The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Sidang 1



Mobil Audi Hitam milik CEO TechnoMedia Corp. melesat cepat di jalan tol yang telah lengang, lepas dari kemacetan. Pengemudinya masih tampak awas meski ada gurat lelah di wajahnya. Sementara itu, penumpang cantik disampingnya sedang terlelap. Ada sunyi yang menenangkan diantara mereka sambil ditemani oleh deru halus suara mesin mobil. Tetapi, suasana ini ternyata sungguh berbeda dengan isi hati pengemudi mobil tersebut. Berkali-kali ia menelan ludah sebab pikirannya sedang berkecamuk. Antara terus memandangi perempuan disampingnya, atau konsentrasi menatap jalan tol lurus yang gelap.


Galang menghembuskan nafasnya perlahan dan panjang. Ia bahkan sekarang dapat mendengar bunyi degup keras detak jantungnya sendiri. Menghabiskan begitu banyak waktu intens berdua dengan Maya justru malah sangat mempengaruhi kewarasannya. Berulang kali ia berusaha menepis pikirannya, tetapi hati kecilnya terus berteriak meminta pengakuan. Bahwa benar, mungkin ia telah tak sengaja jatuh cinta pada Maya.


Usia Galang tak lagi muda, jika pun ia jatuh cinta pada Maya tentu jenjang yang akan ia tempuh adalah pernikahan. Ia tak lagi punya banyak waktu dan energi untuk berputar-putar pada kegiatan pacaran. Tetapi, bagaimana pula bisa membuat Maya jatuh cinta kembali pada dirinya? Sedangkan hati Maya, hati perempuan yang baru saja membuatnya sadar telah jatuh cinta ini, masih terpaut pada cinta lamanya 15 tahun yang lalu. Apakah dirinya bisa bersaing menggantikan sosok Ikhsan di hati Maya? Ah, memikirkan ini Galang malah menjadi gusar. Padahal dulu kalimat penentangan hubungan asmara keluar duluan dari mulut Galang. Kini, justru ia harus menarik kembali kata-kata itu.


Galang meremas kemudinya, memikirkan harus bersaing dengan Ikhsan membuat Galang sedikit tersulut emosi. Pria beristri itu, bisa-bisanya menyatakan cinta pada perempuan terhormat seperti Maya lalu pergi kembali ke pelukan istrinya. Seketika, Galang menjadi punya rasa tidak suka yang jelas pada sosok Ikhsan. Ah, ia jadi menyesal sekarang justru memiliki hubungan kerja dengan konsultan IT suami Yrene itu. Andai saja ia tak punya hubungan kerja profesional, mungkin segalanya akan lebih mudah bagi Galang.


Tepat jam 08:00 malam mereka akhirnya sampai di kota tujuan dan Galang sudah memarkirkan mobilnya di area parkir hotel tujuan mereka. Ia menunggu beberapa saat tapi gadis disampingnya itu masih terlelap. Baru saja ia berniat ingin membangunkan Maya, ponselnya bergetar.


"Halo, Ray?" sapanya di telepon setelah sepelan mungkin keluar dari mobil.


"Lo udah sampai? Gue mau kasih update soal rapat persiapan launching platform baru dengan dewan direksi. In couple of weeks kita udah ready. Content udah siap, platform juga udah oke. Iklan bahkan udah banyak yang mau masuk, cuma masih di seleksi sama team marketing. Dan.."


"Good Job, Ray! Gue cape banget, mau istirahat. Kejebak macet 3 jam gue!" potong Galang sambil memijat-mijat lehernya.


"Hm, ngapain aja lo berudaan di mobil sama si Maya?" Rayyan langsung menangkap sesuatu dengan instingnya. Berdekatan dalam waktu lama, terlebih lagi perjalanan darat dan cuti bersama ini adalah rencana Galang maka sudah pasti patut di curigai..


"Ya ngapain kek. Kenapa emang?" Meski terdengar santai menanggapi, tetapi Galang cukup waswas juga dengan tebakan dari insting Rayyan yang terkenal tajam itu.


"Gak papa. Lo jadi sama Maya juga bukan masalah kok sejauh yang gue tahu. Tapi inget Lang, lo juga harus mastiin perasaan Maya ke lo itu gimana. Beberapa kali pengalaman gue, kayaknya Maya sering kaget dengar info tentang lo, atau sering juga gue lihat dia bertanya hal-hal tentang lo yang seharusnya dia bisa tau jika dia memang kenal lo lebih dekat. Jadi, sangkaan gue doang sih ini, Maya kayaknya belum tahu banyak hal tentang lo. Jarang mencari tahu hal tentang lo juga. I mean, dia bukan terlihat seperti orang yang punya perasaan suka ke elo." Rayyan menghela nafas panjang setelah berbicara panjang lebar. Ia tak menduga Galang tetap tenang mendengarkan. Biasanya bossnya akan menyela omongannya dengan fakta lain jika apa yang ia sampaikan tidak benar. Kini, semuanya jelas.


