The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Sidang 2



Maya masih menunduk, tangannya meremas erat rok yang ia kenakan. Rasanya begitu menyesakkan mendengar pertanyaan tentang perasaannya terhadap Ikhsan oleh mulut Yrene sendiri. Begitu menyesakkan sebab Yrene yang merupakan sahabatnya, adalah juga istri dari Ikhsan.


Masih tak mampu menjawab, Maya mengatup erat bibirnya. Ia bahkan sekarang menutup matanya. Berusaha menguatkan diri menghadapi situasi ini.


"May, lo bilang lo mau jujur sama gue? Gue butuh banget kepastian tentang perasaan lo ke Ikhsan, kepada suami gue, May. Kejujuran lo akan sangat mempengaruhi keputusan gue kemudian," ucap Yrene sedikit mendesak. Yrene tahu ini sulit untuk Maya, tetapi ini juga bukan hal yang mudah untuk Yrene lakukan.


Akhirnya Maya menyerah, ia menghembuskan nafas panjang dan perlahan menatap manik coklat hazel milik Yrene. "Rene, gue gak tahu harus mengucapkan kata apa. Gue merasa malu, please pahami ini. Ada sebab kenapa gue memendam perasaan ini 15 tahun lamanya, Rene. Gue sayang banget sama lo sebagai sahabat gue. Dan gue sangat menghormati lo sebagai istri Ikhsan."


Yrene menahan nafasnya saat menyaksikan air mata meleleh di pipi Maya. Ia yakin apa yang Maya ucapkan tentang rasa malu itu sungguh menyiksa batin sahabatnya ini. Yrene menggenggam hatinya sendiri agar ia lebih kuat, kemudian ia memutuskan untuk lebih lembut lagi terhadap Maya.


"May, seandainya..., seandainya kita bertukar posisi. Lo adalah istri dari Ikhsan dan gue ada di posisi lo sekarang. Please tell me, apakah lo akan tidak perduli pada perasaan cinta yang ada diantara Ikhsan dan gue? Apakah lo bersedia bahagia dan menutup mata pada cinta yang telah begitu lama terpendam?"


Pertanyaan Yrene barusan membuat Maya tersentak. Ia mengangkat wajahnya dan menatap utuh wajah Yrene. Perempuan secantik dan selembut Yrene harus memendam perasaan selama 15 tahun dan merasakan pedih seperti yang ia rasakan? Oh tidak, tidak! Tidak ada perempuan manapun yang boleh merasakan kepedihan yang sama seperti dirinya. Tidak ada perempuan yang pantas merasakan sakit seperti ini, terutama sahabat yang sedang menatapnya sekarang.


Maya akhirnya membalas genggaman Yrene. "Gue memang gak bisa bilang bahwa perasaan gue ke Ikhsan sudah tak bersisa. Tapi gue selalu berusaha untuk melupakan, Rene. Gue bahkan sampai harus pindah kota dan kerjaan demi move on dari perasaan ini. Gue rela menukar apapun yang gue miliki sekarang agar tak memiliki perasaan ini lagi. Dan sejujurnya gue gak pernah mau ada di antara kalian."


Yrene tersenyum, seperti yang sudah ia duga bahwa Maya memang seorang perempuan terhormat. Jawaban Maya semakin membuat Yrene yakin bahwa memang hanya Tuhan yang berhak menentukan jalan cerita kisah cinta antara Ikhsan dan Maya. Dirinya atau siapapun sudah seharusnya tak menghalangi mereka.


"Maya, dengerin gue. Maafin gue yang tidak pernah memilih untuk peka terhadap perasaan lo. Gue gak bisa bayangkan betapa sedih dan perih perasaan lo selama ini. Hadir di pernikahan gue sebagai bridesmaid, juga ternyata harus bertemu Ikhsan lagi setelah lo berusaha selalu menjauh. See? Gue percaya itu takdir."


