
Hujan deras mengguyur seluruh kota dengan merata, hingga dinginnya menelusup ke kulit. Maya menarik erat blazer putihnya sambil terus menatap tetesan air di jendela mobil Galang. Jalan raya tampak sepi karena sebagian besar kendaraan motor memilih untuk berhenti sejenak sebab hujan dan angin yang terlalu kencang dapat mengancam keselamatan.
Mobil Galang berhenti dilampu merah sebuah persimpangan. Tiba-tiba, Galang menyentuh punggung tangan Maya yang sedang melamun.
"May, hey? Kok melamun sih?" Tanya Galang sambil memiringkan kepalanya, memastikan bahwa Chief Editornya ini baik-baik saja.
Sedikit terkejut, Maya dengan asal menjawab, "Gak papa, gue cuma lagi perhatiin itu!" Jari telunjuk Maya sembarang menunjuk ke sebuah halte yang kosong. Mata Galang mengikuti arah telunjuk Maya dan mendapati pemandangan yang membuat raut wajahnya berubah.
"Lo lagi liatin anak kecil penjual koran disitu?" tanya Galang dengan wajah serius.
"Hah?" Karena tadi Maya asal tunjuk, ia bahkan tidak menyadari ternyata di halte tadi ada seorang anak kecil bertubuh kurus dan tinggi bersandar pada tiang halte. Anak kecil itu memakai jas hujan dari sebuah kantong plastik sampah berwarna hitam besar dan tangannya mendekap tumpukan koran terbungkus plastik. Usia anak itu mungkin berkisar 8 atau 9 tahun.
Maya mengerjapkan matanya beberapa kali dan menelan ludah. Dirinya yang berada dalam mobil saja merasa kedinginan, tak terbayangkan apa yang di rasakan anak sekecil itu. Tanpa Maya sadari, lampu lalu lintas sudah berubah menjadi warna hijau dan Galang menjalankan mobilnya. Tetapi, Galang bukan mengambil jalan lurus seperti yang seharusnya. Ia justru memutar balik mobil dan berhenti di halte yang tadi Maya tunjuk.
Dengan segera Galang menurunkan kaca mobil, tempias hujan segera menelusup masuk membasahi kemeja lelaki ini. Ia lalu berteriak-teriak memanggil bocah kecil di halte itu, mengalahkan riuh suara hujan.
"Hey! Dik! Hey?! Masih kau jual koranmu, Dik?" tanyanya dengan berteriak, Maya bahkan sampai bisa melihat urat leher bosnya itu.
"Masih Om! Masih banyak!" Sahut anak kecil itu balas berteriak.
"Ada berapa?" tanya Galang lagi.
Bocah itu tampak sibuk menghitung korannya lalu dengan asal menjawab, "Masih banyak ini, Om! Dari pagi laku dikit!" Bocah itu sampai berjinjit-jinjit menjawab pertanyaan Galang.
"Bawa sini semua! Semuanya ku beli!" Galang tampak mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Jika Maya tak salah hitung, lembaran itu tak kurang dari 7 lembar. Anak itu dengan segera menghampiri Galang dengan berlari menembus hujan. Wajahnya tampak gugup menghampiri Galang.
"Beneran ini, Om?" tanyanya dengan raut muka kaget menuju terharu.
Tangannya yang pucat dan kisut karena kedinginan menyerahkan plastik yang berisi koran miliknya. Galang menerimanya dan meletakkan plastik yang basah itu segera ke kursi belakang mobil, membuat mobil audi hitamnya itu basah terkena air hujan dari plastik koran si bocah.
"Beneran, ini ambil semua uangnya. Langsung pulang, kau tidak boleh sakit! Sebab besok kau harus hidup, bersekolah dan bekerja cari uang kan?" tanya Galang dengan tegas. Bocah itu menerima uang Galang dengan bola mata yang membesar. Tak jelas apakah air yang mengalir di pipinya itu air hujan atau air mata.
"Terimakasih! Om, Allah itu maha baik padaku. Semoga Allah juga mengabulkan doa ku padamu! Sehat terus dan kaya terus, Om!" Bocah itu menyimpan uangnya dalam tas pinggangnya dan segera melambaikan tangannya pada Galang yang mulai menaikkan kaca mobil.
Kejadian ini begitu cepat sampai membuat Maya tak mampu berkutik. Selain dikarenakan baju Galang yang sudah basah kuyup oleh percikan air hujan, Maya baru saja menyaksikan sisi lain dari Galang. Entah Maya harus mengambil kesimpulan seperti apa, ia sulit berkomentar. Galang tampak mengasihi anak itu, tapi juga nada suaranya sangat tegas seolah tidak berbicara pada bocah.
