
"Yrene, maaf kan saya. Tapi saya harus menyelesaikan misi saya hari ini" Pria yang memperkenakan diri dengan nama Galang itu tampak menelan ludah dengan ekspresi wajah yang serius dan kaku.
Yrene mengangguk, memberi sinyal mempersilahkan Galang untuk berjalan lebih dekat dan duduk di sofa tamu.
"Saya adalah pemilik perusahaan yang memesan jasa konsultasi dari team konsultan IT yang dipimpin oleh suami anda, Ikhsan.
Tentu anda tahu bahwa 3 hari yang lalu Ikhsan pergi untuk business trip.
Benar, Ikhsan mendatangi perusahaan saya dengan 2 temannya dan berhasil melakukan deal project." Terdiam sejenak, Galang lalu melanjutkan.
"Saya juga memiliki karyawan yang sudah saya anggap teman dekat, yang juga anda kenali sebagai sahabat anda sendiri, Kartika Kancanamaya."
Jantung Yrene mencelos mendengar Galang mengucapkan nama Maya ditengah pembahasan tentang suaminya.
"Saya tahu, sebagai seorang istri anda sangat mengenali suami anda. Saya justru tidak berhak menilai ataupun menghakimi anda.
Tapi saya juga yakin, ada hal yang anda ketahui antara Ikhsan dan Maya."
Yrene menutup mata dan berusaha mengatur nafasnya.
"Bisakah anda, meletakkan bayi anda dulu ke tempat tidurnya?" tanya Galang dengan sopan.
Yrene menurut saja, sekujur tubuhnya mulai dingin dan gemetaran. Permintaan Galang masuk akal.
Akan berbahaya jika Yrene tak mampu mendekap bayinya lalu terjatuh.
Setelah meletakkan bayinya, Yrene menatap Galang dengan nanar.
"Apakah suamiku menjadi tokoh jahat dalam cerita yang akan anda sampaikan?" tanya Yrene, ada nada dingin dalam suaranya.
Merasakan nada dingin dari Yrene, Galang mampu melihat dinding tak kasat mata yang di bangun oleh Yrene.
Dinding ini adalah rasa percaya Yrene sebagai seorang istri yang membela harkat suaminya.
Dalam hati, Galang mengakui bahwa Yrene bukan lah perempuan biasa yang gampang tersulut amarah jika mendengar isu tentang suaminya.
Galang terdiam sebentar dan menjawab, "bukan, tetapi..."
Galang segera mengganti skenario dalam otaknya.
Tadinya, ia berencana akan meluapkan amarahnya terhadap Ikhsan dengan membabi buta menceritakan semua yang ia tahu.
Tetapi mendapati reaksi Yrene yang tak terduga, amarah Galang dalam sekejap runtuh.
Lagi-lagi ia teringat Ratri. Perempuan-perempuan ini, sungguh mempunyai cinta dan hati yang besar.
"Tetapi anda berhak tahu apa yang terjadi antara suami anda dengan Maya, teman saya yang juga sahabat anda" sambung Galang.
Yrene memicingkan matanya, "Ceritakan lah. Saya yakin, seberapa baik anda mengenal Maya dan suami saya, saya jauh lebih kenal baik mereka berdua."
Dan tembok dari Yrene itu menekan amarah Galang menjadi kecil.
Detik berikutnya, Galang memutuskan hanya menceritakan yang ia anggap hak Yrene sebagai istri untuk mengetahui kisah antara suaminya dan Maya.
Sekaligus menekankan bahwa Ikhsan sudah melewati batas dengan mengatakan perasaan cinta pada Maya.
***
Di ruangan rawat inap Yrene, ada sunyi yang menggantung di langit-langit.
Hanya terdengar suara dari mesin monitor di samping tempat tidurnya dan suara detik dari jam dinding.
Yrene terpaku menatap ujung kakinya yang tertutup selimut.
Seluruh tubuhnya belum ada yang pulih, termasuk otot-otot kakinya yang ikut mengejang saat melahirkan kemarin malam.
Sekarang pun, iya tidak mampu berteriak ataupun marah.
Ia hanya mampu mendengarkan keseluruhan cerita dari pria yang bernama Galang tadi.
Meski tidak dengan suara besar ataupun kasar, Yrene sudah mengusir Galang.
Di dalam hati Yrene berkecamuk antara marah pada apa-apa yang terucap dari mulut Galang.
Atau marah pada Galang sendiri. Pria terhormat sepertinya tidak seharusnya mendatangi seorang ibu yang baru saja melahirkan dan membeberkan fakta tentang suaminya yang mencintai wanita lain.
