The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
A visit



 "TIIIIIIIIINNN!!!!" suara klakson dari mobil audi hitam di area parkiran apartement menggema memekakkan telinga.


"Sialan tuh orang!" maki Galang setelah meninju keras-keras klakson mobilnya.


Tepat di kursi sebelahnya ada Maya yang duduk bersandar lemah.


Pakaian Maya yang tadinya basah oleh hujan gerimis di pelabuhan sudah berganti dengan pakaian daster pantai. Bagian bahu yang terbuka ditutupi dengan kemeja Galang, sementara Galang juga berganti pakaian menjadi baju barong khas turis pantai. Galang memaksa Maya mengganti bajunya yang basah sebelum mengangkut Maya pulang.


Mereka tadi berhenti dan membeli baju di toko souvenir yang satu-satunya masih buka di larut malam.


Di toko itu hanya tersisa sepasang daster pantai dan kaos pantai untuk di beli.


Membuat mereka berdua kini berpakaian serasi layaknya pasangan yang baru saja pulang tengah malam selepas indehoy di pantai.


Berbeda kesan dengan pakaian sesarsi Galang dan Maya, suasana di dalam mobil yang berhenti di parkiran itu justru sedang menyesakkan. Galang sampai harus membuka pintu mobilnya untuk benar-benar


merasa bebas bernafas dan lepas dari tekanan amarahnya.


Tangannya masih mengepal dan gemetar.


Ia baru saja mendengar semua cerita dari mulut Maya, tentang apa yang terjadi di The Cabin sore tadi.


"He shouldn't say it! He can't say it god damn it, Ikhsan!" Galang tak kuasa menahan dirinya untuk tidak memaki.


Maya masih terdiam tak juga merespon, ia sudah terlalu lelah dan hanya ingin tidur.


"Dia gak bisa mengaku cinta sama lo after all this time! After having a wife!" Galang menekankan kalimat terakhirnya dengan geram.


"Apa maksud dia coba?! Apa dia gak bisa mikir lo udah menderita memendam rasa suka ke dia selama ini?!


Bahkan jika dia juga suka sama lo, he should keep it to his self.


Dan sekarang dengan damainya dia ninggalin lo yang pasti bakal terpuruk sementara dia lega telah melepas perasaannya? Dan kembali ke pelukan istrinya? Melanjutkan hidup yang bahagia?


Shit! He's gonna pay for all of this!" Galang sekarang bangkit dan keluar dari mobil lalu menutup pintu mobil dengan sangat keras.


Maya menelan ludahnya. Apa yang dikatakan oleh Galang tidak sepenuhnya salah juga tidak sepenuhnya pula benar. Tapi Maya tidak punya energi untuk menjelaskan keadaan yang mungkin Galang tidak pahami di situasi antara Maya dan Ikhsan.


Maya beranjak keluar dari mobil sambil melirik lemah pada Galang yang masih emosi. Ia pikir percuma juga menjelaskan pada bos nya yang sedang marah. Sisa-sisa energinya akan menguap dengan cepat jika ia berusaha lebih lagi untuk hari ini.


Ia tersenyum lemah dan berkata, "Lang, udahlah. Udah cukup. Life goes on, eventually I should move on."


Dengan matanya yang bengkak dan sayu, Maya melambaikan tangannya pada Galang tanda pamitan pergi.


 ***


Tepat pukul 01:00 dini hari, suara deru mobil terhenti di garasi membangunkan Rayyan yang sedang tertidur di sofa. Sore tadi ia diminta untuk menginap di rumah Galang, entah untuk alasan apa. Galang hanya bilang, ia ada perlu dan butuh seseorang yang bisa terus-menerus dihubungi dan berjaga-jaga di rumahnya.


Saat Rayyan mengucek dan menggosok matanya yang masih mengantuk, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Lang, kenapa baju lo? Kok jadi pakai pakaian pantai gitu?" tanya Rayyan tanpa menyadari raut wajah Galang.


"Ray, pegang office dulu buat hari ini. Gue ada urusan" tukasnya dingin sambil berjalan menuju kamar.


"Urusan apaan? Mendadak banget?" seingat Rayyan, Galang tak punya janji temu dengan siapun di agenda kerja.


"I'm going to take early flight, in the next 5 hours!" sahut Galang dari dalam kamar.


 "Flight? Where?!" mata Rayyan yang tadi hanya terbuka setengah kini sudah terbuka sepenuhnya.


