari lamunannya. Perhatiannya kemudian beralih pada taburan kecil warna-warni di pekarangan depan rumahnya. Itu, sisa-sisa kerta ssticky notes yang tidak terangkut oleh para pengemudi truk suruhan Galang. Sekilas melirik jam yang sudah menunjukkan jam 9 malam, Maya berdiri dan beranjak keluar kamar. Ia berniat untuk mengecek tumpukan kantong besar yang berisi sticky notes milik Galang.


Saat mendapati empat buah kantong besar berisi sticky notes itu masih tertumpuk rapi di teras rumahnya, Maya mencoba mengangkat dua kantong. beruntung kantong-kantong besar itu tidak berat sama sekali. Tapi untuk mengangkut sekaligus empat dan menempatkan semuanya di dalam kamar, tentu akan memakan banyak ruang. Jadi Maya memutuskan untuk hanya membawa masuk 2 kantong dulu saja.


Sebelum memasuki kamarnya, ia menyempatkan diri untuk mencomot sepotong martabak yang ia beli bersama Galang tadi sore. Semalaman ini ia belum makan dan memang tidak tertarik untuk makan. Tapi martabak tapi seperti sebuah cemilan tepat untuk menemani Maya membaca tulisan-tulisan Galang.


Setelah menempatkan sebuah kantong di samping tempat tidurnya dan kantong lain di sebelah pintu, Maya mulai mengambil beberapa potong kertas dan membaca.


'Hi May, if you come back, I will cook for you! Breakfast, Lunch and Dinner. I miss the time we used to eat together.'


'May, kalau lo jalan sama gue ke toko perfume lagi, lo boleh milih perfume manapun yang lo mau. I will buy anything you want.'


'Maya, what makes up you mind? Gimana caranya bikin lo balik? Gue rasa, gue hampir gila terus memikirkan lo.'


'Dear Maya, maaf kalau gue saat menolong lo masih melibatkan rasa bersalah gue pada Ratri. Next time I get a chance, gue akan memulai semuanya dari awal.'


Maya menghela nafas panjang, lalu meletakkan beberapa kertas kecil yang ia genggam di atas meja nakas. Semua tulisan itu benar merupakan tulisan tangan Galang. Mendadak alasan kenapa penampilan Galang begitu berubah seperti lebih kurus dan tirus menjadi sangat masuk akal. Pria itu tidak enak makan, tidak enak tidur, memforsir dirinya bekerja lalu menulis kertas-kertas ini sendirian sambil terus memikirkan Maya. Siapapun yang mengetahui hal ini pasti berpikir bahwa Galang sudah sakit jiwa akut.


Melirik lagi jam dinding yang entah sudah ke berapa kali malam ini, Maya beralih fokus ke layar ponsel. Sejak datang kemari, ponselnya hanya berfungsi sebagai alarm saja. Baru kemarin ia membuka kembali aplikasi chat. Semua grup bahkan sudah ia silent. Ya, kemarin, hanya untuk melihat nama Galang di aplikasi itu.


Maya mengetuk-ngetuk jarinya pada meja nakas sambil memandangi kembali layar ponselnya. Memandangi nama Galang yang statusnya 'last seen 10 minutes ago.' Hm, sudah jam 10 malam dan Galang masih belum tidur, padahal besok pagi ia harus pergi dan sudah pasti, tanpa istirahat akan langsung bekerja di TechnoMedia.


Mendadak, ada rasa khawatir yang Maya rasakan. Walaupun ia masih ingin percaya semuanya akan selalu bisa Galang tangani, tapi kali ini, entah kenapa, Galang seperti tidak biasanya. Ia sudah seperti pria yang hampir kehilangan semangat. Seperti orang yang sudah berjuang dengan raga yang terlalu lelah. Apa yang akan terjadi jika Maya masih belum juga memberi Galang kesempatan?


Maya beranjak berdiri dan berjalan pelan ke arah jendela kamar. Ia memandangi pekarangan depan rumahnya lagi yang sudah gelap. Kata Galang, ia sering sekali bolak-balik lewat di depan rumahnya. Ah, pria itu pasti memang sudah gila. Apa yang ia harapkan dari sekedar lewat di depan rumah? Tiba-tiba Maya mengenali dia, begitu? Hanya dari sekilas lewat dengan sepeda tua itu?


Maya meremas erat besi teralis jendela. Ia sedikit memaki keahlian khusus yang selalu ada pada diri para jurnalis. Berpikir kritis. Sekarang, karena keahliannya itu ia terjebak memikirkan Galang malam ini. Ah, jangan-jangan ini yang Galang lakukan selama bermalam-malam. Terus menerus memikirkan dirinya. Seperti dulu, seperti ketika masih ada cinta yang ia simpan baik-baik pada Ikhsan di lubuk hatinya.


Meski Maya sudah lebih jarang bersedih karena kejadian traumatis dua bulan yang lalu, tetapi menghapus nama Ikhsan dalam kehidupannya serasa tidak mudah. Karena Ikhsan, Maya jadi belajar begitu banyak tentang dirinya sendiri, juga tentang cinta yang ia miliki. Dan seseorang yang tak jauh dari rumahnya di desa ini, menginginkan itu.