"Baju lo basah kena percikan hujan, Lang." Tegur Maya sambil menawarkan kotak tissue untuk mengusap wajah Galang yang masih basah. Galang mengambil banyak tissue dan menempelkannya sembarangan pada wajah dan kemeja bagian dadanya yang basah. Ia melirik Maya dan mendapati air wajah gadis itu tampak bingung.
"Kamu jangan bingung, May. Apa yang dilakukan anak kecil itu, adalah masa kecilku dulu." Dan kalimat Galang barusan lantas membuat Maya semakin ternganga heran.
"Hah? Serius? Kok lo kayak anak yang baru brojol aja udah tajir melintir?"
Galang sontak tertawa. "Enak aja! Gue aja sekolah SD ketinggalan kelas sampai 2 kali loh karena jualan koran!"
Galang memutar balik audi hitamnya dan mobil itu kini berada di jalur masuk menuju area apartement Maya. Sambil masih mengelap bagian dadanya, ia memutuskan untuk lebih terbuka lagi pada Chief Editornya ini.
"Dulu, Nyokap gue tukang jahit. Bokap gue satpam sekaligus tukang parkir disebuah bank swasta.
Nyokap gue sering jahit baju-baju orang kaya. Kalau bahannya lebih, dia bikinin baju buat gue. Alhasil baju gue ya bukan kaya baju loak atau baju murah. Keren, Kan?" Galang melemparkan pertanyaan retorik dan Maya memutuskan untuk menjadi pendengar yang baik. Hujan dan cerita masa kecil menyenangkan, bukan?
"Suatu saat, gue di bully dan di hina sebagai anak satpam miskin karena gue gak bisa ikutan iuran darmawisata anak SD kelas 2 ke taman buah. Gue gak mau nyalahin nyokap-bokap gue tuh yang saat itu sedang gak ada uang sama sekali. Gue malah bertekad untuk punya uang sendiri. Jadilah gue mendaftar jadi bocah loper koran. Lo pasti hapal, kan? Bocah hitam, tengil, ingus kadang masih berkerak, suka ngetuk-ngetuk kaca jendela mobil buat nawarin: 'Om korannya, om!' hahaha" tawa Galang kini mengundang Maya tersenyum.
"Suatu saat gue mikir, kok koran gue susah lakunya ya. Perasaan tampang gue cukuplah menderita untuk mengiris hati orang buat beli koran gue, tapi kok ya gak laku-laku, begitu pikiran bocah gue saat itu. Lalu gue bertanya-tanya, apa berita di koran ini yang gak menarik orang ya? Lah kan gue bocah ya, mana pernah tertarik baca koran?!" Galang masih terus bercerita meski mereka kini sudah turun dari mobil di parkiran apartement dan berjalan menuju lift. Maya tak sadari, kini Galang justru mengikutinya ke apartement, padahal tadi pria itu bilang hanya mengantar saja.
"Gue bacalah itu koran, May. Duh pusing lah gue, bahasanya gak gue pahami. Tapi entah kenapa gue kok merasa kabarnya cukup menarik. Lo tau apa yang terjadi, May?"
Maya menolehkan pandangannya dan mendapati mata Galang berbinar-binar dalam ceritanya sendiri. Ia lalu menggeleng saja menjawab pertanyaan Galang.
"Gue ganti strategi marketing gue dan gue mulai meneriaki judul-judul headline koran hari itu! Koruptor Gila Tilep Uang Rakyat sampai 3 Trilyun, Banyak Banget Om Tante Uang kita itu! Gitu gue teriak, May. Hahaha" Galang dan Maya tertawa hampir bersamaan.
"Lain waktu gue teriak: 'Istri aktor G selingkuh dengan temannya sendiri! Cek ciri-ciri orang berselingkuh itu kayak apa, Om Tante Bapak Ibu! Haha, sebelum media jaman sekarang memanfaatkan judul click bait, gue saat kecil sudah melakukan itu terlebih dahulu, May!" Galang bercerita seraya menunggu Maya membuka pin pintu apartementnya.
Ketika pintu berbunyi tanda sudah terbuka, Maya berkomentar. "Kok lo secerdas itu?" tanyanya.
