The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Do I deserve you?



Di sebuah taman bermain, seorang bocah lelaki yang berumur kisaran 5 tahun sedang sibuk bermain sendirian. Ia berlari dengan girang seolah dikejar oleh bayangannya sendiri. Tawanya tergelak nyaring mewarnai taman yang sepi itu. Tiba-tiba anak itu terjatuh, ia kemudian membersihkan lututnya yang tidak berdarah dan bangkit kembali untuk berlari lagi. Puas ia bermain, ia berjalan menuju sang Ibu. Peluh di wajahnya mengesankan bahwa bocah ini sudah lelah bermain.


"Mom?" tegur Sang Anak pada ibunya yang terlihat sedang memandangi arah kedatangan pintu taman dengan kosong.


"Mom!" sekali lagi bocah lelaki itu mencoba mengguncangkan tubuh ibunya.


Perempuan yang dipanggil Ibu itu akhirnya mengerjapkan matanya beberapa kali agar tersadar dari lamunannya. Ia mendapati bocah lelakinya sedang menatap dengan alis berkerut.


Tangan Sang Ibu mengelus dengan lembut peluh di kening bocah itu, "Yes, dear? Sudah cape? Kita pulang yuk?"


Bocah itu tampak senang, ia mengangguk dengan keras. Ia juga membantu ibunya membereskan tas yang mereka bawa. Sepasang anak dan ibu itu kemudian beranjak pergi dari taman sambil bergandengan tangan.


Tiba-tiba langkah sang anak terhenti, ia menarik tangan ibunya seolah memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Saat si ibu menoleh, bocah itu merentangkan tangannya dengan raut wajah manja. Ia minta digendong rupanya. Sang Ibu tersenyum dan segera mengangkat tubuh anaknya.


Hup! Dan bocah itu sudah memeluk erat leher ibunya.


Bocah itu tersenyum dengan lesung pipi yang dalam mencium aroma wangi tubuh ibunya. Ia menyingkap lembut rambut sang Ibu sehingga telinga Ibunya terbebas dari rambut.


Bocah lelaki itu kemudian berbisik, "Mom, besok kita tidak usah ke taman ini lagi ya. Daddy sudah lama tidak pulang. Daddy tidak akan mendatangi kita lagi, Mom. Daddy sudah pindah rumah. Ian sudah tidak mau lagi ke taman ini, kita bermain di rumah saja."


***


"Yang? Sayang? Bangun!" Ikhsan menggoyangkan bahu Yrene berharap istrinya akan segera sadar dari mimpi buruk yang membuat perempuan bertubuh kurus itu berteriak dan menangis.


Ikhsan kemudian mengangkat tubuh istrinya dengan payah lalu memeluknya erat. Ia menciumi pucuk kepala dan mengelus rambut Yrene. Selang beberapa waktu, terdengar helaan nafas panjang dari istrinya. Menandakan bahwa istrinya sudah sadar dan lebih tenang.


Ini sudah hari ke 3 Ikhsan mengambil cuti dengan niat untuk menghabiskan waktu bersama Yrene. Bayinya sudah ia ungsikan ke kamar sebelah dan terus dipantau oleh suster Mira. Ikhsan benar-benar akan mencoba apapun yang ia bisa demi membantu Yrene pulih dari Syndrome Baby Blues ini.


Sambil terus memeluk dari belakang dan mengecupi kening samping istrinya, Ikhsan berbisik.


"Sayang, kita mandi bareng yuk? Aku udah nyiapin air hangat di bathtub," ucap Ikhsan. Tangannya menghapus bekas air mata dari pipi istrinya. Tanpa menunggu jawaban, Ikhsan membopong tubuh Yrene ke kamar mandi dan mendudukkannya di tepi bathtub.


Perlahan, Ikhsan melucuti baju istrinya dan menggendongnya untuk kemudian dia dudukkan di dalam bathtub yang sudah Ikhsan isi dengan air hangat dan potongan bunga. Ia dengan sigap menyalakan sebuah lilin aromaterapi yang dengan cepat membuat suasana di kamar mandi sungguh menenangkan layaknya berada di spa. Ikhsan duduk dibelakang istrinya. Ia lalu memeluk dan menciumi bahu Yrene. Jemari Ikhsan pelan memijat bahu dan leher Yrene dengan bath cream aroma jasmine favorit istrinya itu.


