
"Tell me how I'm supposed to breathe with no air?
Can't live, can't breathe with no air
That's how I feel whenever you ain't there
There's no air, no air
Got me out here in the water so deep
Tell me how you gon' be without me?
If you ain't here I just can't breathe
There's no air, no air" -Jordin Sparks, Chris Brown - No Air
***
Siang terasa begitu sepi di ruang rawat Ikhsan bagi Maya. Pria yang baru saja melamar dan memasangkan cincin di jari manis Maya itu sudah kembali tertidur. Berbicara banyak bersama Maya membuatnya cepat merasa letih. Belum lagi sore nanti akan ada jadwal untuk melakukan scan menyuluruh pasca operasi. Jika hasilnya memuaskan, maka Ikhsan sudah dapat dilatih untuk kembali bergerak dengan bantuan fisioterapi. Dr. Adrien bilang agar Ikhsan mulai di ajak jalan-jalan meski dengan kursi roda agar ototnya kembali bekerja. Maya sejenak membaringkan tubuhnya di sofa dan tanpa sadar, rasa kantuk dan lelah memeluknya hingga tertidur.
Sudah lebih dari satu jam, Yrene menenangkan dirinya di kursi pojok kantin rumah sakit. Ia terus menerus memandangi taman rumah sakit dengan pandangan nanar. Pikirannya melayang entah kemana, membuatnya benar-benar terlihat seperti orang yang sedang nelangsa. Lamunanya terhenti saat ponselnya bergetar, itu pun ternyata sudah telepon yang ke tujuh kali. Yrene mengangkat telepon dan menyadari di layar tertulis nama Tania.
"Halo, Tan?" sapanya dengan suara serak. Yrene berdehem lalu mengulangi sapaannya pada Tania.
"Rene, gue di rumah lo nih. Lo kapan pulang?" tanya Tania diseberang telepon.
Yrene menarik nafasnya dalam-dalam, sedari tadi ia sudah memberikan cukup waktu agar Ikhsan dan Maya dapat menuntaskan pembicaraan mereka. Hati Yrene terasa ngilu saat menduga apa hasil pembicaraan antara suaminya juga sahabatnya itu. Mungkin, ada baiknya ia beristirahat dulu dan pulang ke rumah. Sejenak beralih pada Ianvs untuk mengobati perih yang sedari tadi hadir di hatinya.
"Rene?" Tania menegur sebab tidak ada jawaban dari Yrene.
"Hm, iya. Ini gue mau pulang. Lo tunggu aja ya, disana. Bye." Yrene mengakhiri pembicaraan mereka. Ia mengigit bibirnya saat beranjak meninggalkan kantin rumah sakit dan berjalan menuju ke ruangan rawat Ikhsan.
Sesampainya di ruang rawat Ikhsan, Yrene mendapati Maya tertidur di sofa. Baru saja Yrene akan membalik tubuhnya ke arah tempat tidur Ikhsan, ia menangkap kilau kecil dari benda yang melingkar di jari manis Maya. Ia merasa sepertinya ada duri-duri kecil yang semakin bertumbuh merobek jantung dan hati Yrene. Namun, ia mengepalkan tangan untuk menguatkan dirinya sendiri. Segera Yrene mengalihkan pandangannya pada suaminya yang masih tertidur.
Yrene berdiri disamping tempat tidur Ikhsan sebentar, memandangi Ikhsan yang terlelap. Ia lalu bergerak pelan untuk memasangkan bunga krisan putih yang sedari tadi ia bawa pada vas bunga di meja samping tempat tidur Ikhsan. Sejenak ia jadi teringat pertanyaan Bimo saat sepupunya itu memberikan bunga ini. Ia berharap Yrene dapat memaafkan Galang yang ternyata juga teman Bimo. Bimo juga berharap Yrene dapat membujuk Ikhsan untuk tidak melakukan tuntutan lebih lanjut pada Galang. Yrene menghela nafas panjang, pundaknya terasa begitu berat menanggung beban yang terus bertambah.
Tiba-tiba jemarinya terasa seperti disentuh. Ketika Yrene menoleh, ia mendapati Ikhsan terbangun dan sedang menatapnya.
"Yang, kamu mau kemana?" tanya Ikhsan parau, khas suara orang baru bangun tidur.
Yrene duduk disamping tempat tidur Ikhsan agar wajah dan kepala Ikhsan tidak terlalu banyak bergerak. "Aku mau pulang dulu ya, Ianvs nungguin dirumah. Sebentar saja, nanti sore aku datang lagi."