Galang hanya mengangkat bahunya. "Setiap hari koran gue laku keras, May! Gue bahkan sampai beli speaker corong untuk mempublish berita hari itu. Sibuk jualan koran dan menabung banyak uang, terbelengkalailah sekolah gue. Tapi disitu gue jadi belajar banyak. Gue jadi tahu berita yang menarik. Saat gue SMP? Gue udah menghasilkan duit rutin tiap bulan dari mengirim tulisan ke redaksi koran, majalan dan lainnya. Gue bahkan saat tamat SMP sampai bisa beli motor sendiri!" Ujar Galang sambil tersenyum bangga. Maya cekikikan mendengar cerita bosnya itu.
Maya lalu sibuk di dapur menyiapkan minuman hangat dan mengambil handuk kering untuk Galang. Meski di dapur, ia masih bisa mendengar Galang bercerita dari ruang tamu.
"Gue punya banyak banget tabungan dan sangat ahli menulis berita, May! Gue dapat beasiswa sampai s3 dan mempunyai banyak relasi hebat. Dengan bantuan mereka, start up perusahaan berjalan mulus dan ya, disinilah gue." Galang menyeruput teh hangat dari Maya. Sedari tadi bercerita ia baru sadar tenggorokannya kering.
Kemudian, Galang menangkap dengan sigap handuk yang dilemparkan Maya. Galang membuka kemeja dan mengusap tubuhnya dengan handuk lalu mengalungkan handuk itu di pundaknya. Maya menegup kasar air ludahnya saat melihat Galang tak berbaju. Ia dapat melihat bidang dada dan six pack abs milik Galang yang selama ini tertutup dengan baik di balik kemeja dan jas Galang.
Belum hilang rasa terpukau bercampur kaget dari Maya. Bosnya yang freak entah kerasukan setan apa itu berpose dengan handuknya dan berkata, "May, rasa terkesan lo saat SMA dulu ke Ikhsan karena pendapatan photography dia itu, gak ada apa-apanya dibanding pendapatan gue waktu SMA!"
Kehilangan setengah nafas dan fokusnya, Maya segera mengalihkan pandangan dengan mengambil bantal sofa lalu melemparkannya ke Galang.
"Pede banget lo, Lang!" Tukas Maya seolah marah sudah menyinggung kisah masa lalunya, juga menyebut-nyebut nama Ikhsan. Wajah Maya memerah, antara malu sudah di ejek oleh Galang perihal terkesan dengan pendapatan Ikhsan saat SMA dulu, atau malu terhadap bidang kokoh tubuh Galang didepannya sekarang.
Maya mengambil sebuah bantal sofa lain disamping dan berpura-pura memeluknya untuk menutupi wajahnya yang mulai terasa panas.
"Tapi May, mimpi gue belum sepenuhnya terwujud. Gue pengen memperbesar nama Techno Media Corp. Menguasai dan menggenggam setiap informasi di seluruh platform. Menyetir dan mengendalikan informasi." Ucap Galang dengan nada suara yang berat dan serius.
"Stay with me, May. Lo udah liat kan masa kecil gue seperti bocah loper koran tadi siang? Lo harus liat perjuangan gue sukses di Techno Media!" Ucap Galang sambil menyesap lagi teh hangatnya.
Seharusnya Maya saat ini dengan santai mencibir lalu mengolok-olok ucapan Galang layaknya seorang teman dekat. Atau seharusnya Maya saat ini cukup mengamini dan setuju-setuju saja layaknya seorang karyawan yang sedang mendengar celoteh bosnya. Tapi, mimpi Galang yang baru saja pria itu sampaikan membuat buku kuduk Maya meremang. Terlebih Galang mengucapkannya dengan wajah yang serius dan mengajak Maya untuk menyaksikan Galang mewujudkan mimpi besarnya itu.
Sejenak, Maya melupakan risau hatinya tentang permasalahannya pada Ikhsan maupun Yrene. Ia seperti larut dalam dunia dan ambisi sang bos, Galang. Tetapi, Maya merasa tidak keberatan. Cara Galang menolong dan bahkan menghibur Maya saat ini dengan cerita masa kecilnya, justru perlahan membawa tawa dan menyembuhkan perih yang ia rasakan sejak lama.
***
Hi pembaca yang baik!
Berikan kesan kalian membaca episode ini di komentar ya?
Jangan lupa dukungan kalian sangat berarti dengan like, vote dan share karya author ini :)
Episode berikutnya adalah episode spesial buat pembaca yang akhir-akhir ini dekat dengan author seperti Ceu Fiya (aafiyah_fiya), Kak Bee (IG: @tulisan_bee << ini sih udah kenal lama hihihi), kak UW, Mamak Kia, Ceu Ifa Zakia Atika Suri dan banyak semuanya :) Nantikan ya :)