
"Yang, I'm home" teriak Ikhsan dari pintu masuk yang baru saja dibuka oleh pembantunya Mbak Ningsih.
"Mbak Yrene ada di kamar kok mas, dari pagi gak ada keluar rumah, sudah makan tadi siang, makannya habis" jawab Mbak Ningsih karena sudah hapal pertanyaan yang akan selalu sama dilontarkan Ikhsan tentang istrinya yang sedang hamil itu.
Semenjak menikah, Ikhsan dan Yrene sepakat akan tinggal dirumah sendiri agar belajar mandiri mengurus rumah tangga mereka. Meski sesekali adik dan orang tua Yrene ataupun orang tua Ikhsan sering berkunjung, tetapi rumah ini benar-benar berada pada kendali Ikhsan sebagai bapak kepala rumah tangga.
Awalnya semua terasa tidak sulit untuk diatasi, terlebih lagi Yrene sudah tidak bekerja tapi hanya sesekali datang ke pet shop miliknya. Sudah ada beberapa karyawan yang cukup handal, bahkan akhir bulan kemarin Yrene sudah merekrut asisten dan sudah ada plan untuk menjalin kerjasama dengan dengan temannya yang juga dokter hewan untuk membuka praktek di pet shopnya.
Sayangnya, karena kehamilan awal Yrene tampak tidak begitu sehat akhirnya mereka pun sepakat untuk merekrut Mbak Ningsih sebagai pembantu. Mbak Ningsih ini sebenarnya sudah paruh baya namun menolak dipanggil dengan panggilan tua.
Ia dengan sepenuh hati meminta agar dipanggil Mbak Ningsih agar selalu semangat layaknya masih muda.
Ajaibnya, Mbak Ningsih memang terlihat awet muda meski sudah beranak dua dikampungnya.
Mbak Ningsih adalah janda yang ditinggal mati suaminya dan masih semangat mencari duda.
Itu sebabnya pula ia menolak tua.
Ikhsan sering geleng kepala melihat kelakuan Mbak Ningsih.
Ia juga suka menjawab tanpa Ikhsan bertanya layaknya ibu-ibu cerewet pada anaknya yang nakal.
Tapi, Mbak Ningsih ini pilih kasih. Justru kalau sama Yrene perlakuannya layaknya seorang fans pada artis.
Mbak Ningsih juga kerap kali menyuruh Ikhsan bersyukur sudah mendapatkan Yrene sebagai istrinya.
Seolah Yrene terlalu baik untuk dirinya. Hal ini membuat Ikhsan sedikit sebal.
Tapi, untuk orang yang tak mengenal baik kisah antara dirinya dan Yrene itu bukanlah sebuah pendapat yang salah.
Yrene... memang pilihan yang terlalu baik baginya.
Ikhsan membuka pintu kamar dan mendapati istrinya masih menggunakan bath robe sedang mengeringkan rambut dengan hair dryer.
Pantas ia tak mendengar suara Ikhsan tadi, ada bising dari mesin hair dryer.
Ikhsan berjalan perlahan dan memeluk Yrene dari belakang.
"Hi cantik, apa kabar? Gimana si jagoan kita? Aman dia?" pertanyaan Ikhsan itu tentu juga ditujukan pada janin yang Yrene kandung.
"Hi dear, aman kok dia. Aku udah mulai enakan makan. Cuma sikat gigi aja yang masih suka agak mual, hehe" jawab Yrene sambil berbalik menghadap Ikhsan.
Sedetik kemudia Ikhsan malah mencium bibir Yrene.
"Ih yang, belum mandi, belum bersih-bersih, main nyosor aja" tukas Yrene sambil menarik wajahnya.
"Hehe cuma mau mastiin kamu tetep sikat gigi aja kok, yang" jawab Ikhsan sambil terkekeh dan bersiap mandi.
Ikhsan yakin kalau ia menunda mandi dan memilih langsung rebahan, Yrene akan mengomel dan memukulnya dengan bantal.
Saat Ikhsan membuka pintu kamar mandi, ia dapat mencium aroma sabun dan sampo yang sangat menenangkan favorite Yrene.
