The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
A Woman called Angel 3



Sebuah mobil baru saja pergi dengan cepat dari jalan depan rumah Ikhsan. Pengemudinya tampak terburu-buru seakan sedang melarikan diri dari sesuatu yang ia takuti. Tak berapa lama, mobil itu terlihat berhenti di dekat gate pintu keluar perumahan. Dengan gemetar, tangannya meraih ponsel lalu menekan sebuah nomor.


"Halo?" sapa suara di seberang telepon.


Tidak ada balasan suara, hanya terdengar deru nafas tersengal.


"Tania?" tanya suara itu lagi.


"Nina, lo ada di rumah? Gue kesana ya!" perempuan yang dipanggil Tania ini menjawab dengan suara gemetar. Begitu terdengar persetujuan dari orang yang ia ajak bicara, ponsel ia matikan. Tania kemudian menyandarkan kepalanya pada setir mobil Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari ruang keluarga rumah Ikhsan saat ia berdiri di teras rumah itu.


***


Adel dan Virsa turun dari mobil bersaamaan dengan mimik wajah yang tegang. Mereka berdua baru saja menerima kabar dari Nina agar segera datang dan berkumpul di rumahnya. Begitu sampai di teras belakang rumah Nina, mereka terkejut mendapati Tania yang murung.


Tania, perempuan beranak 2 itu sedang melamun menatap kolam renang rumah Nina yang tenang. Di pangkuannya ada sebuah kotak besar es krim yang sudah dimakan seperempatnya.


"Hey!" sapa Nina saat menyadari kedatangan Adel dan Virsa sembari mempersilahkan mereka duduk lesehan dengan bantal tatami yang empuk berwarna-warni.


Nina kemudian membuka suara, "Tadi si Tania mau ngasih oleh-oleh karena dia habis pulang liburan dari Texas. Tania beliin baju-baju baby ala cowboy buat photo session Ianvs. Kan Yrene pernah bilang kalau dia dan Ikhsan mulai koleksi foto-foto Ianvs. Tapi pas Tania datang, dari jendela teras kelihatan Yrene dan Ikhsan lagi ngomong serius. Obrolan ini yang bikin dia shyok sampai sekarang. Tania mau cerita kalau kita berempat sudah kumpul disini."


Semua mata kini tertuju fokus pada Tania. Mendapati ketiga sahabatnya sudah berkumpul di depan matanya, Tania menarik nafas dalam-dalam dan mulai menceritakan apa yang ia dengar tentang hubungan antara Maya dan Ikhsan dari Yrene. Tidak ia tambahkan, tidak pula ia kurangi. Usai ia bercerita, wajah ke tiga temannya itu tampak sama shyoknya dengan dirinya di teras tadi.


Tangan Virsa menggapai tangan Tania seolah memberi tanda bahwa ia juga butuh es krim untuk menenangkan kekalutan di kepalanya. Sementara Adel, yang lebih lama mengenal Maya langsung bersandar lemas ke bahu Nina.


"Uh Maya," ucap Adel sambil mulai terisak dan menutup mukanya. Nina lalu mengelus kepala Adel sambil berusaha menenangkan.


"Gak nyangka gue, bisa-bisanya diantara kita punya kisah kayak gini," lanjut Adel lagi.


"Gue juga gak nyangka, Yrene pasti hancur banget. Tapi gue lebih gak nyangka Maya selama ini nyimpen rahasia sedalam dan sesedih ini. 15 tahun dia nyimpen perasaan sama Ikhsan?" Tania berbicara dengan pandangan nanar.


Virsa menyendokkan es krim penuh ke mulutnya dan langsung ia telan. Ia lalu berkata, "Girls, bukannya Maya bilang akhir bulan ini bakalan cuti buat nengokin baby Ianvs, ya?"


Mereka berempat kemudian saling pandang dan masing-masing menelan ludah, tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada persahabatan mereka nantinya.


"Gue ga sanggup menghadapi perpecahan di persahabatan kita, gue gak siaaap!" Adel menenggelamkan kepalanya pada bantal tatami yang ia peluk.


Sambil masih mengelus kepala Adel, Nina menghela nafas panjang. "Gue rasa kita harus dengar hal ini langsung dari Yrene. Apalagi...," Nina mengigit bibirnya seolah tank sanggup melanjutkan.


