
Maya baru saja terbangun dari tidur malamnya yang sangat menenangkan. Pagi ini badannya justru terasa sangat segar, mungkin karena pengaruh jamu yang kemarin sore ia minum. Maklum saja, menghadapi Galang di ranjang semalaman memang butuh ekstra suplemen. Lelaki itu tidak gampang di puaskan. Dan yang membuat Maya tidak tahan adalah godaaan-godaan manjanya saat Maya pura-pura enggan meladeni permainan suaminya itu.
Sambil memakai asal kemeja putih Galang yang tergeletak dilantai untuk menutupi pakaian minim dibalik selimutnya, Maya beranjak membuka jendela. Cahaya matahari yang menelusup masuk ke kamar membangunkan pria besar bertelanjang dada yang sedang tidur telungkup.
"Ah, beib, this is Saturday. Come on!" keluhnya.
Mendengar rengekan manja suaminya, Maya dengan gemas kemabali ke tempat tidur dan langsung menarik ke atas kelopak mata Galang dengan jarinya.
"Hey, since when Galang Rahardja becomes a lazy person? You supposed to be a very morning person right, man?" goda Maya dengan intonasi nada marah.
Galang membuka dengan malas matanya dan membalik tubuh menjadi tengadah. "Kamu ga inget? Kamu kan yang buat aku kayak gini semalaman? Ck, ck, ck. Hon, Hon, jamu apa sih yang kamu minum kemarin. Parah banget."
Mendengar ocehan Galang yang penuh unsur tipuan, Maya tergelak. Sungguh, terlalu banyak sisi mengejutkan yang ia baru ketahui dari sosok bosnya dulu yang kini telah menjadi suaminya. "Hari ini acara dinnernya kan? Yakin kita gak perlu nyiapin apa-apa?"
Galang memperbaiki posisinya mejadi duduk rapat disamping Maya. Ia lalu merentangkan tangan memeluk tubuh istrinya. Setelah mencium sekilah kening Maya, Galang lalu berbicara. "We have work hard and we have that money, biar uang yang ngatur hal begituan sayang. Perhatian kamu, untuk aku saja. Terlalu berharga jika terbagi pada hal melelahkan yang hanya untuk menyenangkan para tamu-tamu itu."
Mengerutkan alisnya, Maya berkata, "Honey, you should stop drinking that sweet wine. Kamu jadi hobi banget nge-gombal, ih!"
"Hahaha, ya gak papa. Kan nge-gombalin istri sendiri. Tapi, kamu suka, kan?" tanya Galang sambil menarik tubuh ramping Maya dalam pelukannya.
Maya berpura-pura memutar bola matanya namun tetap tersenyum, "You have changed so much, rasanya seperti kenal dan menikahi orang baru, in a good way." Jemari Maya mendekap pipi Galang lalu ia mencium bibir suaminya itu dalam-dalam. Bersyukur sekali Maya bahwa Galang adalah orang yang sangat disiplin, ia tak lupa menggunakan mouth wash sebelum tidur. Harus peppermint masih menyeruak dari bibir dan lidah Galang. Maya jadi punya kebiasaan baru meniru rutinitas Galang. Ciuman pagi menjadi hal yang tak pernah mereka lewatkan selama sebulan penuh ini.
Setelah lepas dari ciuman dalam istrinya, Galang ahrus mengerjap beberapa kali. Mencoba menenangkan dirinya dan rasa jantan dibawah pinggangnya. "Hm, aku rasa aku ngga berubah deh. It's you hon, you bring the true of me. Kamu adalah tempat paling nyaman untuk menunjukkan diriku yang jujur sepenuhnya. Tempat aku tak perlu memakai topeng dan selalu berpura-pura dingin dan sempurna, padahal aku sungguh diri yang lemah dan sangat rindu penopang dalam hidup kerasku."
