The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Everything now is you



Suara deburan ombak yang menenangkan beriringan dengan helaian angin pagi mengantarkan Maya dan Galang sampai pada resort di private island milik Madame Sophie. Pulau itu tak begitu luas, dan masih begitu natural. Semua bangunan yang berada disini diusahakan semaksimal mungkin tidak mengganggu ekosiste alam dan tak merusah struktur alami pulau itu. Sehingga, tak banyak pula bangunan yang bisa didirikan. Sebab itu pula pulau ini hanya bisa menerima satu reservasi di setiap waktunya.


Galang menjejakkan kakinya pada pasir putih yang basah. Ia lalu membantu Maya turun dari speed boat. Dan setelah semua barang-barang mereka diturunkan, mereka diarahkan untuk menikmati suasana pantai. Galang menggenggam tangan Maya menuju sebuah pondok teduh.



Maya menurut saja mengikuti langkah kekasihnya itu. Mereka lalu berhenti disebuah pondok teduh dengan tempat tidur yang menghadap ke arah pantai. Pemandangan yang sangat indah ditambah suara tenang riak air membuat Maya seperti benar-benar sedang berada di tempat yang tepat untuk beristirahat.


Ia lalu menghempaskan dirinya berbaring pada tempat tidur itu. Sementara Galang tampak sibuk membongkar sebuah tas yang ia bawa. Pria itu lalu sibuk mengeluarkan sesuatu. Dan saat ia berbalik, ia membawa sepotong cake dan sebuah gelas cantik berisi sparkling water.


Menarik tubuhnya duduk, Maya tertawa lepas. Aneh sekali rasanya di pagi hari seperti ini sudah terdampar di sebuah pulau yang tenang, bersama pria yang tak pernah ada barang sekalipun di mimpinya dan sekarang, diajak menikmati sebuah cake ulang tahunnya. Aneh rasanya, tapi meski begitu, Maya begitu menyukai semua ini. Semua yang yang ia hadapi bersama Galang, benar-benar perlahan membawanya ke tempat yang baru. Pelan-pelan meninggalkan semua yang telah berlalu.


"Aaa dong," ucap galang sambil menawarkan Maya sebuah suapan cake ulang tahunnya.


"Mmmh," gumam Maya saat cake itu sudah lumer didalam mulutnya. "Enak banget!"


Maya cepat menelan cake yang ada di mulutnya dan berkata setengah terkejut, "kamu yang buat?"


Galang kemudian bergantian mencoba cake yang ada ditangannya, ia lalu terlihat mengerutkan alisnya dan mengangguk menyetujui bahwa rasa cake itu emang enak. "I wish, tapi aku belum bisa buat cake se-moist ini. Ini carrot cake gluten free, makanya rasanya ringan banget!"


"Ah, I see," ucap Maya lalu meminum sparkling waternya. Setelah setengah habis, ia baru bertanya, "gelas kamu mana?"


"Itu juga, ribet bawa dua. Kan yang ulang tahun satu orang, masa bawa dua," kata Galang sambil menyuap Maya lagi potongan kecil cake tadi.


Maya memperhatikan gelas yang ia pegang lalu beralih pada Galang, "kamu ga jijik? Satu gelas sama orang lain?"


Galang tertawa, "jaman aku kecil dulu, aku bahkan pernah loh minum air mineral bekas orang lain. Siang itu haus banget, bekal minum ku habis. Koran ku belum habis, aku gak mau beli jajan air minum sebelum koranku habis. Sebenarnya bisa aja minum air keran di masjid terdekat, tetapi lokasinya lumayan jauh dan akan makan waktu pulang pergi."


"jadi," Galang meletakkan piring dan gelas di meja dan mulat bersandar pada dinding kayu untuk bersiap memulai ceritanya. "Akhirnya aku tahan terus rasa haus, dan masih terus berteriak setiap kali lampu merah. Siang itu benar-benar terik dan kering. Sampai akhirnya ada sebuah mobil mewah yang melempar botol air minum dari kaca mobilnya."