Setelah memejamkan mata, Nina menguatkan diri untuk melanjutkan. "Apalagi Yrene juga sudah memutuskan untuk membagi cinta Ikhsan pada Maya."


***


Seperti yang Nina utarakan, keempat sahabat itu benar-benar mendatangi Yrene keesokan harinya. Meski sudah mendengar cerita kisah pilu Yrene dan Maya dari Tania, keempat sahabat itu tetap saja meneteskan air mata mendengar kembali cerita langsung dari Yrene. Selain rasa empati terhadap sahabat mereka sendiri, keempat perempuan ini juga tak bisa membayangkan perihnya perasaan Yrene sebagai seorang istri yang memutuskan untuk membagi cinta suaminya pada sang sahabat.


Kelima sahabat itu saling berpelukan, berharap pelukan erat dapat memperkuat hati Yrene yang sudah remuk.


Sambil menghapus air matanya, Yrene tersenyum dengan bibir bergetar. "Makasih ya guys, maafin gue kalau rumah tangga gue memperkeruh persahabatan kita."


Tania langsung menggeleng keras, "Lo gak boleh ngomong gitu. Maafin kita yang malah jadi tahu masalah rumah tangga lo, Rene. Tapi kita hanya ingin mendampingi lo, memberi lo support menghadapi ini semua. Jujur, denger kisah syndrome baby blues lo aja udah bikin kita semua sedih. Setelah lo pulih malah ada kabar seperti ini. Kita juga sedih banget, Rene."


Yrene menganguk dan menggenggam tangan Tania. "Terimakasih, sekali lagi. Gue harap kita gak perlu memusuhi Maya. Gue sangat mengerti perasaan Maya, bagaimana rasanya mencintai Ikhsan. Dan gue yakin, selama 15 tahun Maya memendam perasaannya itu dikarenakan dia mencoba menghormati dan memahami posisi gue sebagai istri Ikhsan sekaligus sahabatnya. Dan seandainya gue bertukar posisi dengan Maya, menikahi Ikhsan pasti merupakan kebahagian yang telah lama gue mimpi dan nantikan."


Menarik nafas dalam-dalam Yrene kemudian melanjutkan kembali, "Support dan dukungan kalian sangat menguatkan gue. Gue yakin, Maya pasti merasa malu dan takut menghadapi gue dan kalian semua. Please, stay out of this awhile. Biarin urusan ini menjadi urusan gue, Ikhsan dan Maya dulu. Kalau gue bener-bener butuh bantuan apapun, pasti gue kabarin kalian."


Tania, Nina, Adel dan Virsa memeluk erat Yrene. Suasana di rumah Yrene sungguh sangat mengharukan penuh isak tangis dan air mata. Bagaimana tidak, mereka berlima sudah merasakan posisi sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu. Merekapun ikut merasakan hancurnya perasaan Yrene. Dan satu-satunya sahabat mereka yang single justru terlibat kisah cinta yang rumit dan menyedihkan.


"Udah, cukup sedih-sedihnya, Udah lama banget gue terus-menerus memikirkan ini," ujar Yrene sambil melepaskan pelukannya. Kini, semua mata mereka berlima tampak bengkak dengan muka sembab.


Setelah beberapa lama saling menghibur, keempat sahabat Yrene itu tampak bersiap-siap pulang. Wajah mereka semua masih terlihat jelas dirundung sedih. Meski setuju untuk tidak mencampuri urusan antara Maya dan Yrene, mereka masih tidak tahu harus bersikap seperti apa. Entah berdiam diri adalah cukup, atau harus melakukan hal lebih untuk mendukung masing-masing Yrene dan Maya. Tapi toh mereka tak tahu dukungan seperti apa yang bisa mereka berikan untuk permasalahan pelik ini.


Semua sahabat Yrene sudah pulang, kecuali Tania. Ia menunggu di jemput oleh suaminya karena tak mampu lagi mengemudikan mobil sementara waktu karena semenjak kemarin, ia begitu shyok dan terus menerus bersedih atas kisah Yrene dan Maya.


Saat memberikan Tania sebuah yogurt dingin, Yrene tiba-tiba teringat sesuatu.