Tapi, cepat atau lambat Yrene butuh tau juga tentang fakta itu.
Tiba-tiba Yrene ingat nasehat ibunya di malam setelah Ikhsan dan keluarganya datang untuk melamar Yrene.
"*Mama cuma mau bilang, menikah itu bukan lah yang mudah.
Ada kalanya terasa seperti menjadi babu yang terus menerus melayani dan mengurusi keluarga setiap hari.
Terkadang ada hari terasa seperti gagal dan menyesali hari dimana kita memutuskan untuk menyerahkan hidup kita pada pernikahan ini.
Tapi ingat, begitu menikah ada gelar agung nan suci yang kamu miliki.
Seorang istri. Nantinya, menjadi seorang Ibu.
Tidak setiap orang punya kesempatan menjadi seorang istri, juga seorang ibu.
Itu adalah gelar yang merupakan anugerah. Hanya keputusan mutlak tuhan yang bisa membuat itu semua terjadi.
Menjadi istri melalui pernikahan dengan jodoh yang di ridhoi tuhan, juga menjadi Ibu yang memiliki anakpun adalah hak dan keputusan tuhan.
Yrene sayang, apapun nanti ujian yang kamu hadapi...
Usahakan lah apa-apa yang menurutmu akan membahagiakan kamu dan keluargamu.
Jangan menyerah... Jangan pernah menyerah*..."
Air mata Yrene meleleh dan terasa panas di pipinya.
Ia mengigit bibirnya agar tangisnya tak pecah.
Sebagai seoarang ibu baru, ia harus mampu mengolah stres. Jika tidak, ia bisa terjerumus pada baby blues syndrome yang tidak hanya membahayakan dirinya tapi juga bayinya.
Baby blues syndrome sangat merugikan karena dapat membuat kacau perasaan ibu juga menurunkan tingkat produksi asi.
Sementara, bayi nya yang baru lahir sangat membutuhkan asi agar dapat bertahan hidup dengan baik di hari-hari pertama kehidupan.
"Wah, luar biasa. Walaupun baru beberapa jam menjadi seorang ibu, aku sudah menempatkan kepentingan bayiku diatas perasaanku.
Luar biasa ya naluri seorang ibu itu" gumam Yrene sambil tersenyum getir.
Tangan Yrene segera menghapus air matanya, dengar gemetar ia menekan tombol di layar ponselnya.
Layar menunjukkan panggilan pada My Dear Husband, Ikhsan.
"Halo, Yang. Kamu dimana?" tanya Yrene sambil menahan getar di suaranya.
"Ini di depan pintu, hehe" Ikhsan membuka pintu perlahan dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
Tangan Ikhsan tampak sedikit kerepotan membawa sebuah plastik dan mi instan dalam cup yang sudah diseduh air panas.
Asap dari cup mi instan itu mengebul serta baunya langsung menyeruak ke seluruh ruangan.
Ikhsan kemudian meletakkan barang yang ia bawa dan segera duduk di samping tempat tidur istrinya.
"Aku suapin ya, Ibu Yrene" goda Ikhsan sambil menyuapkan Yrene kuah mi instan.
Yrene menatap mi instan yang ada di depan matanya, kemudian bola matanya perlahan naik menatap wajah dan mata Ikhsan.
Suaminya ini sudah semalaman tidak tidur semenjak pulang dari business trip kemarin.
Yrene tidak dapat membayangkan bagaimana rasa lelah yang Ikhsan tanggung.
"Yang, kok bengong? Katanya pengen banget makan mi instan?
Ikhsan lalu meletakkan cup mi instan dan menunduk untuk mencari rasa lain dari beberapa mi instan yang tadi ia beli.
"Yang.." ucap Yrene lemah. Perlahan tangannya menyentuh dan menyisir lembut rambut Ikhsan yang sedang menunduk.
"Kamu pasti cape banget ya dari semalem belum bisa tidur dengan cukup, ngurusin aku dan bayi kita"
Ikhsan duduk tegak kembali dan menghela nafas, "Aku akan cape banget kalau tau ibu dari anakku belum mau makan juga"
"Aku tadi udah di suapin paksa sama Virsa, dikit sih tapi lumayan juga yang aku makan" Yrene menatap Ikhsan yang mulai tersenyum.
"Tapi aku tetep mau kok disupin mi instan nya" ucap Yrene lagi dengan pandangan teduh.
"Gitu dong" Ikhsan dengan sumringah bersiap untuk menyuapi Yrene.
