The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Location Unknown



Maya merasa separuh nafasnya hilang dan penglihatannya bergerak lambat. Masih tak ia pahami kesibukan orang-orang yang ada didalam ruangan ICU dimana Ikhsan terbaring. Yang ia dapat dengarkan hanyalah hembusan angin hampa yang membuatnya kini justru semakin sesak dan terus memaksa air matanya keluar. Bagaimana ini, bagaimana jika Ikhsan benar-benar akan pergi selamanya.


Bagaimana jika Ikhsan pergi tanpa mendengar jawaban dari Maya?


Pelan, tapi perlahan terdengar. Ada suara derap langkah yang bergema dari ujung lorong. Maya membeku tak dapat menolehkan pandangannya. Namun saat seseorang itu sudah berdiri di depan pintu ruangan ICU, Maya dapat melihat dari sudut matanya, itu Dr. Bimo.


Dr. Bimo meletakkan tangan pada pinggangnya dan menhembuskan nafas keras-keras seolah lelah telah berlari sepanjang lorong. Tiba-tiba, pintu ruangan ICU terbuka.


"Hh...hh..., code blue tadi, dari pasien Ikhsan?" tanya Dr. Bimo sambil masih terengah-engah.


Dokter yang keluar dari ruangan itu ternyata Dr. Adrien. "Benar," jawabnya.


"And?"


Dr. Adrien memberikan pandangan serius sambil menghela nafas, "We got him back. Gak perlu lari-lari juga sepanjang lorong, dong. Kalau lo nya kenapa-kenapa kan, berabe," protes Dr. Adrien seraya berlalu.


Dr. Bimo kemudian berdiri tegak. Ia menoleh ke sekeliling dan mendapati Maya masih memandangnya lurus-lurus. Ah, dia harus memberikan sebuah penjelasan pada gadis itu.


"Mbak Maya, masih nungguin disini ya?" tanyanya basa-basi. Tidak ada jawaban dari Maya, wajah gadis itu terlihat shyok.


Dr. Bimo melanjutkan, "Ikhsan masih hidup, tadi sempat henti nafas. Tapi tampaknya dia udah dapat bernafas kembali. Kali ini dengan bantuan ventilator sepenuhnya. Jangan putus asa dan banyak berdoa, ya."


Udara kembali mengaliri paru-paru Maya. gadis itu menhembuskan kuat-kuat nafas yang tertahan sejak tadi. Di sampingnya, Giwok ikut menyeka mukanya yang tegang karena takut dan panik. Keduanya kini terduduk lemas di sofa.


Dr. Bimo kemudian mengangguk pamit pada Maya dan berlalu. Ini adalah akhir dari shiftnya. Sebelum pulang, ia berniat mengabari Dr. Handoko, pamannya. Situasi Ikhsan saat ini cukup rumit. Semua bergantung pada respon Ikhsan pada reaksi pengobatan. Bahkan jika hasil scan keluarpun besok pagi, tampaknya operasi harus ditunda.


***


Sebuah pesawat mendarat, sekaligus merupakan penerbangan paling akhir malam ini di bandara. Seorang pria muda dengan memakai topi  dan jaket panjang selutut berjalan cepat menuju jalur pintu keluar. Di belakangnya terlihat seseorang yang berusia paruh baya ikut berlarian tergopoh-gopoh membawa sebuah koper hitam. Sesampainya di jalan depan lobby bandara, si pria muda tadi langsung memasuki sebuah taksi VIP. Belum lagi pria tua di belakangnya menutup pintu, taksi itu sudah dipaksa jalan dan mengebut. Tujuan dua orang pria di dalam taksi itu adalah, kantor polisi.


"Pak, saya yakin begitu kita sampai akan banyak wartawan yang akan mencegat kita," ujar si pria muda sambil membuka topinya dan menyandarkan diri pada kursi taksi.


"Saya yakin juga begitu Mas Rayyan, besok pagi pasti berita ini naik ke media," sahut pria tua itu sambil membuka ponselnya, mengabari pada istrinya bahwa ia pergi mendadak karena harus mendampingi Galang Rahadrja sebagai pengacara hukum.


Rayyan menghembuskan nafas dengan kencang, "Apa Galang akan di penjara Pak Haris?"


"Saya yakin tidak, tapi selama menunggu proses persidangan, mungkin paling tidak Pak Galang akan jadi tahanan rumah." Pak Haris kemudian mulai berbicara entah dengan siapa, tapi ia membawa-bawa nama Galang Rahardja dalam pembicaraannya.