"Tan, bibi lo yang peramal itu sekarang gimana kabarnya?"


"Hm? Bibi Andrew?" tanya Tania sambil meneguk yogurt dari Yrene.


"Iya, kayaknya ada sesuatu yang ingin gue tanyakan ke dia deh, Tan."


"Apaan?" tanya Tania lagi dengan mimik serius, tentu saja rasa sedih masih menggantung di atmosfer sekeliling Tania membuatnya menjadi sangat sensitif.


Yrene mengukum bibirnya dan berkata, "Tolong tanyain apa makna mimpi kalau suami lo pindah rumah dan gak mendatangi lo lagi."


Jantung Tania langsung mencelos mendengar pernyataan Yrene. Ia langsung menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Itu karena lo kepikiran dan stress banget dengan masalah ini kali, Rene. Gue yakin Ikhsan gak akan pernah melakukan itu. Dia bukan hanya suami lo, tapi juga sabahat dari kecil dan satu-satunya orang yang selaaaalllu ada buat lo, kan?" Tania memberi semangat, meski ia tak yakin ada nada suportive dari suaranya yang juga lemah.


Yrene mengangguk pelan, tapi entah kenapa ia tidak terlihat tenang.


"Tapi, Tan. Tolong tetep tanyain ke bibi lo, ya," pinta Yrene. Tania mengangguk mengiyakan. Tania benar-benar berharap kabar buruk yang ia terima tak bertambah lagi.


Tak lama, Tania berpamitan pulang dengan memeluk dan mencium pipi Yrene. Ia juga berpesan agar Yrene kuat demi anaknya, Baby Ianvs.


Setelah Tania pulang, Yrene menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Ia tak menyangka secepat ini sahabat-sahabatnya itu bisa tahu kabar tentang rumah tangganya. Kepalang basah, Yrene punya satu hal lagi yang harus ia lakukan. Yaitu, membuka permasalahan ini pada kedua orangtuanya.


***


Yrene sudah duduk di ruang keluarga rumah Dr. Handoko, Papanya. Semenjak memasuki usia senja, Dr. Handoko telah pensiun dan hanya menerima panggilan untuk praktik sebagai dokter keluarga saja. Begitu ia datang tadi, Ianvs sudah langsung di sambut dan di gendong-gendong oleh Mamanya.


Tangan pria tua itu diletakkan pada bahu Yrene dan dengan lembut ia bersuara, "Ada apa, nak? Kami ada disini, akan selalu bersamamu, mendukungmu...,"


Mendapati perlakuan hangat sang papa, tangis Yrene pecah. Ia lalu bersimpuh dan memeluk lutut sang papa dan mamanya. Dengan mulut bergetar, Yrene, ia meminta restu dan kerelaan hati kedua orangtuanya untuk keputusan membagi cinta Ikhsan.


Mama Yrene menutup mulutnya, menahan jerit pilu atas kisah rumah tangga putri pertamanya. Ia tak menyangka di awal pernikahan justru putrinya harus begitu banyak menderita.


"Yrene! Apakah kamu tahu konsekuensinya menerima sahabatmu menjadi istri dari suamimu juga?! Apakah kamu pikir ini adalah hal yang mudah?! Apakah kamu akan tahan?!" hardik Dr. Handoko dengan mengepalkan tangannya menahan emosi. Tidak sengaja ia meninggikan suaranya.


Yrene masih menunduk dan berurai air mata, "Pa, Ma," panggilnya lirih.


"Mama dan Papa sangat kenal dengan sosok Ikhsan. Tak pernah sekalipun, sekalipun pa, ma..., Ikhsan tak pernah seklaipun membuat Yrene kecewa. Semua harapan Yrene akan Ikhsan selalu ia wujudkan. Pertemanan, Perlindunga, Persahabatan bahkan juga Pernikahan. Ikhsan mencintai sahabatku, Maya. Dan Maya adalah perempuan terhormat yang sangat baik. Aku ga sanggup tutup mata dan gak perduli dengan hal ini. Aku juga ingin suami aku hidup bahagia sepenuhnya seperti aku bahagia mencintai dia seutuhnya, Pa."


