
Cuaca terasa mulai terik saat pesawat yang Galang tumpangi mendarat dengan selamat di bandara. Galang segera beranjak dari kursi business class setelah pramugari membukakan tirai merah dan mempersilahkan agar Galang turun terlebih dahulu. Kebetulan flight pagi ini benar-benar hanya Galang yang duduk seorang diri di kursi business class.
Seraya menggigit gagang kacamata hitam yang baru ia lepas, Galang segera berjalan cepat menuju parkiran. Begitu sampai di audi hitamnya, laju ia kemudikan mobilnya menuju kantor.
***
Rayyan dengan enggan membuka pintu ruangan bos nya lalu duduk bersandar dengan lemas. Di depannya ada Galang yang sedang berperilaku aneh. Yakni terus menundukkan kepalanya, seolah takut di tembak entah dari penjuru mata angin mana.
"Lo lama-lama gue bawa ke rumah sakit jiwa deh, Lang!" ucap Rayyan kesal.
"Si Maya ngantor kan? Dia tahu ga gue datengnya siang gini? Ada nanya dia?"
Rayyan cukup bingung dan tidak menyangka Galang akan melontarkan pertanyaan yang bahasannya lagi-lagi Maya. Dengan mulut terbuka Rayyan melipat tangannya di dada.
" You know what?! Lo udah aneh banget, sumpah. Sejak kejadian Maya di tembakin sama anak-anak kantor, lo jadi over enthusiast ke Maya tau gak?"
"Cih, emang ada kata over enthusiast?"
Rayyan sedikit merasa sebal dengan sikap Galang yang semakin menjadi aneh. Di kepala Rayyan, tidak ada hal lain yang bisa membuat lelaki freak di depannya ini bertingkah aneh kalau bukan karena... jatuh cinta?
Ia kemudian mengangkat alisnya dan beranjak berdiri seraya berkata, "Lang, I warned you, sekali lagi lo manggil gue bukan karena urusan kerjaan tapi urusan si Maya... gue seret lo dan Maya ke KUA"
Galang sontak terbatuk mendengar ancaman Rayyan.
"Idih! Siapa elo? Get outta my room, back to work!" Galang jelas merasa tersinggung, seolah Rayyan mencurigai bahwa ia sedang 'mengintai' Maya.
Melihat reaksi Galang, Rayyan langsung mencibir. Namun ia tak punya cukup nyali untuk memojokkan bos nya itu lebih lanjut. Tetapi, di dalam kepalanya justru timbul ide.
Rayyan segera keluar dari ruangan Galang dan berjalan lurus tepat menuju meja Maya.
Maya sedang melakukan review pada layout yang dihasilkan oleh Sisil. Ia dengan senang hati membimbing anak magang seperti Sisil sebagai mentor. Melihat Sisil seperti melihat dirinya dulu belajar membuat berita di majalah sekolah dan kampus.
"Mbak Maya, sibuk?" tegur Rayyan.
"Lumayan. Kenapa Ray?"
Rayyan tak segera menjawab melainkan memberikan pandangan kejam pada Sisil sebagai sinyal agar Sisil cepat-cepat pergi dan tidak melibatkan diri dalam percakapan ini. Sisil yang sudah pernah punya pengalaman di 'kuliti' oleh duo Rayyan dan Galang langsung mencicit pergi.
"Lo semaleman kemana habis cuti setengah hari?"
Maya mengangkat kepalanya dari pandangan layar laptop. Dengan alis mengerut, Maya meminta penjelasan pada Rayyan atas ada alasan apa pertanyaan tersebut di lontarkan. Semua manusia yang bekerja di sini tahu betul apa itu hak dan kewajiban serta batas-batas privasi. Untuk orang secerdas Rayyan, Maya yakin pria ini bukan sekedar kepo melainkan punya agenda.
"Sorry, but...Gue ngerasa aneh aja semalem memergoki si Galang pulang pakai baju pantai trus..." belum sempat Rayyan meneruskan kalimatnya, Ia sudah langsung diseret Maya pergi menjauh dari mejanya.
Maya memang memiliki ruangan, tapi ruangannya tak seistimewa Galang. Ruangan miliknya hanya cubicle kaca transparan yang tentu saja dapat dicuri dengar kapanpun.
Adegan tarik-menarik ini saja sudah memancing beberapa mata menjadi tidak fokus bekerja.
"Lo gila ya nanyain soal Galang ke gue segamblang itu?" Maya langsung menyembur Rayyan tepat saat mereka berada di koridor menuju cafetaria kantor.
"Gue bahkan belum menyelesaikan kalimat gue, tapi lo udah panik duluan. So it was true. There was something between you and Galang."
Maya memutar bola matanya. "No assumption okay?"
"Okay, fine. Kalau gitu gue butuh konfirmasi."
"Kenapa juga sih lo... harus tau?" Maya mencoba mendahulukan rasa penasarannya dari pada harus melakukan klarifikasi pada Rayyan.
"Oh, Maya. Karena selama ini si Galang itu seenaknya selalu menjadikan gue korban untuk nge-back up dia anytime. Can you imagine that?" Rayyan benar-benar memancing Maya pada agendanya.
"Jadi gue butuh tau. Ada apa antara lo dengan Galang?!" lanjutnya lagi.
