
Pagi ini tidak seperti biasanya, Maya tidak mengenakan pakaian kerja untuk menghadapi harinya. Semalam, bahkan sampai sebelum pamit pulang, Galang masih tidak memberitahu kemana mereka akan pergi. Meski sebagaimanapun Maya meminta petunjuk, Galang tetap merahasiakan destinasi liburan dadakan ini. Jadi, memilih aman, Maya lebih banyak menyiapkan baju berwarna putih karena akan udah untuk dipadupadankan dengan apapun.
Setelah Maya merasa semua persiapan yang ia perlukan selesai, ia menyesap coklat panas dari mugnya sambil memperhatikan cuaca cerah di langit pagi.
Sebuah bunyi ketukan bernada khas membuat ekspresi Maya cepat berubah. Ia hafal betul bagaimana cara pria yang hampir setiap hari mengunjungi apartement itu mengetuk pintu dengan bernada. Maya menduga jangan-jangan kekasihnya itu terinspirasi untuk melakukan ketukan bernada ini dari karakter kartun Anna (Frozen) yang tengah menyanyikan lagu 'Do you wanna build a snowmen'.
Begitu pintu terbuka, Maya mendapati wajah Galang tertutupi oleh sebuah cake berlilin. "Happy birthday," ucapnya sambil menurunkan cake, memperlihatkan senyumannya.
"Thank you," bisik Maya malu. Ia memejamkan sejenak matanya lalu meniup lilin pada kue yang Galang sodorkan.
"Sudah siap?" tanya Galang, matanya juga melirik ke arah belakang Maya dimana tas travel gadis itu sudah siap angkut.
Maya mengangguk semangat tapi sedetik kemudian alisnya berkerut. "Eh terus ini cakenya ga dimakan dulu, nih?" tanyanya.
"Nanti aja. Gampanglah itu," jawab Galang asal sambil menyerahkan cake pada Maya dan masuk ke dalam apartment untuk membawa barang-barang kekasihnya itu.
***
Maya tidak menyangka bahwa Galang telah mempersiapkan beberapa kejutan untuk hari ini. Ia sebenarnya bukan tipe yang menyukai surprise things, tetapi Maya juga ingin menghargai apa-apa yang telah usahakan untuknya. Sekarang, Galang meminta mata Maya untuk di tutup kain selama perjalanan. Pria itu berjanji bahwa Maya tidak akan memakai penutup mata itu untuk waktu yang lama.
Menurut saja dengan rencana Galang hari ini, Maya justru merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Antara penasaran dan tak sabar. Tetapi, apapun itu yang Maya rasakan, ia benar-benar menikmati day off nya bersama Galang.
Sementara itu di kantor, Tasya and the gank tengah mengerubungi meja Rayyan yang lagi-lagi menjadi kambing hitam karena Galang dan Maya.
"Oh, jadi elo yang ngasih ide buat Galang nyulik si Maya di hari ulang tahunnya?" tuduh Tasya.
"Lo kan tau kalau kita-kita pasti udah nyiapin surprise? Tega amat lo? Modal loh ini nyiapin ginian?!" semprot seorang lelaki senior sambil melempar balon ke arah Rayyan yang menghindar.
"Sorry, semalam gue sama Galang pulang telat karena ada meeting sore sama team marketing. Lupa banget gue nge-update kalian. Gak sengaja, sumpah!" bela Rayyan yang sekarang berdiri tersudut di mejanya sendiri.
"Terus gimana dong? Masa modal banget gini kalau cuma mau ngucapin lewat video call?" cecar junior di team Tasya dengan cake di tangannya.
Tasya mengangkat alisnya, ia lalu memberi lirikan pada teamnya. Satu-persatu meletakkan barang yang mereka bawa di meja Rayyan sesuai titah Tasya.
"Udah, kita ucapin via video call aja. Nah ini semua jadi urusan lo ya, Ray! Sekaligus tolong gantiin Mbak Maya nraktir kita!" ucap Tasya sambil berlalu dan terkekeh heboh bersama teamnya.
