
Pagi itu di kantor TechnoMedia Corp tampak sibuk seperti biasanya. Hampir setengah orang disana tidak berada di tempat duduk mereka. Sebagian besar sibuk meliput berita, mondar-mandir, juga berdiskusi di ruang-ruang meeting kaca di sudut gedung. Beberapa anak magang dengan baju putih tampak berdiri disamping meja para mentor, setiap pagi membagi laporan hasil kerja mereka kemarin. Seorang perempuan dalam cubicle kaca dengan blouse biru muda dan rok span hitam sedang memandangi kalender di mejanya. Tepat disamping mejanya, ada table name yang terbuat dari akrilik silver: Kartika Kancanamaya (Chief Editor).
Perempuan itu mengelus lembaran kertas kalender yang tanggalannya sudah ia coret setiap harinya. Sudah tepat 3 minggu berlalu semenjak kejadian sedih beruntun yang ia alami. Berpisah dengan cinta yang ia pendam selama 15 tahun di geladak atas kapal The Cabin, juga kejadian Galang yang mendatangi Yrene dan membuka kisah antara Ikhsan dan dirinya. Maya menghela nafas panjang, mengingat kejadian-kejadian itu sungguh menyesakkan luar biasa.
Maya memutuskan untuk sedikit mnegambil udara segar, mungkin ke area cafetaria yang punya suasana outdoor akan membantu mengembalikan semangatnya. Maya sengaja memanjangkan lehernya untuk mencuri pandang dari jendela luar ke arah dalam kantor sang bos. Tampaknya kursi hitam besar dan nyaman milik sang bos masih dalam posisi lurus tidak berubah, seakan belum di duduki. Maya melirik jam di tangannya dan sudah menunjukkan pukul 10 pagi lewat. Tidak seperti biasanya sang bos telat, bukan?
Di seberang ruangan sang bos, ada Rayyan yang sedang serius menatap laptopnya. Maya menata suaranya sebentar agar terlihat normal.
"Galang mana, Ray? Tumben belum kelihatan?"
Rayyan mengangkat wajahnya dengan kening berkerut, "masa lo gak tau sih?"
Kening Maya juga ikut berkerut mendengar pertanyaan Rayyan barusan. Rayyan lalu melipat tangannya di dada.
"Heran gue, sedekat apa sih sebenarnya kalian?" pertanyaan Rayyan ini hanya dijawab dengan bahu Maya yang terangkat.
Rayyan mendengus, "Please deh, ini ulang tahun Ratri. Udah pasti Galang cuti setengah hari buat nyekar ke makamnya Ratri. Galang's black calendar, remember?"
"Ah, Okay."
"Ada lagi?" tanya Rayyan lekat memperhatikan Maya dengan nada sinis, jelas sekali lelaki ini merasa terganggu fokusnya sebab pertanyaan Maya.
"Nope. Gue mau ke cafe, take some coffee. Ikut?" tanya Maya basa-basi yang hanya direspon Rayyan dengan kembali fokus pada laptopnya. Maya kemudian pergi dari meja Rayyan.
Usai Maya tak terlihat lagi, Rayyan memutar bola mata dan segera mengambil ponselnya. Dengan cepat ia mengetik sebuah pesan dan dikirim melalui sebuah aplikasi chat ke contact bernama Galang.
"Someone is looking for your absence. Cepat balik, atau gue tebak dia bakal bolak balik ngeliat ke dalam ruangan lo."
Seusai mengetik pesan itu, Rayyan tersenyum jahil. Siapa suruh ganggu fokus gue kerja, batinnya.
Maya baru saja akan menerima pesanan kopinya dari barista cafe saat hidungnya begitu gatal dan memancingnya untuk bersin.
"Hatchi!" bersinnya sampai membuat rambut Maya yang tergerai sedikit berantakan.
Maya kemudian memilih duduk di dekat jendela. Ia menyesap kopinya dengan memandangi langit yang cerah hari ini.
