The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
The Fallen of Galang Rahardja



"Koran, Koran, Koran!" teriak seorang anak kecil di perempatan lampu lalu lintas yang sedang berwarna merah di terik siang hari.


"Koran hari ini, Pak, Bu! Bos TechnoMedia melakukan penganiayaan pada rekan bisnis karena berebut wanita!"


Galang sontak membuka matanya, nafasnya memburu dan keringat bercucuran di dahi. Setelah beberapa menit, Galang sudah dapat mengendalikan dirinya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan mendapati dirinya masih berbaring di lantai ubin penjara yang dingin. Di depannya, ada seorang lelaki muda dengan pakaian yang terkesan mahal tapi berantakan. Seperti seorang pelaku mabuk yang suka berbuat onar.


Menggerakkan pinggangnya, Galang sedikit memaki karena rasa keram yang ia derita. Sekilas ia berfikir seharusnya yang terbaring sekarat di tempat tidur rumah sakit adalah dirinya saja. Rasanya pilihan itu lebih baik daripada hidup dengan berbagai kesulitan di depan mata saat ini.


Galang mendekap tubuhnya yang mulai merasa keringatan namun merinding karena juga kedinginan. Saat ini, Ikhsan sedang berbaring tenang di atas kasur rumah sakit yang empuk. Belum lagi ia akan terus menerus mendapatkan perhatian dari semua orang, terutama dia... Maya. Sementara dirinya, terperosok dalam penjara atas tuduhan penganiayaan. Lalu harus membayar mahal atas kejadiaan ini, mempertanggungjawabkan di depan dewan direksi, juga akan bekerja keras memperbaiki image dirinya di depan karyawan, kolega serta semua kerabatnya.


"Lang," sapa sebuah suara. Itu, Rayyan yang sudah berdandan necis dan rapi. Bahkan di belakang Rayyan ada pantulan sinar matahari pagi yang membuat sosok Rayyan seolah malaikat turun dari langit.


"Let's go home," ucap Rayyan lagi beriringan dengan suara berdecit pintu besi jeruji yang dibuka oleh petugas penjaga.


Galang memaksa tubuhnya untuk bangkit berdiri. Tubuhnya terasa berat dan nyeri di seluruh bagian. Mungkin ini nyeri otot akibat gerakan tiba-tiba saat bertarung kemarin, atau mungkin juga disebabkan oleh rasa stress dan cemas yang mulai Galang rasakan.


Rayyan membantu Galang dengan memapah lengannya, ia lalu berbisik, "Kita keluar lewat pintu belakang, di depan udah ramai wartawan." Penjelasan singkat Rayyan itu hanya dijawab dengan anggukan lemah Galang.


Rayyan menyadari ada yang tak beres dari Galang, bibirnya begitu pucat. Sesampainya di dalam mobil, Rayyan langsung menelepon seseorang.


"Vincent, lo atur penjemputan dari bandara nanti dengan private ambulance ya! Siapkan dokter dan perawat serta set rawat inap di rumah Pak Galang, Mulai hari ini Pak Galang jadi tahanan rumah sampai ada hasil dari keputusan persidangan. Jangan buka mulut pada siapapun baik ke karyawan ataupun dewan direksi!" perintah Rayyan dengan tegas. Sedetik kemudian, Rayyan mengakhiri pembicaraannya di ponsel. Saat ia menoleh pada tubuh besar Galang, pria itu kembali terlelap menyedihkan.


***


Derap langkah yang cukup ramai terdengar di lorong. Yrene, keluarganya dan keluarga Ikhsan sudah datang. Menyadari hal itu, entah kenapa Maya merasa tidak nyaman. Ia beranjak dari sofa ruang tunggu dan berencana pergi ke cafetaria. Namun terlambat, Yrene sudah menyadari Maya.


"Maya!" panggil Yrene. Begitu sampai di hadapan Maya, Yrene menyerahkan sebuah kotak makanan dan sebuah tas kertas yang cukup besar.


"Ini sarapan, makanlah. Lo pasti cape banget semaleman disini. Belum lagi semalam kondisi Ikhsan tiba-tiba nge drop, untungnya segera cepat stabil.  Isi di paper bag ada perlengkapan mandi. Baru semua dan udah dicuci untuk siap pakai kok," jelas Yrene. "Bunda yang bantu gue nyiapin ini semua," ucapnya lagi sambil mengarahkan pandangan pada Ibu Ikhsan.


Yrene kemudian meremas erat tangan Maya, "Bunda udah tau, May."


Meski Yrene tak menyelesaikan kalimatnya, Maya sudah tau apa maksud pernyataan Yrene barusan. Mendadak wajah Maya memerah dan ia kehilangan nafasnya. Perasaannya campur aduk meliputi hati Maya. Ya perasaan malu, juga perasaan sedih. Malu karena Sang Bunda telah mengetahui rencana Ikhsan terhadap Maya, juga sedih harus bertemu dengan Ibu dari Ikhsan dalam keadaan Ikhsan yang tak sadarkan diri.