Saking terkejutnya dengan ucapan Tasya, Rayyan hanya bisa ternganga tanpa kata. Barulah setelah 2 menit berlalu ia bereaksi dengan berteriak, "Sial! Kenapa jadi gue yang nraktir makan siang lo semua, hey! Jangan ada yang berani pesen dengan harga diatas 50ribu per orang ya, woy!"
Sayang, tidak ada yang mendengar teriakan Rayyan barusan. Team yang berkumpul tadi justru sedang mengajak diskusi karyawan lain untuk menanyakan ingin pesan menu makan siang apa. Kesal, Rayyan mengacak-acak rambutnya dan berbisik memaki, "awas aja kalo lo udah balik Lang, May!"
"Hatchi!" mendadak Galang bersin tepat setelah memarkirkan mobilnya.
"Bless you! Kamu gak papa?" tanya Maya sambil mencoba meraba Galang yang duduk di kursi kemudi. Karena matanya masih ditutup, ia jadi harus meraba-raba dimana letak bahu Galang yang ingin ia sentuh dan tepuk.
Alih-alih tangan Maya mendapatkan bahu Galang, pria disampingnya itu justru kegelian dengan sentuhan jemari Maya yang berada di telinganya.
"Aku gak kenapa-kenapa kok. Hihihi, geli ah!" kilah Galang menangkap jemari Maya.
"Udah sampai nih? Cepet juga ya. Udah bisa di buka belum?" tanya Maya lagi sambil menunjuk penutup matanya.
Galang yang masih memegang tangan Maya tersenyum. "Sebentar lagi ya, aku tuntun kamu turun dari mobil dulu." Galang lalu keluar dari mobil dan berjalan memutar menuju pintu kiri dimana Maya berada.
Dengan lembut, Galang menuntun Maya keluar dari mobil dan mengajaknya maju beberapa langkah ke depan. Setelah ia rasa cukup, Galang menarik pelan kain penutup mata Maya. Perlahan mata gadis itu membuka.
"The Cabin?" tanya Maya dengan alis berkerut.
Reaksi Maya tak seperti dugaan Galang. Ia lalu segera menanyakan hal tersebut. "Kenapa? Kamu gak suka? Kita ganti resto aja?" Saat itu Galang sudah hendak berbalik, namun tangannya di tahan oleh Maya.
Selain tidak berniat mengacaukan rencana yang Galang sudah siapkan, menurut Maya, ada baiknya juga ia akhirnya kembali lagi kesini. Tidak perlu terburu-buru beranggapan negatif tentang tempat ini, termasuk kejadian terakhir tentang perpisahan dengan Ikhsan di lantai atas geladak kapal.
Sedikit ragu, Galang akhirnya menggenggam tangan Maya dan berjalan masuk ke dalam resto. Seperti yang sudah ia baca dan konfirmasi pada penyedia jasa paket travel yang ia pesan, seharusnya pemilik private resort akan menyambut mereka disini. Dan benar saja, seorang lady yang sudah tua namun dengan pakaian stylish keluar dari pintu resto dengan kacamata hitam tengah melambaikan tangannya menyambut kedatangan mereka.
"Welcome to the Cab- Maya!!" pekik wanita tua itu saat melepas kacamata hitamnya.
"Ola, Madame Sophie !" sapa Maya merentangkan tangannya hendak memeluk wanita tua yang tengah menutup mulut menahan tangis haru.
Sejenak Maya memeluk Madame Sophie dengan perasaan rindu. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung pemilik resto The Cabin itu untuk meredakan tangisnya.
"Sudah lama sekali tidak jumpa, mengingat terakhir kali kita bertemu adalah saat yang tidak menyenangkan. Madame sering sekali teringat padamu, dear," ujar Madame Sophie ketika melepas pelukannya.
Maya tersenyum, "saya baik-baik saja Madame. Tragedi kadang terjadi dalam hidup. Tetapi pada akhirnya kita tetap harus terus bergerak maju untuk akhir yang bahagia, bukan?"
Mengangguk setuju, Madame Sophie mengalihkan pandangannya pada Galang. Lalu cepat-cepat ia melirik jemari di kedua tangan kanan dan kiri Galang.