Yrene kemudian melanjutkan, "Gue akan sepenuhnya menyerahkan urusan ini kepada lo dan Ikhsan. Tapi ada satu permintaan gue, May. Gue mohon berikan lagi kesempatan pada perasaan cinta kalian. Berikan Ikhsan satu kesempatan untuk memperjuangkan perasaan cinta yang selalu ia pendam. Biarkan ia berjuang sekali lagi. Setelah itu, biar Tuhan yang menentukan apakah cinta kalian akan sampai pada meja akad atau tidak."


Menelan ludah, Maya tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika benar cintanya akan dikukuhkan di meja akad. Tetapi seperti yang Yrene katakan, sampai terjadi restu dari Yrene sudah pasti merupakan takdir Tuhan. Jika Yrene saja mengambil peran untuk memberikan cinta ini kesempatan, kenapa Maya menolak? Apakah Maya tidak akan menyesal dikemudian hari jika ia menolak?


"Bicaralah pada Ikhsan. Gue udah banyak membahas hal ini dengan Ikhsan. Termasuk keluarga gue," Yrene sengaja memberi penekanan pada kalimat terakhirnya agar membuat Maya tahu bahwa Yrene benar-benar serius menempuh keputusan ini. Selang beberapa menit kemudian, Yrene melirik ponselnya dan terlihat bersiap-siap.


"Gue udah harus pulang ya, May. Dan..., tunggulah beberapa saat disini sebelum lo pergi dari resto," ucap Yrene sambil memeluk Maya.


"Rene," panggil Maya dengan suara lemah. Ada genang air mata yang siap tumpah di pipi Maya dengan wajah memerah.


"Makasih, gue gak-"


"Ssst, gue hanya melakukan usaha terbaik yang bisa gue lakukan sebagai sahabat yang menyayangi lo, juga sebagai istri yang sayang sama suami gue. Ingat, urusan rumah tangga gue adalah urusan antara gue dan Ikhsan. Sementara perasaan cinta lo dan Ikhsan, itu urusan kalian. Dan mungkin, kesempatan itu sangat bergantung pada keputusan lo. Gue pamit ya," ujar Yrene tersenyum lalu mendorong pelan kereta baby Ianvs.


Maya terduduk lemas, ia memegangi kepalanya. Tak ia sangka situasi berubah seperti ini. Maya menutup mata dan mengatur nafasnya. Memberi jalur pada oksigen yang ia hirup untuk mengalir dalam paru-paru dan darahnya. Mengantar suplai oksigen itu pada otaknya agar dapat berpikir dengan jernih.


***


Sementara itu di luar gedung restoran, Galang tampak gelisah menunggu. Berkali-kali ia melirik jam tangannya. Sejuta rencana dan simulasi terbentuk dan digagalkan di kepalanya. Ia sangat ingin masuk ke dalam restoran untuk mengetahui apa yang terjadi. Dan tentu saja, ia sangat ingin memastikan Maya baik-baik saja.


Baru saja Galang membuka pintu mobil hendak mengambil udara segar, ia melihat sosok yang ia kenali turun dari sebuah mobil dan bersiap memasuki restoran. Secepat kilat ia bangkit berlari dan berteriak, "Ikhsan!"


Lelaki yang dipanggil itu menghentikan langkahnya dengan raut wajah yang sangat bingung sekaligus terkejut.


"Pak Galang? Sedang apa disini, Pak?" tanya Ikhsan.


Pria yang ia tanyai ini tak menjawab melainkan hanya mendengus, seolah kesal. Tangan Galang berada di pinggang memberi sinyal bahwa pria ini sedang dalam keadaan tidak bersahabat. Seketika, Ikhsan ingat betul tentang cerita Yrene mengenai perbuatan Galang di hari Ianvs terlahir di dunia. Ya, di hari pertama Ianvs lahir, pria di depannya ini justru memberi kabar menyakitkan pada istrinya dan menyebabkan Yrene menderita Baby Blues syndrome selama berminggu-minggu.


