
Langit menjelang sore telah memadamkan panas teriknya matahari. Membawa angin yang hangat, menyapu wajah kedua pasang anak manusia yang sedang saling menatap. Tatapan penuh arti yang menembus masing-masing dari jiwa mereka.
Ikhsan yang sedang berlutut di samping lapangan basket itu memindahkan kotak cincin ke tangan kirinya. Lalu tangan kanannya menyentuh lembut jemari tangan kiri Maya. Ia berniat menegur Maya yang masih pendar pandangannya.
"Maya?" sapa Ikhsan nya pelan. "Would you please say, yes?"
"Maya!" teriak seseorang dari koridor ujung yang mengarah ke gerbang luar. Ikhsan dan Maya menoleh bersamaan ke sosok itu. Dia, Galang.
"Maya!" teriak Galang lagi.
Dengan pandangan kesal, Ikhsan mendengus. Ia kemudian berdiri dan menatap Maya dengan pandangan penuh tanya. Seakan tak percaya bahwa Maya ternyata melibatkan Galang, padahal sudah sejauh ini.
"Maya, cukup! Ayo pergi!" Galang berjalan dengan mantap ke arah Maya dan langsung menarik tangan gadis itu. Tubuh Maya sontak terhuyung menghadapi kekuatan tarikan dari tangan Galang.
"Galang, tunggu! Lo ngapain kesini?" tanya Maya. Ia sedikit kesakitan oleh tarikan tangan Galang. Maya juga bingung bagaimana bisa Galang tiba-tiba hadir di momen penting antara dirinya dan Ikhsan. Maya memang memberikan lokasi dimana ia berada. Tetapi itu semata-mata hanya untuk informasi pada Galang saja. Ia tidak minta di jemput, tidak pula meminta bantuan apapun pada Galang untuk saat ini.
Menurut Maya, kehadiran Galang di tengah situasi seperti ini tentu saja akan membuat kekacauan. Urusan antara ia dan Ikhsan belum selesai. Menarik Maya pergi tidak akan menyelesaikan masalah. Maya akhirnya berusaha menarik kembali tangannya dari Galang.
"Galang, tunggu! Berhenti!" pekik Maya, tapi tetap saja Galang tidak menghiraukan.
Di mata Galang, Maya benar-benar harus dibantu untuk diberi sudut pandang. Maya tak bisa dibiarkan sendiri menghadapi lamaran dari Ikhsan. Terlebih lagi, Galang tak menduga bahwa suami Yrene itu sungguh nekat dan ternyata memang bersungguh-sungguh mengejar Maya kembali. Buktinya, si Ikhsan itu sampai merencanakan adegan nostalgia dimana dulu ada kisah antara dia dan Maya di SMA. Galang ternyata salah sudah meremehkan sosok Ikhsan.
"Galang!" terdengar bentakan dari Ikhsan yang sudah tertinggal di belakang. "Lepasin, Maya! Lo udah nyakitin dia!" tegur Ikhsan lagi.
Mendengar teguran dan suara Ikhsan yang meninggi, Galang lepas kendali. Ia menghempaskan tangan Maya dan dengan langkah cepat berbalik untuk menghampiri Ikhsan. Kasar, Galang menarik kerah jaket Ikhsan.
"Apa lo bilang? Gue nyakitin dia? Elo yang nyakitin dia! Sadar dong lo!" bentak Galang tepat di muka Ikhsan.
"Galang, berhenti!" Maya kini menyusul dua pria yang terlihat sedang penuh emosi di pinggir lapangan basket itu. Tangan dan kaki Maya bergetar hebat. Ia seperti tak yakin punya kekuatan untuk melerai keduanya. Teriakan Maya tadi itu, tak di gubris oleh Ikhsan dan Galang.
Ikhsan tersenyum ketus, "Lo tau apa sih? Lo bukan siapa-siapa disini. Berhenti ikut campur sebelum lo mempermalukan diri lo sendiri," ujar Ikhsan dengan nada tenang. Tetapi meski begitu, ia membalas cengkraman Galang pada kerahnya, lalu menghempaskan tangan pria didepannya itu. Hentakan keras itu membuat kotak cincin yang ia pegang terjatuh ke tanah.
