The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Menangkap hati yang baru



*Warning: Konten kali ini mengandung kegemasan yang haqiqi. -Author*


---


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu bos sekaligus pemilik TechnoMedia Corp. Lelaki dengan tubuh tegap di dalam ruangan itu segera merapikan posisi duduk dan dasinya. Disebabkan ia sudah menerima kabar dari Rayyan terlebih dahulu sebelum ia ke kantor, Ia sudah dapat menduga siapa orang dibalik pintu yang di ketuk itu.


"Come in!" perintah Galang dengan nada ramah,


"Permisi Pak Sa-"


"Lah, kok kamu sih?!" potong Galang begitu melihat wajah sisil yang sedang berdiri di depan pintu.


"Kok saya gimana Pak, Maaf?" Sisil rasanya sudah ingin membalikkan tubuhnya, menutup pintu dan berlari saja. Baru permisi buka pintu saja, ia sudah di semprot oleh sang bos.


"Duh, lupakan. Ada apa?" tanya Galang tanpa menatap Sisil, pandangannya sudah kembali ke laptopnya dan jarinya mulai mengetik.


Sisil ingin sekali memutar bola matanya dan menjawab dengan ketus. Tetapi tentu saja hal ini hanya Sisil lakukan di dalam angannya saja.


Anak magang itu maju beberapa langkah mendekat ke meja Galang lalu menyerahkan sebuah file. Sedikit memaksa bibirnya tersenyum, Sisil memberanikan diri lagi.


"Periode Magang yang saat ini sedang berlangsung akan berakhir di pertengahan bulan depan, Pak. Info dari Pak Rayyan waktu tersebut berdekatan dengan kalender penting di perusahaan. Jadi tidak mungkin ada acara perpisahan anak magang, Pak. Kita mau mengajukan acaranya jadi akhir minggu ini," jelas Sisil dengan satu tarikan nafas. Ia begitu ingin cepat selesai saja urusan dengan sang bos.


Galang jelas terusik dengan proposal perubahan jadwal mendadak seperti ini. Ia sudah membuka mulut ingin protes namun logikanya memeriksa, "Siapa yang ngajuin proposal acara ini?" tanyanya.


"Saya dan Mbak Maya, Pak. Kita udah coba ngecekin jadwal available satu per satu orang yang akan menghadiri acaranya. Semuanya available dan ok-ok saja, Pak."


Galang menaikkan alisnya,"Well kalau sudah di cek sama Maya, I'm Okay."


"Loh, bukannya kalau urusan schedule Pak Galang harusnya yang ngecek ke Pak Rayyan, Pak?" Duh! Sisil langsung menyesali kemampuan cepat bertanya miliknya. Ia segera memaki dirinya sendiri.


Bagai di colek sambal cabe rawit, Galang langsung mengernyitkan alisnya.


"Ya-ya kan yang koordinir kegiatan magang itu Maya, dia juga bertanggungjawab dong cek jadwal saya ke Rayyan. Gimana sih, kamu ini! Udah cepetan bawa lagi file nya sebelum saya berubah pikiran!" perintah Galang yang dengan segera disambut cepat oleh Sisil.


"Eh tunggu!" komando Galang langsung membuat Sisil bagai patung. Dengan kaku, Sisil membalik badannya.


"Emang acaranya bakal apaan, Sil?" tanya Galang penasaran.


Dih! Bukannya tadi dilihat dulu file proposalnya, keluh Sisil dalam hati.


"Main Paintball Pak, start jam 3 sore. Terus akan dilanjutkan dengan acara BBQan, Pak."


Galang mengangguk, tidak buruk juga. Toh sudah lama dia tidak melakukan kegiatan outdoor. Dan lagi, tipe permainan Paintball tentu akan memacu adrenalin yang bisa membuat team juga semakin akrab.