***


Galang baru saja meletakkan baju terakhir pada kopernya. Ia lalu menutup dengan sempurna koper itu, dan meletakkan di sudut kamar tepat di samping pintu. Setelah puas dengan semua hal yang sudah ia rapikan, kamar dan rumah sewaannya itu menjadi begitu kosong, sepi dan hampa. Masih pula karena hujan di luar, udara juga jadi semakin dingin.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi secuil pun rasa kantuk tidak Galang rasakan. Ia justru beranjak ke dapur untuk membuat sebuah kopi panas demi menghangatkan diri dari dinginnya malam. Setelah menuangkan kopi panas pada mugnya, Galang berjalan lagi ke kamar. Ia duduk di tempat tidur, bersandar pada bantal dengan nyaman, menyelimuti kakinya dan membuka sosial media pada layar tabletnya dengan nama akun: 'Kartika Kancanamaya.'


Membuka sebuah aplikasi catatan jurnal harian, Galang berbisik sambil jemarinya mengetik, "Day 75, still getting to know Maya."


Sebenarnya, Galang sudah hampir ratusan kali menatap halaman web yang tampil.di layar tabletnya ini. Tetapi, ia masih belum bosan dan menyerah, mencari dan menyimpulkan apa-apa yang perlu ia ketahui tentang Maya. Meski sering kali sebal sebab tidak banyak yang perempuan idamannya itu posting di akun sosial media, tetapi itu merupakan satu-satunya sumber informasi yang Galang punya.


Jemari Galang yang sedang melakukan scroll pada postingan di halaman akun Maya terhenti. Galang mengamati sebuah perhiasan yang melingkar di pergelangan tangan kiri Maya pada sebuah foto tahun 2019. Seingat Galang, Maya tidak memakai aksesori pada tubuhnya kecuali anting dan jam tangan. Hm, Maya mungkin tidak keberatan jika diberi gelang. Begitu Galang menarik kesimpulan lalu mengetik hasil temuannya di jurnal. Begitu kalimatnya tuntas, Galang yang puas menyesap lagi kopi nya yang masih hangat.


"Halo?! Maya?!"


"Hai, Lang. Maaf nelfon mendadak malam-malam gini," balas suara di seberang telfon.


Galang meninju dengan semangat udara di atas kepalanya. "Gak mengganggu kok. Meski belum tidur, rasanya kayak lagi mimpi dapat telepon ini."


"Belum tidur ya? Katanya besok berangkat?"


tanya perempuan yang saat ini ditatap Galang melalui layar tabletnya itu.


Galang tersenyum, matanya terasa sedikit hangat. Tidak pernah ia duga bahwa suara Maya di telepon, begitu ia rindukan. Padahal dulu ia bisa sesuka hati menelepon gadis itu jika ia mau.


Galang berdehem, "Yah kan tadi sore udah ngaku ke kamu, aku ga enak makan dan enak tidur."


"Jadi enaknya ngapain?"


"Ngeliatin gelang cantik yang kamu pakai-


"Hah?!"


"Eh, maksudnya... aku lagi ngelihatin gelang yang kamu pakai di foto tahun 2019 di postingan sosial media kamu," ucap Galang jujur mengakui kegiatan stalking yang ia lakukan.


"Kamu lagi ngapain ngepoin sosmed aku?"


Galang bersyukur tidak ada nada marah dari suara Maya. "Hm, aku ingin tahu semua tentang kamu, Maya. Apa yang kamu suka, apa yang membuat kamu tersenyum, apapun yang membuatmu senang dan bahagia. Aku ingin memberikan, melakukan semua itu.'


Ada hening sejenak lalu suara diseberang sana membalas, "kenapa?"


Galang mengepalkan jemarinya lalu menjawab dengan tegas, "karena aku suka, aku sayang, aku cinta, dan aku rasa aku butuh kamu untuk melanjutkan kehidupan aku. Dan aku butuh berjuang sebisa mungkin, dengan berbagai cara, untuk membuatmu mengizinkan aku ada didalam hari-hari kamu, Maya."


Mendadak, Galang tak dapat mendengar apapun dari ponselnya. Ia sampai harus melirik lagi pada layar untuk memastikan bahwa telepon tidak terputus. Galang menunggu, tapi sudah berlangsung lebih dari 5 menit tidak juga ada suara dari seberang ponsel.


Menghela nafas panjang, Galang akhirnya berbicara lagi. "Maaf, aku terlalu cepat mengatakan ini semua dan mungkin membuat kamu tidak nyaman. Tapi bagi aku, dunia dan waktu yang berjalan serasa begitu lambat dan menyiksa. Maaf ya, Maya. Aku-"


"Besok pagi sebelum berangkat, jemput aku, Galang."


***


Halo pembaca yang baik!


Jangan lupa jaga hati agar terus bahagia ya!


Love, Author.