Ikhsan menggenggam tangan istrinya itu, "I did it," lirihnya.
"Aku sudah melamar Maya lagi dan dia menerima lamaran aku, Yang," ulang Ikhsan lagi, tangannya lebih erat menggenggam tangan Yrene.
"Terimakasih. Terimakasih sudah membantu aku mewujudkan semua ini. Kamu perempuan yang luar biasa, Yang. Kamu istri yang sangat mulia, " ucap Ikhsan sungguh-sungguh dengan menatap dalam mata Yrene yang juga sudah mulai basah.
Yrene mengigit bibirnya menahan tangis, rasa sesak menjalari seluruh jalur pernafasannya. Ia membalas genggaman tangan suaminya, lalu menyandarkan kepalanya pada dada Ikhsan. Melampiaskan tangisnya, tangis yang ia sendiri tidak paham. Apakah ia begitu senang dengan terwujudnya keinginan Ikhsan atau justru begitu hancur sebab mendengar langsung kalimat Ikhsan tentang hadirnya Maya dikehidupan mereka.
"Terimakasih, Rene. Aku selalu tidak akan berhasil melakukan pencapaian apapun dalam hidupku tanpa kamu disampingku. Sejak dulu, sejak pertama kali mengenal kamu. You are truly my Angel. Tanpa kamu, aku tidak mungkin bisa menuntaskan semua penantian cinta yang terpendam ini. Tapi aku juga ingin kamu percaya, dunia aku selalu berputar disekeliling kamu. Tidak pernah tidak ada kamu. Hidup tanpa kehadiran kamu rasanya seperti bernafas tanpa udara," ujar Ikhsan seraya mengelus lembut kepala Yrene.
Yrene mengangguk meski rasanya oksigen masih belum mengaliri paru-parunya. Ia kemudian mengangkat kepalanya, khawatir tangisnya semakin pecah dan membangunkan Maya lalu justru membuat suasana menjadi canggung. Yrene menghapus air matanya dengan punggung tangan tapi entah kenapa air matanya tidak kunjung berhenti. Ia lalu memutuskan untuk segera pergi, tidak ingin Ikhsan berlama-lama melihatnya menangis.
Yrene beranjak berdiri dan mencium pipi suaminya. "I'm happy for you too, Sayang. Aku pamit ya, kasihan Ianvs menunggu di rumah."
Ikhsan mengangguk, meski ia merasa bahwa Yrene tidak sepenuhnya mengatakan perasaannya.
"Yrene," panggil Ikhsan sesaat sebelum Yrene membuka pintu.
Suara Ikhsan cukup keras hingga membangunkan Maya. Menyadari suasana, Maya cepat memejamkan matanya kembali, berpura-pura tetap terlelap.
"Malam ini bisa nginep disini temenin aku, please?" pinta Ikhsan setelah Yrene membalikkan tubuhnya.
Yrene mengangguk lalu memberikan senyum sebelum akhirnya menutup pintu dan pergi. Sementara itu, Maya yang masih berbaring di sofa merasakan tubuhnya kaku, tidak tahu harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk tetap diam, dan berharap waktu berlalu begitu saja.
***
Sebuah taksi berupa sedan biru berhenti didepan rumah Yrene. Ia dapat melihat bahwa mobil Tania sudah terparkir di depan rumahnya, dan tepat di kursi teras ternyata Tania sudah berdiri menunggu. Yrene memberikan senyuman saat menyambut Tania tetapi perempuan itu tidak membalasnya. Begitu mereka semakin dekat, Tania justru memeluk Yrene erat.
"Rene, dari kemarin gue merasa pengen banget ketemu sama lo," kata Tania berbisik di telinga Yrene. Pelukan Tania terasa berbeda bagi Yrene, seolah pelukan itu begitu erat hingga membantu Yrene merekatkan hatinya yang mulai rapuh. Tak terasa, air mata Yrene meleleh di pipi.
"Thank you ya, Tan. Having you as my best friend is one of the best gift in my life," Yrene menghapus air matanya saat Tania melonggarkan pelukannya.
Merasakan gerakan Yrene menyeka matanya, Tania paham bahwa ada perkembangan masalah yang terjadi. Tania melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Yrene. "Gue udah janji gue akan selalu membantu lo, Rene. Please jangan simpan sendiri luka dan beban lo, ya."
