
"You look so pretty!" puji Galang sambil bersandar pada kusen pintu kamarnya, memandangi Maya yang tengah berdiri tegak di depan cermin memastikan penampilannya sebelum pergi.
Rencananya hari ini Maya dan galang akan mengunjungi rumah seorang investor TechnoMedia yang baru saja bergabung 1 bulan yang lalu. Ia berkebangsaan perancis namun istrinya adalah seorang wanita seniman dari Purwakarta. Tepat 2 minggu yang lalu ia memutuskan untuk melakukan merger sebuah majalah mode yang ia kelola untuk mejadi bagian dari TechnoMedia. Jujur saja, ini merupakan keuntungan yang sangat besar bagi Galang. Kini ia sangat percaya dengan istilah 'rejeki istri.' Dan oleh sebab itu pula, pada undangan makan malam kali ini Galang berniat mengajak Maya untuk ikut.
Maya memasangkan sabuk pengaman dan berdehem. Sejujurnya ia sedikit merasa gugup. Meski sudah beberapa kali mendampingi Galang dalam acara bersama rekan bisnisnya. Mungkin kali ini dikarenakan Maya juga sempat mengenal sosok yang akan mereka temui. Ia adalah Sir Hans, yang pernah menolak lamaran kerja Maya dulu.
"Gak usah gugup juga kali, kan cuma makan malam biasa," ucap Galang sambil mengelus jemari Maya.
"Iya juga sih, malah jangan-jangan dia gak pernah ingat nama aku kan, ya," jawab Maya sambil menghela nafas.
Galang mengulum senyumnya, "ups!" dan seketika istri cantiknya itu mendelik tajam.
"Ih! Jangan-jangan malah kamu cerita ya ke dia soal aku pernah ngelamar kerja di BIZARE?" Mendapati suaminya malah tertawa semakin jadi, Maya lantas langsung mencubiti bahu Galang.
"Aduh, sorry-sorry! Dia juga ketawa-ketawa kok ingat itu. Katanya saat itu kamu terlalu ekstrim dan akan menjadi atasan yang terlalu keras untuk pekerja-pekerja disana. Alias galak, tau gak? Hahaha!"
Mencibir, Maya lalu melipat tangan di dadanya. "Habisan, masak semua orang disana pas sesi wawancara tampaknya menentang semua pendapat aku, justru menuntut untuk mengamini maksud mereka."
"Yah typical bisnis mereka kan gitu. Udah deh, daripada gugupin hal itu, mending kita gugup soal menu apa yang akan dia masak nanti!"
"Hah emang kenapa?" Maya memutas sedikit bahunya menghadap Galang.
"Jadi si Hans ini sama kayak aku, hobi masak gitu, Hon. Lalu dia bilang lah, dia ingin masak makanan khas perancis untuk menyambut kita gitu, karena aku sempat ngaku ke dia kalau aku belum pernah nyoba masakan perancis," Galang lalu menginjak rem saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah di sebuah perempatan jalan raya.
"Tapi si Hans ini kan orangnya rada nyentrik dan aneh, aku jadi khawatir dia masak yang aneh-aneh juga. Bahkan Honey, kamu tau aku tadi malam sampai mimpi kita disuguhi escargot yang masih hidup! Wek!"
Mendengar ucapan suaminya, Maya justru memutar bola mata. "Tapi escargot kan dimasak sayang, ga dimakan hidup-hidup!" protes Maya.
Galang bergidik lalu membalas, "Ya mana aku tahu, namanya juga mimpi!"
"Eh tapi," ucap Galang kemudian. "Kalau dia masak escargot kamu mau makan gitu yang? Bekicot, Honey! Bekic Aw!!"
Maya mencubit gemas paha Galang sebab suaminya itu berbicara terlalu dekat ke telinganya. Benar-benar berniat iseng untuk menakut-nakuti Maya soal hidangan di rumah Hans. "Itu udah hijau lampunya, jalan!"