Setelah memijat, Ikhsan memandikan Yrene. Wajah Yrene masih tanpa eksresi, tetapi hal ini tidak membuat Ikhsan menyerah. Setelah bersih, Ikhsan masih ingin berendam lebih lama bersama istrinya itu. Sambil meletakkan dagu di bahu Yrene, Ikhsan membisikkan kata-kata yang menyenangkan. Kata-kata cinta, mimpi-mimpi mereka, rahasia yang hanya mereka berdua saja yang tahu serta mengulang obrolan-obrolan yang pernah mereka utarakan tentang anak mereka saat Yrene masih mengandung Ianvs.


"Yang, hari ini kita jalan-jalan ke taman kompleks ya. Kita juga ajak Ian pakai stroller. Terus, aku juga udah telfon temenku yang biasa melakukan photo shoot untuk bayi dan keluarga. Kita sekalian photo shoot disana ya," ucap Ikhsan sambil terus memeluk istrinya.


Manik mata Yrene bergerak-gerak kembali ke titik fokus. Mendengar ajakan Ikhsan untuk pergi ke taman mengingatkan Yrene kembali mimpi buruknya pagi ini. Ia kemudian membalikkan badan dan menatap wajah suaminya dalam-dalam.


Pandangan Yrene menjadi sendu dan dengan suara pelan ia berkata, "I love you. You never know how much I love you, dear."


Ikhsan tersenyum lebar, akhirnya ia mendapatkan kesadaran istrinya kembali. Dalam hati, ia memotivasi dirinya untuk tidak pernah menyerah membantu kepulihan Yrene.


Sambil mengusap pipi Yrene, Ikhsan membalas "I love you too. I love you more than I love my self. I love you and I'd die for you."


***


Suster Mira sibuk mengipasi dirinya. Sudah lebih dari 30 menit ia duduk di teras rumah menjaga Baby Ianvs yang sedang berjemur dibawah atap teras. Ikhsan dan Yrene juga berada disana. Mereka tampak sedang menunggu seseorang.


"Dih, mana sih nih orang! DP udah masuk juga, malah gak bisa dihubungi!" keluh Ikhsan sambil mencoba menelepon kembali nomor rekan photographer yang tadi ia sebutkan pada Yrene.


Baby Ianvs yang kelihatannya sudah bosan berada di luar mulai merengek. Dengan sebuah anggukan Yrene, Suster Mira paham bahwa ini adalah jam menyusui. Ia mendorong stroller Ian untuk masuk dan menyusu asi perah yang sudah disiapkan oleh Yrene.


"Mungkin dia sibuk kali, Yang? Gausah aja kah?" tanya Yrene sambil melepas sepatu.


Alih-alih menjawab, Ikhan justru berlutut didepan Yrene yang sedang duduk di kursi teras. Tangannya memasangkan kembali sepatu Yrene yang baru dilepas itu.


Pertanyaan Ikhsan justru membuat pandangan Yrene nanar. Ya, Yrene justru kembali teringat dengan perkataan seorang laki-laki yang bernama Galang di rumah sakit saat ia baru saja melahirkan.


Pria itu bilang, "Coba tanyain suami kamu, kenapa ia berhenti memotret? Sebab kamu tahu, Ia selalu berharap melihat Maya di lensa kameranya dan itu membuat dia merasa sedih."


Ikhsan mendapati Yrene terdiam. Khawatir, ia menegur istrinya. "Yang?"


Yrene tersadar. Ia menelan air ludahnya lalu memberanikan diri bertanya, "Udah lama kamu ga motret, kan?"


"Iya sih," kata Ikhsan Ia beranjak berdiri. Ia kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pocket kamera.


Kembali berlutut agar wajah Yrene tidak mendongak menatap dirinya, Ikhsan menunjukkan kamera yang ia pegang.


