The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Last Chance



Di sebuah koridor kelas yang kosong, Maya berdiri menatap lapangan basket yang sepi. Di matanya, seolah terulang kembali saat dimana ia pertama kali mengenal sosok Ikhsan. Di sebuah lapangan basket, bersama dengan suitan anak-anak di sekitar lapangan. (Baca Bab: Potret)


Maya menghela nafas panjang, benar kata Ikhsan bahwa tempat ini memang sangat dipenuhi oleh kenangan. Tiba-tiba, Maya teringat sesuatu. Ah! Ia lupa mengabarkan keberadaannya pada Galang.


Dengan cepat, Maya membuka ponselnya. Ada beberapa pesan dari galang yang berulangkali menanyakan keadaan dan keberadaan Maya. Ikhsan masih belum kembali dari obrolan di kantin bersama Ibu penjual bakso. Maya kemudian mengabarkan keberadaannya pada Galang. Jemarinya lincah menekan tombol 'share location'.


Di hotel, Galang yang sedang memimpin virtual meeting membahas laporan mengenai performa project platform baru TechnoMedia menyadari sebuah pesan dari Maya masuk di ponselnya. Dengan sopan ia mohon pamit dan segera menutup sesi meeting. Entah kenapa, ia merasa ini adalah sebuah kesempatan terakhirnya jika memang masih menginginkan Maya.



***


"Hey, May!" tegur Ikhsan dari arah belakang. "Banyak berubah ya bangunan sekolah!" katanya lagi setelah sejajar disamping Maya.


"Lo sering kesini?" tanya Maya membuka topik bicara.


Ikhsan terlihat mengambil nafas dalam-dalam. "Gak juga, susah dan sesak rasanya kalau terlalu sering kesini, May."


Langkah mereka terhenti ketika mendengar sebuah saup-saup suara orang bernyanyi dari ujung koridor, Disana seharusnya adalah ruang kreatif, tempat dimana biasanya tersedia ruang latihan untuk ekstrakurikuler yang berhubungan dengan seni seperti tempat latihan nari, band sekolah ataupun bidang lainnya.


Semakin dekat mereka melangkah, suara nyanyian dari band sekolah yang seperti sedang latihan itu terdengar lebih jelas.


"Seharusnya dunia ini begitu indah


Seharusnya hidupku ini penuh bermakna


Takkan gundah jiwaku bila kau bersamaku


Takkan perih batinku kini bila kaupun milikku


Seharusnya dunia ini, punya kita berdua.


Seandainya kau tahu


Perih didalam hatiku


Apakah kau merasakan apa yang ku rasa."


Naff - Seharusnya Kita.


"Eh, Ehem," Ikhsan berdehem canggung, "Ki-kita kesana aja yuk, kayaknya disana ruang team elite jurnalis sekolah."


Ikhsan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan cepat melangkahkan kakinya ke arah ruangan lain. Hatinya sedikit memaki, bisa-bisanya anak band yang sedang latihan itu membawakan lagu yang begitu cocok dengan gambaran kisah antara Maya dan Ikhsan.


Maya menyusul langkah Ikhsan setengah berlari, ia tahu kenapa Ikhsan kabur seperti tadi. Sebab itu pula Maya tidak mau mempertanyakan tingkah Ikhsan barusan.  Tepat setelah kepergian mereka, anak-anak band sekolah yang tadi bernyanyi keluar dari ruangan latihan mereka menuju gerbang luar. Kini, hanya tinggal mereka berdua saja di seluruh area sekolah.


Anak-anak band yang keluar tadi tertawa seru sambil membahas kocaknya latihan mereka tadi. Tawa mereka terhenti saat sebuah mobil sedan audi hitam datang dan berhenti di area parkir sekolah. Anak-anak itu semakin terdiam kagum saat melihat tampilan pria yang mengemudikan mobil itu.


Langkah Ikhsan terhenti disebuah mading besar. Ruangan yang ada di depan mereka sangat terciri sebagai ruang ekstrakurikuler tim elite jurnalis sekolah. Ada beberapa spot stiker dari sponsor media besar. Di samping pintu bahkan ada sebuah papan rak koran dan majalah gratis dari media ternama di Indonesia.


"Wah, dulu gue sering sebal. Kenapa ya anak jurnalis itu perangainya sombong? Kalau ngomong selalu berapi-api. Dan katanya susah untuk masuk ke ekstrakurikuler ini. Selain bahasa inggrisnya dan keahlian menulis yang bagus, gue denger nilai juga di seleksi ya, May?" Ikhsan menoleh pada Maya yang juga menatap isi mading.


"Iya, haha. Dulu bahkan gue nyaris gak di terima," ujar Maya tersenyum mengingat masa-masa indahnya dulu di tim elite jurnalis sekolah. Di sini lah Maya menemukan mimpi dan cita-citanya.


