The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
The Acceptance



Suasana ruang UGD Rumah Sakit Dharma Akhsana di sore hari terlihat lengang sebab tidak ada pasien dalam penanganan darurat. Mendadak sebuah audi hitam berhenti dengan suara roda ban yang mendecit. Pengemudinya tampak babak belur, tetapi bukan ia yang akan dilarikan ke ruang UGD. Melainkan penumpang yang berada di kursi belakang bersama seorang perempuan. Pasien itu begitu pucat, terlihat nyaris seperti jasad. Rambut, leher dan bajunya basah bersimbah darah.


Semuanya berjalan sangat cepat, Galang yang membuka pintu dengan panik, satpam ruang UGD yang berteriak serta suster-suster yang mendorong tempat tidur untuk menjemput tubuh Ikhsan. Sekejap mata, tubuh Ikhsan sudah menghilang dibawa pergi oleh para petugas medis. Mereka saling menginformasikan istilah-istilah kegawatan. Meninggalkan Maya yang terduduk lemah dilantai rumah sakit.


Kaki Maya begitu lemas, ia juga tak lagi punya tenaga untuk menangis. Ia bahkan menurut saja saat dibantu berdiri dan digiring oleh seorang perawat UGD untuk duduk di tempat tidur pasien. Perawat itu dengan telaten membersihkan pelipis kanan Maya yang sekarang sudah membiru. Ia merasakan sensasi dingin saat gel pereda lebam dioleskan ke kulitnya. Namun pandangan mata Maya nanar seperti telah kehilangan kesadarannya.


Meski begitu, Maya masih dapat melirik ke arah seberang tempat tidurnya. Disitu Galang sedang ditangani oleh seorang dokter. Luka yang ada pada Galang sudah pasti lebih serius daripada Maya. Syukurlah Galang segera mendapatkan perawatan juga. Tetapi, bagaimana dengan kondisi Ikhsan? Apa yang harus ia katakan pada Yrene? Apakah Galang akan bermasalah dengan polisi?


***


Yrene meremas keras tangannya sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit. Ia sudah mengabarkan ke seluruh keluarga dekatnya, Papa Yrene bahkan juga sudah menuju ke Rumah Sakit tempat Ikhsan dirawat. Yrene meninggalkan bayinya bersama Suster Mira. Tania masih menyupiri Yrene, sementara sahabatnya yang lain harus kembali ke rumah. Untuk keadaan gawat seperti ini percuma jika beramai-ramai ke rumah sakit.


Begitu mobil Tania berhenti, Yrene langsung berlari masuk menuju ruang UGD. Disana, ia langsung mendapati Maya dengan mudah.


"Maya!" Yrene langsung memeriksa seluruh tubuh Maya, ia lalu menyentuh pipi Maya untuk lebih jelas lagi melihat lebam pada pelipis kanan sahabatnya.


"Lo gak papa?" tanya Yrene akhirnya.


Melihat rona khawatir pada wajah Yrene, Maya tak sanggup menahan sedihnya. Ia tak bisa bayangkan seperti apa perasaan Yrene mengetahui kondisi Ikhsan nanti. Air mata Maya meleleh membasahi pipinya dan Maya mulai menangis lagi.


Memeluk Maya, Yrene tahu bahwa saat ini sahabatnya itu sedang mengalami trauma. Ia sangat ingin menahan diri menanyai Maya namun informasi Maya di telepon tadi tidak cukup jelas bagi Yrene. Sambil masih mengelus punggung Maya, Yrene bertanya dengan suara yang lembut.


"May, di telfon tadi lo bilang Ikhsan kecelakaan? Gimana ceritanya?" Yrene bingung, jika benar kecelakaan maka seharusnya ada luka lebih pada tubuh Maya, bukan hanya lebam di pelipis mata.


Mendapati pertanyaan itu, Maya menundukkan kepala. "Bukan kecelakaan," Maya begitu takut menjelaskan apa yang terjadi. Sungguh kini pikirannya begitu kalut. Ia tidak menyangka hari ini berujung sangat kacau dan menyedihkan.


"Jadi?"


Menarik nafas yang dalam, Maya tak lagi mampu berkilah memilih kata. "Ikhsan melamar gue, Rene. Galang tiba-tiba datang, dan gak terima. Mereka bertengkar, dan..." Maya tidak sanggup melanjutkan ceritanya. Di satu sisi, ia juga masih memiliki kemarahan pada Galang yang gelap mata saat itu.


Terkejut mendengar penjelasan Maya, otak Yrene memproses seluruh potongan cerita sahabatnya itu. Tangan Yrene bergetar saat membayangkan apa yang terjadi pada suaminya. Yrene kemudian menoleh kearah dimana sebuah tirai tempat tidur lain terbuka dan mendapati Galang dengan tubuh yang banyak terdapat luka dan lebam.