"Awalnya aku diamkan saja, tetapi setelah lampu hijau danaku rasa  tidak ada yang memperhatikan. Diam-diam aku minum juga, hahaha! Aku pikir, apalah penyakit orang kaya, paling penyakit pelit. Begitu, hahaha. Syukurnya aku gak kena sakit apapun. Padahal kalau di pikir-pikir ya justru kan sakitnya orang kaya selalu nyeremin ya, sakit jantung, sakit apalah-apalah itu."


Maya ikut terkekeh mendengar cerita Galang. Kalau dipikir-pikir memang perjuangan Galang sangat berat hingga ia mencapai di titik ini. Maya jadi bisa memahami kenapa saat ia memperjuangkan modal investasi utama ke TechnoMedia seberjuang itu. Kini, dibalik perjuangannya ia malah menyimpan rasa penyesalan tentang sisi lain yang ia korbankan saat itu. Maya juga masih ingat saat pertama kali dapat berbicara dekat dengan Galang sebagai atasannya. Pria ini sempat berprinsip mungkin ia tidak lagi mampu mencintai siapapun. Galang juga punya luka yang dalamnya hanya ia dan tuhan yang tahu. tetapi selama dan sejauh ini, ia tak pernah benar-benar menunjukkan lukanya pada Maya. Justru Galanglah yang terus-menerus membantu Maya sembuh dari luka yang ada dihatinya.


Mendadak, Maya merasa terharu mengingat semua yang telah Galang perjuangkan untuknya. Padahal saat itu, Maya rasa pria ini belum menyukainya. Tetapi ia telah banyak membantu Maya. Meski di awal Maya sempat salah paham dengan langkah yang Galang ambil, tetapi sekarang justru hasilnya benar-benar terlihat berhasil. Yrene sekarang seperti menjadi wanita yang akan selamanya terlalu berharga bagi Ikhsan. Dan dengan terbongkarnya rahasia cinta yang ia pendam, justru akhirnya bisa selesai walau penuh drama dan luka. Tetapi Tuhan, semesta dan Galang baik. Maya kini bisa berjalan dengan baik, perlahan menyusun masa depan, tanpa kisah masa lalu yang mengendap di hatinya. Langkah dan tiap hirup nafasnya sekarang terasa ringan.


"May?" tegur Galang yang heran ketika mengetahui ada air mata yang menetes di pipi Maya. "Kamu kenapa? Kok sedih?"


Untuk pertama kalinya, Maya benar-benar ingin memeluk Galang. Ada rasa yang menyesakkan dadanya yang tidak akan terlepaskan jika tidak memeluk pria didepannya itu. Ia lalu merentangkan tangannya dan beringsut masuk kedalam dekapn Galang. Meski heran, Galang membalas pelukan gadisnya dan mencium pucuk kepala Maya.


"Thank you, Galang. You have done so much to me," lirih Maya sambil menghembuskan nafas lega.


Galang mengigit bibirnya, ada rasa berbeda yang ia dengar dari ucapan Maya barusan. Sekujur tubuhnya merinding, membuat Galang paham bahwa kalimat kekasihnya itu sungguh-sungguh. Perasaan itu lalu menjalar menjadi rasa bahagia keseluruh tubuhnya. Galang mempererat pelukannya.


"I love you," bisik Galang. Ia tak banyak berharap bahwa tiap kali ia mengungkapkan perasaannya, akan dibalas oleh perempaun yang sedang dalam pelukannya. tetapi kali ini angin pantai entah kenapa sepakat dengan keinginan Galang. Sejenak, angin berhenti berhembus sehingga saat itu suara Maya terdengar jelas.


"I love you, Lang."


***



"'Cause you're a sky, 'cause you're a sky full of stars


I'm gonna give you my heart


'Cause you're a sky, 'cause you're a sky full of stars


'Cause you light up the path


I don't care, go on and tear me apart


I don't care if you do ooh ooh


'Cause in a sky, 'cause in a sky full of stars


I think I saw you" A Sky Full of Star by Cold Play


***


"Aku pikir tadi pagi aku hanya mendengar suara yang ada di dalam kepalaku," ucap Galang pelan, hampir seperti bergumam sendiri.


