
Tubuh Maya kaku mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Ikhsan. Di ujung pintu, Yrene menghentikan tangannya yang sudah akan menutup pintu. Hening, bahkan Maya sendiri menahan nafasnya.
"Bercanda, May. Gue gak mungkin lupa sama lo. Bahkan jika gue mati nanti," lirih Ikhsan sambil tersenyum dan memejamkan mata, merasa nyeri di kepala disebabkan oleh senyumnya sendiri.
Maya membuka mulutnya, menghembuskan nafas panjang sekaligus melepaskan kesalnya. Orang di depannya ini, bisa-bisanya berkata seperti tadi dan mengaku bercanda. Terakhir kali Maya di ajak bercanda oleh Ikhsan juga tak jauh-jauh dari cedera kepala di The Cabin beberapa bulan yang lalu.
"Sorry, habis muka lo tegang banget, gue lebih senang melihat lo senyum," ucap Ikhsan dengan suara pelan dan berat. Pandangan matanya berubah menjadi lebih sendu.
Manik mata mereka bertemu dan wajah Maya entah kenapa terasa panas. Maya menundukkan kepalanya, suasana kini berubah lebih cepat. Membuat emosinya juga cepat berganti. Kesalnya menguap, dan sekarang ia justru merasakan rindu yang begitu dalam pada pandangan teduh mata Ikhsan. Mata itu, mata yang sempat menutup tanpa respon selama beberapa hari yang lalu.
"Lo... apa kabar? Pelipis lo, masih sakit?" tanya Ikhsan, sebab Maya masih saja diam dan menunduk. Pertanyaan Ikhsan barusan, juga hanya dijawab dengan gelengan kepala pelan saja.
"May?" panggil Ikhsan. Tangan Ikhsan mengangkat dan gemetar mencoba meraih Maya namun ia tak sanggup menggerakkan tubuhnya lebih jauh.
Tidak ada jawaban, tapi Ikhsan perlahan mendengar isak dari Maya. Perempuan di depannya itu menangis. Tak lagi dapat menahan gejolak emosi yang tertahan sejak tiga hari yang lalu. Semua pikiran tentang kepergian Ikhsan, Yrene yang akan menjadi janda ataupun Ianvs yang akan menjadi yatim. Semua itu sudah berakhir. Dia, Ikhsan kini benar-benar sudah bangun. Membuka kembali matanya, berbicara kembali pada Maya.
"Thank you," isak Maya. "Thank you for waking up again. I was so afraid that you will passed away. Gue takut banget," ucap Maya menggigit bibirnya, menahan suara tangisnya agar tak pecah. Ia meremas tangannya keras-keras, melampiaskan rasa harunya. Tak bisa ia bayangkan jika mata teduh Ikhsan menutup selamanya karena bertaruh nyawa mengejar dirinya kembali.
Ikhsan memejamkan matanya, ia ikut merasakan panas di kedua bola matanya mendengar isak Maya. Ikhsan juga tak menyangkan keadaan bisa sekacau ini. Selain merasakan sakit diseluruh tubuhnya, hatinya juga kini ikut merasa sesak melihat Maya ternyata juga menanggung rasa sedih.
"Gue pikir," Ikhsan menghela nafasnya panjang. "Gue pikir lo ga akan ada disini, gue pikir doa-doa yang gue dengar dalam tidur gue adalah halusinasi dari harapan-harapan gue. Ternyata, itu bener lo, May. I'm the one who should thanked to you."
Sementara di luar sana, Yrene perlahan menutup pintu. Air mata Yrene menetes saat ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Ikhsan dengan Maya yang berada disana. Tangannya masih memegang bunga krisan putih pemberian Bimo. Setelah sampai di koridor yang sepi, bunga itu ia peluk erat sambil terduduk dan menangis. Perlahan ia menenangkan dirinya agar tangisnya tak begitu keras terdengar. Dalam hati ia membatin, cukup baginya Ikhsan dapat hidup berumur panjang dan bahagia seperti makna dan harapan dari bunga Krisan putih yang ia peluk. Ia berjanji akan sekuat tenaga tetap mencintai suaminya, menjaga cintanya utuh seperti semula saat tidak ada Maya disana. Ia berjanji akan terus menyayangi Ikhsan demi Ianvs, juga demi cintanya sendiri.