"Lo yang sedang apa kesini?" Galang balas bertanya dengan nada satu oktaf meninggi. Sebenarnya Galang sangat ingin mengendalikan dirinya. Tetapi entah kenapa rasa gusar yang ia duga dikarenakan kecemburuan ini membuatnya lupa dengan langkah elegan yang seharusnya bisa dilakukan.


Giliran Ikhsan yang mendengus. Melihat gusar pada wajah Galang, Ikhsan dapat membaca rona kecemburuan pria didepannya itu. Rasa muak terhadap sikap Galang menjalari seluruh pembuluh darah Ikhsan. Terlebih lagi Galang sudah menghapus batas formal komunikasi mereka. Hanya saja, Ikhsan masih punya cukup harga diri untuk tidak tersulut amarah Galang saat ini. Terlebih lagi Ikhsan tahu, saat ini project yang ia jalani dengan perusahaan Galang sedang berada pada peak implementation. Jangan sampai urusan pribadi seperti ini mengacaukan bisnisnya.


"Saya? Saya ingin menjemput istri saya. Bapak?" Ada nada dingin dan menusuk dari pertanyaan yang di lontarkan Ikhsan. Ia yakin betul, Galang tak akan punya pilihan jawaban. Dan benar saja, pria di depannya ini terlihat semakin kesal.


"Kalau tidak ada hal yang ingin Pak Galang bahas, saya permisi. Dan tolong Pak Galang yang terhormat, stay out of my family! If you come again to my family, to my wife without my concern," Ikhsan menekankan nadanya, "I will sue you, You will fight me."


Sekelebat angin berlalu, Ikhsan meninggalkan Galang yang kehabisan kata-kata. Harga dirinya jatuh di remuk oleh Ikhsan. Dengan penuh emosi, Galang meninju udara dengan berteriak kesal. Tetapi, ia juga masih menahan diri sekuat mungkin untuk tidak mengacaukan situasi Maya di dalam restoran sana.


Ikhsan sudah tahu bahwa saat ia menjemput Yrene nanti, ia akan berhadapan dengan Maya. Sesuai pesan Yrene, dirinya harus mengajak Maya berbicara. Selanjutnya biar Maya yang meutuskan apakah memang Maya masih mau memberi kesempatan.


Mata Ikhsan mencari-cari sosok istrinya dan kereta bayi Ianvs, tapi tidak ia temukan. Justru yang ia dapati adalah sosok yang ia kenal duduk sendirian membelakangi arah kedatangannya. Dengan hati-hati, Ikhsan menegur perempuan itu.


"Maya?"


Perempuan itu menoleh dan dari pandangannya, ia juga terkejut. Cepat ia hapus sisa air mata dari pipinya dan berdiri menghadap Ikhsan.


"Ikhsan? Ah lo pasti mau jemput Yrene ya?"


"A...,Ah, iya. Yrene mana ya?"


"Dia udah pergi beberapa menit yang lalu sih, coba lo telf-"


Ikhsan segera membuka ponselnya dan membaca pesan dari Yrene. Ternyata Yrene sudah pergi di jemput oleh Tania. Istrinya itu meminta maaf karena sengaja mengatur pertemuan ini. Menurutnya Ikhsan dan Maya akan lebih leluasa bertemu tanpa kehadiran Yrene.


"Hm, Yrene udah di jemput Tania. Padahal tadi Yrene yang suruh gue datang kesini buat jemput dia," jelas Ikhsan sambil menyimpan ponselnya di saku celana jeans.


Ada hening yang menggantung diantara mereka. Maya tak sanggup memulai percakapan lain, ia menundukkan kepalanya. Sementara Ikhsan, Ah tentu saja harus ia yang memulai permulaan usaha ini.