Sambil mengelus bekas cubita gemas istrinya, Galang menginjak pelan pedal gas. Mukanya masih sedikit meringis dengan alis berkerut. Untuk sementara, Galang tidak berani menggoda dan menjahili wanita yang merajai hatinya itu.
***
Maya dan Galang saling melirik saat hidangan demi hidangan di sajikan di meja. Galang benar, Hans dan istrinya memang benar-benar nyentrik dan aneh. Anggota keluarga mereka hanya berempat dengan dua anak perempuan kembar yang terlihat seperti banyangan cermin. Keduanya bahkan berdandan persis sama, membuat Maya sedikit pusing ketika memperhatikan Emma dan Emilie. Tetapi, keluarga ini memiliki sebuah meja makan yang begitu panjang dengan banyak kursi, seolah peserta makan malam berjumlah 20 orang.
Setelah selesai dengan sup sebagai makanan pembuka, kini mereka beralih pada hidangan utama. Keluarga Hans sepertinya telah menyewa seorang koki untuk memasak hari ini. Sebab hidangan utama yang disajikan bak makanan-makanan yang ada di film-film perancis yang Maya tonton.
"Ratatouille!" gumam Maya dan langsung disambung riang oleh si kembar Emma dan Emilie.
"Oui, Maya!" ucap salah seorang diantara mereka sambil menyodorkan hidangan itu untuk Maya ambil.
Baru saja tangan Maya menyentuh sendok untuk mengambil hidangan itu, tiba-tiba perutnya merasa berputar. Cepat-cepat ia mengambil serbet yang ada di pangkuannya dan berlari ke arah belakang. Maya tidak dapat menemui dimana toiletnya, ia lupa menanyakannya. Alhasil, Maya memuntahkan isi perut yang berisi hidangan sup ke westafel di dapur keluarga Hans.
Dengan wajah panik, Galang pamit menyusul Maya yang sudah lenyap dari pandangannya. "Honey!" serunya.
Hans dan istrinya saling melirik sebentar lalu ikut menyusul langkah Galang. Sementara si kembar yang sempat terpaku memilih untuk tetap melanjutkan makanannya.
"May, kamu gak papa?" tanya Galang sambil mengelus pundak Maya yang sedang mengucurkan air ke westafel.
"Kamu sih tadi ngebahas escargot escargot itu. Aku jadi ngebayangin bekicot hidup pas lihat hidangan ratatouille-nya. Rasanya ada bekicot merayap di perut aku," jawab Maya lemas sambil bersandar di dinding.
Mengerutkan keningnya merasa bersalah, Galang memapah tubuh Maya. Dan saat mereka berbelok, pasangan Hans sedang berdiri memandang prihatin.
"Apakah hidnagan kami yang membuatmu mual?" tanya Sesilia, istri Hans.
Maya menggoyangkan telapak tangan kanannya, "bukan. Hidangannya terasa lezat sekali."
"Tadi di mobil kammi bercanda tentang bahwa kami tidak siap mental mencoba memakan escargot. Untunglah kalian tidak menyajikan itu," jawab Galang jujur. Perutnya langsung di cubit oleh Maya, membuat Galang langsung tersadar oleh ekspresi dari sepasang suami istri Hans.
"Oh, kami memasak hidangan itu sih, hanya saja belum di keluarkan," cicit Sesilia sambil menutup mulutnya.
Mendadak, Maya merasakan mual lagi. Secepat kilat ia membalik badan kembali ke wastafel, namun kali ini tidak ada lagi sisa makanan yang keluar.
"Wait, dear. Kamu yakin rasa mualmu karena berbicara tentang escargot? Or there is a baby escargot growing in your belly?" tanya Sesilia saat menghampiri Maya memberikan sebuah tissue untuk mengelap mulut.
"What?" lirih Maya. Tepat disamping Maya, manik mata Galang membesar.