Apa yang terjadi pada Yrene saat mendengar kisah antara Ikhsan dan Maya? Sampai saat ini, Maya masih belum berani menghubungi Yrene. Mungkin Galang benar, urusan cinta Ikhsan juga harus menjadi urusan Yrene sebab mereka adalah pasangan suami istri. Tidak seharusnya Ikhsan menduakan hati, dan oleh sebab itu pula Yrene juga harus lebih menjaga hati suaminya.
Sampai saat ini tidak ada terdengar hal yang buruk terjadi dan semuanya terasa normal, baik-baik saja. Maya mengigit bibirnya. Ia sendiri harus menata ulang hatinya. Hati yang sudah porak-poranda juga begitu kosong dan hampa. Saat angin berhembus tipis membelai wajah Maya, gadis itu menutup matanya.
***
Seorang lelaki tegap dengan kacamata hitam dan jaket kulit hitam baru saja menghentikan sedan hitam di areal pemakaman. Ia kemudian turun dengan membawa seikat bunga daisy berwarna putih. Pandangannya tampak lurus ke sebuah makam yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran. Di depan nisan, ia berlutut dan memejamkan mata seraya melangitkan doa.
"Mas Galang!"
Lelaki yang dipanggil itu menolehkan kepalanya pada asal suara. Ia tak melihat seorang pun. Galang lalu membuka kacamata hitamnya. Hampir saja ia tertawa, ia mendapati sebuah kepala muncul dari dalam tanah beberapa meter dari jarak ia berdiri. Suara itu berasal dari Pak Bahri, sang penggali kubur sekaligus orang yang merawat tanaman di areal pemakaman termasuk bunga-bunga di makam Ratri. Kelihatannya, Pak Bahri sudah selesai menggali lubang kubur baru. Ia lalu memanjat naik dan menghampiri Galang.
"Apa kabar, Pak?" tanya Galang. Ia menelan ludah melihat kondisi Pak Bahri. Kulit Pak Bahri hitam legam terbakar panas, namun otot tubuhnya kekar menandakan ia sehat segar bugar. Ditambah dengan peluh dan basahnya kaos serta senyum sumringah Pak Bahri, pria itu justru kelihatan sehat tanpa perlu ditanya.
"Alhamdulillah. Mas Galang sehat?" pertanyaan Pak Bahri disambut senyum dan anggukan oleh Galang. Sedetik kemudian pandangan Pak Bahri sendu menatap nisan Ratri. Tak seperti biasanya, Pak Bahri justru duduk disamping makam Ratri sambil tangannya sigap mencabuti rumput kecil-kecil. Lelaki itu berdehem, seakan ada yang ingin ia sampaikan.
Galang ikut berlutut disamping Pak Bahri. "Ada apa, Pak?"
"Sudah 5 tahun, Mas Galang masih setia mengunjungi makam Mbak Ratri ya." Ucapannya benar-benar menandakan ada sesuatu yang akan ia ungkapkan. Galang semakin penasaran dengan sikap Pak Bahri.
"Mas, jangan takut. Cukup dengarkan saja baik-baik saja ya." Galang langsung mengangguk dengan cepat mendengar kalimat Pak Bahri barusan.
"Sudah beberapa hari yang lalu, saya melihat ada sesuatu di makam Mbak Ratri. Sebenarnya, kalau melihat hal yang seperti 'itu' saya harusnya cuek saja. Tapi hati saya terus terketuk untuk lebih terbuka. Akhirnya sore kemarin saya datangi makam Mbak Ratri secara khusus untuk merapikan bunga-bunga ini," ada hening yang menggantung di antara mereka.
"Malamnya ternyata ada yang 'menempel' di saya. Lalu saya bermimpi, Mas Galang. Tentang Mbak Ratri. Dia sedang duduk disini," tangan Pak Bahri mengelus sisi kanan makam Ratri.
