The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Suffocating



Di sebuah restaurant outdoor yang juga merupakan fasilitas dari arena Paintball, kerumunan dari para karyawan TenchoMedia Corp. tampak akrab bersenda gurau. Beberapa dari mereka sibuk memanggang daging, sosis, jagung dan beberapa makanan sementara yang lain berpencar untuk sekedar menimati makanan atau mengobrol. Sejenak kemudian, beberapa pasang mata tampak menatap lurus ke arah gate masuk restaurant dan membuat semua mata ikut terpancing melihat ke arah yang sama.


Ah, pasangan drama favorit kantor sudah memasuki arena restaurant.


Galang dan Maya tampak akrab berjalan memasuki restaurant. Mereka tampaknya masih membicarakan alur permainan tadi. Bagi Maya, sungguh menarik untuk memahami strategi yang mereka lakukan pada saat bertarung di permainan Paintball. Sebab, dari sana sangat terlihat mana orang-orang yang ambisius, penuh perhitungan, juga orang-orang yang mampu bertahan.


Mendapati dirinya dianalisis oleh Galang, Maya serius mendengarkan.


"Gue sih udah nebak pasti akan cukup sulit menjadikan lo target. Lo pasti akan bertahan sekuat tenaga di tempat persembunyian yang menurut lo aman. So typical of you! Tapi yang gak gue duga, you are the last one, May!" celoteh Galang sambil memperhatikan menu makanan yang sudah siap makan dimeja.


Maya tersenyum, ia tahu itu pujian dari Galang. Tetapi ia juga tak menduga bahwa Galang dapat menebak apa yang Maya akan lakukan dalam permainan. Maya pikir yang ia lakukan hanyalah mengamati jalan permainan dan membaca strategi semua orang, ia bahkan baru saja tersadar bahwa yang ia lakukan adalah bersembunyi sepanjang permainan walau ia memang berusaha membidik dan menembak lawan diam-diam sesekali.


Galang mengambilkan dua buah cola dingin dan memberikan satu pada Maya. Segera gadis itu membuka tutup kaleng dan menenggak cola dingin. Rasa segar segera menjalari kerongkongannya. Ia baru sadar betapa haus dirinya. Ia kembali bersiap menenggak colanya.


Mendadak Galang menghadapkan tubuhnya pada Maya, mengatur wajah dan membuka mulutnya,"Listen, I know that you have marked all the dates in your calendar. Lo mau ngapain di akhir bulan ini dengan pengajuan cuti lo? Apa ini ada hubungannya dengan Yrene dan Ikhsan lagi?"


Hampir tersedak, Maya memaksa menelan dengan kasar air cola di tenggorokannya.


Memperhatikan dengan jelas air muka Maya berubah, Galang sadar bahwa tebakannya benar. Ia segera menggiring Maya ke tempat yang nyaman untuk diajak bicara.


"Gue janji akhir bulan ini akan menjenguk Yrene dan bayinya. Itu gue sampaikan sebelum gue tahu lo bicara ke Yrene soal Ikhsan. Yah, gue yakin gue juga akan harus menjelaskan hal ini pada Yrene, kan?" Entah kenapa Maya merasa tak ada lagi hal yang perlu ia sembunyikan dari Galang. Semua rahasia dan masalanya justru sedang ditelaah oleh Galang dan bahkan pria ini berusaha membantu Maya menyelesaikan polemik ini.


Tanpa memperdulikan tatapan penasaran para karyawan, Galang menyentuh dagu Maya yang sedikit menunduk.


"I will go with you, okay?!" ucap Galang dengan senyumnya.


***


Suasana di rumah milik Ikhsan tampak lengang. Ikhsan baru saja pulang dari lembur kerja. Meski lelah, ia sangat bersemangat untuk menatap bocah kecil yang saat ini sudah pasti sedang tertidur dengan gemasnya di baby box.


Ikhsan membuka perlahan kenop pintu, segera meletakkan semua perangkat yang ia bawa dan masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Keluar dari kamar mandi, ia berjalan pelan menghampiri tempat tidur. Yrene tampak begitu lelah sedang tertidur, berat badan Yrene bahkan sudah drastis turun kembali langsing seperti sebelum hamil.


Seperti kebiasaannya, ia mengecup lembut kening Yrene dan mengucapkan, "Yang, I'm home."


Tidak ada reaksi dari Yrene, Ikhsan menduga Yrene sudah terlelap. Ia lalu beranjak menghampiri baby box disebelah tempat tidurnya. Sedikit terkejut, ternyata sang bayi sedang membuka matanya. Seolah sadar akan kehadiran sang Ayah.


Baby Ianvs mengerjapkan matanya beberapa kali, Ikhsan tidak tahan untuk tidak menggendong anaknya yang menggemaskan itu. Pelan, ia mengangkat bayinya. Menimang dan menyenandungkan lantunan suara yang lembut. Ia meletakkan Ianvs di dadanya sambil mengelus punggung bayi mungil itu. Ajaib, dalam beberapa menit saja sang anak sudah kembali terlelap. Ikhsan kemudian meletakkan anaknya dengan hati-hati lalu mengecup kening Ianvs sebelum menyelimutinya.


