The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Persiapan



Maya merebahkan tubuhnya, perlahan ia menarik selimut lalu memejamkan matanya. Air matanya sudah tak lagi mengering tapi bekas alirannya masih terlihat jelas. Nafas Maya perlahan berirama, dan otot-otot lelah di wajahnya mengendur.  Hujan yang entah sedari kapan mengguyur malam mengantarnya tidur.


Mengingat kisah cinta pertamanya membuat Maya begitu merasa lelah. Rasanya seperti menggali lagi berkilo-kilo timbunan bata yang ia sengaja letakkan untuk mengubur perasaan cintanya dahulu.


Ia sekarang paham mengapa meski sering kali berkumpul dengan sahabat-sahabat SMA nya dulu, ia tak pernah jumpa dengan Ikhsan. Dirinya, selalu secara refleks menghindari Ikhsan. Jika Yrene akan mengajak Ikhsan, pasti Maya berhasil menemukan alasan untuk tidak ikut hadir dalam setiap pertemuan apapun itu.


Tidak ada yang menyadari hal itu, karena Maya sendiri pun menolak percaya bahwa Ia masih saja menghindari Ikhsan.


Tapi malam ini, Maya tahu. Meski sudah terlalu lama, ia masih tak mampu menghadapi Ikhsan.


Menghadapi cinta yang dulu pernah ada.


Kadang hidup memang suka bercanda, kenapa Maya harus sendirian menyimpan perasaan yang ia sendiri pun ragu.


Ia merasa jatuh cinta, namun cintanya tidak berbalas. Ia ingin menyudahi perasaannya, tapi sejauh dan selama apapun ia berlari toh akhirnya ia kembali lagi dalam kisah ini.


Katanya, cinta itu fitrah.


Lalu bagaimana dengan rasa cinta pada orang yang tidak mencintai kembali?


Bukankah itu tidak adil?


Di sudut ruangan tidur Maya, tergeletak paper bag berisi baju bridesmaid untuk pernikahan Yrene. Maya masih tak mampu menerka apa yang akan ia rasa di pernikahan sahabatnya yang menikahi orang yang ia cintai dalam diam itu. Haruskah ia mempersiapkan hatinya?


***


Seminggu menjelang pernikahan Yrene & Ikhsan, rumah Yrene tampak sedikit ramai oleh sanak-saudara yang sudah mulai berdatangan.


Yrene yang sedang duduk di ruang tamu di tengah-tengah tumpukan barang-barang hantaran untuk keluarga besan sedang memijit-mijit dahinya yang mulai terasa nyeri.


Persiapan menikah ini memang sangat menguras energi dan perhatiannya.


Padahal sudah ada Wedding Organizer dan ia sudah banyak menerima bantuan dari orang-orang terdekatnya. Ia meletakkan buku catatannya dan memilih untuk istirahat sejenak.


Di Sofa kamarnya, ada Ikhsan yang sedang tidur siang.


Di perut Ikhsan, Masbro kucing kesayangan Yrene juga ikut tertidur pulas.


Yrene kemudian duduk berlutut di samping sofa. Ia menatap kekasihnya yang juga merupakan cinta pertama dan terakhir yang ada di hatinya. Wajah pria ini selalu membuat hati Yrene luluh. Wajah pria ini pernah babak belur di hajar senior masa MOS SMP dahulu hanya untuk menolong Yrene dari bully dan godaan-godaan rendahan.


Yrene mengelus rambut Ikhsan dan menyadari bahwa pria ini tidak lagi muda. Ada beberapa kerutan halus di kening dan diujung matanya. 18 tahun mengenal Ikhsan, Yrene masih belum merasa cukup. Ia ingin menua bersama pria ini. Pria yang merupakan pahlawan masa kecilnya, teman, sahabat juga cinta matinya.


Perlahan ia mendekati wajah Ikhsan dan meniup telinganya, membuat Ikhsan mengerenyitkan dahinya dan terbangun.