Melihat adegan di depan matanya, Galang akhirnya mengingat sesuatu dan memahami mengapa Maya tampak familiar dengan resto ini. Ia memejamkan mata sekaligus memaki didalam hati tentang betapa bodohnya ia bisa lupa akan tempat yang pernah Maya ceritakan ini. Benar, Galang ingat saat menjemput Maya yang tengah basah kuyup karena gerimis di tengah malam dari kawasan daerah ini. Meski sebenarnya Galang pertama kali masuk ke area ini sehingga maklum saja ia tidak ngeh akan kisah Maya dahulu disini.
Sesaat setelah dipersilahkan duduk, Galang merasa ia butuh menjelaskan ini pada Maya. Ia lalu menggenggam tangan Maya dengan perasaan bersalah. "Maya, maaf banget. Aku bodoh banget bisa benar-benar lupa tentang tempat ini. Tadinya, aku mengambil paket tour ke private island yang juga dimiliki oleh owner resto ini. Itu sebabnya kita disini untuk mendapatkan welcome drink sebelum nantinya bertolak ke resortnya dari private dermaga dibawah restoran ini."
"Aku baru pertama kali juga kesini. Dan awalnya kaget juga melihat ekspresi kamu saat mengenali tempat ini. Maaf, seharusnya aku lebih teliti," ujar Galang dengan nada gusar di suaranya.
Membalas genggaman erat tangan Galang, Maya menggeleng pelan, "awal menyadari tempat ini memang kesan pertama yang aku ingat adalah perasaan sedih dan tidak menyenangkan. Tapi," buru-buru Maya menambahkan sebab ia melihat perubahan wajah Galang.
"Tapi, sesuai sesi terapi yang aku alami, kenangan-kenangan buruk tidak seharusnya kita ingat terus-menerus. Sebaiknya malah harus lebih fokus pada hal-hal menyenangkan yang harus kita syukuri," jelas Maya dengan senyuman.
"Jadi, aku justru senang bisa kesini lagi sama kamu. Berikutnya aku kesini lagi, yang aku ingat bukan tentang Ikhsan, tapi tentang kamu. Terimakasih sudah membantu hidup aku berjalan ke arah yang lebih baik, Galang," ucap Maya sambil meremas tangan Galang. Mendadak, wajah pria di depannya itu kembali sumringah dan memerah padam.
"I should the one who make you happy today, tapi malah kamu yang sekarang buat aku seneng," kata Galang sambil terkekeh.
Setelah menikmati welcome drink sesuai pesanan Galang, mereka lalu bersiap menaiki speed boat menuju private island yang ternyata juga dimiliki oleh Madame Sophie. Saat mereka berpisah di dermaga The Cabin, Madame Sophie kembali memeluk Maya dan berbisik, "Dia pria single yang baik kan, dear?"
Mengangguk malu-malu, Maya mengedipkan matanya. "Dia yang terbaik," jawab Maya juga sambil berbisik.
Maya melambaikan pada Madame Sophie yang juga didampingi oleh Jose, pelayan setia The Cabin favorit semua pengunjung. Ketika mesin speed boat menyala, Madame Sophie melambai sambil berteriak, "Kabarkan padaku kalau kalian butuh apapun, Madame akan memberi bonus wine terbaik dari The Cabin!'
"Merci, Madame!" jawab Galang balas berteriak.
Ketika speed boat sudah menjauh, Madame Sophie mendekap pipinya sendiri. "Oh Jose, apakah mereka berencana membuat anak disana? Jika ya akan ku pastikan tidak ada gangguan apapun di pulau cintaku."
"Apa perlu kita bubuhkan penguat 'rasa cinta' pada pasangan kekasih favorit kita kali ini, Madame?" tanya Jose sambil bergurau.
"Entahlah, mereka sudah terlihat mabuk meski tanpa alkohol. Dan mereka juga sudah terlihat sangat menginginkan satu sama lain tanpa mantra apapun. Aku senang melihat our dear Maya akhirnya memiliki seseorang disampingnya. Oh, what a lover! Doaku menyertai gadis itu!"
***
Pemandangan dari Private Island yang Maya dan Galang kunjungi, guys.
Stay Safe.
Love,
Author.