Galang terdiam sejenak sebelum menjawab, "Thank for saying it all, man! I appreciate it!"


Untuk Galang, tak berguna jika ia harus berkelit jika Rayyan pun sudah mencium hal ini. Kini, tidak ada kata mundur bagi Galang. Setelah semalaman berpikir mengenai perasaan ini, menurutnya tidak ada hal buruk jika ia memang menyukai Maya. Tetapi, pertanyaan nya justru apakah sekarang waktu yang tepat atau kah sudah terlambat? Apa yang akan terjadi jika di kota ini Maya bertemu lagi dengan Ikhsan?


Suara pintu mobil kursi penumbang terbuka terdengar dari arah samping mobil. Galang langsung membalikkan badan dan mendapati Maya sudah bangun dan sudah merapikan rambutnya. Ia menahan senyum, padahal sedari tadi di mobil ia jelas-jelas melihat Maya tertidur dengan rambut yang acak-acakan.


"Kok lo gak bangunin gue, Lang?" tanya Maya sambil mengambil tas backpacknya bersiap untuk memasuki hotel untuk melakukan check-in.


"Baru banget kita sampai. Gue langsung di telepon si Rayyan." Galang juga mengambil tasnya dan mengunci mobil. "Mau makan malam dulu gak?" tanyanya kemudian.


Maya mengangguk tanpa melihat Galang. "Eh!" Maya tiba-tiba teringat sesuatu.


"Gue tau tempat makan enak disini, kesitu yuk! On my treat! Kan lo barusan naikin gaji gue!" Maya terkekeh sambil menepuk bahu Galang dengan senyum pongah.


Galang mendengus kesal tetapi tertawa juga. "Ok boss! kasih makan gue sampai kenyang ya!" jawab Galang sambil merangkul bahu Maya layaknya hubungan mereka begitu akrab.


Maya yang merasa moodnya sedang bagus karena cukup istirahat itu tak menolak rangkulan akrab Galang. Ia tak pernah menduga bahwa lelaki yang merangkul bahunya itu sedang menelusuri perasaannya. Apakah rangkulan itu terasa seperti teman? Atau rasa nyamannya memang lebih dari sekedar teman?


***


Galang menurunkan kaca mobil, "Ini tempatnya?"


Maya mengangguk antusias dan segera melepas sabuk pengaman.


Galang berdiri di depan sebuah warung pinggir jalan, ia mengeja pelan spanduk warung pinggir jalan dengan tenda biru itu. "Oseng Mercon?"


"Iya, pedes-pedes nikmat! Dulu kalau gue stres dan mau release semua rasa suntuk gue selalu makan disini. Yuk, cobain!" sahut Maya.


Tak berapa lama mereka menunggu, sajian makanan akhirnya tersedia di meja makan.



"Wah!" ucap Galang menatap piring dengan kepulan asap di depannya.


"Gimana, gimana? menggiurkan kan? Nasinya nasi uduk loh!" Maya dengan sigap menuangkan nasi di piring Galang. Di warung ini, nasi bebas ambil dan tambah. Jaman muda dulu, tugas sebagai reporter lapangan membuat Maya dan teamnya sering kelaparan karena merapel jadwal makan pagi dan siang di jam makan sore. Menu makanan pedas dan dengan nasi banyak menjadi pilihan favorit. Dihadapkan pada menu makanan yang penuh memori ini, mood Maya jadi semakin baik.


Mendapati Maya ceria, Galang ikut senang. Ia jadi ikut antusias mencicipi makanan yang sebenarnya lebih layak disebut lahar api dengan tampilan kuah yang merah dan asap mengepul.


Galang mengambil suapan pertamanya dan, "Anj! Pedas bbuanget!"


Maya yang sedang mengunyah suapan kedua hampir menyemburkan nasinya. Ia dengan cepat menyodorkan es teh kepada Galang yang sibuk mengelap mulutnya dengan tisu.


"Haha! Maaf, Lang! Gue gak tau lo gak kuat makan pedas!"


Masih meringis dan dengan cepat menghabiskan segelas es teh miliknya, Galang menatap kesal Maya.


"Ini nih, minum punya gue juga aja!" Maya menyodorkan gelas es teh miliknya.


Galang mengambil gelas milik Maya dan menyeruput es teh itu hingga hampir tandas. ia baru bisa merasakan reda dari sengatan pedas oseng mercon.


