
Bel jam pulang sekolah berbunyi membuat siswa-siswi langsung berhamburan keluar kelas. Seketika koridor yang semula sepi sudah sesak dipenuhi anak-anak dengan seragam putih abu-abu. Berbagai ekspresi terukir di wajah mereka. Walau banyak ekspresi letih dengan aktivitas belajar seharian, banyak juga anak yang sumringah tanpa beban seolah punya begitu banyak rencana dan energi yang akan ia habiskan sepulang sekolah.
Seperti Maya yang dengan riang melangkahkan kakinya keluar dari kelas, hari ini dia ada rencana untuk ke ruang redaksi dan mereview komentar orang-orang terhadap edisi majalah kali ini.
"Eit! Mau kemana lu!"
Maya kaget setengah mati saat tasnya ditarik seseorang dan menyebabkan ia terhuyung kebelakang.
"Ikhsan!" suara Maya naik melengking, mau marah tapi ditahan. Ya, mau gimana ya. Anak yang iseng ini sudah jadi trending topic dihati Maya. Maya segera membatalkan niatnya untuk bersungut-sungut.
"Liat nih!" Ikhsan menyerahkan ponselnya ke Maya.
Mendapati ponsel Ikhsan yang disodorkan tiba-tiba, Maya tak bisa menolak. Ia kemudian melihat layar ponsel Ikhsan yang sedang aktif menyala dengan seksama, karena tampaknya yang ditunjukkan Ikhsan adalah sebuah email berbahasa inggris. Di ujung paragraf tersebut ada nominal uang yang ditebalkan sejumlah USD 125,-.
"Whoooaa!!" Mata Maya melotot ketika menyadari bahwa email ini baru saja diterima per sore ini.
"Foto lu laku lagi ya san? Hebat ih!" Maya menepuk bahu Ikhsan yang sedang sumringah.
"Ini gak pamer ya, takut uangnya raib! Ini ajakan traktiran!" tukas Ikhsan sambil menggandeng bahu Maya.
Maya yang ikut saja berjalan sebenernya baru saja berubah jadi patung. Kenapa Ikhsan jadi begitu dekat dengannya?
Didalam hati Maya saat ini, ada sekelompok orang yang sedang menabuh gendang dan menari-nari.
Tetapi pikiran Maya cepat menyadari bahwa dirinya harus tetap logis.
"Tunggu, kenapa lu tiba-tiba nraktir gue?" Maya mencoba untuk mencari tahu alasan Ikhsan walau sebenarnya ia tidak membutuhkan alasan itu.
"Hmmm, soalnya... lu May, kelihatannya gak percaya sama cerita gue diwawancara dulu.
Lu cekikikan melulu, sampai keki gue. Untung yang elu tulis bagus, hehe.
Jadi sekarang gue niat buktiin ke elu. Nih, penghasilan gue beneran!" tukas Ikhsan sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Emang, yang laku foto apaan San?"
"Hmm, nature scenery gitu. Kali ini harganya lumayan tinggi. Gue rasa sih bakalan dipakai jadi walpaper gadget gitu, May. Yah semacam Walpaper bawaan handphone atau dipakai buat mamerin high resolution TV yang akan dijual."
"Oh, I see." Maya cukup terkesima dengan penjelasan Ikhsan. Menurutnya, Ikhsan sudah bisa menghasilkan uang sendiri sebanyak itu merupakan hal yang luar biasa. Terutama penghasilannya ia dapatkan dari hobi. Menjadikan Ikhsan muda sangat mempesona karena seolah sudah punya passive income.
"Sebenernya gue bukan meragukan kok. Cerita lu emang lucu aja San," lanjut Maya saat mereka sudah tiba di Kantin sekolah yang sudah sepi. Beberapa penjual masih tampak membuka kios mereka, walaupun beberapa menu makanan yang mereka jual mungkin sudah tidak tersedia.
Ikhsan tak menggubris ucapan Maya barusan, Ia justru sedang memesan mie ayam bakso ke Ibu penjual.
Saat Maya akan membuka topik bicara, Ikhsan membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah laptop. Maya segera menutup mulutnya lagi. Hatinya sedikit berdebar, anak lelaki didepannya ini tampak berusaha keras membuat Maya terus terkesima.
Tangan Ikhsan lincah membuka laptopnya dan sedetik kemudian ia berhenti di sebuah file yang ia cari.