Saat Ikhsan berdiri tegak kembali, ia terkejut mendapati bahwa Yrene sudah tidak ada di tempat tidur. Asik menimang Ianvs, ia tak menyadari kepergian Yrene. Kepala Ikhsan menjulur untuk melihat lampu kamar mandi apakah menyala atau tidak, siapa tahu Yrene disana. Tetapi, lampu kamar mandi tersebut mati. Sempat ragu meninggalkan bayinya tertidur sendirian, Ikhsan akhirnya mencoba keluar kamar dan memanggil istrinya.


"Yang? Sayang?" tidak ada jawaban.


Ikhsan mencoba memanggil sekali lagi, "Yang?"


Terdengar bunyi pintu terbuka dari arah kamar belakang, "Ya Pak?"


Ah, itu adalah suara suster Mira. Selain asisten rumah tangga, Ikhsan juga sekarang mempunyai suster Mira khusus untuk membantu Yrene mengurus Ianvs.


Ikhsan kemudian berjalan memeriksa ke arah ruang keluarga. Benar saja, ada Yrene disana. Istrinya itu terlihat sedang duduk sendirian di sofa dengan suasana gelap.


"Yang?" sapa Ikhsan lembut saat perlahan menghampiri Yrene dari belakang.


Alis Ikhsan berkerut saat ia mendengar suara aneh dari Yrene. Ia mengerutkan alis dan mencoba menajamkan pendengarannya. Suara itu, seperti suara... tangisan?


Lagi?, batin Ikhsan


Kejadian ini sudah sering kali terulang. Yrene yang menyendiri dan menangis di malam hari. Yang Ikhsan tahu, ini adalah salah satu gejala dari Baby Blues Syndrome.


Baby Blues Syndrome merupakan keadaan dimana seorang Ibu mengalami depresi setelah melahirkan. Bisa dikarenakan hormon ibu, kelelahan yang berlebihan atau juga karena perubahan drastis tubuh sang ibu. Yrene di diagnosa mengalami Baby Blues Syndrome. Meski masih berusaha memberikan asi pada bayinya, tapi apa daya asi yang keluar sangat sedikit dikarenakan keadaan psikis Yrene. Akhirnya bayi harus dibantu dengan susu formula agar berat badan bayi stabil. Ini juga merupakan alasan utama mengapa Ikhsan merekrut suster Mira, agar mengurangi beban Yrene sebagai ibu baru.


Ikhsan dengan hati-hati mendekati Yrene, perlahan ia duduk disampingnya . Ia sudah konsultasi dengan Papa Yrene dan mengetahui bahwa dukungannya sebagai suami adalah sangat penting untuk kondisi psikologis sang istri.


Setelah cukup dekat, Ikhsan memeluk Yrene dan membiarkan Yrene menangis di pelukannya.


"Cape ya sayang? Maafin aku ya, Aku gak bisa berbuat banyak untuk kamu dan Ianvs. Besok aku cuti aja ya biar bisa barengan sama kamu dan Ian?" tanya Ikhsan sambil mengelus kepala Yrene.


Istrinya itu tidak menjawab, ia hanya larut dalam tangis. Terus menangis. Sampai akhirnya lelah dan jatuh tertidur.


Menghela nafas panjang, Ikhsan mengusap wajahnya yang lelah. Ia mengingat-ingat saat pertama kali gejala ini muncul. Tepat 3 hari setelah pulang dari rumah sakit, Yrene mulai berperilaku murung. Hal ini tentu membuat Ikhsan sedih, seharusnya Yrene dan dirinya sedang bahagia-bahagianya dengan kehadiran Ianvs. Tapi ia justru harus melihat Yrene terpuruk untuk pertama kalinya.


Ikhsan kemudian terngiang nasehat Papa mertuanya. Keadaan Yrene ini hanya sementara, ia harus kuat dan sabar. Meski ini merupakan cobaan yang tak mudah bagi dirinya sebagai seorang ayah baru, ia yakin bahwa Yrene akan pulih kembali sehingga keluarga kecilnya ini bisa berbahagia.


Sambil memejamkan mata, Ikhsan menguatkan dirinya dengan doa. Ia lalu menghela nafas panjang dan berdiri membopong Yrene yang sudah tertidur lemas. Ia berencana akan mengambil cuti untuk besok dan akan melakukan hal-hal yang dapat menghibur istrinya itu.


Ketika Ikhsan meletakkan Yrene di tempat tidur, Ikhsan mendengar mulut Yrene membisikkan sesuatu.


"I can't breath. Please don't leave me, dear. I can't breath...,"


Air muka Ikhsan langsung berubah. Tubuh Ikhsan bergetar menahan air mata, tadi di ruang keluarga ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar. Tapi melihat Yrene yang seperti ini hatinya tak sanggup menahan perih. Bagaimana mungkin istrinya bisa menjadi depresi seperti ini. Ia tak bisa mengerti, hal apa lagi yang bisa ia lakukan untuk menolong istrinya itu.


***


Halo pembaca yang baik 🙋


Mau dong di like dan di vote!


Juga jangan lupa selalu berikan kesan kalian di tiap akhir episode di kolom komentar ya 💞


Kiss.


-Author