"May, apa Yrene ada ngomong sesuatu ke lo tentang..., tentang kita?" tanya Ikhsan dengan nada begitu hati-hati.


Maya mengangguk, mendengar nada suara Ikhsan yang lembut membuat Maya sedikit lebih tenang.


"Gimana menurut lo?" tanya Ikhsan lagi. Ikhsan merasa canggung sebenarnya langsung bertanya seperti ini. Tetapi mengingat di luar ada sosok Galang yang sedang menunggui Maya, Ikhsan tahu ia tak punya cukup banyak waktu sebelum Galang habis kesabaran dan akhirnya masuk ke dalam restoran.


"Gue gak tahu, San. Gue sekarang bingung banget." Maya juga bingung apakah mereka harus tetap berbicara berdiri seperti ini atau justru mempersilahkan Ikhsan duduk dan mengobrol. Ia juga masih sadar bahwa Galang sedang menunggu di parkiran.


Ikhsan mengangguk seolah paham akan sesuatu, "Iya, pasti ini sangat membingungkan banget buat lo."


Ikhsan kemudian mengambil inisiatif untuk segera menyudahi percakapan yang canggung ini. "Oke. Kalau gitu, gimana kalau besok kita ketemu lagi? Beri gue kesempatan untuk mengulang semuanya dengan baik. Dengan lebih proper, May. Please?"


Maya mengigit bibir dalamnya, hatinya berkecamuk entah ada perasaan apa saja disana. Tetapi, sosok Ikhsan yang sedang berdiri didepannya butuh jawaban. Maya perlahan mengangguk.


Setelah memberikan alamat hotel dan sepakati janji temu, Ikhsan pamit pergi. Ikhsan tahu ia tidak mungkin menawarkan diri untuk mengantar Maya pulang sementara Galang sedang menuggu di luar sana. Meski di dalam hati ia tahu, bahwa ia pasti masih akan memenangkan hati Maya dari Galang.


"Pak, saya pesan ice chocolate take away satu untuk mbak yang ada disana ya," telunjuk Ikhsan mengarah pada meja dimana Maya duduk sendirian. Setelah membayar, ia segera berjalan keluar restoran. Ujung matanya masih menangkap Galang yang terlihat seperti mengawasi gerak-geriknya.


Sambil menyalakan mesin mobilnya, Ikhsan tersenyum puas. Saat ini, Galang tampaknya akan tetap stay out of the situation. Kesan yang Ikhsan dapati dengan pertemuan sekilas tadi adalah, Maya masih menjadi dirinya sendiri. Galang belum punya pengaruh yang cukup atas Maya dan perasaannya. Itu artinya, Galang masih belum ada tempat di hati Maya.


Sementara itu disisi pintu keluar lain gedung restoran, Yrene menghela nafas panjang menatap mobil Ikhsan yang keluar dari parkiran restoran menuju jalan raya. Sepertinya pertemuan antara Ikhsan dan Maya berjalan baik. Yrene yakin, Ikhsan pasti tidak akan menyiakan lagi kesempatan kali ini. Setelah puas dengan situasi yang ia lihat, Yrene berjalan keluar menuju parkiran. Disana, ada Tania yang sudah menunggu.


Bagai melihat sosok hantu, mendapati sosok Yrene berjalan menuju sebuah mobil lain membuat Galang semakin kalang kabut. Ia merasa seperti sedang dibodohi oleh pasangan suami istri ini. Di pikiran Galang, ini berarti kedatangan Ikhsan tadi bukan untuk menjemput istrinya melainkan bertemu dengan Maya.


"Yrene! Tunggu! Yrene!" setengah berlari, Galang meneriaki nama Yrene.