Dengan langkah gontai, Yrene menghampiri Galang. Mata Yrene nanar menatap pria yang sedang diobati oleh perawat itu. Tubuh Galang memiliki beberapa luka dan lebam, tidak bisa ia bayangkan pula bagaimana tubuh suaminya.


Galang menyadari kehadiran Yrene dan dengan gugup ia berbicara, "Yrene... Maaf, gue gak sengaja. Gue gak pernah berniat mencelakai Ikhsan," lirih Galang. Tahu bahwa semua perkataan dan penyesalannya tiada guna. Kini, suami Yrene itu sedang diambang kematian dalam ruang resusitasi.


"Lo bisa jelasin itu ke polisi nanti," balas Yrene dingin, dan langsung pergi meninggalkan Galang dengan tertunduk.


Baru beberapa langkah kemudian, seorang dokter masuk ke ruang UGD dengan ekspresi seolah mencari seseorang. Langkah sang dokter terhenti saat ia justru mendapati sosok yang ia kenal. Yrene, sepupunya.


"Mas Bimo?" sapa Yrene.


"Syukurlah lo udah datang, Rene. Tadinya gue mau bicara sama orang yang bawa suami lo kemari," Dr. Bimo menggiring Yrene sedikit menepi lalu melanjutkan, "Ikhsan mengalami pendarahan di kepala dan kehilangan cukup banyak darah. Saat ini Ikhsan akan kita periksa dulu seluruh bagian vital di kepala. Kita pasti akan butuh melakukan tindakan operasi tapi harus ada stok darah untuk jaga-jaga. Kebetulan stok kita menipis dan sedang ada 2 operasi sectio caesarea yang juga membutuhkan stok darah."


Yrene menahan nafas mendengar penjelasan Dr. Bimo. Yrene mengenal Bimo sebagai salah satu dokter bedah ahli yang disegani di kota ini. Ada sedikit perasaan tenang mengetahui bahwa suaminya ditangani oleh Dr. Bimo.


"Kalau bisa saat ini lo cari keluarga terdekat yang bisa donor-"


"Rene, gue bisa donor. Golongan darah Ikhsan A+ kan?" Maya sudah sedari tadi berdiri tak jauh dari posisi Yrene untuk mendengarkan penjelasan Dr. Bimo.


Dr. Bimo mengangguk dan pandangannya segera beralih ke Yrene. "Coba cari 1 lagi donor, ya. Kita proses dulu pendonor yang ini," ucap Dr. Bimo sambil menepuk bahu sepupunya itu. "Banyak doa, keluarga udah pada di kabarin?"


"Udah, Papa juga udah kesini," jawab Yrene lemah.


"Hm, baguslah! Anak lo gimana? Sama pengasuh?" tanya Dr. Bimo lagi yang dijawab anggukan oleh Yrene.


"Ok, kalau gitu lo istirahatlah dulu. Gue proses donornya dulu ya," ucap Dr. Bimo lagi. Ia kemudian mengangguk pamit pada Yrene dan beralih pada Maya.


"Maya," sapa Yrene saat Maya melewatinya. "Thank you," lirih Yrene.


Maya mengangguk dan segera dibawa oleh Dr. Bimo didampingi oleh seorang perawat ke ruang donor.


***


Beberapa waktu setelah Maya berlalu, Tania datang menyusul. Ia kemudian duduk disebelah Yrene yang telihat sibuk dengan ponselnya. "Rene, gimana Ikhsan?" tanyanya dengan nada prihatin.


"Masih observasi, dan butuh donor darah. Maya lagi donor, mungkin butuh 1 kantong lagi. Gue udah hubungin bokap dan bokap bisa datangkan 2 kantong ke rumah sakit ini," jawab Yrene sambil menghembuskan nafas panjang.


Tak berapa lama, terdengar sirene mobil polisi seperti tak jauh dari ruangan tempat mereka duduk.


"Polisi," ucap Tania lirih saat menoleh ke arah jendela. "Ada apa?" tanya Tania lagi ketika ia mengarahkan pandangan pada Yrene.


"Someone should pay for this, Ikhsan sekarat karena orang yang ada di UGD. Namanya Galang," jawab Yrene dingin. Ia tahu bahwa Galang adalah orang yang mungkin penting baik bagi Maya ataupun bisnis suaminya. Tapi kini hati Yrene seperti membeku penuh amarah. Ia tak perduli lagi apa yang akan tejadi pada Galang. Seluruh fokus pehatiannya kini berpusat pada kondisi Ikhsan.


Tania menghela nafas. Tak bisa ia duga ternyata permasalahan Yrene menjadi semakin runyam.