"Oh god!" Galang mencengkram jantungnya.
"Tunggu-tunggu-tunggu! Perasaan bulan lalu aku masih datang bulan, Hon!" protes Maya. "Dan ini belum jadwalnya aku datang bulan, it's too fast to expect!" ucap Maya lagi.
Sesilia memberikan senyum aneh pada Hans. Pria itu lalu pergi sebentar dan kembali dengan sebuah kotak P3K dan menyerahkan kotak itu pada istrinya. Seperti merogoh dalam kompartemen-kompartemen kecil tersembunyi, Sesilia tampak mencari sesuatu. Awalnya Maya pikir Sesilia mencari sebuah obat pereda mual, namun ia lalu menyerahkan sebuah kertas karton pipih.
Menerima kertas katon pipih berwarna biru, manik mata Maya membesar. Sebuah Testpack?! Maya langsung mengembalikan pada Sesilia. Selain malu melakukannya di rumah orang lain di waktu yang tidak tepat, Maya juga tidak mau terlalu cepat berharap dan lalu kecewa begitu saja.
"Tidak ada salahnya, kami sangat berpengalaman dalam hal ini," ucap Hans meyakinkan Maya.
"Berpengalaman? Anak anda hanya dua saja," kilah Maya kesal.
"Loh? Bukankah sudah jelas anda melihat jumlah kursi dan panjang meja makan milik kami? Dua kembar Emma dan Emilie itu adalah anak paling kecil kami. Kami punya 8 anak, dan 6 dari mereka semuanya sudah bersekolah di luar negeri," jelas Hans sambil menaikkan alisnya bangga.
Menoleh sejenak pada Galang, Maya justru mendapati suaminya dengan ekspresi berharap. tetapi Maya saat ini merasa sangat tidak nyaman juga sangat tidak siap. Ia lalu memberikan pandangan penuh sinyal pada galang disertai gelengan pelan penanda penolakannya untuk tindakan tes kehamilan itu. Meski berat, galang akhirnya memejamkan matanya dan mengangguk pelan, menyetujui keinginan istrinya.
"I think we should go back home early, Hans. And thank you so much for the food Sesilia!" ucap Galang sambil memeluk Hans dan Sesilia, sementara itu kedua pasang suami istri Hans terlihat sangat enggan melepas Galang dan Maya.
***
Selama di perjalanan pulang, Maya sedikit merasa resah. Ia merasa tidak enak pada tatap mata Galang yang sarat akan rasa kecewa. Tetapi Maya tahu bahwa melakukan tes kehamilan bisa jadi adalah tindakan yang percuma, sebab saat ini Maya belum mendapati tanda-tanda kehamilan. Dan muntah tadi? Sudah jelas karena Galang membahas tentang mimpinya soal bekicot hidup.
"Hon," lirih Galang saat mobil berhenti di lampu merah. Mendengar nada Galang, Maya langsung memegang keningnya. Seolah tahu betul bahwa Galang sudah siap membahas tentang tes kehamilan itu lagi.
"Kita bisa mampir ke apotek kan? Kita bisa lakukan tes di rumah dan merasa lebih nyaman," ucap Galang santai.
Maya memutar bola matanya dengan kesal. Ia yakin Galang tidak akan berhenti membicarakan ini sampai keinginannya bisa terlaksana. Jadi, Maya hanya memaksa tersenyum dan mengangguk, mengiyakan kemauan dan rasa penasaran suaminya. Lagi pula ia bisa puas mengomeli Galang jika seandainya hasil dari tes kehamilan itu tepat seperti dugaan Maya.
Tapi, bagaimana jika tidak? Bagaimana jika nanti hasilnya positif? Ah! Maya cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan bahwa ia akan hamil secepat ini. Mereka bahkan baru nikah selama dua bulan!