Maya meletakkan telapak tangan di dahinya. Seolah pusing harus menghadapi hal seperti ini pula. Padahal sudah semalaman dia kurang tidur.
"Kemana lo semalaman sehabis cuti setengah hari?"
"I met a friend, enjoyed a bottle of wine and went home at mid night" jawab Maya dengan suara senormal mungkin.
Rayyan mengerutkan alisnya. Wine? Galang tidak tampak seperti pulang sehabis minum wine.
"Mid night? Pulang pakai apa lo?" Jackpot! Rayyan memberikan pertanyaan yang tepat. Inilah korelasi jawaban yang ia tunggu dari Maya.
Maya menarik nafasnya dan menjawab dengan tegas, "Galang yang nganterin gue pulang."
Maya bahkan tidak berani melirik reaksi Rayyan. Ia menduga Rayyan sudah mulai berspekulasi.
"It's not like what you're thinking, Ray!" ucap Maya cepat-cepat sebagai langkah antisipasi agar Rayyan tidak berpikir aneh-aneh.
"Oh ya? Tell me what am I thinking?" tantang Rayyan.
Maya terdiam, ia akan serba salah jika membuka mulutnya lebih jauh lagi. Ternyata kemampuan Galang untuk memilih team memang selalu tepat. Kemampuan berpikir kritis dan tajam Rayyan luar biasa.
"Maya, no offense but... did you sleep with him? Sampai dia pagi-pagi buta harus terbang ke luar kota untuk melamar lo ke orangtua lo?" tembak Rayyan pada Maya.
Seakan rahang Maya baru saja dibebani semen 100 kilo, Maya benar-benar ternganga dengan kalimat yang baru saja Rayyan lontarkan. Sedetik kemudian, Maya berkacak pinggang dan sudah siap meledak atas tuduhan Rayyan.
"Hold on, I'm not finish yet" tukas Rayyan dengan cepat melihat wajah Maya yang memerah menahan marah.
"Dia pulang dari nganterin lo tengah malem, tiba-tiba ganti baju dengan pakaian pantai. Sekarang lo bilang lo habis minum wine malam itu. Dan mendadak si Galang ambil flight keluar kota pagi buta, ke kota asal lo dulu sebelum pindah ke sini. Emang salah gue mikir kaya gitu?"
"**..tunggu, lo bilang apa barusan?"
"Emang salah gue..."
"Bukan, soal Galang mendadak keluar kota? Ke kota asal gue sebelum gue pindah kesini?!" nada suara Maya tanpa ia sadari begitu meninggi.
Rayyan sangat bingung dengan reaksi yang ia dapati dari Maya. Tetapi Maya, dipikirannya seakan ada pesawat militer yang menjatuhkan bom tepat di kepalanya. Ia mencoba menelan ludah agar membantu ia bernafas lega dari mulut. Sebab oksigen dari hidung tidak cukup membantunya tetap sadar saat ini.
Maya langsung berlari menuju ruangan Galang tanpa memperdulikan Rayyan yang terdiam dengan sangat bingung. Tapi ada satu hal yang Rayyan tahu jelas terjadi, tampaknya ia salah bicara. Reaksi Maya begitu berubah saat tahu perihal kepergian Galang pagi buta hari ini. Pantas saja Galang ingin merahasiakan ini dari Maya. Rayyan bergidik ngeri mengingat ekspresi kaget Maya saat ia mengabarkan soal flight Galang. Nalurinya mencium akan ada peperangan. Setengah berlari, Rayyan segera menyusul Maya.
***
Jantung Maya berdegup begitu kencang seolah darah yang dipompa akan meledak keluar dari seluruh tubuhnya. Ia merasakan panas di wajah dan dadanya. Maya berharap dugaan buruknya tidak menjadi kenyataan.
Maya ingat betul semalam Galang begitu marah setelah mendengar ceritanya. Terutama pada Ikhsan. Ikhsan yang menyatakan cinta pada dirinya lalu meninggalkan Maya yang terpuruk untuk kembali pada pelukan istrinya, Yrene.
Tapi Galang belum mendengar keseluruhan cerita. Bukan pula Maya ingin membela Ikhsan, tetapi Maya paham betul bahwa memang semua ini harus berakhir. Dan dengan membuka diri serta jujur terhadap perasaan yang mereka pendam masing-masing lalu berhenti, benar-benar berhenti, adalah jalan terbaik untuk semua pihak.
Terlebih lagi, jika benar Galang... Galang pergi menemui Ikhsan, ah tidak. Ada hal yang lebih parah, jika sampai Yrene tahu akan semua hal ini. Yrene yang baru saja melahirkan san punya bayi...
Hancur sudah semua yang Maya pertahankan. Cinta tidak ia dapatkan, persahabatan yang sudah lama ia miliki bisa musnah.
"Oh God. Galang, what on earth did
you just do?!" teriak Maya dalam pikirannya ketika ia sampai di ruangan Galang dengan pintu terbuka.
Bukan bentakan yang keluar dari mulutnya, tetapi suara yang begitu bergetar mengucapkan, "Please bilang kalau lo gak bicara sepatah katapun pada Yrene..."
***
Halo pembaca yang baik 🙋
Jangan lupa like, vote berikan komentar ya. Itu semua sangat membantu author berkembang! 💞