Sebuah pintu ruangan terbuka dan Maya keluar dengan sebuah plester di pertengahan siku dalam tangan kanannya. Maya sudah menyelesaikan proses donor. Begitu melihat kondisi Maya, Tania segera memeluk Maya. Hatinya juga semakin remuk mendapati kedua sahabatnya terlibat musibah seperti ini.


Belum sempat Tania menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, pintu koridor dari ruang UGD tebuka dan dua orang polisi keluar.


"Saudari Maya, bisa ikut kami sebentar ke ruang UGD untuk memberi keterangan saksi pada saudara Galang?" ucap sang polisi dengan tegas.


Maya mengangguk lalu menoleh pada Tania dan Yrene seolah berpamitan.


"Tan," panggil Yrene. "Temenin Maya," pesannya pada Tania yang langsung dijawab anggukan.


***


Tak lama kemudian, Tania sudah datang kembali dengan menggandeng tangan Maya. Air muka Maya tampak begitu lelah. Menjawab pertanyaan polisi tadi menguras seluruh energinya, terlebih lagi ia harus melihat Galang dibawa polisi.


"May, lo istirahat dulu ya disini, gue beli makanan dulu. Lo pucat banget setelah ambil donor darah tadi," ujar Tania yang lalu pergi entah kemana.


Ada hening diantara Yrene dan Maya. Mereka terjebak pada pikiran masing-masing. Tidak ada yang berniat membuka suara untuk memulai percakapan terlebih dahulu.


"Permisi," tegur seorang perawat. Di tangan perawat tersebut tampak sebuah plastik bening berisi pakaian Ikhsan yang dipenuhi darah kering. Selain pakaian, ada sebuah plastik kecil ziplock bening yang berisi kotak cincin berdebu.


"Keluarga Bapak Ikhsan Al-Hakim?" tanya perawat itu.


Yrene segera bangkit berdiri. Kemudian perawat itu menyerahkan plastik yang ia bawa pada Yrene dan segera pamit berlalu. Meski Yrene sempat mendesak informasi keadaan Ikhsan, sang perawat terlihat belum cukup mumpuni menjelaskan dan mengatakan agar sebaiknya menunggu kabar dari dokter saja.


Yrene membalik tubuhnya dan duduk disamping Maya. Tangannya memegang kotak cincin milik Ikhsan. "Gimana momen lamaran lo?" tanya Yrene kemudian.


Maya menghela nafas panjang, tentu saja ia tak siap mendengar pertanyaan ini di lontarkan oleh Yrene yang notabene merupakan istri Ikhsan. Maya menggeleng lalu mendesah, "Never thought it'd be tragic like this."


Mereka menghela nafas bersamaan.


Yrene bersandar pada kursi dan memainkan kotak cincin itu ditangannya. "Dulu Ikhsan melamar gue di mobil. Tepat di hari ulang tahun gue. Kita baru pulang dari dinner berdua dan di depan rumah dia mau ngasih kado ulang tahun gue. Sayangnya karena paper bag kado gue sama-sama berwarna hitam dengan paper bag cincin yang dia beli, dia salah ngasih," Yrene tertawa sendiri mengingat kejadian lucu saat itu.


"Pas gue buka, gue kaget kenapa isi di dalam paper bag yang seharusnya kotak jam tangan sebagai kado gue, malah sebuah kotak hitam kecil. Gue buka, dan ternyata itu cincin lamaran yang udah dia siapkan untuk surprise-in gue lusa. Jadilah malam itu juga gue dilamar dan dipakaikan cincin. Padahal dia udah siapkan acara surprise lamaran khusus. Jadi di acara lamaran yang sudah Ikhsan rencanakan itu sebelumnya, gue tetap dilamar lagi. Bukan dengan cincin melainkan pakai jam tangan yang seharusnya jadi kado ulang tahun gue."


Kini Maya ikut tertawa bersama Yrene. Terbayang olehnya wajah malu dan panik Ikhsan di depan Yrene. Dan sudah pasti wajah Yrene yang terharu bercampur geli oleh Ikhsan yang salah tingkah.


"Jadi, apa lo udah menjawab lamaran Ikhsan itu?" Refleks senyuman Maya menghilang karena pertanyaan Yrene barusan.


Maya menunduk, matanya menghangat. Ia teringat bahwa mulutnya saat itu bahkan belum sempat memberikan jawaban apapun karena disela oleh kedatangan Galang yang penuh amarah. Maya kemudian menggeleng dan menjawab pelan, "Belum."


Menyadari perubahan suasana, Yrene kemudian menggenggam tangan Maya. "Lo mungkin gak percaya ini, May. Tapi gue udah mendapatkan firasat akan musibah ini terjadi pada Ikhsan. Beberapa minggu yang lalu gue pernah bermimpi Ikhsan pindah rumah, setelah gue tanya ke Bibi Andrew, lo kenalkan?" Maya mengangguk atas pertanyaan Yrene, lalu Yrene melanjutkan, "kata Bibi Andrew itu artinya Ikhsan akan meninggalkan kehidupan."