"Haaaah, reda pedasnya! Serem amat, bahaya nih makanan!" komentar Galang akhirnya.


Maya masih tersenyum, baru kali ini ia lihat wajah kewalahan milik Galang. Dalam hatinya, sungguh menghabiskan waktu lebih dekat dengan bosnya benar-benar menghibur.


"Untung es teh gue bisa meredakan ya, kalau engga lo kudu nunggu pesanan es teh ke tiga dianter mamangnya loh," ucap Maya masih sambil mengunyah makanannya.


Galang mengambil sedotan yang ada dari gelas Maya, di ujung sedotan itu ada bekas lipstik bibir Maya yang sedikit pudar karena bekasnya ada tersisa tipis di bibir Galang.


"Menurut gue bukan karena es tehnya sih. Ini," Galang menunjukkan sedotan yang ia pegang ke wajah Maya, "Mungkin karena bekas bibir lo."


Maya ingin sekali ekspresi yang ia keluarkan adalah marah, tetapi ia kini malah tertawa. Tertawa dengan muka merah yang ia juga tak sadari entah memerah karena pedas atau karena jokes dari Galang barusan.


***


Saat pagi tiba, perasaan Maya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Ia harus berterimakasih pada Galang sebab sudah banyak membantu mendukung perasaan Maya yang rapuh dan begitu khawatir untuk menemui Yrene setelah Yrene tahu rahasia terdalam miliknya.


Maya merapikan rambutnya lagi. Ia benar-benar ingin memastikan bahwa hari ini, Maya akan menjadi dirinya sendiri. Ia akan jujur didepan Yrene seandainya Yrene akan menyinggung dan mempertanyakan perihal dirinya dan Ikhsan. Semua sudah selesai dan sudah mereka akhiri di geladak kapal The Cabin. Tidak ada hal apapun lagi yang tersisa. Seharusnya.



Setelah puas dengan tampilannya di cermin. Maya menarik nafas lagi dan bersiap membuka pintu kamar. Ia hampir saja berteriak saat mendapati Galang tiba-tiba sudah berdiri di depannya dengan pose akan mengetuk pintu.


"Duh! Ngangetin tau! Bisa gak sih gak selalu tepat waktu banget nget?!" komplain Maya.


Galang tak menjawab, ia memutar badannya dan melangkah duluan. Tampilan Maya barusan membuatnya kehilangan nafas. Galang segera mengutuki kendali dirinya. Semenjak ia lebih jujur terhadap perasaannya, Ia jadi tidak dapat mengontrol dirinya sendiri di depan Maya. Bahkan gadis itu menjadi semakin cantik setiap kali ia menatapnya.


Di perjalanan, tak satupun dari mereka membuka suara. Maya akan menemui Yrene di sebuah private restaurant. Tempat itu merupakan pilihan terbaik saat membawa bayi yang masih baru lahir. Tentu saja ini adalah ide Maya. Tidak mungkin Maya akan mengunjungi Yrene di rumahnya. Segala isi rumah mereka, bisa-bisa membuat Maya gila sebab apapun yang berkaitan dengan Ikhsan, ia pasti mengenalinya.


Galang menghentikan mobilnya di area parkir. Semalam, Maya menyampaikan rencananya. Ia akan menceritakan kembali pada Yrene dengan bahasanya sendiri tentang kisahnya dan Ikhsan. ia juga akan memohon maaf dan berharap Yrene masih mau menerimanya sebagai sahabat. Sesimpul itu, lalu ia akan segera pamit pergi dan kembali ke mobil Galang.


"Good luck, May!" ucap Galang dengan suara yang berat. "Lo hanya akan menemui Yrene dan babynya kan?" Galang memastikan sekali lagi. Rencana Maya tentu tidak akan bekerja dengan baik jika ternyata ada Ikhsan disana.


Maya mengangguk. Ia kemudian bersiap untuk keluar dari mobil, namun tangannya ditahan oleh Galang.


"May, gue tahu ini waktu yang tidak tepat. Tapi, apapun yang terjadi, please jangan pernah pilih Ikhsan lagi." Entah apa yang terlintas di pikiran Galang. Tetapi Galang merasakan ia harus mengatakan perasaannya sebelum sesuatu yang diluar dugaannya terjadi.


"Gue suka sama lo dan gue berniat untuk membangun cinta bersama lo. Lo gak harus jawab ini. Gue hanya ingin lo tau kalau lo gak akan sendiri meski tanpa Ikhsan. Akan selalu ada gue."


Maya menelan ludah mendengar apa yang baru saja Galang ucapkan. Tetapi ia tak punya cukup waktu untuk mencerna semuanya.


