
Ikhsan berjalan sangat cepat menuju toilet gedung ditempat ia mengadakan meeting dengan client yang membutuhkan jasanya.
Dengan terburu-buru, ia memasuki toilet dan menyalakan keran air westafel lalu dengan cepat membasuh mukanya.
Mukanya... yang memerah dan terasa panas.
"Tuhan, apa yang baru gue lihat?" batinnya sambil menghela nafas panjang.
Tangan Ikhsan memegang dadanya. Jantungnya berdegup begitu kencang.
Tanpa bisa mengontrol otot pipinya, senyum perlahan terukir diwajahnya.
"Maya" ucap bibirnya.
***
Meeting kerjasama penerbitan project online platform terbaru milik perusahaan Galang baru saja selesai. Dewan direksi dan seluruh kepala departmen media sudah membubarkan diri.
Galang sudah hendak beranjak namun perhatiannya tersita pada chief editornya yang masih diam tak bergerak di kursinya.
Dengan iseng, Galang mengambil sebuah permen dari atas mejanya kemudian melempar Maya.
Niat hati ingin mengejutkan Maya, justru reaksi yang didapatkan Galang tak pernah ia duga.
Galang baru pertama kali melihat wajah Maya seperti ini.
Seperti... ingin menerkamnya.
Layaknya sebuah adegan slow motion, Maya mendatangi Galang dan mengambil sebuah jurnal berat dari lemari pajangan lalu memukul Galang dengan sembarangan.
"Aw! Aduh! May! Ampun! Aw! Sakit! Gilak! Maya! Ampun!" Galang terus menghindar namun sayangnya, pukulan itu tak kunjung berhenti.
"Maya! Lo kerasukan apaan?! Maya?! Aduh! Aw!" teriak Galang yang diiringi datangnya Pak Ridwan sambil terdiam sejenak.
"Pak! Pak Ridwan! Tolong! Toloooong!"
***
Di dalam ruangan Galang yang sudah ditutup tirai, Galang tampak terkejut setengah mati duduk diruangannya.
Tepat di seberang mejanya ada chief editor yang lebih mirip seekor macan mengamuk dan siap mencabik Galang kapan saja.
Galang berulang kali membuka dan menutup mulutnya. Ia sungguh kehilangan kata-kata dan tak bisa berpikir jernih dan juga urut soal penyebab kenapa ia, lagi-lagi disemprot Maya.
Sudah sekitar 10 menit ia berdiam diri dan menunggu kewarasan Maya kembali ke jasadnya.
Jujur saja, ada terbesit di pikirannya kalau-kalau ada lawan usaha yang membenci dirinya lalu mengirim makhluk jahat untuk merasuki Maya.
Galang berdehem lalu membenarkan posisi dasinya yang mulai longgar.
Ia merapikan posisi duduknya, meminum teh hangat dan perlahan rasa tenang menghampirinya.
Benar, akan ia tunggu selama apapun sampai amarah Maya yang ia tidak tahu penyebabnya ini dapat mereda.
Maya dengan rambut depannya yang sudah keluar dari ikat rambut masih belum bisa bernafas normal.
Tapi ini sudah terlalu lama ia marah, bahkan tak sepatah kata pun ia bisa lontarkan.
Setelah dua helaan nafas, Maya menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk bicara.
"Galang Rahardja!"
"Siap bu, Maya!"
"Gue lagi gak bisa bercanda!"
"Iya, mohon maaf"
"JANGAN DIJAWAB!"
Galang dengan cepat mengangguk.
Sumpah! Ini siapa yang bawahan siapa yang atasan sih, batin Galang. Namun, ia memilih untuk menurut saja apa kata Maya.
Maya memejamkan matanya dan mulai bicara lagi.
"Gue keseeel banget sama lo, astaga Galang!" Maya menjambak rambutnya sendiri dan bersiap untuk mengomel kembali.
"Kenapa lo gak bilang siapa yang lo undang untuk kerjasama dalam project ini?!
Siapa yang lo rekrut hah?