 ***


Seorang suster yang didampingi oleh Dokter Jane mendorong kereta bayi ke sebuah kamar tempat Yrene rawat inap. Bayi di dalam kereta itu telah melalui pemeriksaan fisik sepenuhnya dan sudah boleh terus menerus dalam dekapan ibunya. Dan jika si bayi terbangun dari tidurnya, Yrene-sang Ibu bisa langsung menyusuinya. Jika keadaan berlangsung baik, Yrene seharusnya sudah diperbolehkan untuk pulang besok.


Ketika dokter Jane masuk, Yrene sedang ditemani oleh Ikhsan, Ibu Ikhsan dan Ibu Yrene.


 "Gimana keadaannya, Yrene? Ada keluhan?" Dokter Jane bertanya sambil menggendong bayi mungil itu lalu menyerahkannya pada pelukan Yrene.


Yrene menerima bayinya sambil menggeleng dan tersenyum, "Gak ada keluhan dokter, cuma masih merasa lemas."


 "Air susunya sudah keluar?" Dokter Jane mengambil posisi di samping tempat tidur untuk lebih dekat dengan Yrene dan sang bayi.


Yrene mengangguk senang, ia kemudian membuka kancing baju dan mulai menyusui bayinya sambil diamati oleh Dokter Jane. Setelah memastikan proses latching bayi Yrene, Dokter Jane tampak mengangguk puas.


Sang bayi tampak rakus meneguk asi, bahkan suara menelannya sampai terdengar dan mengundang tawa dari semua orang yang ada di ruangan itu.


Dokter Jane kemudian mengajak Ikhsan berbicara.


"Yrene masih lemah, tapi sudah harus menyusui bayinya. Sebaiknya dia segera makan banyak agar asi nya juga banyak.  Coba belikan makanan yang dia sukai" pesan Dokter Jane pada Ikhsan, lalu segera kembali pada Yrene yang sudah selesai menyusui bayinya untuk melakukan pemeriksaan fisik.


Ikhsan kemudian segera berpamitan untuk membelikan makanan yang bisa mengembalikan energi Yrene.


Ia juga berpesan untuk jangan menerima terlalu banyak tamu. Kelahiran putra pertama mereka tidak perlu di kabarkan di social media dulu, cukup ke orang-orang terdekat dan keluarga saja.


Mungkin nanti setelah lepas 1 bulan, adalah waktu yang tepat mengumumkan kabar gembira itu. Yaitu setelah semuanya settle dan kondisi Yrene serta bayinya cukup baik untuk berinteraksi dengan orang banyak.


Yrene mengiyakan permintaan Ikhsan, toh kabar kelahiran putranya juga hanya ia share di group chat keluarga dan "My bitches" para sahabatnya.


Baru saja Ikhsan keluar dari ruangan rawat inap Yrene, sudah terdengar suara gaduh dari lorong di depan.


Dari khas suara-suara tersebut, Ikhsan menduga mereka adalah kawanan sahabat Yrene.


Di persimpangan lorong, mereka bertemu. Dan benar saja, meski hanya 4 sahabat Yrene tetapi kelompok ini sudah sangat ramai. Adel, Nina, Tania dan Virsa.


Mereka masing-masing membawa para suami dan anak. Belum lagi suster yang memegangi anak-anak mereka serta perangkat balon "Welcome to the world baby boy" dan juga pernak-pernik lainnya.


Ikhsan segera meringis, ia dapat membayangkan suasana gaduh di dalam ruangan Yrene nanti.


"Eh Ikhsan! Mau kemana? Kita mau ngunjungin Yrene ini!" sahut Tania yang tangannya ditarik-tarik oleh anaknya, Tom. Tom kini sudah berumur hampir 3 tahun dan kelihatan sangat-sangat aktif.


Sambil mengelap keningnya yang sedikit berkeringat, Ikhsan menggelengkan kepala.


"Gue mau beli makanan dan cemilan dulu buat Yrene ya, kalian masuk aja dulu" jawab Ikhsan.


 "Lah ini kita bawa banyak makanan, cake, buah... mau cari apalagi?" tanya Virsa yang memang terlihat membawa banyak kantong.


"Mi instan! Yrene bilang itu makanan pertama yang dia pengen banget makan setelah 9 bulan hamil ga makan mi instan sama sekali" tukas Ikhsan sambil mengangkat bahunya.


Meskipun menurut Ikhsan ini adalah permintaan yang aneh, tapi jika ia ingat-ingat Yrene cukup menderita juga menahan godaan aroma saat Ikhsan menyantap mi instan semasa Yrene hamil. Jadi, Ikhsan pun menurut saja untuk membelikan makanan yang istrinya idamkan itu jika telah melahirkan.