Tersanjung dengan ucapan suaminya, Maya memeluk erat Galang. Sementara Galang menciumi dada istrinya yang tersingkap dari balik kemeja putih Maya yang tak dikancing. Sedikit merasa geli, Maya tertawa dan berusaha menjauhkan kepala Galang dari dekapan dan dadanya. Alih-alih menjauh, Galang justru semakin jahil menenggelamkan wajahnya pada dua punuk kenyal di dada istrinya. Keduanya tertawa renyah, mengundang matahari bersinar semakin cerah dan hangat di pagi itu.
***
Mr. & Mrs Rahardja Dinner Event
Sore itu di sebuah halaman rumah besar milik Tuan dan Nyonya Rahardja tampak ramai. Rumah itu jelas merupakan rumah yang baru dibangun. Desain bangunan yang terlihat hanya dari luar menunjukkan ciri khas bangunan segar yang baru berdiri namun tetap sudah memperlihatkan ke modernan dan kemewahannya. Acara hari ini diadakan di halaman belakang yang luasnya hampir 2 hektar. Membuat para tamu sejenak menahan nafasnya ketika menyadari bahwa sebuah kolam renang dan lapangan bola mini nantinya akan dibangun disini. Maklum, dikarenakan Galang adalah anak tunggal, sudah pasti ekspektasi memiliki banyak cucu adalah pri
Para tamu undangan mulai hadir satu per satu. Tak lupa mereka membawa undangan sebagai syarat masuk ke dalam pesta makan malam itu. Acara memang sudah dimulai dari jam 3 sore dan akan berakhir di jam 9 malam. Tidak ada acara khusus, hanya benar-benar saling sapa, bersilaturahmi dan bercanda tawa sambil menikmati sajian mewah dan enak sepanjang sore hingga malam.
Alunan musik sudah mengalun lembut dan santai menyambut para tamu yang baru datang. Para tamu tampak berpakaian glamour sebab ada tertulis disediakan dance hall pada kartu undangan. Dan benar saja, meski area acara di outdoor, dekorasi tampak rusti dan mewah dengan banyak bunga-bunga mawar putih asli. Di tengah lokasi acara ada sebuah panggung kecil tempat para musisi bermain dengan alat band mereka. Juga tersedia sebuah lantai kaca yang berhiaskan bunga dengan kelip lampu kuning romantis menghiasi langit-langit yang menggantung di atasnya. Di berbagai sudut ada tersedia meja cemilan dan makanan. Orang bebas ingin memulai makan malamnya kapanpun. Sementara itu, beberapa pelayan tampak siap berjaga untuk melayani dan meastikan jalannya acara pesta.
Galang dan Maya sudah hadir berdiri berdampingan menyambut dan mengobrol dengan para tamu silih berganti. Kini mereka berdiri di sebuah boks kaca tempat para tamu menuliskan doa dan ucapan mereka. Disamping boks kaca itu ada sebuah meja yang sudah hampir penuh oleh kado dan bingkisan untuk pasangan suami istri yang sudah menikah sebulan lamanya itu.
Pesta sudah hampir berlangsung selama 1 jam, Maya merasa butuh asupan makanan. Ia mengajak Galang untuk duduk sejenak dan mencicipi hidangan. Di sela-sela menikmati strawberry cheese cake dan fruit punch-nya, Maya menghela nafas panjang. Hal ini membuat Galang otomatis menoleh.
"Honey? Kamu kenapa? Capek ya?" tanya Galang sambil memberikan segelas air putih.
Maya menggeleng pelan seraya mengambil gelas air putih yang Galang tawarkan. "Menurut kamu, apakah mereka akan datang?"
Galang langsung tahu kemana arah pembicaraan ini dan apa sebab istinya yang sangat cantik sore ini menghela nafas, membuat aura cantiknya sedikit meredup. "The ******s ya?" tanya Galang memastikan. Ia lalu menggenggam tangan Maya dan mengelus pelan jemarinya.
"Aku yakin, kalau mereka memang mau hubungan kalian membaik, hadir di undangan ini adalah salah satu cara. Dan meskipun aku tahu mereka tidak terlalu cocok dengan kamu, punya hubungan baik selama bertahun-tahun memang akan sangat disayangkan jika berhenti begitu saja."
