
"Hi Lang, apa kabar?" tanya Maya, meski sedikit gugup ia mencoba lebih tenang menjawab telepon Galang.
Rasa gugup Maya mungkin disebabkan oleh cincin Ikhsan yang sudah melingkar di jari manisnya saat ini. Tetapi ia juga tak benar-benar paham, untuk apa ia harus merasa gugup karena toh Galang tentu sudah akan menebak hal ini.
"Gue baik. Everything here is under control. Kecuali status tahanan rumah yang sangat mengganggu ini, sekaligus kabar dari lo," jawab Galang dengan nada berat.
Maya tersenyum seraya menghela nafas, ia sungguh tidak tahu harus bereaksi apa pada kalimat terakhir dari Galang. Tetapi fakta bahwa Galang dapat mengendalikan situasi mengenai permasalahannya disana membuat Maya merasa lebih tenang.
"Gue tahu lo udah check-out dari hotel, Invoice-nya sudah dikirimkan ke kantor. Sekarang lo tinggal dimana? gue gak bisa merasa tenang menebak kalau-kalau lo tinggal di rumah... Ikhsan," ucap Galang. Meski terdengar terpaksa mengatakan kalimatnya barusan, tampaknya rasa penasaran Galang cukup besar untuk mencari tahu.
"Tenang aja, gue tinggal di rumah kakak gue, Arya. Gue juga akan resah ngebayangin lo yang ngebayangin gue tinggal di rumah Ikhsan," kilah Maya yang justru membuat Galang tersenyum di seberang sana.
"Ah, gue gak tahu kalau lo punya kakak. Gue pikir lo anak tunggal seperti gue. Ternyata, banyak hal yang belum gue ketahui tentang lo ya, May."
Maya tertawa, "Di pikiran lo, selain TechnoMedia, emang ada hal lain?"
Dengan cepat Galang menjawab, "Dulunya sih engga. Sekarang, ada lo."
Tawa dan senyum Maya langsung padam, jari manisnya bergerak turun menimbulkan bunyi gemerisik di speaker ponsel Maya.
"Gue jadi merasa orang yang paling merugi. Selama lo ada di depan mata gue lebih dari 9 jam setiap harinya, gue sia-siakan kesempatan itu. Tapi May, ada hal penting juga yang lo harus tau," kata Galang dengan nada serius.
Maya menelan ludah dan memejamkan mata. Ia sungguh tak siap dengan beban baru seandainya itu yang dibawakan oleh Galang.
"May, gue masih ingat perkataan lo saat gue dan lo pergi ke toko parfum untuk membelikan Rayyan parfumnya. Lo bilang gue sinting karena membicarakan tentang perihal menerima Ikhsan dan menjadi madu. Sekarang, gue menyadari sesuatu, May. Di situasi saat ini, memang Yrene rela menerima lo di kehidupannya bersama Ikhsan. Tapi, itu bukan berarti lo sudi untuk berada diantara mereka dan menjadi madu. Itu benar, kan?" cecar Galang.
Maya menghembuskan nafasnya. "Lang, situasi saat ini jauh lebih kompleks dari pada saat kita berandai-andai di pembicaraan asal itu. And if you want to debate me now, it's just too late." Ada perasaan kesal pada pembicaraan dengan Galang kali ini di hati Maya.
"Kalau ga ada hal lain yang lo mau bahas,"
"Ada. Jangan di tutup dulu telfonnya, please," pinta Galang cepat. Ia menyadari perubahan emosi Maya dan mengakui bahwa topik ini tidak cocok untuk dilanjutkan. Tetapi, jika ia masih ingin mendapatkan jalan kembali pada Maya, ia harus mencari cara lain.
Galang berdehem, "May, selama jadi tahanan di rumah gue jadi lebih banyak belajar dari kompleksnya masalah yang sedang lo hadapi. Gue mencoba mengerti dan memahami. Ikhsan, dia tidak menyiakan kesempatan kedua yang ia miliki untuk mendapatkan lo kembali. Dia bahkan masih tetap berjuang setelah sadar dari keadaan sekarat."
"Kemudian Yrene," lanjut Galang. "Ia saat ini sebenarnya juga sedang berjuang demi mempertahankan cinta yang ada dihadapannya sekaligus membuat orang yang ia sayangi bahagia."
"Sementara gue, bullsh*t kalau gue juga harus bahagia melepas lo pada keadaan seperti ini. Maaf, May. Gue pikir gue juga gak akan tenang sebelum gue benar-benar berjuang juga dan mempertaruhkan kebahagiaan gue sendiri agar tidak kehilangan kesempatan mendapatkan lo. Beri gue kesempatan," lirih Galang.
Maya memejamkan matanya. Hatinya terasa seperti disusupi oleh bilah pedang yang menyayat perih. Ia merasa bahwa kali ini harus terbuka dan jujur pada Galang, agar pria itu tidak berharap lebih dan menyulitkan dirinya sendiri.
"Lang, Ikhsan sudah melamar gue dan sudah gue terima. Pernikahan gue dan Ikhsan mungkin sudah di depan mata dan akan berlangsung dalam waktu dekat. Kesempatan apa yang lo butuh?"
Galang terdiam, perkataan Maya barusan seperti menohoknya keras. Tetapi, logikanya cepat berputar. Ia lebih mengutamakan strategi bekerja di dalam pikirannya dari pada memilih untuk merasa kalut.
