The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Train to You



Matahari baru keluar dari balik awan kelabu yang cukup tebal. Cahaya perlahan menembus tirai putih kamar Maya. Saat itu Maya sedang memandangi layar laptopnya. Ada sebuah surat yang baru saja selesai ia ketik. Ya, surat resign yang akan ia kirimkan hari ini. Jari telunjuk Maya teranggakt dan terdiam, kursor nya tepat berada pada tombol kirim.


"Maya," panggil suara seorang perempuan paruh baya dari arah dapur.


Tanpa menunda, Maya segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sumber suara tersebut.


"Cobain deh, Mama buat bolu jadul. Enak ga?" tanya Mama Maya sambil menyodorkan sebuah piring kecil berisi sepotong kue sekaligus sebuah garpu kecil. Kue itu tampaknya belum lama keluar dari panggangan.


Maya mengambil garpu dan memotong kue itu. Ia lalu melahap kue bolu dan tanpa bisa ia kontrol, mulutnya bersuara, "Hmm, enak banget, Ma!"


Mama Maya lalu tersenyum puas, ia segera memotong kue untuk dirinya sendiri. Anak dan Ibu itu lalu asik berbicara di dapur, meninggalkan layar laptop dengan surat yang belum terkirim.


***


Sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah bercat hijau emerald. Setelah selang beberapa detik, taksi itu kembali berjalan menjauh meninggalkan seorang pria yang berdiri tegak dengan menggendong tas gunung yang terlihat berat. Di tangan pria itu ada sebuah kantong plastik yang membungkus sebuah kotak kardus kecil.


Setelah berdehem kecil, ia lalu melangkahkan kakinya memasuki area pekarangan rumah. Sang pemilik rumah saat itu terlihat sedang berlarian di dalam rumah. Mengejar gadis kecil yang tertawa-tawa tanpa baju. Setelah mendengar keributan kecil di dalam rumah itu mereda, ia menekan tombol bel disamping pintu. Tidak butuh menunggu lama, pintu itu segera terbuka. Menampilkan seorang ayah yang sekujur tubuhnya basah namun tidak terkesan segar. Jelas orang ini belum mandi, tetapi tubuhnya basah karena memandikan putrinya yang sedang digendong.


"Ya, siapa ya?" tanya pria yang menggendong anak itu.


"Pagi, Saya Galang. Benar dengan Mas Arya, kakak kandung Maya, Kartika Kancanamaya?"


Arya mengerutkan alisnya, mencoba mengingat apakah ia pernah bertemu pria ini. Mukanya terlihat tidak asing tetapi...


"Kita memang belum pernah ketemu secara langsung, Mas Arya. Sekilas aja, di Hotel Royale," imbuh Galang segera untuk memastikan tidak ada timbul kecurigaan pada Arya.


Setelah raut muka Arya berubah, ia segera tersenyum dan menyambut Galang. Jika hadir di acara tertutup di Hotel Royale, sudah pasti pria ini merupakan orang terdekat Maya ataupun Ikhsan, pikirnya. "Ayo masuk," kata Arya sambil membuka pintu lebar.


Putrinya saat itu sudah berbalut baju meski belum terpakai sempurna. Segera setelah Galang duduk di sofa, Arya tampak sibuk merapikan baju putrinya. Setelah rapi, gadis kecil itu kembali berlarian menuju ruangan lain. Barulah Arya sadar bahwa pria yang mengaku bernama Galang itu membawa sebuah tas gunung dan berpenampilan sporty. Benar-benar seperti turis luar negeri yang baru datang ke Indonesia. Arya tidak bisa menebak maksud kedatangan si Galang ini


"Jadi, maksud kedatangan saya ke sini adalah, saya ingin menanyakan perihal keberadaan Maya. Saya adalah atasan Maya di kantor TechnoMedia tempat Maya bekerja sebagai Chief Editor. Dan sudah hampir 2 bulan ini Maya tidak kunjung hadir kembali ke kantor. Saya memahami insiden dan masalah yang Maya alami, sebab itulah saya bermaksud untuk mengunjungi dia. Begitu, Mas Arya," jelas Galang dengan memasang senyum seramah yang ia bisa.