Sikap dan kalimat Ikhsan barusan membuat Galang semakin lupa diri. Ia beranjak mundur satu langkah dan dengan sadar menginjak kotak cincin yang terjatuh. Kotak itu rusak terbuka dan membuat cincin didalam kotak mencuat keluar.
"Cincin itu, sebaiknya lo bawa pulang. Cincin itu gak pantes untuk Maya. Menempatkan Maya sebagai perempuan ke dua? Itu adalah penghinaan buat perempuan seperti Maya, ngerti lo?!"
Ikhsan menunduk mengambil cincin dan kotaknya yang sudah kotor berdebu bekas pijakan Galang. Tangan Ikhsan bergetar menahan amarah. Ia sudah tak lagi ingin menahan diri di depan pria arogan seperti Galang.
"Orang kayak lo, pasti menempatkan ego diatas segalanya. Lo yang merasa punya segalanya saat ini, pasti suka sekali menindas dan mengatur orang lain. Lo saat ini bahkan tidak punya hak apapun atas perasaan Maya ke gue! Jadi, berhentilah ikut campur, Galang," ada nada peringatan kali ini pada suara Ikhsan.
"Cih! Asal lo tau, Maya akan jadi milik gue! Apapun akan gue perjuangkan buat dia, jadi sebaiknya lo balik ke istri lo itu. Istri yang bahkan memberi ijin pada suaminya untuk mendua, merendahkan martabat sahabatnya sendiri untuk dimadu! Lo berdua sama aja suami-istri, sama-sama tidak mampu menjaga apa yang sudah menjadi milik lo!"
Galang yang sudah terbakar amarah mengatakan ini disebabkan oleh traumanya kehilangan Ratri. Menurut Galang, Ikhsan seharusnya menjaga dengan baik cinta istrinya daripada membiarkan Yrene sedih sebab Ikhsan mendua. Kepalang tanggung, Galang tak dapat mengontrol lagi kalimat yang keluar sesuai logikanya.
"Coba cek ke istri lo, siapa tahu dia bunuh diri karena suaminya sudah menyia-nyiakan cinta istrinya!"
"Jaga baik-baik kata-kata lo!" bentak Ikhsan tak terima bahwa Galang sedang menghakimi sikap istrinya. Tangan Ikhsan mengepal dengan gemetar.
Maya menyadari situasi ini, sebaiknya ia membawa pergi Galang sebelum-
"Kenapa? Lo mau bilang bahwa Yrene, istri lo itu tidak bodoh dengan setuju berbagi ranjang? Maya gak pantes u-"
Sebuah bogem melayang dari tangan Ikhsan pada pipi kanan Galang.
Galang yang terhuyung satu langkah ke belakang dengan cepat berdiri dan membalas dengan sebuah tendangan pada dada Ikhsan. Sontak, Ikhsan terdorong kebelakang. Tendangan yang cukup keras itu sampai membuat dada Ikhsan seperti remuk sampai ia terbatuk mengeluarkan air ludah. Maya sudah memekik, namun keduanya masih tetap tak menghiraukan. Mata mereka bahkan sudah terlihat saling memburu lawannya tanpa memberi ampun.
Galang kembali meringsek maju, namun Ikhsan sudah lebih dahulu melayangkan tinjunya lagi. Kali ini tepat mengenai kuping kanan Galang. Galang limbung dan tersungkur. Ada dengung yang hebat ditelinga Galang. Pandangan mata Galang tiba-tiba berbayang dan kabur. Namun, amarah dan tenaganya belum hilang. Dengan sedikit sempoyongan, Galang berdiri lagi menghampiri Ikhsan.
"Galang, please berhenti!" Maya memutuskan untuk masuk dalam arena pertarungan kedua pria didepannya itu. Sedari tadi ia berteriak tetap saja tidak di gubris. Meski beresiko, Maya nekat menarik tangan Galang.