"Dia tersenyum lalu bilang 'Besok pasti Galang kesini, Pak Bahri' lalu juga bilang, 'Dia pasti bawa bunga daisy putih, bunga favorit saya!' begitu kata Mbak Ratri. Dia selalu senang Mas Galang kesini. " Pak Bahri masih belum menoleh ke arah Galang.
"Saya tahu, Pak" ucap Galang lirih.
Pak Bahri tampak ingin melanjutkan kata-katanya. Namun, mendadak tubuh Pak Bahri tampak mengejang dan ia sedikit mengeram.
"Jangan takut, Galang. Ini aku, Ratri."
Galang menelan ludah. Meski ia memahami apa yang terjadi di depan matanya saat ini, ia tetap cukup terkejut harus mengalami hal seperti ini di pagi hari. Angin berdesir lembut, dan Galang mengeraskan rahangnya tanda ia menguatkan diri untuk tidak takut. Sejenak kemudian, Galang menghembuskan nafas sebagai sinyal bahwa ia sudah tenang dan tidak akan lari karena takut pada dia. Dia yang sedang merasuki tubuh Pak Bahri. Ratri.
"I miss you dear," bisik Galang pelan. Ada rasa khawatir juga jika percakapannya didengar oleh orang yang tak memahami situasi ini. Bisa-bisa Galang dikira sedang menyatakan cinta pada Pak Bahri yang sudah berusia 50 tahun.
Pak Bahri tersenyum tanda bahwa Ratri juga tersenyum.
"It's been five years, Mas. Kamu sudah begitu baik dan setia menyapaku. Sudah cukup kamu menyimpan aku di hatimu. Sudah waktunya kamu melepasku. Mari berdamai dengan kisah sedih cinta kita, Mas. Sudah cukup. Aku tak sanggup melihatmu selalu muram dan memendam perasaan bersalah dalam hati terus menerus." Ratri kemudian diam sejenak.
"Terimakasih sudah merawat makamku dengan baik, kamu dan Pak Bahri. Bunga-bunga yang bermekaran dan doa-doamu yang indah itu membuatku tenang disini, Mas. Pergilah dan lepaskan aku dari relung hatimu. Jangan simpan penyesalan tentangku lagi, Mas. Kamu berhak bahagia dengan mimpi-mimpimu. Jangan terus menghukum dirimu seperti itu. Maafkan lah aku, maafkan kisah kita, maafkan lah dirimu."
Galang menggigit bibirnya, menahan isak yang tertahan di tenggorokannya. "Ratri," lirihnya.
Ratri didalam tubuh Pak Bahri itu menundukkan kepalanya. "Kamu juga harus melepaskan diri dari semua tentangku dan kisah kita. Foto di samping tempat tidurmu, juga cincin yang selalu kamu jaga dan kalungkan itu... lepaskan lah," ucap Ratri. Ada air mata yang mengalir dari pipi Pak Bahri.
"Aku sudah bahagia dengan semua yang pernah kamu berikan. Jadi, Mas Galang..., tolong berbahagialah. Berbahagialah, jangan lagi sedih karena aku dan kisah kita dulu. Aku pamit, Mas. Terimkasih atas semua cinta yang kamu selalu tunjukkan. Jangan sia-siakan rasa sayang dan cinta yang kamu miliki pada gadis yang sudah mati. Berikanlah itu pada seseorang yang hidup, Mas. Sayonara." Dan tubuh Pak Bahri ambruk, dengan sigap Galang menopang bahu dan punggung Pak Bahri agar tak jatuh berdebam di tanah.
"Astagfirullah," sahut Pak Bahri terkejut dengan posisinya yang ditopang Galang.
Pak Bahri lalu mendadak menepuk pipinya yang basah. "Ss-saya kok nangis, ya Mas?"
Galang tersenyum dengan mata sembab. "Tadi Mbak Ratri titip pesan haru melalui bapak, saya dan Pak Bahri sampai terharu begini, " jelas Galang pada Pak Bahri. Ia sengaja sedikit mengaburkan informasi agar terdengar masuk akal. Mendengar ini, Pak Bahri tampak terima-terima saja.