"Lo tau gak sih kalau lo itu cemerlang banget dulu di tim jurnalis? Kita anak basket sering ngomongin kalian disana," telunjuk Ikhsan mengarah pada sebuah tempat duduk-duduk disamping lapangan basket.


Sedikit tertawa, Maya tak percaya, "Masa sih?"


Maya mengerutkan alis, "Jadi lo sering ngomongin gue, dibelakang gue nih?"


Wajah Ikhsan mendadak berubah, menyadari ada yang salah dari tuduhan Maya. "Bukan gitu, May! Bukan ngomongin, tapi lebih tepatnya mengagumi lo dari kejauhan!"


Maya tertawa mendapati ekspresi Ikhsan yang salah tingkah. "Bercanda, gue."


Sejurus kemudian, ada hening diantara mereka. Keduanya tampak enggan memulai angkat bicara.


"Duduk, yuk?" tawar Ikhsan. Ia menuntun Maya untuk duduk di taman samping lapangan basket tadi.


"Disini lah gue dulu suka banget melihat lo sibuk di ruangan itu. Kadang kalian sibuk nempelin lembaran summary majalah kalau sudah terbit di mading itu. Gue gak pernah tau gimana caranya gue bisa kenal dan dekat dengan lo. Sampai suatu hari gue berfikir. Apa sih yang gue punya untuk menarik lo kedalam gravitasi yang ada di sekitar gue? Dan lo tau, May?"


Maya menatap Ikhsan yang pandangannya masih menerawang ke arah ruang tim jurnalis sekolah.


"Gue pikir, seorang reporter ataupun jurnalis saat meliput berita pasti butuh foto kan?" Ikhsan menghentikan bicaranya, menyisakan hening yang menggantung.


Jantung Maya berdegup cepat, ia menduga ada lagi rahasia yang akan Ikhsan utarakan.


Ikhsan menunduk memandangi tangannya, "Lalu gue pikir, jika gue berusaha sangat-sangat keras berlatih menggunakan kamera dan memotret, apakah gue bisa menjadi teman fotografer saat lo meliput berita? Tidak perlu lah gue masuk ke tim elite jurnalis untuk dekat dan mengenal lo. Gue mungkin bisa menawarkan diri secara gratis menemani lo meliput berita dengan skill foto gue. Dengan begitu, gue bisa kenal dan dekat dengan lo."


Ikhsan melanjutkan, "Ternyata di luar dugaan. Niat iseng gue coba-coba mengirim hasil foto dihargai, dibeli dan membuat gue ketagihan. Tuhan juga membalas usaha keras gue dengan menarik lo ke dalam gravitasi dunia gue. Hari dimana kita berkenalan di samping lapangan basket itu, juga gak bisa gue lupakan. Betapa gue berterimakasih pada Tuhan sudah menghadiahkan pertemuan dengan lo, yang disebabkan oleh usaha keras gue melatih kemampuan gue dengan kamera."


"Tunggu," mata Maya sudah menghangat. Ia nyaris tak bisa bernafas mendengar kisah Ikhsan barusan. Setelah mengatur nafasnya, Maya melanjutkan, "Jangan bilang kalau lo benar-benar memulai usaha keras belajar motret itu karena gue? Karena ingin kenal dan dekat dengan gue?"


Ikhsan mengangguk dengan mudah, "Yah begitulah. kalau gue gak begitu, apa coba dari diri gue ini yang bisa di banggakan untuk sekedar menyapa sosok lo dulu?"


Maya telah kehabisan kata-kata. Ikhsan mungkin hanya sekedar berbicara tentang kisahnya dahulu. Tetapi bagi Maya yang tak pernah tahu, ini merupakah sebuah hal yang sangat mempengaruhi perasaannya saat ini. Panas di mata Maya sudah menggenang, dan perlahan air mata jatuh di pipinya. Tak pernah ia tahu yang justru jatuh cinta duluan dan mengejarnya adalah... Ikhsan.


Hening. Hanya angin yang ada diantara mereka.


"May," Ikhsan menatap Maya yang menunduk. "Menurut gue, ini saatnya kita memutuskan."


Pria yang ada dihadapan Maya itu berpindah dari posisi duduk lalu berlutut di depannya.


"Will you marry me?" Ikhsan terlihat menunduk, mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku didalam jaketnya.


"Ayo, akhiri pencarian dan penantian kita, May," lirih Ikhsan lagi.


***


Halo, pembaca yang baik!


Bersabarlah menghadapi tiap konflik di tiap episode ya.


Resapilah pusaran kenangan, emosi dan perasaan tiap tokoh.


Dengan begitu, rasa dari cerita ini menjadi begitu nikmat.


Love, Author.


Vote, Like, komen dan dukungan readers sangat menghangatkan hati author :')