Mata Maya membesar bagai melihat hantu. Tetapi, Yrene tetap melanjutkan ceritanya.


"Kata Bibi Andrew, tidak berarti mimpi itu sepenuhnya benar. Kita wajib percaya pada takdir Tuhan, menerimanya dan hanya bisa berusaha yang terbaik diiringi doa. Tapi meski begitu, gue diliputi rasa khawatir. Juga dipenuhi rasa ingin sekali membuat Ikhsan bahagia. Bukan hanya pada saat terakhir hidupnya, tetapi setiap saat dalam hidupnya. Setiap kali gue melihat matanya, gue membayangkan bagaimana jika esok gue gak bisa melihat mata itu terbuka lagi..."


Yrene melanjutkan lagi, "May, itu juga alasan kenapa gue ingin Ikhsan menuntaskan perjuangan ia mengejar cintanya. Mengejar lo, May. Mungkin, itu akan membuat hatinya puas dan bahagia jika cintanya telah tersampaikan. Mungkin akan membuat Ikhsan bahagia juga melihat lo bahagia disisinya."


"Sekarang, semua ada ditangan lo. Ikhsan sudah melakukan perjuangannya." Yrene lalu menyerahkan kotak cincin yang ia pegang pada tangan Maya.


"Tapi, Rene," Maya mengangkat wajahnya berusaha untuk menyampaikan kegundahan yang ia simpan. "Gue gak akan bisa menjalani ini semua. Gue tahu lo akan terluka. Dan-"


"Gue sudah pernah terluka dan terpuruk begitu dalam saat mendengar hal ini pertama kali dari Galang. Lo tau siapa yang berusaha meyakinkan gue untuk bangkit lagi dengan cinta dan segala upaya yang bisa ia usahakan?" tanya Yrene sambil menatap mata Maya dalam-dalam.


"Benar, Itu suami gue. Ikhsan lah yang meyakinkan gue untuk tidak berhenti percaya pada dirinya. Dan sekarang, inilah gue. Percaya bahwa Ikhsan akan terus mencintai gue. Buat gue, rasa saling percaya akan cinta ini cukup."


Maya menelan ludahnya dengan susah payah. Ia kini kehabisan kata-kata.


"May, jika memang Tuhan masih memberikan Ikhsan waktu, lo mau kan memberi jawaban yang tepat pada Ikhsan? Membuat dia bahagia?"


Lagi-lagi Maya menunduk, sangat sulit memutuskan perkara ini baginya.


Yrene kemudian menarik nafasnya, "Apa justru lo yang gak bersedia menerima kehadiran gue dalam hati Ikhsan?"


Cepat-cepat Maya menggeleng dengan keras, ngeri ia membayangkan jika Yrene dan Ikhsan berpisah karena dirinya. "Ngga, Rene. Demi Tuhan, gue lebih memilih mati daripada harus menjadi penyebab kalian berpisah."


"Lalu, apa sebabnya? Apakah Galang?"


Maya terdiam. Sejenak ia terpikirkan akan sosok Galang, tetapi saat ini ia merasa begitu sulit menempatkan pria itu dihatinya. Dan jikapun memang ternyata kehadiran Galang lah yang membuatnya meragu, terlalu cepat baginya untuk menilai perasaan Galang. Pelan dan perlahan, Maya menggeleng.


Yrene kemudian berdiri, "Kalau gitu, lo pasti bisa mmberikan jawaban yang membahagiakan Ikhsan, kan?"


Tak juga ada jawaban dari Maya. Yrene berniat untuk pergi sejenak menghirup udara di luar sekaligus menunggu kedatangan keluaganya. Ia melangkah pelan meninggalkan Maya agar sahabatnya itu bisa berfikir dengan tenang.


"Yrene," lirih Maya kemudian. "Jika memang gue menerima lamaran Ikhsan, apa kita masih bersahabat? Gue juga gak mau kehilangan lo dan sahabat kita lainnya."


Yrene tersenyum lemah sambil membalikkan tubuhnya, "Tentu saja tidak, Maya. Bagaimana gue bisa bersahabat dengan wanita lain dari suami gue?"


Mendengar jawaban Yrene, hati Maya mencelos. Maya bahkan telah kehilangan nafasnya.


"Kita tidak akan menjadi sahabat lagi, Kita akan jadi keluarga, Maya," ucap Yrene lagi kemudian.


***


Halo pembaca yang baik!


Mohon dukungannya dengan Like, Vote dan Komentarnya di bawah ya!


Oh iya, kalau ingin berinteraksi lebih dengan Author, Saya tunggu di Group Chat ya!


Love, Author.