Mengangguk setuju, Maya mencoba tenang dan meredakan kesedihannya. Ia lalu meneguk air putih pemberian Galang. Belum lagi Maya selesai meletakkan gelas kosongnya, pandangannya tiba-tiba gelap.
"Selamat malam Ibu Rahardja! Apa kabar? Belum lupa sama kita-kita kan?" tanya sebuah suara centil dari seseorang dibelakang Maya. Tangan orang itu menutup mata Maya, membuatnya sedikit terkejut dan tak sabar segera berbalik.
Tania, Nina, Adel, Virsa dan tak ketinggalan Yrene sudah ada dibalik kursi Maya. Berjejer para sahabat lamanya itu memakai baju senada berwarna putih. Masing-masing dari mereka didampingi oleh para anak masing-masing. Membuat kumpulan itu mendadak serasa ramai dua kali lipat.
Maya hampir tersandung saat berdiri, ia lalu menutup mulutnya tak percaya. Manik matanya bergeta dan segera menghangat. Saat setetes air mata mengalir pada pipinya, bibir Maya bergetar dan hanya berucap, "Oh*\, Thank you!*"
Ikut merasa haru, para sahabat itu langsung saling berpeluk. Adel yang memang sudah sangat merindukan Maya sampai tersedu-sedu, membuat anak perempuannya yang berusia 3 tahun khawatir dan ikut menangis. Tak menunggu waktu lama, kumpulan itu langsung menjadi perhatian utama. Mereka saling melepas rindu, menggoda, penuh tawa dan derai air mata haru rindu setelah merasa ada bagian dari kesatuan yang terpisah.
Sementara itu, Galang yang hadir sedari tadi menyaksikan para wanita merasa tiba-tiba tenggorokannya terasa gatal dan tak mampu menahan diri untuk tidak berdehem. "Sorry ladies, ibu-ibu, saya pamit dulu. Take your time and enjoy the foods!" pamit Galang sambil tersenyum ramah yang langsung di respon 'Awwwh, so sweet!' oleh Virsa dan Nia bersamaan.
Sesaat sebelum meninggalkan Maya, sejenak Galang menggerling untuk memastikan bahwa istrinya sudah nyaman berada di antara sahabat lamanya itu. Maya tampak ceria kembali dan hal itu membuat Galang menhela nafas dengan lega. Yah meskipun Galang tidak terlalu menyukai sahabat-sahabat lama Maya itu, tetapi sejujurnya mereka adalah orang baik yang juga menyayangi Maya. Jadi, mau tidak mau Galang juga harus menerima mereka, dan tentu saja, para suami-suami mereka juga.
Tepat di depan meja sampanye, sudah berdiri sekelompok lelaki dengan jas dan dandanan parlente. Mereka seperti sudah sedari tadi memperhatikan Galang ketika pamit dari sisi Maya. Agendanya? Tentu saja untuk berkenalan dan memberi sambutan pada Galang mengenai 'Welcome to the club!' Yah, klub bapak-bapak yang akan akrab karena hubungan persahabatan para istri.
Sejenak beramah tamah dan saling tukar kartu nama, Galang tahu, beberapa lelaki yang ia hadapi bukan orang sembarangan. Contohnya lelaki yang berbicara pada Galang sambil tertawa, 'finally you got the last princess, ya!' kata seorang lelaki yang rambutnya hampir penuh uban. Dia adalah suami Tania, pemilik group konstruksi dengan spesialisasi pembangunan jalan tol. Juga seorang lagi bertubuh tambun dengan rambut menyembul dari kemejanya, Ronald, suami dari Virsa. Pemilik tempat karaoke fancy yang saat ini sedang digemari anak muda.