"Alright, kesempatan yang gue butuh, adalah... pastikan Ikhsan tidak memberikan keterangan yang akan memberatkan gue di persidangan besok. Sebab Ikhsan sudah sadar maka gelar perkara sudah di buka. gue butuh bebas dari jeratan hkum ini agar lebih leluasa bergerak dan bertindak. Jadi gue bisa menyambut kesempatan yang mungkin juga diberikan oleh Tuhan dan semesta untuk mendapatkan jalan menuju lo, May." Galang menghembuskan nafasnya keras. Mengucapkan hal seperti ini benar-benar membuatnya terdengar seperti budak cinta. Tetapi, selama janur kuning belum melengkung dan akad belum terucap, Galang harus memanfaatkan waktu dan berusaha sebisanya.
"Terserah, lo. Hanya saja jangan terlibat usaha-usaha yang justru membuat lo lebih menyusahkan banyak pihak. Lo memang punya kuasa, tapi justru itu terkadang membuat lo lepas kendali," ucap Maya akhirnya.
Setelah telepon berakhir, Galang menjatuhkan dirinya ke kasur. Tanpa ia sadari, Rayyan yang sedari tadi ada di luar kamar Galang menguping dan mendengar pembicaraan Galang tadi. Meski ragu untuk ikut campur, Rayyan akhirnya tetap mengetuk pintu dan masuk ke kamar Galang untuk mengajak sepupunya itu berbicara. Baginya, ia butuh untuk memastikan tindakan Galang agar tidak melakukan kesalahan lagi. Karena kedatangannya ke rumah Galang juga sebenarnya membawa kabar yang tidak baik.
"Lang, sorry. Tadi gue sempat gak sengaja dengar pembicaraan lo barusan," ucap Rayyan, ada nada ragu dalam nada bicaranya.
"Eh elo, Ray. Gimana respon shareholders? Mereka setuju kan atas pembayaran atas complaint platform kita?"
Rayyan mengulum bibirnya dan menggeleng dengan ekspresi kecewa. Galang langsung memahami maksud dari respon Rayyan. Ia mengusap rambutnya dan berkata dengan menunduk, "What do they expect from me?"
"Lo yakin mau dengar?" tanya Rayyan ragu.
Galang menelan ludahnya dan mengangguk.
Menarik nafas dalam-dalam, Rayyan berkata, "They want you to apologize to Ikhsan, get everything clear with his team and company. Mereka mau lo menyelesaikan urusan pribadi lo. Baru mereka setuju untuk menyelesaikan ini secara bisnis."
Rayyan sebenarnya tidak tega melanjutkan kalimatnya, membuat sepupu sekaligus atasannya semakin kalut. Tetapi ia juga punya tugas untuk memperjelas pesan dari para pemilik kuasa di TechnoMedia itu. "Lang, lo harus kunjungi Ikhsan dan memastikan dia tidak melakukan tuntutan pembatalan project. However, mereka masih punya source code platform kita. They could shutdown the platform anytime karena masalah pribadi yang melibatkan lo dan Ikhsan."
***
Maya memasuki pekarangan rumah Arya dengan langkah gontai. Kepalanya terasa pusing, ia merasa seperti sedang di himpit oleh kompleksnya permasalahan hidup. Dan entah mengapa, meski saat ini Maya mulai merasakan butuh pertolongan, ia tidak benar-benar merasa sedang di tolong oleh siapapun. Di dalam hatinya, ia menebak-nebak. Mungkin, yang bisa menolongnya saat ini hanyalah dirinya sendiri.
Baru saja Maya mengetuk pintu satu kali, Arya sudah langsung membuka pintu dengan senyuman. Seolah tahu bahwa adiknya sudah pulang.
"Hai," sapa Arya didepan pintu.
Maya tersenyum, ia lalu menunjukkan jari manisnya yang sudah bercincin pada Arya. "I said yes, but I still confuse."
Arya mengangguk, senyum masih belum menghilang dari wajahnya. "I know," ucap Arya sambil melangkah mendur. Memberikan Maya pandangan lebih luas ke arah ruang dalam, dimana sudah ada Mama Maya yang tersenyum. Dan di samping Mamanya, ada kedua orangtua Ikhsan.
Maya menghela nafas dan memaksa bibirnya tersenyum. Waktu benar-benar memaksanya untuk terus menghadapi semua ini tanpa memberinya jeda.
Mengetahui gurat lelah ada di wajah adiknya, Arya menggenggam tangan Maya. Ia kemudian berbisik. "Orang bilang, saat menjelang pernikahan itu memang saat-saat paling di uji. Baru bisa lega saat ijab selesai dilaksanakan."
Tidak tahu harus berkata apa, Maya hanya diam saja. Ia mau tidak mau harus pula bersikap baik menghadapi kedua orang tua Ikhsan dan mamanya. Mendapati wajah mamanya yang cerah, Maya dapat menebak bahwa orang tua Ikhsan dan Arya sudah berhasil menjelaskan keadaan pada sang Mama.
"May," panggil Arya yang masih berdiri di depan pintu.
"You bestfriends are here," ucap Arya lagi.
***
Mohon dukungannya dengan like, komen dan vote ya.
Maafkan author yang jadwal hidupnya agak berantakan jadi mau menata dulu agar sempat nulis :')
Love, Author.