 "Ih tuh anak, ada-ada aja. Yaudah, cepetan balik ya!" sahut Nina sambil melambaikan tangan pada Ikhsan yang sudah berjalan menjauh.


Sebenarnya Ikhsan juga ingin memanfaatkan waktu ini untuk sedikit istirahat dan merenungi sejenak momen sakral ia telah berubah status menjadi seorang Ayah. Ikhsan kemudian membelokkan langkah kakinya ke arah Masjid di belakang bangunan rumah sakit. Ia berencana ingin mengadu dan bersujud syukur atas keselamatan baik pada istri dan bayinya. Juga rencana kecil untuk memanfaatkan sedikit waktu untuk sejenak berbaring dan memejamkan mata, melepas lelahnya sejak kemarin pula.


"Yrene dan sahabat-sahabatnya tidak akan sebentar berkumpul disana, kan?" gumamnya.


***


Virsa sibuk memasang balon dekorasi "Welcome to the world baby boy" di belakang dinding tempat tidur Yrene. Sementara Nina sibuk menata beberapa dekorasi di tempat tidur bayi. Tania di hebohkan dengan membantu Yrene berdandan dan Adel sedang sibuk melakukan panggilan video call.


 "Eh, udah nyambung nih Maya guys, Maya! Mayaaaaa..." sapa Adel dengan ceria pada layar ponselnya.


Di seberang layar sana ada Maya yang sedang melambaikan tangannya dengan blazer putih tampak seperti sedang berada di cafetaria kantor.


"Hai! apa kabar semuanya?" sapanya dengan ceria.


"Maya, miss you!"


"May jangan kerja mulu, bolos aja sini terbang kesini!" Semuanya tampak heboh berebutan untuk masuk dalam *frame *layar video call.


"Berisik deh lo pada, mana Yrene?" dengan sekejap layar handphone menampilkan Yrene yang menggendong bayinya dengan senyum lebar.


"Oh dear, I'm so proud of you! Congratulations, rene!" Maya menutup mulutnya dan ekspresinya terlihat haru.


"Thank you, May! Kapan ke sini?" tanya Yrene dengan antusias juga karena diapit oleh 4 sahabat lainnya.


Maya tampak melihat jam tangannya, "Bulan depan ya, gue pengen cuti panjang!"


"Oke, kita tunggu! Bawa oleh-oleh yang banyaaaaak banget!!" sahut Adel yang diiyakan oleh yang lain juga.


"Siap. Eh mana baby boy nya gue mau liat juga dong!" Lalu kamera diarahkan pada bayi Yrene yang tampak sedang menjilat-jilat sisa asi di bibir mungilnya.


Maya sedikit terpaku pada makhluk kecil itu. Ia mewarisi rambut persis Ikhsan, juga lesung pipit di sebelah kanan itu... Dagu bayi berbelah itu jelas pula seperti milik Ikhsan...


 "May, hey kok bengong?" tanya Yrene saat menyadari bahwa gambar Maya di layar terdiam bukan karena terputus jaringan.


"Your baby is so beautiful, rene!" jawab Maya sambil menyeka ujung matanya yang sedikit berarir.


Virsa sudah langsung merebut ponsel tersebut dari tanga Yrene dan bersiap menceramahi Maya.


"Makanya, buruan dong lo nyusul. Jangan sibuk kerja melulu lo, May.


Mau ngumpulin uang segimana banyaknya lagi sih lo?"


Maya memutar bola matanya seolah sebal mendengar ceramah Virsa.


Dengan bercanda ia menjawab, "Sampai elo ga bisa ngedip ngeliatin gue dari ujung kaki ke ujung rambut!"


Lalu jawaban Maya mengundang tanggapan yang rusuh dari sahabat-sahabat lainnya hingga salah seorang suster mengetuk pintu dan menegur kebisingan mereka.


 ***


Pukul 09:00 pagi, sebuah taksi elite berhenti di depan lobby rumah sakit swasta yang terkenal di kota. Seorang pria muda dengan tegap keluar dari kursi penumpang dan berjalan lurus menuju respsionis.


Ia kemudian tampak menelepon seseorang, mengangguk dan dengan yakin berjalan menuju lift.


Di dalam lift, ia menekan tombol lantai menuju ruangan rawat inap lalu mengeluarkan sebuah bunga dari dalam tas kertas.