Yrene tersenyum dan mencium pipi Ikhsan. Ikhsan menoleh dan mengerjapkan matanya.


"Duh, enak banget tidur aku yang," ujar Ikhsan sambil memutar badannya kesamping, sekarang wajahnya berhadapan dengan Yrene. Masbro yang terguncang tempat tidurnya memilih loncat ke pangkuan Yrene.


Yrene mengelus Masbro sebentar dan memastikan kucing jantan gemuk berbulu orange itu kembali nyaman dan terlelap.


Ikhsan membelai rambut Yrene yang menjuntai di samping pipi. Yrene tampak cantik meski tanpa seulas make-up seperti biasanya. Ia menatap dalam-dalam manik coklat hazel milik Yrene. Kulit bagian bawah matanya tampak sedikit lebih gelap. Jelas sekali wanita yang akan ia nikahi ini kelelahan.


"Kamu gak cape? Istirahatlah" ucap Ikhsan lirih.


"Aku gak bisa tenang sampai aku yakin semua persiapan memang sudah benar-benar OK seperti yang kita harapkan," jawab Yrene sambil memangku dagu dengan tangan kanannya.


Wajah Yrene yang begitu dekat membuat Ikhsan gemas, ia mencium hidung mancung dan kedua mata Yrene.


"Apalagi yang perlu dipastiin, hm?"


"Please don't. Kalau pengantin wanitanya terlalu banyak khawatir, nanti mukanya banyak kerutan dan jadi gimana gitu, bisa-bisa make-up bridal nya gak natural dan ga match gitu yang. Bisa kaya ondel-ondel !" Ucap Ikhsan dengan nada serius.


Yrene terkekeh sambil mencubit perut Ikhsan, ia tahu Ikhsan sedang bercanda.


Melihat wanitanya tertawa, Ikhsan ikut tersenyum senang. Segera setelah tawa Yrene mereda, ia mencium lembut bibir kekasihnya itu. Menarik beban lelah dan menularkan hawa panas menenangkan dari hela nafas diantara bibir mereka.


Suasana ruangan itu mendadak sepi, membuat sepasang kekasih ini tak berniat melepas tautan bibir mereka. Sinar matahari yang menelusup masuk menerpa leher dan pundak Yrene lalu membuat cekungan pada bahu Yrene berkilau. Mendapati pemandangan itu dari sela matanya, Ikhsan menurunkan ciumannya ke dagu bawah Yrene dan terus turun menelusuri inci demi inci jenjang leher wanitanya.


Sentuhan bibir lembut dan deru nafas Ikhsan yang hangat membuat Yrene merasakan ketenangan yang segera menjalari punggungnya. Sejenak ia merasakan otot-otot tubuhnya mengendur. Sebenarnya sampai tahap ini Yrene sudah cukup terbantu untuk melepas lelahnya. Hanya saja, Ikhsan masih belum berhenti dan Yrene pun tak berniat melepaskan diri dari dekapan menggoda pujaan hatinya.


"Hh, Yang," tegur Yrene lembut. Logikanya terpaksa ia dahulukan untuk menyadarkan Ikhsan akan tempat dimana mereka berdua berada sekarang.


"Hmm?" jawab Ikhsan yang tengah larut dalam wangi kulit pundak Yrene namun masih belum berniat menghentikan aksinya.


Yrene menggigit bibinya saat ciuman Ikhsan mulai memberikan sensasi yang memabukkan di antara bahu dan lehernya. Jemari Yrene yang sejak tadi ada di belakang kepala Ikhsan kini mulai mencengkram pelan rambut kekasihnyaA. Ikhsan justru mendapat kesan bahwa Yrene pun juga tidak berniat berhenti. Tangan Ikhsan dengan sigap memegang pinggang Yrene dan membawanya duduk berhadapan di pangkuannya. Kini wajah mereka sudah sejajar sehingga Ikhsan lebih nyaman ******* bibir Yrene sambil mendekap erat tubuh wanitanya itu.