Yrene menoleh dan mendapati sosok kunci yang membuka semua kisah ini padanya. Seandainya, seandainya saja Galang tak pernah muncul dalam hidupnya, mungkin Yrene masih bisa tertawa bahagia memiliki keluarga utuh bersama suami yang ia cintai, miliknya sendiri. Tetapi, mau tidak mau takdir sudah membuka tabir rahasia melalui pria ini. Yrene tak bisa membenci Galang, tetapi sosok Galang adalah satu-satunya tempat ia dapat melampiaskan kemarahan atas semua ini.


Saat Galang menghampiri Yrene, Galang tak dapat lagi menahan diri. "Apa yang sedang anda rencanakan antara Ikhsan dan Maya?"


Yrene menatap dingin Galang, "Saya hanya melakukan peran terbaik saya sebagai istri dan seorang sahabat."


Mendengus kesal, Galang yang sudah dari tadi kalut akhirnya tak lagi bisa membendung amarah. "Anda mau bilang kalau anda sekarang sedang dengan tenangnya berbagi suami, begitu?!"


"15 tahun bukan waktu yang sebentar bagi mereka. Juga bukan waktu yang singkat bagi sebuah cinta untuk bertahan selama itu. Saya tidak ingin menghalangi apa yang Tuhan gariskan diantara mereka. Dan tolong, jika anda tidak pernah memahami arti dari memperjuangkan cinta, menjauhlah dari semua ini."


Yrene sudah siap melangkahkan kaki untuk segera masuk ke mobil Tania. Tetapi ia kemudian membuka mulut lagi, "Lakukanlah hal terbaik yang bisa anda usahakan, selagi ada waktu. Jika memang ada yang sedang anda perjuangkan juga."


Yrene segera masuk ke dalam mobil Tania, sementara itu Galang yang mengetahui Maya sedang sendirian di dalam restoran segera berlari menyusul Maya.


Dengan nafas tersengal dan menunduk, Galang sampai di depan meja Maya. "Hh, May? Lo baik-baik aja kan?"


Maya terkejut mendapati Galang yang terengah-engah, "Lo kenapa? Kok kayak habis lari-lari gitu?"


"Duh, panjang ceritanya. Lo gak papa, kan? Jawab dulu, itu penting," ujar galang sambil berusaha tegak berdiri lagi.


Maya juga beranjak berdiri, "Iya, gue gak papa kok. Yuk pulang aja, gue ngerasa lelah banget hari ini."


Galang mengiyakan ajakan Maya. Ia sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi, tetapi karena Maya bilang ia sangat lelah maka Galang harus menahan rasa penasarannya. Hal yang yang Maya butuhkan saat ini adalah istirahat. Sebaiknya mereka segera pulang ke hotel lagi.


Saat melewati pintu keluar, seorang pelayan menahan langkah Maya. "Permisi Mbak, ini orderan take away ice chocolatenya," ujar si pelayan sambil menyerahkan sebuah cup kertas medium yang berisi es coklat dingin.


Maya mengerjap bingung dan mendapati ekspresi Maya seperti itu, Galang menahan tangan Maya untuk mengambil es coklat dari si pelayan.


"Itu benar orderan lo, May?" tanya Galang memastikan.


Maya melirik sebuah tulisan di cup kertas tersebut dan mendapati sebuah pesan dengan nama Ikhsan. "Eh, Iya. Tadi gue order kok. Lo mau juga kah?"


Mengerutkan alis mendapati respon Maya, Galang menggeleng. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Prioritasnya saat ini adalah memastikan Maya akan istirahat dengan baik dan pulih lagi, ceria seperti sebelum menuju restoran ini.


Saat berjalan menuju mobil Galang, Maya melirik pesan yang tertulis di cup kertas itu. Masih Maya hafal, Itu adalah tulisan tangan milik Ikhsan. Di cup itu tertulisan sebuah pesan : 'Hope you are okay. Get some rest, Maya. Can't wait to see you tomorrow. Ikhsan.'