***
"May, can you come closer, please," pinta Ikhsan setelah Maya menyelesaikan tangisnya.
Maya menghapus sisa air mata di pipinya lalu sedikit mengipas wajahnya yang terasa panas dan lembab. Ia lalu menyandarkan sikunya ke tempat tidur untuk menopang dagu dan kepalanya yang terasa berat. Menarik nafasnya, Maya kini memberanikan diri menatap mata Ikhsan yang masih terlihat lesu itu.
"Kenapa sih selalu bercanda buat cairin suasana, 2 bulan lalu pura-pura kejedug, sekarang pura-pura amnesia?" tanya Maya.
Ikhsan hanya tersenyum, "Gak tau gue, sering tiba-tiba jadi bodoh kalau didepan lo, May."
Maya mau tidak mau tersenyum. Ia ingat bahwa Ikhsan selalu harus mengupayakan sesuatu untuk bisa mengesankan Maya. Meski usaha itu terkadang menyulitkannya.
Tiba-tiba Maya jadi teringat kisah Ikhsan dahulu yang bersusah payah berlatih dan mempelajari skill fotografi ternyata hanya agar dirinya punya alasan untuk mendekati Maya. Mengingat ini membuat hati Maya perih dan ngilu. Seberapa dalam ia menyukai dan menyanyagi Ikhsan, ternyata pria itu justru memiliki lebih dalam lagi rasa cinta pada Maya.
"Maya," panggil Ikhsan lirih, membuat Mata tersadar dari lamunan singkatnya.
"Iya, kenapa?"
"Lo masih berhutang sebuah jawaban ke gue, kan?"
Maya menelan ludahnya dengan susah payah dan mengangguk.
"Awalnya, gue ragu untuk memutuskan kembali mengejar cinta ini. Tapi Yrene bilang, gue harus menuntaskan cinta yang gue pendam. Gue juga gak mau hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Itu sebabnya, gue harus memanfaatkan waktu yang gue punya. Selama lo masih menyimpan rasa yang sama," ucap Ikhsan sambil menatap sosok Maya yang lagi-lagi menunduk.
"Gue tahu, pasti lo berat menerima gue. Terutama dengan status gue yang sudah berkeluarga bersama Yrene dan Ianvs. Tapi gimana, May? Bagaimana caranya untuk menghentikan hati gue dari rasa cinta yang selalu ada untuk lo?"
Ikhsan kemudian melanjutkan, "Saat gue bangun tadi. Yrene mengingatkan gue bahwa ada hal yang gue tunggu. Dan gue sadar, mungkin jawaban lo adalah alasan kenapa gue masih harus hidup."
Ikhsan menghela nafas panjang, berbicara banyak membuatnya sedikit kelelahan dan pusing. Ia lalu memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya agar sakit di kepalanya berkurang.
Tangan Maya masuk ke dalam tas dan tampak seperti mencari sesuatu. Setelah ia dapatkan, benda itu ia genggam. Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan menatap Ikhsan. Telapak tangannya membuka, memperlihatkan kotak cincin yang Ikhsan tunjukkan 3 hari yang lalu. Masih ada noda debu di kotak cincin itu. Tetapi cincin yang ada didalam kotaknya itu tetap berkilau cantik dan indah.
"Jalan yang akan kita tempuh untuk melalui ini semua ga akan mudah, San. Seberapa kuat lo dan gue untuk menghadapi kesusahan hidup nantinya?" tanya Maya dengan suara bergetar.
Tangan Ikhsan bergerak dan mengambil kotak cincin yang ada di tangan Maya. Dengan jemarinya, ia membuka kotak itu dan menatap Maya.