Selama disuapi oleh Ikhsan, Yrene memaksa memorinya mencari-cari alasan untuk kembali kuat dari suara-suara kecewa jauh di lubuk hatinya.
Ia menggali lagi kisah lama dalam ingatannya tentang rasa cinta pada suaminya itu.
Perlahan, semua kisah-kisah terulang dipikirannya. Silih berganti.
Yrene menutup mata, menahan bulir air mata yang akan terjatuh.
Betapa ia ingin percaya pada cinta pertamanya ini.
Betapa ia ingin terus mencintai suaminya saat ini sama seperti hari-hari sebelum ia mendengar perkataan Galang.
Betapa ia ingin berusaha sabar, sampai suatu saat Ikhsan sendiri yang membuka rahasianya.
Menceritakan semua yang Ikhsan pendam dan mempercayakan semua lukanya pada Yrene.
Mempercayai bahwa cinta Yrene sepenuhnya akan menguatkan Ikhsan kembali dari patah hatinya dari Maya.
Oh, perasaan ini begitu menyesakkan dada Yrene.
Betapa Yrene ingin ia diberi kekuatan untuk terus dapat sabar menumbuhkan dan menjaga cinta diantara dirinya dan Ikhsan.
"Yang, kok kamu nangis?" Ikhsan terlihat bingung mendapati wajah Yrene yang memerah dan mulai meneteskan air mata.
"Seterharu itu ya bisa makan mi instan?" tanya nya lagi.
Yrene menggeleng, ia menghapus air yang mengalir dari mata dan hidungnya.
Sambil sesengrukan, ia mengatakan "Aku gak nyangka, anak SMP tengil yang rela digebukin senior MOS karena melindungi aku dulu sekarang nyuapin aku sebagai ayah dari anakku."
Ikhsan sontak mendengus dan tertawa.
"Kok kamu bisa sih inget-inget kisah itu? Aduh! Malu banget tau ga?" tukas Ikhsan sambil memalingkan wajahnya yang juga mulai memerah. Kejadian masa kecil itu tentu saja membuatnya malu jika dingat-ingat.
"Mana kamu disitu jelek banget lagi, untung sekarang udah lumayan lah.
Ian sekarang ga bakal malu, tahu kalau kamu itu bapaknya" ujar Yrene masih sambil menangis sekaligus tersenyum.
"Kahfi Ianvs Al-Hakim harus bangga punya Ayah seperti aku, Yang.
I will fight for you and him, no matter what the world will throw." Ikhsan tidak mengerti tapi entah kenapa ada perasaan haru saat ia mengucapkan kalimatnya.
"I won't give up on you neither him or our family.
So please don't give up on me" ucap Ikhsan lagi sambil menggenggam erat tangan Yrene lalu menciumnya.
Meski masih merasakan pahit dari cerita Galang, Yrene tersenyum. Ikhsan telah memilih untuk kembali pada Yrene dan itu sudah cukup baginya. Dengan lemah, ia balas menggenggam tangan Ikhsan.
"I won't give up on you too" bisik Yrene.
***
Dengerin lagu dibawah ini di ytube atau playlist favorit kamu supaya tambah larut dalam kisah kali ini ya 💞
Soundtrack of this episode:
"I will fight, I will fight for you
I always do, until my heart is black and blue
I will stay, I will stay with you
We'll make it to the other side, like lovers do
I'll reach my hands out, In the dark and wait for yours to interlock
I'll wait for you, I'll wait for you
Cuz' I'm not givin' up, I'm not givin' up, givin' up, no not yet
Even when I'm down to my last breath
Even when they say there's nothing's left
So don't give up on..
I'm not givin' up, I'm not givin' up, givin' up, no not me
Even when nobody else believes
I'm not goin down that easily
So don't give up on me
And I will hold, I'll hold onto you
No matter what this world will throw, it won't shake me loose
I'll reach my hands out, In the dark and wait for yours to interlock
I'll wait for you, I'll wait for you
Cuz' I'm not givin' up, I'm not givin' up, givin' up, no not yet
Even when I'm down to my last breath
Even when they say there's nothing's left
So don't give up on..
I'm not givin' up, I'm not givin' up, givin' up, no not me
Even when nobody else believes
I'm not goin down that easily
So don't give up on me
I will fight, I will fight for you
I always do until my heart is black and blue"
Don't Give Up On Me - Andy Grammar
***
**Hi pembaca yang baik 🙋
Jangan lupa untuk like, vote dan berikan komentar kesan kamu pada episode kali ini ya.
Semuanya akan menjadi dukungan yang sangat berarti bagi author. Terimakasih 💞**