Tania mengusap rambutnya berkali-kali selama mendengar cerita Yrene. Bulu kudknya juga terus-menerus meremang membayangkan betapa menderita kedua sahabatnya itu menghadapi konflik seperti ini. Seakan air mata tak bisa menjadi pelampiasan, juga waktu yang terus memaksa mereka maju menghadapi konflik dan menyelesaikannya meski terluka dan tertatih.
Yrene sudah sampai di penghujung cerita, "Ikhsan, sepertinya paham bahwa gue sekarang belum bisa untuk tegar menghadapi ini. Gue rasa dia akan selalu minta gue hadir di dekatnya. Selain untuk selalu memastikan kondisi gue, juga mungkin menjaga marwah Maya yang belum sah menjadi istri."
"Tapi, setelah lama gue pikir-pikir. Keputusan Ikhsan tadi mungkin acalah cara yang memang baik. Toh hari-hari sebelum Ikhsan menikah lagi nanti, itu adalah saat terakhir gue memiliki dia sebagai kekasih gue seutuhnya," Yrene memeluk bantal sofa saat menyelesaikan kalimatnya. Membayangkan bahwa hatinya lah yang ia peluk, sebab rasanya ia juga butuh untuk selalu menguatkan dirinya sendiri.
Tania menghela nafas panjang setelah menuntaskan air minum di gelas. "Benar, akan sangat tidak pantas jika Maya dan Ikhsan terus dalam hubungan tanpa pernikahan. Memang sebaiknya segera di perjelas saja."
Yrene kemudian menyentuh pelan punggung tangan Tania. Seketika, bulu kuduk Tania kembali meremang. Ia yakin, apa yang akan dikatakan Yrene berikutnya akan menyesakkan jiwa raganya.
"Tan, selama gue nemenin dan ngebantuin Ikhsan pulih, selalu berada di dekatnya, lo mau kan ngebantu Maya mempersiapkan pernikahan mereka?" pertanyaan Yrene bagai setrum listrik yang menyengat hati Tania hingga ke ulu hati.
Yrene kemudian melanjutkan, "Meski pernikahan mereka nanti cuma sebuah akad dari pernikahan siri, walau bagaimanapun itu adalah pernikahan Maya yang pertama. Sebuah penuntasan cinta yang ia pendam bertahun-tahun lamanya. Pernikahan itu penyatuan cinta dua insan yang saling mencintai. Pernikahan itu harus tetap suci dan terhormat. Lo mau kan membantu Maya untuk menyiapkan itu semua bersama Nina, Virsa dan Adel?"
Benar saja, Jantung Tania sudah mencelos seakan ia dijatuhkan dari lantai 100 ke lantai dasar. Ia menelan paksa ludahnya agar oksigen dapat membantu udara mengalir ke paru-paru karena dadanya begitu sesak.
"Rene, gue merasa hampir ga sanggup bahkan gak tahu harus bersikap seperti apa saat menghadapi Maya nanti," lirih Tania.
"Gue tahu," jawab Yrene. "Menurut gue, ada baiknya jika kalian menemui Maya. Ini akan membantu kalian memahami posisi Maya yang sama sulitnya dengan posisi gue. Sehingga kalian ga hanya netral memihak dan bersimpati hanya pada kisah gue. Maya sama terlukanya harus menerima cinta yang ia inginkan tapi dalam kondisi seperti ini."
Mengangguk dan menghela nafas panjang, Tania mengakui bahwa Yrene benar. Sebagai sahabat, merka juga harus memahami kesulitan yang dihadapi Maya. Terus-menerus beforkus pada rasa simpati ke Yrene bisa membuat sikap mereka secara tidak langsung mengucilkan Maya. Padahal hati Maya hanya mencinta dan komplikasi permasalahan ini sendiri tidak ada yang pernah menginginkannya.
"Ok, gue juga akan omongin ini ke Nina, Virsa dan Adel. Lo istirahat lah, gue pamit pulang ya." Tania kembali memeluk Yrene erat sebelum pulang. Hatinya ikut remuk saat melambai pada Yrene yang tubuhnya terlihat semakin kurus. Sebelum menghidupkan mesin mobilnya, Tania mengirimkan sebuah pesan yang saat diterima sahabat-sahabat lainnya, juga terasa menyayat hati.
***
Maya memandangi matahari sore yang menghangat saat menunggu Ikhsan dari pemeriksaan pasca operasi melalui beberapa scan pada bagian kepala. Rahangnya mengeras menahan air mata yang mulai menggenang. Ia merasa seperti kehilangan arah pada dirinya sendiri. Aneh, saat cinta dan impian pernikahan bersama orang yang dulu ia begitu inginkan hadir didepan mata, kenapa justru mengundang rasa perih dan getir yang tak bisa ia jelaskan.