Sejenak ia membayangkan betapa harum pula tubuh istrinya itu. Cepat ia bergegas mandi untuk bisa puas melepas lelah sambil memeluk Yrene yang harum.
***
Yrene sedang berbaring di ranjang saat Ikhsan telah selesai berpakaian.
Ikhsan mengunci pintu kamar dan berlari kecil menuju tempat tidur.
Segera ia berbaring disamping Yrene dan memeluk kekasihnya itu.
Benar saja, harum Yrene semerbak menenangkan.
Mulai dari aroma segar rambut, leher, dan bahu Yrene. Membuat Ikhsan segera lupa dengan lelah yang ia rasakan.
Ikhsan mencium pipi Yrene dan dibalas dengan tawa.
"Yang, udah jangan dilanjutin. Inget loh, tunda dulu hubungannya sampai trimester awal selesai" tukas Yrene yang masih tersenyum karena geli.
Oh, dia bisa merasakan bagian tubuh bawah suaminya sudah mulai keras dan menegang.
"Ih, kamu mah. Iya aku tahu, biarin aja sih. Ini kan cuma cuddling-cuddling aja" jawab Ikhsan sambil cemberut.
"Loh, aku beneran baik loh ngingetin. Daripada nanti kamunya nanggung!" sekarang malah Yrene benar-benar tertawa.
Ini memang kegiatan yang sangat Yrene sukai.
Ia paham betul Ikhsan sangat suka dengan dirinya saat baru selesai mandi.
Sebab itu pula lah saat ingin menghibur dan menggoda suaminya, saat paling tepat adalah momen pulang kerja seperti ini.
Relaxing aroma yang ia balurkan di seluruh tubuhnya selain menenangkan juga punya efek magis membuat suaminya itu akan menempel sepanjang malam.
"Yang" tegur Yrene setelah beberapa saat mereka berdua hening dalam pelukan yang hangat.
"Nyanyiin aku dong" lanjut Yrene lagi.
"Nyanyiin apa?" tanya Ikhsan tanpa menoleh. Ia masih terpejam menikmati suasana temaram kamar dan lekuk tubuh Yrene dalam pelukannya.
"Apa aja. Yang romantis gitu. Ayo dong" Yrene mengangkat dagu Ikhsan yang masih malas dan terkesan mulai mengantuk.
"Oke. Tapi nanti aku dikasih hadiah ya?"
"Hadiah apa?"
"Yang enak, hehe" tukas Ikhsan sambil beranjak dari tempat tidur untuk mengambil gitarnya.
Ikhsan duduk di jendela yang terkunci, dibaliknya ada semburat oranye sisa tenggelamnya matahari.
Rambut Ikhsan yang belum sepenuhnya kering jatuh disekitar dahinya saat Ikhsan sedikit membungkuk memeriksa senar gitarnya.
Yrene tersenyum, Ikhsan selalu saja menuruti keinginannya.
Membuatnya terus jatuh cinta, lagi dan lagi.
Ikhsan mulai memetik gitar, matanya menatap lembut perempuan yang sedang duduk ditempat tidur.
Ia menarik nafas dan mulai bernyanyi lembut...
"*Hold me like you never could
I'll hold you like I said I would
Air or light won't breathe nor shine between
With your feather lips, yeah you fly away
Well I hope they come back down someday
'Cause nobody's gonna try for you
Nobody's gonna do like I for you
Somebody's getting by for you
I don't bend, I just break in two
Somebody like me I'd die for you"
- I For You by All American Reject*.
Yrene tersenyum lagi, kali ini benar-benar tulus.
Sejak siang tadi hatinya sedikit gundah. Mungkin karena sebuah rahasia kecil di recycle bin laptop lama Ikhsan.
Mungkin juga karena hormon hamilnya.
Perlahan Yrene bangkit dan memeluk Ikhsan.
Pelan, Ikhsan membisikkan lirik terakhir lagu yang tadi ia nyanyikan.
"Somebody like me, I'd die for you" ucap Ikhsan lirih sambil mengecup lembut pipi istrinya.
Yrene mempererat pelukannya, "No, I'd die for you" balasnya lembut.
Halo pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