"Hi Bro!" seseorang dengan jas putih dokter mengangkat tangan menyapa saat pintu lift terbuka, menyapa pria di dalam.


"Hi Bimo, apa kabar lo?" Galang segera menjabat tangan Bimo, salah seorang dokter di rumah sakit itu yang juga teman masa kecilnya.


"Nih buat lo, selamat ya Bapak Kepala Departmen Bedah!" lanjut Galang lagi seraya menyerahkan bunga yang ia bawa.


Lelaki yang disapa Bimo itu terkekeh tapi ia tidak menolak bunga yang Galang berikan.


Ia sempatkan untuk sekilas memperhatikan warna dan jenis bunga yang ia terima.


Ia pikir bunga ini cukup mewah dan akan sangat cocok jika di letakkan di meja resepsionis suster.


 "Wah repot-repot nih lo, Thank you ya!


Lagian itu pelantikan sudah lama ah! Sudah 3 bulan yang lalu.


Ada urusan apa seorang Galang kesini?


Jangan bikin jantung gue copot loh, ngeri-ngeri juga dengar CEO techno media mampir ke RS gini.


Mau cari konten berita viral lo?" oceh Bimo pada Galang yang hanya membalas dengan senyum simpul.


"Engga lah, ada orang yang mau gue kunjungi, Bim.


Tapi gue butuh ketemu sama lo dulu.


Biar gue butuh alasan lah..."


"Alasan?" tanya Bimo bingung, entah apa maksud si Galang ini.


"Ah udahlah, lo pasti sibuk kan?


Sana balik kerja, Gue mau lanjut ke agenda gue. Bye! I'm proud of you!" Galang menepuk pundak Bimo dan berlalu, meninggalkan Bimo yang merasa begitu janggal.


"Alasan? Menemui gue dijadikan alasan?


Cih, kayak yang bakal melakukan tindakan aneh aja nih si  Galang" gumam Bimo sambil memperhatikan kemana arah Galang berjalan.


Galang berjalan menuju ruang inap VVIP. Bimo lalu mengangkat bahunya.


Tentu saja, mungkin Galang menemui kerabat penting di ruangan VVIP.


Atau mungkin seseorang yang penting baginya.


 ***


Suasana di ruangan Yrene sudah sepi.


Rombongan sahabatnya yang sangat gaduh itu baru saja pulang dan menyisakan kamar yang penuh dekorasi.


Kamar ini benar-benar sudah siap untuk jadi sesi pemotretan new born dan pembuatan dokumentasi video cinematic.


Baru saja Yrene akan menghubungi dan memesan jasa seorang videographer kenalan Ikhsan, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Yrene menduga itu adalah suster yang akan melakukan pemeriksaan, tapi saat ketukan itu butuh jawaban izin dari Yrene, sudah pasti itu bukan suster seperti dugaannya.


"Ya, masuk!" sahut Yrene sambil melirik bayi nya yang masih tertidur lelap di tempat tidur khusus bayi tepat di samping ranjangnya.


Yrene sebenarnya ragu juga menerima tamu di balik pintu itu. Orang-orang yang menjaganya secara kebetulan sedang tidak bersamanya. Ia benar-benar tinggal berdua saja dengan bayinya. Secara reflek, Yrene segera menggenggam ponselnya.


 "Permisi, selamat Pagi" sapa suara itu saat pintu terbuka.


Yrene menjulurkan kepalanya dan mendapati seorang pria tampan dan rapi di ujung pintu, berdiri dengan sopan menunggu dipersilahkan.


"Ya? Anda, siapa ya?"


"Perkenalkan saya Galang Rahardja, rekan bisnis suami anda, Ikhsan Al-Hakim" jawab Galang sambil menundukkan kepalanya tanda sapaan hormat.


Selepas Galang memperkenalkan diri, bayi mungil Yrene tiba-tiba terbagun dan menangis.


Yrene dengan cepat mengambil bayi nya dan menenangkan pria mungil di tangannya itu.


"Shh.. Shh.. Ibu disini sayang, Sssh..shhhh" ucap Yrene sambil menimang bayinya.



Jauh dilubuk hati Galang, ia memohon maaf dan meminta izin pada bayi mungil itu untuk memulai percakapan serius dan menyakitkan untuk sang Ibu.


***


Hi pembaca yang baik 🙋


Mohon dukungannya terhadap karya author dengan berikan review di komentar ya, like, vote dan share ya 💞


Dukungan kalian sangat berarti bagi perkembangan karya author :')