Sesampainya di rumah, Galang dengan cepat mendahuli langkah Maya. Membuka semua pintu yang akan Maya tuju sehingga Maya tidak perlu membuka atau bahkan menutup pintu yang ia lewati. Tentu saja ini adalah kebiasaan Galang jika ia ingin menuntun Maya ke tempat yang ia inginkan. Biasanya tempat itu adalah meja makan saat Galang berniat membuat masakan spesial untuk Maya. Kali ini, tempat itu adlaah kamar mandi.
"Honey, kalau rasa mual aku tadi karena cerita escargot kamu, kamu utang sesuatu ke aku ya!" ucap Maya berpura-pura mengancam Galang.
"Yes, Mam!"
"Pijetin aku tiap malam sebulan penuh!"
"I will!" Dan begitulah Galang, tetap akan terus begitu jika ia punya keinginan. Ia akan mengiyakan, melakukan dan mengorbakan apapun untuk meraih tujuannya.
Maya mencibir sikap gigih suaminya itu yang bahkan tetap sama perihal desakan tes kehamilan ini. Ia lalu perlahan memasuki kamar mandi dan masih memberi lirikan tajam pada Galang yang berdiri tepat di depan pintu.
Memandangi alas tes kehamilan yang berjumlah 6 pcs hasil buruan Galang, Maya sedikit gugup. Ini pertama kalinya Maya harus menggunakan alat ini sendirian. Biasanya ia hanya menampung air seni saat Medical Check-Up rutin tahunan saja. Tidak pernah ia menggunakan air seninya untuk melakukan sebuah tes.
Dengan gugup, Maya membuka ketiga bungkus alat tes dan mengeluarkan masing-masing alat dari bungkus kemasan. Kata Galang, ia sengaja memberi sebanyak 6 pcs. 3 akan digunakan untuk perbandingan awal, dan 3 lagi akan digunakan nanti jika mereka ragu dan berniat mengulang tesnya. Padahal, Maya yakin, meski 100 alat tes sekalipun jika hasilnya tidak memuaskan Galang, suaminya itu sudah pasti akan mengajukan proposal untuk pengecekan pada dokter. Hah! Memikirkan perihal itu membuat Maya sudah terbayang lelahnya berdebat dengan Galang.
Maya melirik sekitar rak di kamar mandinya dan memutuskan untuk menggunakan cup kumur sikat gigi Galang. Meski nanti cup ini akan dibuang tetap saja memilih cup milik Galang dan bukan milik dirinya merupakan bentuk pelampiasan kecil-kecilan Maya pada suaminya yang terkadang memang menyebalkan.
Menarik nafas dalam-dalam, Maya duduk tenang dan berkonsentrasi untuk menampung air seninya. Seolah tubuhnya sudah tau akan beban mental yang Maya alami dan tidak ingin mempersulit keadaan, maya dapat mengeluarkan air seninya dengan mudah dan terlihat cukup untuk melakukan tes.
Tok! Tok! Tok!
"Yang, udah belum?! Susah engga?! Butuh bantuan?" oceh Galang dari luar pintu kamar mandi.
Maya berdecak sebal. Mau bantu apa pula suaminya itu? Membantu Maya untuk pipis? Dengan cara apa? Menggelonggong Maya layaknya sapi korban peternak jahat?
"Sabar atuh ih!" jawab Maya setengah berteriak. Ia tahu Galang sudah pasti tidak sabar melihat hasilnya. Tetapi yang justru sangat penasaran disini justru adalah Maya.
Sambil menelan ludah dan mendengar degup keras jantungnya sendiri, Maya mencelupkan alas tes pertama ke wadah tampungan air seni. Seperti arahan pada kemasan, maya menunggu selama sekian detik lalu mengangkat alat tes tersebut. Maya melakukan hal yang sama pada dua alat tes lain.