Sementara itu, Rayyan begitu enggan melirik ponselnya. Sebab disitu terdapat ratusan chat dari dewan direksi menanyakan status dan keadaan Galang. Sementara itu, Rayyan harus bersama pengacara Galang harus menghadapi proses hukum yang tentu akan menyita banyak energi dan waktu. Dan Sang Chief Editor alias Maya? Ah, anggap saja TechnoMedia sudah kehilangan Chief Editor terbaik mereka.


Taksi VIP yang ditumpangi Rayyan dan Pak Haris berhenti di depan lobby kantor polisi. Meski sudah hampir tengah malam, segerombolan jurnalis benar saja sudah berkumpul menunggu kedatangan kuasa hukum Galang Rahadrja. Rayyan menarik nafas dalam-dalam, meski hatinya memaki. Bisa-bisanya Galang terlibat kasus pidana penganiayaan orang seperti ini. Entah apa judul headline berita yang akan dibuat para jurnalis ini.


Jgrek!


Pintu mobil terbuka. Dan segera saja lampu flash kamera bermunculan, sebuah kedip merah lampu menyala tanda video sedang merekam serta pertanyaan beruntun dimulai. Rayyan mengatupkan keras rahangnya dan berjalan cepat menuju pintu masuk kantor polisi. Sementara Pak Haris segera dikerubungi para jurnalis itu untuk memberikan informasi.


***


"Silahkan, Pak Galang," ujar seorang polisi muda mempersilahkan Galang keluar dari penjara tahanan penyidikan. Galang dipersilahkan untuk bertemu dengan rekannya yang datang mengunjungi, Rayyan.


Saat menatap Rayyan yang berdiri dengan muka gusar, Galang menundukkan pandangannya. Ia tak lagi punya energi untuk berdebat dengan Rayyan. Terutama jika membahas soal Maya. Galang mendudukkan dirinya dan segera memegang kepalanya yang sedikit pusing. Sedari tadi ia coba memejamkan mata dengan menyandarkan kepala pada tembok dingin penjara, matanya tak kunjung menutup.


Rayyan berjalan mengelilingi Galang, memperhatikan semua luka yang ada di tubuh Galang. Ia lallu menyentuh pipi Galang untuk lebih jelas melihat perban pada telinga kanan Galang.


"Apa kata dokter? Lo ga bakalan... budek permanen, kan?"


Galang menggeleng, "Gue bakalan idiot permanen kayaknya."


"Gara-gara telinga lo? Atau gara-gara di tinggal pujaan hati lo?" tanya Rayyan sewot.


Galang memutar bola matanya, kesal karena Rayyan sudah akan memulai perdebatan diantara mereka. "Ray, gue pusing banget nih, mana penjaranya dingin lagi. Belum ada istirahat gue dari tadi."


Mendengus kesal, Rayyan membuka tasnya dan menyerahkan sebuah minuman isotonik. "Nih, minum dulu."


Galang mengambil minuman dari Rayyan dan meneguk dengan cepat. "Thanks, lo bawa siapa?" tanyanya kemudian.


Mengusap mukanya, Galang mengembuskan nafasnya keras-keras. "Sorry ya, jadi kacau gini," lirihnya.


"Kayaknya gue emang ga cocok ya berhubungan dengan perempuan dan melibatkan perasaan? Gue single aja dah seumur hidup. Jadi CEO dan berkarya sampai mati," lanjut Galang lagi.


Rayyan mau tidak mau akhirnya tertawa. "Lang, taruhan yuk!"


Galang melirik Rayyan dari sudut matanya, "Maksud lo?"


"Ya, kalau lo nikah beliin gue Tesla ya. Akan gue inget seumur hidup hadiah lo ini. Hahaha." Rayyan terkekeh menatap wajah Galang yang tersenyum sebal.


Rayyan memang selalu bisa Galang andalkan. Memiliki Rayyan sebagai asisten Galang sekaligus masih memiliki hubungan persaudaraan adalah hal berharga bagi Galang. Ia sangat bersyukur sepupunya ini sepenuhnya ada di pihaknya.


"Pak Galang," sapa Pak Haris, dan Galang menoleh bersamaan dengan Rayyan.


"Mohon bersabar ya, Pak. Mungkin besok pagi bapak baru bisa keluar dari sini. Itu adlaah waktu yang paling ceoat yang bisa saya usahakan," jelas Pak Haris lagi sambil membetulkan kacamatanya.