Maya merapatkan lagi jaket yang ia kenakan sambil tersenyum melihat pemandangan langit malam yang luar biasa. Ada jutaan bintang disana, tetapi tidak ada satu pun yang lebih memukau dirinya selain pria hebat yang ada di hadapannya ini. Ia seolah memancarkan sinarnya sendiri. Secara konsisten menenmani dan menuntun Maya dalam gelap dan curamnya jalan cinta di kehidupannya.


Menarik nafas, Galang rasanya belum puas. Ia sebenarnya ingin sekali lagi meminta Maya mengucapkan kalimat cinta itu hanya untuk memastikan bahwa Maya memang bersungguh-sungguh. Tetapi, tentu saja ia tidak akan memaksa.


Berdehem, Galang lalu mencoba, "lalu apa yang bisa membuat kamu lebih cepat merasakan dan membalas perasaan aku? Kayaknya 24 jam yang lalu di lobby kantor untuk pertama kalinya kamu bilang kamu sudah 'sedikit' mencintai aku."


Maya menghela nafas bersamaan dengan Galang, ia lalu menjulurkan kakinya dan bersandar pada punggung kursi kayu. "Bukankan itu tujuan short escape ini? Untuk sejenak berhenti dan mengenal lebih dekat lagi perasaan kita masing-masing?"


"Aku masih terlalu takut untuk melangkah lagi, bersama kamu. Sudah bertahun-tahun aku menyimpan perasaan cinta yang berakhir menjadi sebuah tragedi. Aku butuh yakin pada diri aku sendiri. Tapi untuk itu, aku membutuhkan waktu yang panjang, Galang. Dan semakin lama aku menghabiskan waktu bersama kamu, aku rasa aku gak akan sanggup lagi membuat kamu menunggu," Maya merasa kini pandangan Galang terkunci padanya. Sedikit gugup, Maya mengepalkan tangannya untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Galang, aku dan kamu, kita, menghabiskan begitu banyak waktu untuk akhirnya bisa bertemu, mengenal dan jatuh cinta. Kita melewati tragedi dan rasa kehilangan yang mendalam. Kamu dan aku sama-sama mengorbankan banyak hal untuk sampai pada titik dimana kita akhirnya menemukan apa yang kita cari dan butuhkan. Kita saling mengobati dan mengisi ruang kosong di hati. Bukankah akan rasanya semakin lelah jika harus mengulur waktu lebih lama lagi?"


Galang kehilangan nafasnya. Ia tidak menyangka bahwa mendengar jawaban Maya seperti membuatnya tenggelam ke dasar lautan yang berisi harta karun terpendam. Penantian dan semua usaha sabar yang ia lakukan memang terasa cukup lelah. Rasanya setiap hari seperti begitu haus dan meminum air laut yang asin. Tetapi tiap kali ia melihat sneyuman Maya, ia merasa masih akan kuat berdiri dan terus mencoba lagi, seratus bahkan seribu kali lagi.


"Kamu curang," kata Galang akhirnya sambil menunduk, menyembunyikan genang hangat di pelupuk matanya.


Maya memiringkan kepalanya, tidak memahami maksud kalimat Galang barusan. manik mata Maya mengikuti arah gerak Galang yang beranjak berdiri. Pria itu lalu berjalan mendekati Maya dan berlutut. Ia mengambil tangan kanan Maya lalu mencium lembut tangan gaids itu.


"Iya, kamu curang. Seharusnya kamu memberi sinyal terlebih dahulu ke aku. Bukankah semua gadis didunia ini seperti itu? Makanya aku rutin cek kalau-kalau perasaan kamu sudah berkembang sedikit demi sedikit ke aku. Seharusnya aku bawa cincin malam ini," ucap Galang yang lalu gemas meremas jemari Maya.


"Hahaha," tawa Maya meledak. "Loh, kalau aku sudah mencintai kamu, emang itu artinya aku akan menerima lamaran kamu malam ini, gitu? Dih pede banget, sumpah!"


Galang memutar bola matanya, "udah, jangan mulai deh. Lagi romantis nih moemnnya. Jangan di godain buat adu argumen, ah!" Pura-pura ngambek, Galang lalu duduk bersandar di kaki kursi lalu membalik tubuhnya membelakangi Maya.