Tanpa Galang sadari, dibalik setujunya sebagian orang dengan pilihan kegiatan Paintball adalah karena begitu banyak orang yang sangat ingin melampiaskan rasa kesal dengan membidik Galang menjadi sasaran tembak mereka. Sisil sampai tergelak dengan air mata mengalir di pipinya saat membicarakan hal ini bersama anak magang lainnya di cafetaria ketika break siang tadi.


"I'm OK. Execute!" sahut Galang dengan anggukan dan senyum.


Sisil langsung pamit dan berbalik. Giliran senyum sih menggoda, kalau sedang galak, duh rasanya ingin sekali Sisil siram dengan selang pemadam muka sang bos yang galak.


***


Panas matahari yang menyengat sudah mereda saat rombongan anak magang, para mentor serta orang-orang yang terlibat dalam proses magang berkumpul di area permainan Paintball.


Mereka sudah mendapatkan briefing awal dari seorang guide game di fasilitas yang mereka sewa. Untuk mengulang lagi hasil arahannya, sang guide menyimpulkan semua penjelasannya kembali.


"Baik, jadi permainan kita adalah tipe elimination, yaitu Team Biru vs Team Merah akan saling memburu sampai hanya tersisa satu orang dan dialah pemenangnya. Dilarang melakukan 'hit' atau tembakan kurang dari 5 meter. Kalau kehabisan peluru cat, harus isi ulang di luar wilayah 'field paint'. Bermain yang suportive, karena dalam peperangan, yang curang adalah pecundang!" ucap sang guide dengan nada berapi-api. Membuat sebagian dari mereka tak sabar memulai permainan.


"Oke, silahkan bersiap-siap dan ganti pakaian anda semua. Pakai semua alat pelindung, pastikan senjata dan peluru catnya aman dan tidak rusak. Berkumpul kembali dalam waktu 15 menit. Bubar, Jalan!" perintah sang guide yang langsung disambut riuh oleh semuanya.


Kumpulan itu segera membubarkan diri dengan memnawa paket peralatan dan pakaian untuk permainan Paintball mereka.


Setelah 15 menit, seluruh anggota permainan tersebut berkumpul dan semua mata memandang terpaku ke satu arah. Benar, semua mata tertuju pada Galang Rahardja, sang bos yang memang sudah sengaja repot cukur jenggot sebelum datang ke acara ini.



Melepas kacamata hitamnya, Galang langsung menyadari semua pandangan karyawannya.


"Ngeliatin apa kalian? Heh! Fokus, fokus!" ujar Galang dengan seulas senyum sambil menarik senjatanya.


Maya yang berada di team biru berlawanan dengan Galang spontan mengerjap sadar. Ia yang menyaksikan tingkah Galang barusan langsung mengutuk sebal. Kelihatan jelas bahwa Galang senang sekali dengan reaksi terpana semua orang terhadap penampilannya dengan baju ala militer seperti ini. Maya memang akui, Galang dengan seragam militer justru membuat penampilannya semakin gagah. Meski menyangkal, tapi degup jantung Maya tidak bisa berbohong. Segera Maya menggelengkan kepalanya agar berhenti memikirkan Galang lebih lanjut.


Permainan kemudian dimulai dan berlangsung cukup intens.


Maya pikir permainan perang-perangan dengan senjata tembakan berupa cat ini akan menjadi permainan yang menyenangkan dan lucu. Ia salah. Justru permainan ini menjadi ajang balas dendam bagi seseorang yang memiliki musuh untuk diburu dan dibunuh di permainan ini. Tak terkecuali Sisil yang menargetkan tubuh Galang untuk ia tembak. Terutama, bagian paha Galang. Bagian itu pasti paling sakit jika di tembak, bukan?


Dddrtt! Dddrtt!


Suara tembakan mulai bermunculan dari berbagai tempat yang juga diiringi suara jeritan sakit terkena peluru berisi cat. Ya, korban pertama sudah jatuh.


Maya merunduk, berlari lalu cepat bersembunyi dengan cara berbaring telungkup di balik sebuah beton setinggi lutut. Disitu ternyata ada Sisil yang juga merupakan rekan satu teamnya.