Arya membetulkan letak kacamatanya. "Hm, gak biasanya Maya akan bersikap seperti itu," lirihnya.


Memang benar Maya sedang mengalami permasalahan yang cukup berat dan sudah pasti membutuhkan waktu self-healing yang tidak singkat. Tapi berhenti dari pekerjaannya tanpa kabar, seperti bukan sikap Maya. Namun mengingat beban berat yang Maya alami saat ini, hal itumerupakan sesuatu yang bisa saja terjadi pada Maya.


Arya kemudian berdehem, "Sebelumnya saya mohon maaf atas tindakan adik saya yang mungkin merugikan bapak dan perusahaan bapak. Saya akan kabarkan mengenai kunjungan bapak kepada Maya-"


"Eh! Jangan Mas Arya, tidak perlu," potong Galang buru-buru. Ia membenarkan posisi duduknya lebih condong lagi pada Arya.


"Memang itu merupakan salah satu tujuan saya, sebagai atasan Maya, mengajak dia kembali bergabung ke kantor. Tetapi, itu hanya tujuan kecil saja," imbuh Galang.


Alis Arya berkerut, mulai menyadari kemana arah pembicaraan ini.


"Saya, menyukai Maya. Sangat menyukainya. Tetapi saya baru menyadari perasaan itu setelah ia menjauh dari saya. Saya ingin mencoba dan berusaha untuk memperlihatkan kesungguhan saya pada Maya. Tetapi saat ini saya tidak tahu keberadaan Maya. Dan meski saat ini Maya sedang menyendiri karena mungkin ia masih terluka, paling tidak saya ingin tahu bagaimana keadaannya secara langsung."


Arya mengangguk beberapa kali mendengar penjelasan Galang. Selang beberapa menit, ujung bibirnya terangkat. Entah karena pemikiran bahwa 'lumayan juga nih yang suka sama Maya adalah seorang pemimpin perusahaan', atau dikarenakan peribahasa 'patah satu tumbuh seribu' sangat tepat untuk adiknya, Maya.


Arya lalu melipat tangannya, telah menyadari dan memahami situasi yang Galang maksud. Ia lalu menyadar pada sofa dan berbicara lebih santai. "Hm, jadi maksudnya lo mau datangin si Maya nih, ceritanya? Trus mau cari tahu dari gue sekaligus minta ijin menemui Maya begitu?"


Senyum Galang mengembang, mengetahui bahwa Arya sudah memahami maksud dan tujuannya. "Iya, benar Mas Arya."


Tertawa lepas, Arya sampai harus memegangi perutnya yang mulai buncit. "HaHaha. Haduh, sudah lama gue gak menghadapi hal kocak seperti ini. Eh, man! harus banget lo datang sepagi ini? Dan ini bawa barang banyak banget buat apaan?" tanya Arya sambil menunjuk tas Galang.


Menepuk tas yang ada disampingnya, Galang menjawab santai. "Ya begitu tau dimana Maya, saya akan langsung pergi mengunjungi dia."


"Hah?! Langsung? Pagi ini?" Arya sontak melihat jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 6.30 pagi.


Galang mengangguk mantap. "Saya sudah sangat menahan diri untuk tidak mencari tahu keberadaan Maya selama hampir 2 bulan ini."


Arya menelan ludahnya, "baiklah." Ia lalu beranjak mengambil ponselnya, menanyai nomor Galang dan mengirimkan alamat serta peta digital dimana Maya berada.


"Terimakasih, Mas Arya!" Galang menjabat tangan Arya dengan genggaman yang kuat saking ia semangat. Arya sampai tertawa dibuatnya.


Mengambil dan segera mencangklong tasnya di pundak, Galang segera pamit. "Saya pamit dulu, Mas! Oh iya ini ada martabak buat sarapan Mas Arya dan keluarga."


Menerima dengan bingung, Arya memegang bungkusan yang Galang berikan. Aneh, Martabak yang hangat di pagi hari?


"Martabak? Hey, tukang jualan mana yang jual martabak pagi hari?" tanya Arya, tak mampu membendung rasa penasarannya.