"Lang, kita bicarakan ini lain kali. Gue terlalu lemah saat ini untuk berusaha." Maya melemparkan senyum tipis sebelum pergi dan menutup pintu mobil, meningalkan Galang dalam posisi tergantung tanpa jawaban.


Galang hanya bisa meratapi punggung Maya yang perlahan hilang memasuki pintu masuk restoran. Paling tidak, ia sudah melakukan apa yang ia bisa dan tidak menunda menyampaikan perasaannya sebelum terlambat.


Entah apa yang Maya rasakan sekarang, tetapi ia tidak mau fokusnya kali ini diganggu oleh hal lain. Ia hanya ingin permasalahan yang telah lama meliputi dirinya ini cepat selesai. Dan tentang perasaan Galang tadi, Ah ia punya banyak waktu untuk menghadapi bosnya itu.


***


Suasana restoran terasa sepi saat Maya melangkahkan kaki ke arah meja yang sudah ia booking. Seperti dugaannya, bersama Galang akan membuat dirinya datang tidak hanya tepat tetapi bahkan lebih cepat. Meja itu masih kosong. Setelah menimbang - nimbang posisi duduk, Maya lebih memilih membelakangi arah kedatangan. Membuatnya lebih nyaman untuk disapa lebih dulu.


Maya menghitung dalam hatinya, meski ia tak tahu di hitungan keberapa Yrene akan muncul. Sambil terus melirik ponselnya, Maya mengetukkan jemarinya ke meja.


"May?"


Maya menolehkan wajahnya.


Senyum Yrene mengembang menyambut Maya. Di samping tubuh Yrene, ada sebuah kereta dorong bayi berwarna abu pekat dan dua buah kaki yang terangkat-angkat menendang udara.


Baru saja Maya hendak berdiri, Yrene telah memeluknya erat.


"Kangen banget, May! Lama gak jumpa!" Yrene memeluk sahabatnya itu erat, seolah itu adalah pelukan terakhirnya sebagai sahabat.


Entah di waktu lain apakah Maya akan berganti peran dalam hidup Yrene.


"Gue juga kangen banget sama lo," ucap Maya sambil melepas pelukannya dan menyentuh lembut pipi Yrene.


Wanita di depannya yang baru saja menjadi Ibu ini terlihat begitu letih. Meski telah ditutup make-up, tetapi mata Yrene terlihat sayu.


"Lo semakin cantik jadi Ibu, Rene! Tapi pasti cape banget ya? Mana my baby boy? Hello sweetheart?" Maya beralih ke Ianvs usai berhadapan dengan Yrene.


Baby Ian yang sedang memandangi atap restoran kemudian tampak bingung mendapati langit-langit restoran berubah menjadi wajah Maya. Ia mengerjap beberapa kali dan tersenyum, memperlihatkan lesung pipi turunan sang Ayah.


"Wah, manis sekali senyumnya!" sapa Maya sambil mencium pipi Ianvs.


Puas memandangi Ianvs, Maya berdiri tegak dan menyerahkan kadonya pada Yrene. "Selamat ya, dear. Sehat-sehat lo dan Ianvs nya!"


Yrene tersenyum menerima kado Maya. Ia kemudian duduk berhadapan dengan sahabatnya itu.


Lima menit berlalu, Maya berniat membuka obrolan tentang menu pesanan. Tetapi tangannya di sentuh oleh Yrene dan perasaan Maya seketika berubah.


"May, ada hal penting yang harus kita bicarakan. Lo pasti tau, kan?"


Maya mengatupkan rahangnya. Inilah waktunya ia harus meminta maaf. Maya menundukkan kepalanya. Ia merasa malu tapi ikhlas menanggung rasa ini didepan Yrene. Menghadapi Yrene yang telah membawa bayi sebagai seorang Ibu, membuat Maya merasa berlumuran dosa.


"Gue minta maaf, Rene. Tenang apapun yang lo dengar soal gue dan..., Ikhsan."


Ada hening yang menggantung di udara. Yrene masih menggenggam tangan Maya. Seolah tak merubah perasaan apapun mendengar kalimat pernyataan Maya barusan.


"May, lo mau kan jujur sama gue?" tanya Yrene.


Maya mengangguk tanpa menatap wajah Yrene. Ia tak punya kekuatan yang cukup untuk melihat wajah sahabat sekaligus istri dari orang yang ia cintai.


Yrene terdengar seperti menarik nafas dalam-dalam, "Lo masih sayang sama Ikhsan?"


***


**Halo, deg-degan ya?


Sama.


Haha...


Ayo like, komen dan vote nya ditunggu ya!


Love, Author**.