"Mbak May, ada liat Pak Galang dimana? Mau ku tembak, dia sasaranku!" Ujar Sisil sambil berbisik dari dalam helmnya.


Maya terkekeh, "Yakin kamu bisa nembak Pak Galang?"


"Kalau aku berhasil, kamu kasih hadiah perpisahan magangnya Album K-Pop favoriteku ya, Mbak!" Sisil tampak sibuk membidik pada lahan kosong didepannya.


"Apa kata lo dah, Sil!" tukas Maya yang juga kembali fokus memperhatikan arena main.


"Mbak, itu Pak Galang!" teriak Sisil. Benar, tubuh kekar Galang tentu mudah dikenali meski sedang berada dalam seragam permainan ini.


Galang tampak berlari lalu bersembunyi dengan berlutut. Dengan bertumpu pada kakinya, ia membidik dan menembak salah seorang dari Team Biru. Sebuah teriakan terdengar menandakan tembakan Galang tepat sasaran dan menjatuhkan sang korban. Maya menelan ludah dan segera bergidik ngeri sekaligus terkejut saat pandangan Galang tiba-tiba mengarah padanya.


"Aw!! Aduh! Mama sakit!!" pekik Sisil sangat keras.


"Sorry!" balas Galang singkat dan segera melesat hilang.


Maya sontak menolong Sisil yang jatuh terduduk memegangi pahanya.


"Astaga, sakit banget ternyata pelurunya Mbak!" Ucap Sisil lagi setelah Maya menarik tubuh Sisil agar terlindungi beton.


"Kamu sih sembarangan aja, kaya udah ahli aja main beginian!" tegur Maya sambil kembali matanya mengawasai sekitar.


Dengan kesal, Sisil membuka helmnya dan berkata, "Ah! Sebel! Mbak May, kalau Mbak bisa bertahan sampai akhir terus satu lawan satu sama Pak Galang, tolong balaskan dendam kami para anak Magang yang sering digalakin Pak Galang, ya!" tukasnya sambil menepuk bahu Maya layaknya seorang tentara yang sedang mempercayakan tugas pada rekannya.


Maya mendengus sambil tersenyum geli melihat tingkah Sisil. Ah, apalah dayanya. Tapi mendapat kepercayaan Sisil, Maya jadi ingin mencoba bertahan sampai akhir permainan. Siapa tahu dia beruntung?


1,5 jam sudah berlangsung permainan Paintball mereka. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Alokasi waktu untuk permainan ini tinggal 30 menit lagi. Seperti dugaan Maya yang tepat, sudah cukup banyak anggota permainan yang kena 'hit' dan harus keluar arena bermain. Maya menduga permainan ini akan segera berakhir. Tebakan Maya disambut pula oleh teriakan guide mereka.


"Oke, Team Biru dan Team Merah! Hampir semua sudah out of the game, sekarang tersisa 1 lawan 1! Yo guys, show up your self! End this and win the game!" teriak sang guide dari ujung arena.


Jantung Maya berdegup kencang.


Hah?! Masa beneran gue bisa bertahan sampai akhir permainan?, gumam Maya.


"Show your self, bro?! Face me like a man, yeah!!"


Oh Tuhan! Benar, ternyata itu tak lain adalah suara Galang. Lutut Maya langsung bereaksi dengan gemetaran. Maya segera menepuk lututnya agar segera ia bisa menguasai diri. Ia memaksa berlutut dan mempersiapkan senjatanya saat kemudian jantung Maya mencelos menyadari sesuatu. Peluru catnya habis!


Ah, Sekarang Maya harus menyebrang ke luar arena dan mengambil peluru lagi.


"Woi, sisa siapa disana?! Mana lo gak muncul-muncul?!" tantang suara Galang dari sebrang lapangan.


Maya mendecak kesal dengan pancingan-pancingan Galang.


Ddrrrt! Drrtt! Dddrtt!


Galang menangkap bayangan targetnya dibalik sebuah tong. Ia dengan mantap berdiri dan menembaki tempat persembunyian sang lawan.