Tangan Galang sudah terangkat ke arah wajah lawannya dan mengenai bibir bawah Ikhsan. Namun bersamaan dengan adegan itu, tak Galang sadari sikunya yang berayun tadi justru menghantam pelipis kanan Maya. Tubuh gadis itu terpelanting kebelakang dan pelipisnya langsung berwarna merah padam tanda ada pendarahan dalam terjadi. Galang seketika membeku.
"Maya!" teriak Ikhsan. Ikhsan berlari menghampiri Maya yang berusaha duduk sambil meringis, memegangi kepalanya. Ikhsan membantu Maya duduk dan langsung kehilangan akal sehatnya ketika melihat noda memar bekas siku Galang.
"May, Lo gak papa?" tanya Galang dengan nada panik dan merasa begitu bersalah.
"Gapapa gimana, Anj*ng!" Ikhsan berdiri, menghampiri dan menarik kerah baju Galang. Lutut Ikhsan terangkat dan menohok keras perut Galang.
Merasa sakit pada bagian diafragma pernafasan, pandangan kabur, telinga yang masih berdenging, dan rasa bersalahnya pada Maya, Galang hanya ingin cepat menghampiri tubuh Maya yang terduduk di tanah. Galang menarik tangan Ikhsan sekuat tenaga dan setelah tubuh lawannya itu terhuyung kedepan, Galang menendang tubuh Ikhsan jauh dari hadapannya.
Sial, tendangan Galang tadi sangat kuat membuat pijakan Ikhsan tak seimbang dan terpelanting ke arah belakang. Sebelum tubuh Ikhsan berdebam ke tanah, Kepala Ikhsan membentur sebuah pot bunga yang terbuat dari semen, memperdengarkan bunyi hentakan keras yang selamanya tak akan pernah Maya ataupun Galang lupakan.
Bruk!!
Tubuh Ikhsan tampak bergetar seperti terkejut lalu diam tak bergerak. Darah segar mengalir membasahi kepalanya. Percikan darah mengenai seluruh pipi kanan dan pelipis mata. Ada darah yang keluar dari hidung yang memercik ke atas lalu membasahi mata dan alis Ikhsan.
Ikhsan tak lagi dapat merasakan apa-apa, ia merasa sangat mengantuk dan matanya begitu berat untuk dibuka. Ikhsan masih mendengar teriakan Maya yang memanggil namanya, juga tangisan bayi yang entah dari mana. Perlahan rasa dingin menjalar dari kakinya. Lenguh nafasnya semakin melambat.
Waktu seperti berhenti sesaat bagi ketiga anak manusia di pinggir lapangan basket itu.
Ikhsan kemudian seperti merasa ada kekuatan besar, ia berusaha mengangkat tubuhnya dan entah kenapa dapat kembali berdiri tegak. Lalu, suasana disekitarnya berubah. Aneh.
Ia masih melihat Maya duduk di kursi taman samping lapangan basket sedang menunduk diam. Ikhsan lalu menekuk lututnya sekali lagi, mencoba lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Didalam hatinya Ikhsan berharap, sekalipun ini semua hanya mimpi dan meskipun ini adalah kesempatan terakhirnya dalam hidup, ia tetap akan berlutut lagi dan lagi pada Maya.
"Maya?" sapa Ikhsan pelan, ia melihat sepertinya Maya kehilangan nafasnya seolah begitu terkejut. "Would you please say, yes?"
***
Dear pembaca yang baik hati.
Senang rasanya dapat menemani para pembaca dengan kisah yang saya tulis.
Juga saya nikmati, hargai setiap emosi, pendapat dan persepsi bebas dari para pembaca.
Kapan-kapan kita buat sesi bincang-bincang di episode pengumuman ya!
Tetapi, jangan lupa, dukungan kesan kalian di komentar, like dan vote itu membantu saya sebagai author untuk semakin semangat berkarya!
Hehe.
Love, Author.