"Yrene, gue malu banget," ucap Maya pada Yrene dengan suara sepelan mungkin.


Yrene menarik nafas dalam-dalam. Tentu saja posisi Maya saat ini sangat tidak nyaman. Seolah menjadi orang asing di tengah perkumpulan keluarga ini. Yrene kemudian mengangguk. Ada baiknya juga Maya beristirahat dulu dan tidak memaksakan dirinya untuk berada di kerumunan keluarganya dan keluarga Ikhsan.


"Atau lo mau balik dulu, istirahat? Disini kan udah ramai yang jagain Ikhsan?" tanya Yrene dan Maya mengangguk menyetujuinya. Semalaman ia juga tidur tidak nyaman meringkuk di sofa ruang tunggu.


Maya kemudian berpamitan pada semua orang disana, juga pada sosok Ikhsan yang masih terbaring lemah di ruang ICU. "Gue pulang dulu ke hotel, Rene," ucap Maya, tetapi ada nada menggantung dari suara Maya.


Yrene mengangguk, "Akan segera gue kabarkan jika ada informasi tentang Ikhsan." Kalimat Yrene menenangkan Maya. Setidaknya, saat ini Ikhsan sudah dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya. Maya bisa sejenak beristirahat dengan lebih baik.


"Maya tunggu!" Yrene tiba-tiba memanggil Maya yang sudah sampai di lobby pintu keluar rumah sakit.


Yrene mendekati Maya dan tampak mengulum bibirnya, "May, nanti pada saat jam besuk, gue akan masuk ke ruang ICU. Gue akan mencoba berbicara pada Ikhsan agar dia juga semangat berjuang untuk pulih. Demi gue, demi anaknya Ianvs, dan... demi lo."


Yrene kemudian melanjutkan, "Biasanya kata-kata positive begini akan sangat berpengaruh pada pasien koma agar membantu tingkat kepulihan kesadaran mereka. Indra pendengaran mereka masih bekerja dengan baik, May. Sebab itu pula..." Yrene menggantung kalimatnya. Ia terlihat meragu.


"Gue akan kabarkan juga pada Ikhsan, jika ia sadar nanti, ia akan mendengar jawaban yang dia tunggu dari lo. Dan jika kesembuhan Ikhsan dapat berlangsung dengan cepat, maka, sebaiknya pernikahan kalian segera dilakukan saja. Gue yakin hal ini akan membahagiakan Ikhsan dan membantu kepulihannya dengan cepat."


Hampir tak percaya dengan apa yang Yrene katakan, Maya mentutup matanya. Ia begitu pusing dan kewalahan dengan situasi yang begitu cepat berubah di depan matanya. Tetapi, kesadaran dan kepulihan Ikhsan adalah hal yang memang paling utama untuk saat ini. Maya selalu merasa ia dihantui oleh ketakutannya terhadap Ianvs yang bisa saja menjadi yatim, ataupun Yrene yang akan menjadi janda jika Ikhsan pergi selamanya.


Perlahan, Maya mengangguk. "Sampaikan juga salam dari gue, ya. Gue usahakan akan datang dan masuk ke ruangan ICU di jam besuk sore."


Maya menyetop sebuah taksi untuk menuju hotel. Saat ia akan menutup pintu taksi, lagi-lagi Yrene menahannya.


"May," lirih Yrene. "Please get your parent blessing for Ikhsan," wajah Yrene terlihat tegang mengucapkan hal itu. Terlihat jelas sekali bahwa kalimat itu tak mudah ia ucapkan.


Maya menelan air ludahnya dengan kasar. Tetapi ia sudah kehabisan kata-kata untuk berpendapat. Dengan lemah, Maya menjawab, "I will try."


Sesampainya di lobby hotel, Ia cukup terkejut ketika mengetahui bahwa tagihan hotelnya sudah dibayar dengan perpanjangan waktu selama 7 hari. Pembayaran itu ditandatangani atas nama Rayyan. Seraya meneguk salivanya, Maya yakin betul bahwa ini tentu atas perintah Galang.


"Ah, ****!" Maya baru menyadari sesuatu, ponselnya!


Ponselnya sudah semalaman dibiarkan mati habis baterai. Dengan cepat Maya melangkah ke lift untuk segera sampai di kamarnya. Ia segera mengisi daya baterai dan menghidupkan ponselnya kembali. Puluhan missed calls bermunculan, juga ratusan unread messages.