Lo udah gila ya?
Why don't you just kill me?" kata-kata itu asal terucap dari bibir Maya yang bergetar.
Sungguh saat ini dia hanya ingin berteriak seperti orang gila untuk meluapkan amarah serta kekalutan yang ada dipikirannya.
Wajahnya begitu terasa panas dan perlahan air matanya mengalir.
"Hey hey hey, what's wrong? Gue gak ngerti, May!" Galang ingin sekali mendekap Maya untuk menenangkan tapi ia terlanjur takut pada chief editornya yang sedang sangat emosional ini.
***
Galang berdiri di ujung pintu yang terbuka, memastikan bahwa orang-orang yang sedari tadi lewat tidak salah paham bahwa ruangannya sedang tertutup dan ia sedang terisolasi bersama seorang perempuan.
Tepat saat Pak Ridwan melambai sebagai orang yang biasanya paling akhir keluar dari kantor, jam menunjukkan pukul 7 malam.
Galang membalas lambaian tangan Pak Ridwan dan kembali menghela nafas.
Ia melirik kedalam ruangannya, Maya masih tertidur di sofa dengan jas milik Galang sebagai selimut.
Mata gadis itu masih bengkak memerah hasil nangis seharian.
Sire tadi diam-diam ketika Maya tidur, Galang memanggil Bang Ismail seorang yang alim untuk memeriksa kalau-kalau Maya memang diganggu makhluk halus.
Namun ternyata tidak, Maya memang sedang depresi dan butuh untuk meluapkan seluruh emosinya.
Galang duduk dikarpet dan bersandar di kaki sofa.
Ia merapikan rambut Maya lalu membetulkan posisi jasnya agar menutupi bahu Maya.
Rapat tadi pagi berjalan sangat lancar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali kondisi Maya saat ini.
Ia sudah menelpon Rayyan, sekertarisnya untuk membereskan beberapa hal yang mungkin butuh penanganan cepat.
Pada Rayyan ia berpesan agar jangan mengganggu waktunya sebab ia ingin membantu temannya, Maya.
Galang meluruskan kakinya dan pandangannya mulai meredup.
Mungkin ia butuh tidur sejenak lalu mengantar Maya pulang.
***
Galang merasakan sesuatu yang begitu berat dilehernya dan terpaksa membuka matanya, samar ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Ia menoleh dan mendapati Maya sudah tidak ada, begitu juga dengan jasnya.
Tapi sepatu Maya masih tertinggal dan itu berarti Maya belum pulang.
Galang berdiri dan melihat ke seluruh ruangan kantor.
Seluruh ruangan gelap, hanya lobby kantor yang lampunya menyala.
Oh, lampu pantry juga menyala.
Maya ada di pantry.
Galang perlahan berjalan ke pantry dan berhati-hati menyapa Maya yang tampaknya pindah tempat tidur dari sofa ruangannya ke kursi dan meja makan pantry.
"May? Lo udah baikan? Pulang yuk. Besok lo cuti aja"
Tidak ada balasan suara. Galang menduga Maya sudah terlelap kembali.
"May?" Galang mendekat dan duduk disamping Maya.
Diantara heningnya suasana, Galang perlahan tersenyum.
"Lo juga punya panic attack? Lucu ya, kita sama."
Masih tidak ada jawaban dari Maya.
"Kenapa? Apa yang membuat lo sedih sebegininya May?
It's okay kalau lo belum mau cerita.
Punya hal traumatis yang menyayat hati dan membuat lo sesedih ini, pasti berat kan?
Gue janji, Gue akan ada kapanpun lo butuh, May."
Galang sudah bersiap untuk beranjak berdiri dan berniat menggendong Maya untuk pulang, namun Maya tiba-tiba saja duduk.
"I'm just stupid, so weak and so pathetic, Galang
How can a girl like me loving the same person for so many years?" tanya Maya dengan suara serak yang parau.
"Isn't it good? Bukannya itu artinya lo bener-bener suka? Mungkin itu pertanda jodoh?"