"Ehem! Sorry! Can you both get a room please?" seorang gadis muda tampak memandangi pasangan didepan matanya itu dengan muka kesal dan tangan terlipat di dada.


Ikhsan sontak menarik bibirnya dan sedikit mendorong tubuh Yrene menjauh beberapa centi.


"Cheyenne?!" Yrene dengan segera bangkit berdiri dari pangkuan Ikhsan. Ia buru-buru merapikan baju kaosnya yang sedikit turun ke bahu di tarik Ikhsan tadi.


Cheyenne adalah adik perempuan semata wayang Yrene yang sedang kuliah di luar kota dan baru saja pulang kemarin sore. Cheyenne sudah sangat akrab mengenal Ikhsan. Bahkan, yang menjemput Cheyenne dari bandara adalah Ikhsan. Cheyenne benar-benar terganggu karena terlalu sering mendapati kakak dan calon iparnya bermesraan sejak dulu. Kali ini, ia berniat untuk jahil.


"Kalian bakalan nikah juga, gak bisa nunggu apa?" tanyanya dengan ketus. Mendengar pertanyaan ini, Ikhsan hanya tersenyum malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Duh, Adek! Kamu mau ngapain kesini?" Yrene balas bertanya.


Cheyenne mengibaskan rambutnya dan malah menghempaskan diri ke sofa untuk duduk di samping Ikhsan. Ia kemudian menggandeng tangan Ikhsan dan bertanya, "Lo ga bisa sabar nunggu kakak gue lagi ya, Bang?"


Ditanyai seperti itu Ikhsan langsung menelan ludah, ia bingung memilih jawaban logis untuk pertanyaan Cheyenne.


"Kenapa musti ga sabar sih, Bang? Atau apakah lo penganut paham seks after married* ya, Bang? After all this time lo ga ada ngapa-ngapain gitu sama Kak Yrene, ga tergoda bu--"


Belum sempat Cheyenne melancarkan aksi godaannya, mulutnya sudah di tutup oleh Yrene untuk mencegah adiknya melontarkan pertanyaan tak senonoh dan membuat calon suaminya tidak nyaman.


"Adek! Sana ih!" Yrene menarik tangan Cheyenne sehingga adiknya itu terpaksa berdiri.


Dengan sebal, Cheyenne bertolak pinggang dan berkata, "Okay, gue sudahi interview calon iparnya. Tapi tentu saja mulut gue terasa aneh kalau diem doang menyaksikan kegiatan foreplay tadi. Apalagi ada papa dan mama lagi nongkrong di teras rumah."


Mata Ikhsan membelalak dituduh melakukan kegiatan pemanasan sebelum hubungan intim oleh Cheyenne. Dengan segera, ia membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


Tangan Yrene kalah cepat saat berusaha menghentikan gerakan tangan Cheyenne ketika mengambil uang Ikhsan. Dengan jenaka, Cheyenne menjulurkan lidahnya pada Yrene dan Ikhsan lalu pergi sambil melambaikan uang hasil perasnya.


Ikhsan mengutuk pelan, "You dirty little pirate!"


Melihat kekasihnya kesal, Yrene malah tertawa. Ia menduga sudah pasti Ikhsan kesal dikarenakan dua hal. Misinya menelusuri tubuh Yrene tidak berlanjut, serta uangnya malah diperas oleh sang adik. Segera ia memeluk gemas Ikhsan untuk menghibur hati sekaligus meredakan hawa nafsu kekasihnya itu.


Seminggu lagi, Yrene dan Ikhsan akan menjadi sebuah kesatuan.


Yrene sedikit bertanya-tanya sebenarnya, Jika selama ini Ia habiskan waktu selalu bersama Ikhsan lantas apa yang berbeda saat mereka menikah nanti?


***


Hi pembaca yang baik 🙋


Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