Rayyan mendecak sebal, "Sorry ya bro, lo harus nginap semalaman di ubin. Yah hitung-hitung nambah pengalaman hidup lo lah."


"Ck! Apaan, dulu semasa kecil jualan koran gue juga sering kok diangkut satpol PP dan nginep di ubin penjara. Besok pagi baru dilepas ke Dinsos."


"Oh, kalau gitu, hitung-hitung nostalgia lah ya!" sahut Rayyan sambil menepuk pundak Galang.


***


Maya terbangun sebab udara dingin shubuh menelusup ke jaket yang ia kenakan. Kaki Maya yang tidak mengenakan kaos kaki sudah pucat dan sedingin es. Saat ia duduk, Giwok menghampiri Maya dengan segelas teh hangat.


"Udah bangun, mbak? Buset, dingin banget ya ini rumah sakit. Minum dulu, teh hangat," ujar Giwok sambil menyerahkan gelas teh kepada Maya.


Maya langsung menempelkan kedua belah telapak tangannya pada permukaan samping gelas. Hangat dari teh tersebut memberikan sensasi nyaman. Perlahan, Maya menyeruput teh hangat dan manis dari Giwok. "Makasih, Mas Giwok," ucap Maya sambil tersenyum.


"Udah masuk waktu shubuh, Mbak Maya sedang sholat?" tanya Giwok dan dijawab anggukan oleh Maya. Giwok pun beranjak dari tempat duduknya dan disusul oleh Maya.


Usai menunaikan sholat shubuh, Giwok pamit pada Maya untuk menghisap rokoknya diluar area rumah sakit. Sudah semalaman mulutnya pahit tidak merokok. Menurutnya, rokok juga akan sedikit menghibur dirinya dari rasa emosional tadi malam saat melihat kondisi buruk Ikhsan, rekan karibnya.


Maya memutuskan untuk menyendiri di ruang sholat rumah sakit untuk sedikit lebih lama berdoa. Saat ini kepalanya dipenuhi oleh begitu banyak kekhawatiran tentang Ikhsan. Dan jikapun Ikhsan seandainya tidak akan bisa selamat melalui masa kritis, Maya ingin berpuas-puas diri mendoakan lelaki yang masih ia cintai itu. Sebab saat ini, Maya tidak punya daya ataupun upaya, meski hanya untuk membuka mata Ikhsan lagi.


***


Cahaya matahari perlahan menelusup kedalam ruang kaca ICU saat perawat membuka tirai. Ikhsan mengerjapkan matanya, lalu berusaha untuk beranjak duduk. Tubuhnya terasa begitu ringan namun ia sedikit merasa pusing. Pandangan matanya hanya bisa menangkap warna hitam dan biru.


Ikhsan mencoba turun dari tempat tidurnya, ia merasa aneh sebab langkah kakinya terasa seperti sedang berjalan di air yang rendah di tepi pantai. Ikhsan tak mengenali keadaan di sekitarnya. Ia juga berusaha untuk berbicara, mengeluarkan suara apa saja, nanmun hanya hampa yang keluar. Ikhsan tak tau ia sedang berada dimana, tetapi telinganya masih menangkap jelas suara seorang perempuan yang sedang menangis terisak.


Suara isak tangis itu menggiring langkah Ikhsan perlahan menuju sebuah pintu. Pintu itu menuju sebuah ruang sholat. Di sana, ada seorang perempuan tengah duduk dengan mendekap tangan dan jemarinya. Beberapa kali bibirnya bergetar dan menyebut nama Ikhsan. Perlahan Ikhsan berjalan mendekat.


Begitu ada disamping perempuan itu, Ikhsan ikut duduk dan menyandarkan kepalanya yang masih terasa sakit pada pundak sang perempuan itu. Dan tiap kali ada nama Ikhsan disebut diantara kedua bibir perempuan itu, Ikhsan merasakan hangat yang membuat kepalanya terasa nyaman. Meski tak mampu berbicara, tapi Ikhsan bergumam dalam hatinya. "Bersabarlah."


 



 


 ***


Soundtrack episode kali ini adalah: Location Unknown by HONNE.


Coba di dengarkan ya!


Mohon dukungannya untuk like, komen dan votenya ya guys!


Ditunggu juga untuk bergabung di Group Chat Author!


Love, Author.