"May," sapa sebuah suara dari arah belakang. Saat Maya menoleh, itu adalah Ikhsan yang sudah duduk di kursi roda. Di belakangnya seorang suster tersenyum sebelum pamit dan menyerahkan Ikhsan kembali pada Maya.
"Pemeriksaannya sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya besok pagi. Boleh tolong antar aku balik?" tanya Ikhsan sambil tersenyum.
Maya mengangguk dan mulai mendorong kursi roda Ikhsan, ia terhenti saat Ikhsan tiba-tiba menyentuh tangannya.
"May, ada apa? Lo kelihatan sedih dan banyak pikiran banget," tanya Ikhsan dengan suara lembut. Suara Ikhsan membuat Maya ingin rasanya menyandarkan kepalanya pada pangkuan lelaki yang telah ia terima menjadi kekasihnya itu. Tetapi, entah kenapa rasanya tidak mungkin melakukan hal itu.
Tidak ada jawaban dari Maya, hanya helaan nafasnya panjang.
"May," ucap Ikhsan lagi. "Seperti nafas, rindu dan cinta harus tuntas. Jika tidak, kita hanya akan terus memendam rasa sesak."
Apa yang dikatakan Ikhsan benar. Bertahun lamanya perasaan ini tidak hilang, seakan tidak ada jawaban lain selain menuntaskannya di sebuah pernikahan. Jika tidak, ia mungkin selamanya akan selalu memandang Ikhsan dengan pandangan penuh cinta dan pengharapan. Yang membayangkannya saja membuat Maya merasa begitu lelah dan tak berdaya.
"Oh iya," Ikhsan berhenti sejenak, seakan sedang meikirkan sesuatu. "Aku juga mau minta tolong agar kamu bisa bawa Mama kamu dan Bang Arya. Aku juga ingin bicara pada mereka. Menurutku kita tidak pantas terus berdua seperti ini. Kalau bisa dan kalau kamu gak keberatan, aku juga akan minta bantuan teman untuk mempersiapkan..." Ikhsan seolah menarik nafas panjang, "mempersiapkan pernikahan."
Maya merasakan perubahan yang janggal dari cara bicara Ikhsan seperti yang biasanya. Setelah tuntas Ikhsan bicara, ia bisa menangkap bahwa Ikhsan mulai menyesuaikan cara bicaranya pada Maya sebagai calon istri. Bukan sebagai sekedar teman lagi. Mengetahu ini, perasaan Maya seperti campur aduk. Antara terasa geli dan lucu, juga malu seakan tak pantas bahagia akan hal itu. Tetapi, apakah benar bahwa Maya memang harus merasa tak pantas ?
Setelah sampai di ruangan rawat Ikhsan dan membantu Ikhsan kembali berbaring, Maya tahu apa yang harus ia perbuat. Ia merasa tak sanggup jika harus mendengar ucapan Ikhsan untuk izin bahwa ia akan menghabiskan malam bersama Yrene, istrinya. Lebih baik ia pamit lebih dahulu.
"Aku harus pulang untuk bicara pada Mama dan Arya. Kamu istirahatlah," ucap Maya yang juga berusaha mengubah gaya bicaranya pada Ikhsan meski lidahnya terasa kaku. Setelah Ikhsan mengangguk dan menutup matanya lagi, Maya keluar dari ruang rawat dan meninggalkan Ikhsan, calon suaminya.
Baru saja tangannya melambai pada taksi yang ia pesan dari aplikasi online, nama Galang Rahardja muncul di layar ponselnya. Maya membiarkan panggilan itu menunggu hingga ia duduk di dalam taksi. Sempat merasa ragu, jemari Maya akhirnya menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon itu.
"Halo, May?" sapa suara Galang di seberang telpon.
***
Halo pembaca yang baik!
Author rasanya sangat tergoda untuk membuat sesi pengumuman untuk berbicara panjang lebar tentang tuduhan para pembaca, hihi.
Tapi hati author berkata lain, author ingin pembaca (yang masih kuat bertahan dari ombak emosi) menikmati konfliknya, menyelami perasaan tiap tokoh.
Agar pembaca dapat merasakan manis yang sangat membekas saat kisah ini berakhir bahagia (harapannya sih gitu. hihi)
Yak!
Jangan lupa alirkan dukungan kalian sebagai apresiasi dari kelanjutan Novel ini ya.
Like, Comment dan Vote nya jangan lupa!
Love, Author.