Perlahan, sebuah garis merah muncul di permukaan alat tes pertama. Disusul sebuah garis merah tipis lainnya yang terlihat seperti bayang-bayang tidak jelas. Maya memicingkan matanya melihat dua buah garis merah yang terukir pada alat tes kehamilan itu. Ia lalu meletakkan alat tes itu tepat disamping instruksi penjelasan penggunaan alat tes.
Manik mata Maya membesar saat otaknya memproduksi sebuah kesimpulan. Cepat-cepat ia beralih pada alat tes kedua. Kali ini alat tes kedua juga memberikan hasil yang sama. Sebuah garis merah yang jelas disusul garis merah yang tipis. Hanya saja garis merah kali ini lebih samar. Tetapi tetap saja hasil dua garis merah ini tentu menyimpulkan hasil yang sama dengan alat tes pertama.
Tangan Maya bergetar mnegambil alat tes ketiga yang di klaim Galang sebagai alat yang paling mahal dari dua alat sebelumnya. Maya menutup matanya dan mengintip perlahan hasil garis merah pada permukaan alat tes. Alat itu justru menunjukkan dua buah garis merah terang yang tentu saja bermakna, Maya positif hamil.
"Yaaaang... Sayaaaaang, Honeeey! Kok diem aja sih didalem?" teriak Galang dari luar.
"Buka dong, Yang!" teriaknya lagi. Ada nada tidak sabar. Ia bahkan mulai mengetok pintu.
"Mayaaaa, Sayaaang!" teriak Galang lagi. Kali ini berusaha memutar kenop pintu.
"Ya-!"
JGREK! Maya membuka pintu kamar mandi, membuat Galang terperanjat kaget.
"Hon?! Hon? Gimana hasilnya?" tanya Galang tak sabar sambil memegang kedua pundak Maya.
Terlihat sepucat patung, Maya menelan dengan kasar saliva keringnya. "I think I have baby escargot in my stomach, Galang!"
"Hah?!" Galang tidak memahami maksud Maya. Bagaimana bisa ada bayi bekicot didalam perut Maya sementara tak secuilpun Maya mencoba makanan perancis yang terbuat dari bekicot itu.
Galang lalu beralih pada meja marmer kamar mandinya dan melihat beberapa alat tes kehamilan yang tergeletak disana. Alih-alih mencoba tiga alat, Maya justru sudah membuka 5 alat tes dan mencoba semuanya. Dan ketika Galang memperhatikan garis-garis kecil pada permukaan alat tes kehamilan itu, nafas Galang tercekat. Cepat-cepat Galang membuka alat tes ke-enam dan mencelupkan sendiri alat tersebut pada wadah tampungan air seni Maya.
Selang lima detik Maya menghitung dalam hatinya, ia menutup telinganya sebab ia sudah tahu bahwa suaminya itu akan...
"Woaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!! I have a baby escargot!!" teriak Galang.
Pria besar itu sontak melemparkan alat tes yang tadi berada di tangannya dan berlari memeluk Maya. Ia lalu menciumi kening istrinya itu, mencium pipinya, mencium bibir dan wajahnya, bertubi-tubi.
"Aku bakal jadi bapak, hon! Bapak! Bapak untuk anakku!" teriak Galang tepat di depan wajah Maya.
"Hey, hey hey! Let's hear what doctors said, okay?" tanya Maya sambil ikut tersenyum lebar.
"Okay! Okay! Okay!" sahut Galang semangat sambil bergegas membuka pintu lagi, tentu saja, untuk menuntun Maya keluar lagi. Ya, mencari atau lebih tepatnya menggedor klinik kebidanan untuk tetap buka di jam 9 malam.
***
Halo!
Seru ya si Galang seneng banget jadi Bapak. Hahaha.
Episode berikutnya saya ingin menulis wawancara eksklusif dengan Galang (Sebab di thread episode sebelumnya banyak yang rekues tokoh Galang)
Nah, sampaikan pertanyaan kamu kepada Galang ya di kolom komentar!
Love, Author.