Maya menggeleng.
"Dia bukan jodoh gue, gak mungkin dia jodoh gue. Dia jodoh orang lain.
Suami orang lain, Lang..." dan tangis Maya pecah kembali.
Galang menduga, ia akan terjebak hingga pagi di kantor bersama Maya yang sedang depresi.
Ia sudah akan merelakan jadwal besok berantakan dan akan menyuruh Rayyan mengatur ulang seluruh rencana.
Saat ini, dia hanya bisa fokus pada Maya.
Gadis ini, sudah berapa lama ia memendam sedih dan luka? batin Galang sambil membopong Maya yang kembali menangis dan merintih ke ruangannya.
***
Layaknya sebuah adegan slow motion, Maya mendatangi Galang dan mengambil sebuah jurnal berat dari lemari pajangan lalu memukul Galang dengan sembarangan.
"Aw! Aduh! May! Ampun! Aw! Sakit! Gilak! Maya! Ampun!" Galang terus menghindar namun sayangnya, pukulan itu tak kunjung berhenti.
"Maya! Lo kerasukan apaan?! Maya?! Aduh! Aw!" teriak Galang yang diiringi datangnya Pak Ridwan sambil terbengong sejenak.
"Pak! Pak Ridwan! Tolong! Toloooong!"
***
Di dalam ruangan Galang yang sudah ditutup tirai, Galang tampak terkejut setengah mati duduk diruangannya.
Tepat di seberang mejanya ada chief editor yang lebih mirip seekor macan mengamuk dan siap mencabik Galang kapan saja.
Galang berulang kali membuka dan menutup mulutnya. Ia sungguh kehilangan kata-kata dan tak bisa berpikir jernih dan urut soal penyebab kenapa ia, lagi-lagi disemprot Maya.
Sudah sekitar 10 menit ia berdiam diri dan menunggu kewarasan Maya kembali ke jasadnya.
Jujur saja, ada terbesit di pikirannya kalau-kalau ada lawan usaha yang membenci dirinya lalu mengirim makhluk jahat untuk merasuki Maya.
Galang berdehem lalu membenarkan posisi dasinya yang mulai longgar.
Ia merapikan posisi duduknya, meminum teh hangatnya dan perlahan rasa tenang menghampirinya.
Benar, akan ia tunggu selama apapun sampai amarah Maya yang ia tidak tahu penyebabnya ini dapat mereda.
Maya dengan rambut depannya yang sudah keluar dari ikat rambut masih belum bisa bernafas normal.
Tapi ini sudah terlalu lama ia marah, bahkan tak sepatah katapun ia bisa lontarkan.
Setelah dua helaan nafas, Maya menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk bicara.
"Galang Rahardja!"
"Siap bu, Maya!"
"Gue lagi gak bisa bercanda!"
"Iya, mohon maaf"
"JANGAN DIJAWAB!"
Galang dengan cepat mengangguk.
Sumpah! Ini siapa yang bawahan siapa yang atasan sih, batin Galang. Namun, ia memilih untuk menurut saja apa kata Maya.
Maya memejamkan matanya dan mulai bicara lagi.
"Gue keseeel banget sama lo, astaga Galang!" Maya menjambak rambutnya sendiri dan bersiap untuk mengomel kembali.
"Kenapa lo gak bilang siapa yang lo undang untuk kerjasama dalam project ini?!
Siapa yang lo rekrut hah?
Lo udah gila ya?
Why don't you just kill me?" kata-kata itu asal terucap dari bibir Maya yang bergetar.
Sungguh saat ini dia hanya ingin berteriak seperti orang gila untuk meluapkan amarah serta kekalutan yang ada dipikirannya.
Wajahnya begitu terasa panas dan perlahan air matanya mengalir.
"Hey hey hey, what's wrong? Gue gak ngerti, May!" Galang ingin sekali mendekap Maya tapi ia terlanjur takut pada chief editornya yang sedang sangat emosional ini.