Galang sadar, ada sosok yang tidak hadir dalam lingkaran kecil para suami-suami ini. Melirik lagi ke arah para wanita yang sedang tertawa-tawa heboh di sebuah meja disana, Galang menatap Yrene yang duduk sendiri tanpa menggendong anaknya. Sepertinya lelaki itu benar tidak hadir. Ada perasaan campur aduk yang Galang rasakan. Antara tidak ingin menemui dia, atau ada sedikit harapan akan kedatangannya disini. Apakah mungkin ia tidak hadir karena ucapan Galang dulu yang mengatakan agar dia tidak muncul lagi dihadapan Maya dan dirinya? Ah, ucapan itu hanyalah pelampiasan marah dan cemburu Galang pada sosok Ikhsan yang begitu dekat dengan Maya.
'Ah, Ikhsan. Gue pikir semuanya sudah selesai tentang kisah lo dalam kehidupan gue dan Maya. Ternyata tidak semudah itu melupakan sosok lo,' batin Galang. Mungkin sebenarnya Galang sedikit merasa bersalah melihat sosok Yrene yang harus datang sendiri ke luar kota seperti ini tanpa dampingan suami dan anaknya, tidak seperti sahabat yang lain.
Sedikit menjadi gusar karena mengingat-ingat akan amarahnya dulu pada Ikhsan, Galang meneguk kasar air putih dari nampan seorang pelayan yang baru saja lewat. Ia berpikir mungkin ada baiknya ia benar-benar memaafkan Ikhsan, dan lalu meminta maaf pernah sangat tidak menyukai suami Yrene itu. Yah, lagi-lagi, jika bukan karena konflik dan masalah tragedi lama itu, Galang mengakui bahwa Ikhsan adalah pria baik yang memang punya pesona memikat.
Galang memutuskan untuk kembali saja duduk di meja bersama orangtua dan Mama Maya. Mungkin bisa sejenak bermain bersama Nami, putri kecil Arya yang suka memanggil Galang dengan sebutan 'Om ganteng.'
Baru saja Galang melangkah, tiba-tiba kakinya ditabrak sesuatu dari samping. Sekilas mirip guling kecil yang dipakaikan tuxedo mini berwarna hitam.
"Ianvs, be careful young man!"
"Ikhsan!"
Pria yang dikenali oleh Galang itu tampak sibuk berjongkok membersihkan celana makhluk kecil yang tadi menabrak kaki Galang. Ikhsan terdengar sedikit mengomel sementara anak kecil yang ada di pelukannya itu sudah tak sabar ingin berlarian lagi.
Akhirnya menyerah, Ikhsan membiarkan lagi putranya itu berlari. Kali ini bocah kecil itu terlihat berlari ke arah tanah rerumputan lapang, melihat anak-anak lain bermain gelembung sabun. Ia menghela nafas panjang karena lelah sedari tadi menjaga Ianvs. Ikhsan lalu berdiri, menjabat tangan Galang yang sudah menggantung di udara.
"Congratulations on your wedding," ucap Ikhsan tanpa tersenyum. Ia kemudian langsung pergi berlalu begitu saja. Meninggalkan Galang yang sudah membuka mulut ingin berbicara.
Menatap kemana arah Ikhsan berjalan, Galang justru mendapati Yrene sudah ada di samping Ianvs. Mereka bertiga tampak saling mengobrol kemudian tertawa, seolah membicarakan bagaimana jagoan kecil mereka sudah sangat susah untuk di kontrol.
Menghela nafas sambil memandangi langit dengan perasaan campur aduk, Galang melanjutkan langkahnya menuju meja keluarga. Ternyata, disitu sudah duduk kembali istrinya dengan wajah yang terlihat puas dan bahagia. Melihat wajah berseri-seri Maya, perasaan tak menentu Galang langsung lenyap.
Setelah mengobrol cukup lama serta berdebat dengan ayah Galang tentang jumlah anak, Galang dan Maya memutuskan untuk memulai hidangan utama mereka. Sambil menunggu makanan-makanan disajikan di meja, mereka menikmati musik akustik yang dilantunkan oleh penyanyi di atas panggung kecil dengan suara merdu.