Sejenak diam mengatur nafasnya, Yrene melanjutkan, "Papa selalu bilang sama aku, keputusan Yrene tidak pernah ia bikin dengan terburu-buru. Semua penuh perhitungan. Termasuk saat aku resign di klinik hewan Dr. Shawn yang sangat terkenal itu. Sekarang toko hewan yang aku kelola justru jadi tempat praktik dokter muda yang juga bimbingan Dr. Shawn. Papa ingat, kan?"


Dr. Handoko membuang pandangannya dengan gelisah. Seingatnya, Yrene memang tak pernah membuat keputusan tanpa perhitungan yang matang. Putrinya yang cantik dan cerdas itu selalu dengan hati-hati menelaah sebelum mengambil keputusan. Dengan berat hati, pria itu akhirnya meutuskan untuk terus mempercayai putri kebanggaannya itu.


"Bawa Ikhsan kemari! Yakin kan Papa dan Mama bahwa setiap keputusan akan selalu kalian kabarkan pada keluarga. Mengerti?" ucap Dr. Handoko dengan suara melembut. Ia kemudian membantu Yrene bangkit dan memeluk erat putrinya itu. Di usia tuanya, ia sungguh mengagumi betapa kuatnya karakter putrinya sebagai seorang wanita, dan juga seorang istri.


***


Di sebuah apartment yang tampak sepi, Maya tampak sedang menyusun baju ke dalam koper travel miliknya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sejenak melirik nama sang penelepon, Maya segera mengangkat panggilan tersebut.


"Ya, Halo?" sapanya dengan nada suara yang ia atur senormal mungkin. Mengingat pria yang sedang menelponnya ini baru saja bikin huru-hara di kantor dengan gosip ia dan Maya berduaan di Klinik tanpa kemeja.


"May, kok lo rapi amat sih beberes meja nya?"


Bingung dengan pertanyaan yang ia dengar, Maya balik bertanya. "Emang lo masih di kantor malam-malam gini?"


Pria yang menelepon itu memainkan table name yang bertuliskan namanya: Galang Rahardja, sambil memutar kursinya. "Iya, tadi ada meeting dari sore sampai malam dengan dewan direksi. Kan kita sebentar lagi mau trial platform web baru kita. Lo belum jawab pertanyaan gue tadi, kenapa meja lo rapi banget sih?"


"Lah, emang kenapa lo pake nanya sih? Namanya juga beberes! Ya syukur kalau rapi,"  tukas Maya.


"Bukan gitu, kesannya tuh lo bukan kayak mau cuti! Tapi kayak orang mau resign tau, gak?"


Maya tersenyum jahil, ia berniat mencoba kesabaran bosnya. "Terus kalau gue resign, gimana?"


Galang di seberang telpon tersenyum, ia mengetahui dengan jelas Maya sedang menjahili dirinya. Sambil memperbaiki postur tubuhnya, Galang bersiap-siap membalas tingkah jahil Maya.


"Ya gak papa lo resign juga. Masalahnya gosip yang beredar adalah, lo resign karena mau nyiapin acara nikah. Tau deh gue mau nikah sama siapa lo kalau cuti barengnya sama gue?"


"Galang!" Maya sontak berteriak. Ia tak menyangka, bisa-bisanya Galang ikut-ikutan menggunakan gosip itu untuk menjahilinya.


"Haha, bercanda gue. Ya gue mau mastiin aja setelah cuti lo tetep balik kesini."


"Kenapa gitu?"


"Ya karena gue butuh lo!"


Ada hening diantara mereka. Galang di ujung sana merasakan bahwa kalimatnya bisa bermakna ganda. Ia buru-buru menjelaskan lagi. "Maksud gue, kantor dan karyawan lain kan butuh lo juga!"


Maya tersenyum, tak jadi marah.


"Oh iya, lo dah beli oleh-oleh buat jenguk baby Yrene?"


"Belom. Besok sih, rencananya. Kenapa?"


Galang menimbang-nimbang sejenak jawabannya, kemudian menyerah.. "Gak, papa. Gue mau menawarkan jasa antar. Mau?"


Maya mengulum senyumnya, "Mau!" jawabnya.


***


Halo pembaca yang baik!


Jangan lupa selalu sampaikan kesannya di kolom komentar ya!


Dukungan like dan votenya jangan lupa di alirkan, hehe!


Love, Author.