Ada senyum merekah di wajah Ikhsan. "Ini," katanya sambil menghidupkan kamera. Mata pria ini seperti berbinar kembali memegang benda yang dulu pernah jadi barang favoritnya.


"Aku beli kamera ini dari senior di kantor  yang juga hobi photography minggu lalu. Pocket camera mirorless. Mulai sekarang, aku mau rutin foto perkembangan Ian dan keluarga kecil kita pakai ini. Fiturnya canggih tapi penggunaannya cukup mudah. Kamu juga senang dengan album foto, kan? Kita sama-sama rajin mendokumentasikan Ian ya?" ucap Ikhsan sambil mengelus punggung tangan Yrene.


"Nah, kalau kamu setuju aku yang foto, yuk kita berangkat! Sinar matahari paginya juga masih bagus kan buat Ian berjemur?" tanya Ikhsan. Tanpa menunggu jawaban istrinya, Ia menjulurkan kepala memanggil suster Mira.


"Sus, ayo bawa Ian! Kita berangkat!" perintah Ikhsan.


***


Rencana Ikhsan hari ini berjalan mulus. Selain ia bisa membuat Yrene tertawa senang, ia juga dapat bonus hasil-hasil foto yang ternyata sangat bagus. Diam-diam ia memuji bakatnya yang ternyata masih belum pudar. Usai memindahkan semua file foto dari memori kamera ke laptop, Ikhsan bersiap menuju ruang makan untuk menyantap makan siang. Ia sudah sangat lapar sedari tadi.


Betapa terkejutnya Ikhsan saat mendapati Yrene sudah ada disana. Biasanya, Ikhsan akan makan sendirian terlebih dahulu lalu akan bersusah payah menyuapi Yrene di tempat tidur. Rasa senang membuncah di hati Ikhsan melihat nafsu makan istrinya akhirnya kembali setelah berminggu-minggu hilang menguap entah kemana.


"Aku senang banget kamu udah mau makan gini, Yang!" Ikhsan berlari memeluk Yrene yang tengah duduk di kursi meja makan dengan gemas.


Yrene hanya tertawa mendapati suaminya begitu senang hanya karena ia duduk di kursi meja makan.


Pandangan Ikhsan teralihkan pada lauk yang tertata di meja makan. Menu makanan kali ini sengaja ia pesan dari Rumah Makan Padang favorit mereka saat pacaran dulu. Setiap hari Ikhsan berusaha memesan makan siang yang dapat membangkitkan memori menyenangkan agar Yrene mau makan.


"Karena menu makanan kali ini masakan padang, enakan makannya pakai tangan nih!" Ikhsan menyisihkan sendok dan garpu disamping piring yang telah disiapkan oleh Mbak Ningsih, asisten rumah tangga mereka.


"Aku suapin ya! Aku suapin dengan suapan yang besar-besar! Biar kamu makannya banyak, Yang! Biar asi nya banyak trus Ianvs jadi tembem, pasti lucu deh kalau Ian tembem!" Ikhsan terkekeh sendiri membayangkan pipi anaknya akan menjadi tebal membulat. Sambil mengambil nasi dan lauk di piring, Ikhsan bersiul riang.


Yrene tersenyum. Pilihannya untuk terus percaya pada Ikhsan sepertinya tidak salah. Apa yang telah Ikhsan perjuangkan untuk menyelamatkan Yrene dari keterpurukan secara konsisten membuktikan bahwa ia adalah pria yang baik dan bertanggungjawab.


Yrene menggigit bibirnya dan membatin, "Kamu pria yang begitu baik, Sayang. Kamu sudah membuktikan kesungguhanmu mencintai dan merawatku sepenuh hati. Sekarang pertanyaanku justru berubah, Ikhsan. Apakah aku pantas menerima cinta dan memiliki hatimu? Tell me, do I deserve you, dear?"


***


Halo pembaca yang baik!


Terimakasih sudah selalu hadir ya menantikan kisah ini ya.


Mohon dukungannya untuk selalu meninggalkan kesan kalian pada episode ini di kolom komentar :D


Jangan lupa like dan vote nya ya!


Arigatou gozaimasu!


Kiss.


-Author