Ketika lagu berakhir, Galang dan Maya ikut bertepuk tangan bersamaan dengan hadirin lainnya. Penyanyi itu terlihat bersiap-siap turun panggung seolah menyerahkan panggung itu untuk dimiliki oleh orang lain. Ada seseorang yang baru naik ke panggung, ia terlihat membelakangi hadirin saat membuka jas hitam lalu menggulung kemeja putihnya.
Galang menyadari siapa pria itu saat Maya tiba-tiba menggenggam dan hampir meremas tangannya. Tubuh Maya menegang dan ekspresinya kaku. Ah, itu pasti Ikhsan. Apa yang dia lakukan disana? Tadi saat bertemu dengan Galang, lelaki itu terlihat tidak senang dan tidak menikmati acara.
"Honey, should I do something?" tanya Galang pelan sambil berbisik. Maya hanya menjawab dengan gelengan pelan.
Sesungguhnya Maya juga terkejut. Ia tadi tidak berani bertanya pada Yrene kenapa sahabatnya itu datang tanpa menggendong Ianvs. Ternyata, justru Ikhsanlah yang sedang menjaga anak lelaki mereka. Kalau dipikir-pikir juga memang tidak mungkin Ikhsan membiarkan Yrene datang kemari, ke luar kota sendirian.
Saat Ikhsan berbalik tak lagi memunggungi para hadirin, Maya menahan nafasnya. Ia mengutuk pikirannya, tetapi ada setitik rindu yang jujur terlepas dari pandangannya. Pria itu tampak jauh lebih sehat dari terakhir kali Maya lihat. Diam-diam Maya berharap bahwa Ikhsan tidak menyanyikan sesuatu yang membuatnya akan tengiang-ngiang mengenang kisah cinta lamanya.
"Ehem," suara Ikhsan terdengar di microphone. Ia menunduk saat pertama kali memetik gitarnya.
Galang mengepalkan tangannya saat melihat arah tatapan manik mata Maya yang lurus menatap panggung. Ia langsung menyesal sempat berpikir untuk meminta maaf pada Ikhsan. Memang sebaiknya Ikhsan tidak perlu muncul barang sedetik pun di hadapan baik dirinya maupun Maya, istrinya.
Ikhsan terlihat menutup matanya saat mulai menekan tuts piano. Entah karena pias matahari senja, atau pria itu setengah mabuk. Wajahnya sedikit memerah, membuat matanya yang sendu itu semakin memikat hadirin yang tertarik dengan alunan lihai jemari Ikhsan yang menari diatas piano. Ada beberapa suitan saat Ikhsan membelai kasar poni yang sedikit panjang menutupi matanya.
Maya menahan nafasnya lagi saat Mata Ikhsan membuka. Pandangan teduh dan sendu itu seolah tepat menatapnya. Cepat-cepat Maya menundukkan matanya. Menghindari bius kenangan yang sarat dalam pandangan Ikhsan. Dan ketika Ikhsan mulai bernyanyi, Maya merasakan bulu kuduknya meremang.
"This silence is killing me
Is it this how you wanna be
I know that I'm not me at times
But I just wanna feel alive
I just feel like I'll overdose
I won't breathe that my body knows
I just wanna hold you close
But I'm sitting in this broken home..."
Galang mengeraskan rahangnya, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak bertindak. Maya tadi tidak menyetujui gagasannya untuk melakukan sesuatu pada Ikhsan. Meski merasa butuh penjelasan kenapa, tetapi ia memilih untuk menuruti saja kemauan istrinya. Biar nanti saat keadaan lebih tenang, mereka berdua bisa lebih dekat membicarakan tentang hal ini.
"Leave
It's hurting lately
I'm broken maybe
I just wish the best for you
Leave
It's hurting lately
I'm broken maybe
I just wish the best for you.." - Wish you the best by Kayou
***
Jangan lupa like, komen dan votenya ya pembaca yang baik!
Love, Author.