Galang kemudian seakan teringat sesuatu dan segera mengajak Pak Bahri berjalan menjauhi Makam Ratri.
"Sudah selesai nyekarnya ya, Mas Galang?" tanya Pak Bahri bingung sekarang tiba-tiba dirangkul oleh Galang.
"Pak, apa kabar anak dan istri bapak? Apakah sehat?"
Pak Bahri menjawab meski merasa aneh ditanyai seperti itu, "Baik Mas. Alhamdulillah anak saya yang paling besar sudah tamat SMA dan akan masuk kuliah. Sudah diterima di PTN dengan beasiswa. Ini sekeluarga lagi bantu istri buat jual gorengan untuk nambah-nambah bekal kuliah si Abang."
"Si Adek?" tanya Galang. Setahu Galang, anak Pak Bahri ada 2 saja.
Pak Bahri mendadak berekspresi kaku, ada air mata menggenang di matanya. "Sudah meninggal 6 bulan yang lalu, Mas. Ada tumor di otak. Tabungan saya ludes untuk pengobatan. Tapi saya ikhlas karena itulah bentuk perjuangan terakhir saya menyelamatkan dia. Allah berkehendak lain." Pak Bahri kini tertunduk sedih, ia sebenarnya malu harus terlihat lemah di depan Galang. Takut dikira sedang mengemis dengan kisah sendunya.
Galang kemudian menoleh pada makam Ratri. Ia langsung paham apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi keinginan Ratri juga. Galang lalu meraba lehernya dan melepas kalung juga cincin yang menggantung di dadanya.
"Pak, ini ada milik saya yang berharga. Tapi sudah tidak boleh lagi saya simpan. Jual lah untuk keperluan kuliah dan kebutuhan bapak. Tolong, tolong jangan di tolak Pak. Menerima ini akan membuat saya bahagia sekali." Galang kemudian menyerahkan cincin dan kalung itu ke telapak tangan Pak Bahri.
Tentu saja Pak Bahri terkejut, barang yang ada di tangannya itu terlihat sangat mahal. Tapi entah kenapa hatinya berkehendak untuk menerima pemberian Galang. Ia kemudian menggenggam cincin dan gelang itu lalu tersenyum pada Galang.
"Terimakasih," ucap Pak Bahri haru.
"Terimakasih," sahut Galang pula.
Galang lalu berpamitan pada Pak Bahri. Sebelum pergi ia menitip pesan untuk selalu menjaga makam dan bunga-bunga di makam Ratri. Tentu Pak Bahri akan melakukan itu dengan senang hati untuk orang sebaik dan sedermawan Galang.
Entah karena baru saja melihat ekspresi bahagia Pak Bahri atau karena kalung dan cincin dari lehernya baru saja di lepas, Galang merasa tubuhnya sangat ringan. Udara yang ia hirup rasanya begitu segar memenuhi seluruh rongga dadanya.
"Ratri, kamu benar. Aku juga harus berbahagia dengan seseorang yang hidup," bisik Galang pada dirinya sendiri.
Galang kemudian memasuki mobilnya dan bersiap untuk menghidupkan mesin mobil saat tiba-tiba ponselnya memunculkan sebuah chat dari Rayyan.
"Someone is looking for your absence. Cepat balik, atau gue tebak dia bakal bolak balik ngeliat ke dalam ruangan lo."
Tersenyum membaca pesan dari Rayyan, Galang lalu memacu mobilnya menuju kantor. Audi hitam itu melesat cepat seolah seirama dengan suasana hatinya yang terasa begitu ringan.
Melepas bayangnya hari ini terasa mudah sebab mungkin, memang inilah waktu yang tepat. Selamat tinggal, Ratri. Aku akan menjemput kebahagianku, gumamnya.
***
Halo pembaca yang baik!
Tinggalkan like dan komentar serta jangan lupa untuk vote karya author ya!
Dukunganmu akan selalu sangat berarti ;)
Kiss.
-Author