Galang tersenyum malu, ada rona merah di pipinya. "Itu, katanya makanan yang paling tepat di bawakan pada calon keluarga adalah martabak. Jadi, saya masak sendiri martabak itu sebelum flight pagi saya kesini. Cobain, Mas!"


Semakin bingung dengan kalimat 'calon keluarga' dari Galang, Arya menurut saja saat disuruh mencoba martabak bikinan pria itu. Martabak itu masih hangat, dengan adonan sedang dan coklat yang menumpuk. Rasa manisnya pas dan wangi butter nya sempurna. Arya merasa bahwa ini adalah martabak paling enak yang pernah ia makan seumur hidupnya.


Mengetahui bahwa reaksi emmatung Arya adalah respon positif, Galang menepuk bahu Kakak Maya itu."Enak kan, Mas? Nah selamat menikmati! Saya pergi dulu ya!"


Saat bayang Galang melesat dari pintu rumahnya, Arya cepat tersadar akan sesuatu.


"Hey!" panggil Arya. Membuat Galang yang sedang menutup pintu gerbang menoleh kembali.


"Gue baru inget! Elo Galang yang itu?! Galang yang mecahin kepala Ikhsan, bukan?" tanya Arya sambil berteriak dari ujung pintu.


"Uh," keluh Galang. Ia lalu cepat menjawab. "Iya! Tapi ga sengaja! Udah minta maaf! Orangnya juga sudah sehat dan kerja lagi kok, Mas! Bye! Assalamualaikum! Tolong ingat ya Mas, jangan kasih tau Maya!"


Arya menelan keras sebuah potongan besar martabak. "Buset! Jodohnya Maya gak ada yang kontroversial, ya?" lirih Arya sambil menyuap lagi sepotong martabak yang menteganya masih lumer di jari telunjuk dan jempolnya.


***


Telepon Galang berdering, ia melirik sekilas nama di tampilan layar ponsel lalu segera menekan tombol hijau.


"Galang! Lo kemana aja sih? Gue telepon daritadi ga ngangkat juga!" teriak suara di seberang telepon.


Sempat menjauhkan ponsel dari telinga, Galang merapatkan kembali teleponnya dan menjawab dengan tenang.


"Ray, lo tuh kebiasaan panik duluan. Kan lo udah bareng sama gue di waktu yang lama banget sampai gue enek liat muka lo. Tangani aja lah situasinya," jawab Galang sambil mengulum senyumnya.


Tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari speaker kereta tentang stasiun pemberhentian selanjutnya.


"Lang... lo lagi dikereta api? Lo mau kemana, man?" tanya Rayyan. Tadinya ia ingin melampiaskan kemarahannya pada Galang sebab harus mengambil keputusan sulit sendiri tanpa bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan sang bos. Namun, rasa marahnya mendadak hilang menjadi rasa khawatir. Ya, khawatir ditinggal menghilang sejenak dan seenaknya oleh sepupunya itu.


Galang tertawa, "hahaha. Ini misi rahasia, Ray. Mulai sekarang, gue tidak akan sering mengangkat telepon. Jadi, biasakan lah. Sekaligus manfaatkan ini untuk menunjukkan potensi lo pada Pak Wijaya. Gimana?"


Mengutuk dalam hati, Rayyan tidak bisa berkata banyak. Ia terpaksa setuju saja dan mengakhiri panggilannya. Lagi-lagi ia kembali menjadi korban diantara hubungan Maya dan Galang. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju dapur untuk menenangkan diri bersama secangkir kopi.


Galang menyandarkan punggungnya, di layar ponsel yang tergelatak di meja ada tampilan peta digital denah desa tempat tujuannya. Sambil memejamkan mata, Galang menyusun dengan teliti bagaimana ia harus menyapa gadis itu. Sebab kali ini, ia harus memulai semuanya dengan benar.


***


Halo pembaca yang baik 🙋


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya!


Nah buat kamu yang punya ide kreatif tentang bagaimana cara Galang menemui Maya, silahkan share di group author ya!


Ide dan gagasan yang menarik akan author beri reward! Hahaha


Di tunggu ya.


Love, Author.