Mengulum senyum, Maya lalu menunduk dan memeluk leher pria yang sedang merajuk itu dari belakang. "Iya, deh. Gak lagi!" ucap Maya yang langsung mengundang senyum di wajah Galang.


Hening sejenak, saling menikmati waktu yang terjalin diantara malam, Maya tiba-tiba menghela nafas panjang. "Tapi," katanya kemudian. "Apa kita memang sudah siap melangkah lebih jauh?"


Galang mengerutkan alisnya. Ia tahu ada sarat keraguan yang besar dari nada bicara Maya. "Aku tahu itu akan menjadi langkah yang serius. Kita mungkin harus mempertimbangkan banyak hal," Galang sengaja menggantung kalimatnya.


Pemilik TechnoMedia itu lalu berbalik kembali menghadap kekasihnya. Ia menggenggam tangan Maya lalu sengaja menarik tangan gadis itu mendekap pipinya. "Contohnya, untuk lebih jujur dan terbuka pada satu sama lain."


"MIsalnya... Hm, aku," Galang tampak berhati-hati memilih kata. "Sejujrunya aku merasa kalau, mungkin, hubungan antara kamu, Yrene dan sahabat-sahabat kamu itu tidak akan bisa kembali seperti dahulu lagi. Mereka baik, tapi aku rasa kepribadian mereka tidak sejalan dengan pesona kamu." Galang mengakhiri kalimatnya dengan seklai lagi mencium jemari tangan kanan Maya, sekaligus memastikan bahwa dia tidak bermaksud mengatakan hal buruk tentang sahabat-sahabatnya itu.


"Wah, that was harsh, Sir!" ucap Maya sambil mengerutkan alisnya.


Galang mengangkat bahunya, "That's true. I'm not lying. Everybody knows that, except you."


"Mungkin itu juga yang membuat Ikhsan suka sama kamu diantara kalian. Kamu yang paling berbeda. You shines brighter than all of them. Yah selera Ikhsan memang gak buruk sih," imbuh Galang kemudian.


Maya refleks mencubit pipi Galang. "Apa sih kok malah bahas yang lain-lain!"


"Aduh!" mengelus pipinya sendiri, Galang membela diri. "Iya sorry. Jadi ngelantur kemana-mana ya."


Melirik sekali lagi kekasihnya, Galang kembali bicara," Oke. Sampai mana tadi pembicaraan kita?"


"Entahlah. Ganti topik aja," jawab Maya singkat. Moodnya sedikit terganggu teringat bahwa ia masih belum pernah membuka group whatsapp yang berjudul 'The B*tches' itu.


Mengangguk, Galang terdiam sebentar mencoba mencari ide topik pembicaraan baru. Manik matanya mengerjap beberapa kali seolah mendapat sebuah pencerahan.


"Ah, aku ada jadi punya ide bagus, nih!" ucap Galang dengan nada semangat.


Maya mendelik, sejujurnya, ia tidak pernah meragukan bahwa ide Galang selalu brilian dan jenius. tetapi tentu saja itu sejalan dengan karakternya yang sering ekstrim. "Apa tuh?" tanya Maya curiga.


"*Let's get married with only us & blood relatives. So we do'nt have to invite anyone we don't want to. You don't even have to hire any bridesmaids. In Mecca, in front of Ka'bah?**"


*("Ayo menikah dengan hanya kita dan saudara yang sedarah (yang datang). Jadi kita tidak perlu mengundang orang yang tidak kita inginkan. Kamu bahkan tidak perlu punya bridesmaids (pendamping wanita). Di Mekkah, di depan Ka'bah?" )


***


Halo pembaca yang baik!


Akhirnya kita mulai sampai pada penghujung cerita.


Ada banyak pesan moral di dalam perjalanan hidup dan cinta seorang Maya.


Ada apa saja yang bisa kalian petik sejauh ini?


Lalu, kalau seandainya saya mau manambahkan episode bincang-bincang, kira-kira siapa tokoh yang paling ingin kalian ajak bicara dan wawancarai, sekaligus pertanyaan apa yang kalian punya?


Love,


Author.