"May, foto lu udah gue edit. Liat deh!" Ikhsan menyodorkan layar laptopnya, ia sengaja mengarahkan layar laptopnya menghadap ke Maya agar cahaya matahari tidak menyebabkan backlight pada layar laptop.
Di layar laptop Ikhsan, Maya mendapati foto dirinya. Foto itu adalah foto yang Ikhsan ambil di perpustakaan saat proses wawancara prestasi Ikhsan untuk kolom profile majalah sekolah. Potret candid Maya yang di edit Ikhsan tersebut sudah seperti potret candid artis korea yang diambil dengan kamera high resolution paparazi.
"Wah, kok bisa jadi keren gini san?" tanya Maya yang masih terkagum-kagum dengan potret dirinya melalu tangan dingin Ikhsan.
Maya tak mendengar jawaban Ikhsan. Saat ia menoleh, Ikhsan sedang berbicara dengan seseorang.
Sedetik kemudian, Ikhsan membalikkan badannya dan Maya melihat gadis cantik yang juga menatapnya.
Gadis itu terlihat sangat langsing, jika tidak mau di klaim sebagai kurus. Kulitnya putih bersih dengan rambut lurus yang digerai tidak diikat. Maya dapat menilai, gadis ini sudah pasti populer kecantikannya. Maya saja sebagai perempuan mengakui kecantikan Yrene.
Terbesit secepat kilat dugaan Maya, apakah perempuan cantik ini adalah pacar Ikhsan? Ah iya, benar juga. Maya juga tidak tahu apakah Ikhsan punya pacar atau tidak.
Ikhsan tidak menyadari suasana canggung disitu dengan santai membuka mulutnya, "Yrene, ini Maya. Dia yang nulis tentang aku di Majalah kampus edisi bulan ini. Keren kan?"
Gadis itu tak menjawab, malah berjalan mendekat kemudian duduk di samping Maya. Raut wajahnya sedikit meneliti Maya, tapi manik matanya berhenti pada lanyard merah berisi kartu tanda pengenal jurnalis majalah sekolah. Yrene mengangkat wajahnya.
"Kamu, suka ya sama Ikhsan?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh?!" Maya kaget sekali ditembak pertanyaan seperti itu. Tidak Ikhsan, tidak Yrene ini, kenapa suka sekali sih memberikan pertanyaan mendadak.
Jadi ini toh Yrene yang disebut Adel sebagai kembaran si Ikhsan? Lalu, dimana kemiripannya?, tanya Maya dalam hati.
Yrene tak menunggu jawaban Maya, ia hanya memerhatikan papan nama Maya dan sejurus kemudia berbalik lalu malah mulai memakan mie ayam bakso milik Ikhsan.
"Ikhsan itu..." ujar Yrene sambil mengunyah mie nya, "suka ga sadar diri kalau dia tebar pesona," lanjut Yrene lagi.
Ikhsan yang sedang bengong malah melengos pergi ke ibu penjual untuk pesan 1 mangkok lagi. Anak lelaki itu benar-benar tidak menyadari atmosfir diantara dua gadis itu.
"Kamu Yrene? Kembarannya si Ikhsan bukan?" Maya berusaha mencairkan suasana yang baginya sangat kaku.
"Sahabatan, bukan kembaran," Yrene menjawab sambil tersenyum. Senyuman gadis itu begitu manis, Maya sampai lupa pada perasaan kaku yang barusan ia rasakan. Maya lantas membalas seyuman itu. Perlahan, Maya menghembuskan nafas lega. Ia dapat merasakan suasana sudah tidak intens dan justru sekarang lebih akrab dan hangat.
"Ren, habis mie ayam bakso nya!" lapor Ikhsan sesudah kembali dari memesan ke Ibu penjual, ia menyampaikan laporan hasil pesanannya dengan dahi berkerut.
"Yaudah, nih masih ada. Gue juga ga habis." Yrene mendorong mangkok mie dan Ikhsan tanpa ragu mulai memakan mie ayam bakso itu.
Ada ya persahabatan seperti ini?, batin Maya.
"Oh iya, Maya. Gimana caranya join jadi reporter majalah sekolah? Aku kayaknya tertarik join!" Yrene malah sekarang mengeluarkan ponselnya.
"Ada nomor yang bisa dihubungi?" lanjutnya lagi.
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Episode berikutnya akan cukup sedih :')
Dukung author terus berkarya dengan like, komentar dan vote ya 💞