Maya menghela nafasnya, ia tak punya cukup energi untuk mengecek semua pesan-pesan di ponselnya. Mata Maya memberat, ia bahkan tak punya nafsu untuk menyantap sarapan yang Yrene berikan. Dengan langkah gontai, Maya menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri lalu berencana untuk tidur sejenak kembali.


Selepas mandi, Maya merasakan rasa rileks menjalari tubuhnya. Baru saja ia selesai mengeringkan rambut, ponselnya yang sedang dalam mode silent berkedip.


Telepon dari Yrene. Maya kemudian mengangkat, "Halo , Rene."


"May, gue udah dapat kabar dari Dr. Adrien tentang perkembangan kondisi Ikhsan melalu hasil scannya. hasilnya cukup baik. Dan jika kondisi pagi hingga siang nanti lebih baik lagi, Ikhsan akan didaftarkan untuk operasi hari ini juga. Jika lancar, mungkin sore nanti operasinya selesai." Ada hela nafas lega dari Yrene di seberang telfon.


"Syukurlah," ucap Maya. Ada bulir air mata kembali mengalir membasahi pipinya.


Pembicaraan itu berhenti, tidak ada percakapan lanjutan. Keduanya merasa canggung untuk berinteraksi. Akhirnya Yrene mendahului untuk menutup telfon.


Maya menghembaskan dirinya di tempat tidur. Tangannya melayang di udara dan saat akan jatuh di kasur, jarinya terantuk remote TV. Televisi itu menyala, mengucapkan selamat datang pada Maya. Dengan enggan Maya menekan tombol untuk mematikan TV. Tetapi ia tidak melihat dengan baik tombol yang ia tekan. Tampilan Tv bukannya mati, malah menampilkan saluran berita pagi.


"CEO TechnoMedia, Galang Rahardja dikabarkan telah sampai di kediamannya dan kini berstatus sebagai Tahanan Rumah hinga hasil penyidikan dari sidang dapat diputuskan. Kuasa Hukum Galang menyatakan bahwa kliennya tidak melakukan penganiayaan seperti yang diberitakan awak media, melainkan terlibat perseteruan dengan rekan kerjanya. Perseteruan ini juga melibatkan kolega kerja Galang Rahardja yang berprofesi sebagai konsultan IT di perusahaan TechnoMedia. Segera kita saksikan laporannya langsung dengan Mutia di area kediaman Galang Rahardja. Selamat Pagi, Mutia! Silahkan laporan Anda!"


"Selamat Pagi, Rika di studio dan pemirsa! Galang Rahadrja tampaknya langsung menuju kediamannya setelah turun dari pesawat di bandara kota. Galang dibawa dengan sebuah mobil ambulance didampingi oleh dokter dan perawat. Usai di tahan semalam, kondisi kesehatan Galang yang juga terlibat perseteruan fisik menjadi semakin menurun. Dan menurut informasi kuasa hukum Galang, jika kondisi memburuk, Galang akan dibawa ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, Galang yang menjadi tahanan rumah akan menjalani perawatan di rumah pribadi miliknya hingga kondisinya membaik dan siap menghadapi persidangan. Demikian laporan kami. Kembali ke studio, Rika."


"Terimakasih, Mutia. Sementara itu, dewan direksi TechnoMedia juga memberikan pernyataan bahwa perusahaan ini mengalami cukup banyak kerugian. Perusahaan konsultan yang menyediakan pengembangan platform baru bagi TechnoMedia yang berjaya akhir-akhir ini, justru menghentikan pengolahan platform tersebut dan menyebabkan kerugian pada pihak sponsor dan iklan. Tuntutan pihak sponsor mencakup ratusan juta rupiah pada TechnoMedia. Dewan direksi menuntut Galang untuk segera berkonsolidasi dengan Perusahaan IT tersebut dan memperbaiki kerjasama. Dewan direksi mengancam bukan tidak mungkin jika Galang akan dicabut sebagai CEO di perusahaan miliknya sendiri jika kerugian terus berlangsung dari berbagai aspek kerjasama."


Pip!


Maya menekan tombol merah untuk mematikan TV dengan kesal. Kepalanya sudah tambah pusing, kalut dan matanya memberat. Rasa lelah teramat sangat membawanya tidur. Seiring ia terlelap, ada air mata yang kembali meleleh dari katup mata Maya yang sedikit membengkak.


"Stay strong, Lang. I know you can face this," lirihnya sebelum hilang kesadaran dalam tidur.


***


Hi Pembaca yang baik!


Akhir-akhir ini bermunculan komentar dari pembaca yang baru :D


Welcome to the 'seseuk-seseuk hati ku' club ya!


Ditunggu kemunculannya di Group Chat Author.


Perkenalkan dirimu dan sebenarnya kamu ada di pihak siapa hihi


Stay safe dan sehat selalu!


Like, Komen dan Vote ya!


Love, Author.