"I spot you, bro! Haha!" Galang, dia benar-benar terobsesi untuk menang.


"Ah shit! Damn, Ammo!" Galang mengumpat, Ah! lelaki itu tak menyadari kehabisan peluru catnya juga karena terlalu semangat.


Secepat kilat Maya menyadari situasi dan segera dia bangkit berdiri lalu berlari dengan senapannya ke arah luar arena untuk mengisi peluru.


"Hhh! hhh!" Maya memacu larinya sekuat tenaga, membuat dadanya terasa sesak dan panas.


Galang yang melihat targetnya berlari ke arah luar arena tempat pengisian peluru cat segera menyadari situasi. Ia paham kenapa targetnya tak membalas serangan. Sang target kehabisan peluru dan harus mengisi ulang. Galang dengan cepat bangkit dan memacu lebar langkahnya untuk mengejar lari sang target.


Beruntung sang target terlihat tidak begitu hebat dalam berlari, tanpa pikir panjang Galang melempar tubuhnya untuk menangkap target didepannya yang merupakan team merah.


Bruk!!


Tubuh Galang berdebam dan berguling sambil tangannya memeluk sang target, berharap dengan ini target tidak lepas dari tangkapannya.


Galang sempat kehilangan nafasnya juga, tapi demi ambisi menangnya, mau tidak mau dia harus menggunakan fisiknya untuk menghentikan lawan.


"Mbak Maya!!" pekik Sisil dari pagar luar arena.


Dan suasana berubah menjadi hening. Hanya deru nafas Galang dan sang target yang terdengar dari sela helm pelindung mereka.


"Hhh..., Maya? Lo, Maya?" Galang segera membuka helmnya dan dengan cepat membuka helm sang target pula. Jantung Galang berdegup kencang sekali, ia sungguh khawatir sudah gegabah menangkap dan menimpa tubuh kecil gadis itu, jika benar itu Maya.


Galang menarik helm sang target dan, benar saja itu Maya.


Gadis itu penuh peluh hingga membuat rambutnya basah. Ia terlihat susah mengatur nafasnya, dan sebab itu pula lah ia tidak bisa bersuara.


Pupil Galang membesar menatap gadis di depannya. Benar, itu Maya. Ia sudah menangkap, menindih dan menggulingkan tubuh kecil Maya. Tapi ada perasaan aneh yang membuncah di dada Galang. Entah karena adrenalin yang sedang memuncak, atau karena pemandangan lucu wajah Maya yang kewalahan karena kehabisan nafas.


"Hahaha!" Galang tergelak. Ia benar-benar tertawa lepas.


"May! Hahaha! Gak nyangka gue, itu lo! Hahaha! Astaga, Maya..., Maya," Galang benar-benar puas tertawa.


Sementara, orang-orang di luar pagar yang menyaksikan adegan itu mulai merasa hawa-hawa aneh sedang menggantung di udara.


Rayyan yang ikut serta dalam team biru segera memahami situasi dan mengambil alih. Ia kemudian menepuk pundak sang guide permainan ini.


"Bang, udahan aja mainnya. Anggap aja impas ga ada yang menang. Dah, yang lain bubar-bubar! Segera ke arena BBQ ya setelah bersih-bersih!" begitu perintah Rayyan yang disambut celoteh nyinyir sebagian orang. Orang-orang tersebut tentu saja kesal dilarang menyaksikan adegan drama cinta bos mereka.


Maya yang kepayahan bernafas akhirnya mengumpulkan cukup oksigen untuk kembali menyadari situasi. Ia ingin bangkit dan berlari meneruskan serta memenangkan permainan. Tetapi tawa dan tubuh Galang yang masih memeluknya mengikatnya untuk tetap tinggal diam, dan ikut tersenyum.


***


Halo pembaca yang baik!


Mohon dukungannya ya untuk like, tinggalkan komen dan selalu vote karya author!


Terimakasih, ya kalian!


Kiss.


-Author