***
Galang berdiri di ujung pintu yang terbuka, memastikan bahwa orang-orang yang sedari tadi lewat tidak salah paham bahwa ruangannya sedang tertutup dan ia sedang terisolasi bersama seorang perempuan.
Tepat saat Pak Ridwan melambai sebagai orang yang biasanya paling akhir keluar dari kantor, jam menunjukkan pukul 7 malam.
Galang membalas lambaian tangan Pak Ridwan dan kembali menghela nafas.
Ia melirik kedalam ruangannya, Maya masih tertidur di sofa dengan jas milik Galang sebagai selimut.
Mata gadis itu masih bengkak memerah hasil nangis seharian.
Diam-diam ketika Maya tidur, Galang memanggil Bang Ismail seorang yang alim untuk memeriksa kalau-kalau Maya memang diganggu makhluk halus.
Namun ternyata tidak, Maya memang sedang depresi dan butuh untuk meluapkan seluruh emosinya.
Galang duduk dikarpet dan bersandar di kaki sofa.
Ia merapikan rambut Maya lalu membetulkan posisi jasnya agar menutupi bahu Maya.
Rapat tadi pagi berjalan sangat lancar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali kondisi Maya saat ini.
Ia sudah menelpon Rayyan, sekertarisnya untuk membereskan beberapa hal yang mungkin butuh penanganan cepat.
Pada Rayyan ia berpesan agar jangan mengganggu waktunya sebab ia ingin membantu temannya, Maya.
Galang meluruskan kakinya dan pandangannya mulai meredup.
Mungkin ia butuh tidur sejenak lalu mengantar Maya pulang.
***
Galang merasakan sesuatu yang begitu berat dilehernya dan terpaksa membuka matanya, samar ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Ia menoleh dan mendapati Maya sudah tidak ada, begitu juga dengan jasnya.
Tapi sepatu Maya masih tertinggal dan itu berari Maya belum pulang.
Galang berdiri dan melihat ke seluruh ruangan kantor.
Seluruh ruangan gelap, hanya lobby kantor yang lampunya menyala.
Oh, pantry juga.
Maya ada di pantry.
Galang perlahan berjalan ke pantry dan berhati-hati menyapa Maya yang tampaknya pindah tempat tidur dari sofa ruangannya ke kursi dan meja makan pantry.
"May? Lo udah baikan? Pulang yuk. Besok lo cuti aja"
Tidak ada balasan suara. Galang menduga Maya sudah terlelap kembali.
"May?" Galang mendekat dan duduk disamping Maya.
Diantara heningnya suasana, Galang perlahan tersenyum.
"Lo juga punya panic attack? Lucu ya, kita sama."
Masih tidak ada jawaban dari Maya.
"Kenapa? Apa yang membuat lo sedih sebegininya May?
It's okay kalau lo belum mau cerita.
Punya hal traumatis yang menyayat hati dan membuat lo sesedih ini, pasti berat kan?
Gue janji, Gue akan ada kapanpun lo butuh, May."
Galang sudah bersiap untuk beranjak berdiri dan berniat menggendong Maya untuk pulang, namun Maya tiba-tiba saja duduk.
"I'm just stupid, so weak and so pathetic, Galang
How can a girl like me loving the same person for so many years?" tanya Maya dengan suara serak yang parau.
"Isn't it good? Bukannya itu artinya lo bener-bener suka? Mungkin itu pertanda jodoh?"
Maya menggeleng.
"Dia bukan jodoh gue, gak mungkin dia jodoh gue. Dia jodoh orang lain.
Suami orang lain, Lang..." dan tangis Maya pecah kembali.
Galang menduga, ia akan terjebak hingga pagi di kantor bersama Maya yang sedang depresi.
Ia sudah akan merelakan jadwal besok berantakan dan akan menyuruh Rayyan mengatur ulang seluruh rencana.
Saat ini, dia hanya bisa fokus pada Maya.
Gadis ini, sudah berapa lama ia memendam sedih dan luka? batin Galang sambil membopong Maya yang kembali menangis dan merintih.
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