Rasa hangat yang nyaman menjalari tangan hingga dada Maya, membuat urat pipinya tertarik menjadi sebuah senyuman. Maya menempelkan bibirnya pada sedotan dan menyesap es coklat dingin yang mengalir ke tenggorokannya. Maya mengulum senyumannya dengan rapat, Ikhsan tahu dengan melihat meja kosong Maya bahwa sedari tadi pasti Maya tidak minum. Dan coklat dingin ini, sangat memperbaiki perasaannya yang sangat kacau setelah pertemuan di restoran tadi.


Memasuki mobil, Maya mendapati mata Galang yang tak lepas menatapnya. "Kenapa? Ada sesuatu ya di muka gue? Ada yang nempel?" Buru-buru Maya berkaca pada layar ponselnya yang mati.


Galang melemparkan pandangannya ke arah lain. Ia sepertinya salah lihat. Saat memasuki mobil ia seperti mendapati Maya tersenyum senang, padahal saat dihampiri di restoran tadi, air muka Maya tampak begitu kesusahan.


"Gak papa. Ayo kita cepat pulang aja," tukas Galang singkat.


Tak berapa lama perjalanan, mobil Audi hitam milik Galang sudah kembali berhenti di parkiran hotel. Maya melepas sabuk pengamannya, tetapi sengaja tetap diam sebab ia merasa bahwa ada percapakan yang belum selesai oleh Galang terhadapnya. Ah benar, sesaat sebelum Maya memasuki restoran, Galang menyatakan perasaannya.


"Lang, soal perasaan lo tadi...," Maya menggantung kalimatnya, menunggu reaksi dari Galang. Tetapi Galang justru diam, membuat Maya akhirnya melanjutkan kata-katanya lagi.


"Lo mau kan beri gue waktu?" tanya Maya dengan lembut.


Galang memegang erat setir kemudi mobil yang sudah berhenti itu. Ia terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Pelan tapi terlihat jelas, Galang mengangguk lemah.


Tidak mungkin mendesak jawaban Maya saat ini. Untuk perasaan Galang sendiri saja baru ia sadari kemarin saat terjebak menghabiskan waktu yang lama berduaan bersama Maya. tentu saja terlalu terburu-buru dan terlalu di paksakan jika Maya dan Galang harus memperjelas perasaan antara mereka. Jangan sampai justru terjadi kesalahpahaman yang malah menjauhkan hubungan mereka.


"Untuk bersaing dengan cinta 15 tahun lo itu, May. Gue akan bersedia sabar dan memberi waktu selama apapun yang lo butuh. Lo hanya butuh waktu, kan?" tanya Galang dengan suara yang masih lemah.


Maya mengangguk atas pertanyaan Galang barusan. Sambil memegang erat cup kertas es coklatnya, pikiran Maya melayang pada nama yang tertera di cup itu. Benar, jika Galang saja memberi Maya waktu, maka Maya juga harus memberi Ikhsan waktu. Biarkan waktu yang mengalir menuntun perasaan mereka semua. Maya hanya perlu memberikan Ikhsan sekali lagi kesempatan. Selanjutnya, biar Tuhan yang menentukan.


***


Halo!


Permisi, Author mau curcol sedikit.


Fuh gila ya kisah Maya, Ikhsan, Yrene dan Galang ini.


Meski sudah punya kerangka cerita hingga akhir kisah, tetap saja perasaan author selama menulis ini di aduk-aduk. Hehe. Jadi bukan hanya kalian para pembaca baik hati ya, yang peraasaannya seperti di pelintir-pelintir.


Author juga ingin dengar dong kesan para pembaca membaca kisah ini sejauh 45 episode ini.


Apalagi akhir-akhir ini jumlah kata tiap episode 2ribuan loh.


Soalnya butuh banyak kata untuk merangkai penjelasan setiap perasaan tokoh di tiap episode.


:')


Jangan lupa ya kasih kesannya membaca kisah ini.


Juga like, dan vote nya :)


Kiss, Author.