"Selama ini gue seperti hidup dengan separuh apa yang gue punya. Bersama lo, gue yakin akan menguatkan gue menghadapi hidup. Gue hanya bisa berharap lo juga merasakan hal yang sama, May," lirih Ikhsan.
"Gue," ucap Ikhsan lagi, "Gue mungkin gak bisa mengungkapkan semuanya saat ini. Kepala gue masih sakit untuk bicara banyak."
Maya mengerutkan alisnya, wajahnya berubah cemas.
Ikhsan buru-buru menjelaskan, "Engga, gue gak papa kok. Tapi gue tahu gimana caranya lo mengerti seberapa besar gue menginginkan lo, May."
Ikhsan mengulurkan tangannya, "May, pinjem HP dan Headset lo." Ikhsan menerima ponsel Maya yang sudah terbuka kuncinya. Ia lalu terlihat seperti mengerjakan sesuatu dengan ponsel Maya itu. Setelah beberapa saat, Ikhsan memberikan headset itu pada Maya.
Sedikit ragu, Maya menempelkan headset di telinganya. Lalu, sebuah lagu mengalun merdu.
"Have I ever told you
I want you to the bone
Have I ever called you
When you are all alone
And if I ever forget
To tell you how I feel
Listen to me now, babe
I want you to the bone
I want you to the bone
I want you to the bone"
Mata Maya membuka lebar dan nanar. Ia menatap wajah Ikhsan dengan pandangannya yang teduh. Lagu itu, menyampaikan sedalam apa Ikhsan menginginkan Maya.
"Take me home, I'm fallin'
Love me long, I'm rollin'
Losing control, body and soul
Mind too for sure, I'm already yours
Hold you tight, you call and
I'll take control, body and soul
Mind too for sure, I'm already yours
Would that be alright?
Hey, would that be alright?
I want you to the bone
So bad I can't breathe
I want you to the bone"
Ikhsan perlahan menggenggam tangan Maya, menatap perempuan yang begitu lama tersimpan di hatinya itu.
"Of all the ones that begged to stay
I'm still longing for you
Of all the ones that cried their way
I'm still waiting on you
Maybe we seek for something that
We couldn't ever have
Maybe we choose the only love
We know we won't accept
Or maybe we're taking all the risks
For something that is real
'Cause maybe the greatest love of all
Is who the eyes can't see"
Maya memejamkan matanya, perlahan jemarinya membalas genggaman tangan Ikhsan.
"Take me home, I'm fallin'
Love me long, I'm rollin'
Losing control, body and soul
Mind too for sure, I'm already yours
Hold you tight, I call and
I'll take control of you, body and soul
Mind too for sure, I'm already yours
I want you to the bone" - To the bone by Pamungkas
Saat lagu itu berakhir, Maya membuka matanya. Manik mata Ikhsan masih menatap Maya, pandangan yang selamanya tak akan pernah Maya lupakan.
"Maya, I want you the bone. Do you feel the same?" ucap Ikhsan pelan, jemarinya menggenggam erat jari-jari Maya.
Membalas tatapan Ikhsan dengan bulir air mata yang menetes pelan di pipinya, Maya mengangguk. "Yes. And I won't lie. I want you too."
Ikhsan memejamkan matanya mengembuskan nafas panjang lalu tersenyum puas. Ikhsan menarik jari manis Maya dan bertanya, "Marry me and always be here in my side, please?"
Maya menghapus air mata dari pipinya dan mengangguk lagi. "Yes. And I will."
***
Halo pembaca yang baik 🙋
Ya, akhirnya sampai juga kita disini.
Seriusan, kalian harus dengerin lagunya Pamungkas - To the bone. Selain bagus, kalian bisa mengerti sedalam apa perasaan Ikhsan pada Maya di momen dimana ia sadar dari koma.
Jangan lupa komen, like dan vote nya ya.
Kisah ini tidak mungkin berakhir disini jadi...
Nantikan selalu kelanjutannya.
Hehe, sehat-sehat selalu semuanya.
Love, Author.