
Rayyan memacu langkahnya dengan cepat menuju ruangan Galang. Beberapa karyawan yang ia lewati memasang wajah kebingunan. Semacam menerka-nerka apakah ada sesuatu yang urgent sampai Chief Editor dan Private Assistant Galang Rahardja berlarian mencari sang bos.
Begitu sampai di depan pintu ruangan bos nya Rayyan merasakan aura mencekam. Ia memang hanya menatap punggung Maya yang tegak, tetapi ia yakin saat ini Maya penuh amarah. Sementara Galang di seberang mejanya berdiri kaku membatu.
Galang berusaha memilih kata dan sudah membuka mulutnya, tapi tak satu pun kata keluar. Ia menutup kembali bibirnya, seolah ragu hendak menjelaskan apa. Dipikiran Galang saat ini pun sedang kacau. Berpikir antara mau balik marah pada reaksi Maya yang menurutnya tidak perlu, atau merasa bersalah juga sudah mendatangi Yrene tanpa konsultasi atau bahkan sekedar mengabarkan pada Maya terlebih dahulu.
Dengan ragu, Galang berjalan kehadapan Maya. Manik matanya beralih dari wajah Maya ke Rayyan yang juga berdiam diri di belakang Maya salah tingkah. Galang memberikan tatapan dan arahan tanpa suara. Rayyan lalu mengangguk dan dengan cepat melangkah masuk ke dalam ruangan melewati Maya dan Galang. Sigap ia turunkan tirai menutupi dinding-dinding kaca ruangan Galang. Begitu selesai, segera ia menutup pelan pintu dan melempar gerlingan pamit pada Galang.
Setelah menghembuskan nafasnya yang sedari tadi sesak, Rayyan membuka matanya lalu terkejut. Ia mendapati semua mata di ruangan open office kantor mengarah pada ruangan si bos. Seakan ingin tahu ada drama apa yang sedang berlangsung disana.
"Ehem! Back to work, everyone. None of inside the room is your business unless lo semua udah bosen kerja disini!" ucap Rayyan dengan tegas seraya memperbaiki postur tubuhnya agar berdiri dengan tegak kembali.
Sebelum pergi, Rayyan melemparkan pandangan menyesal ke arah pintu ruangan Galang yang tertutup. Ia sungguh menyesal menganggap remeh rahasia soal kepergian sang bos pagi tadi. Kini, Rayyan berharap nantinya semua berakhir baik-baik saja. Jangan sampai kantor ini kehilangan Chief Editor berbakat dan kesayangan semua orang di kantor.
***
"May..." desah Galang. Ia risih dengan tatapan Maya yang terus memicing seakan menguliti seluruh isi kepalanya.
Ia melangkah lebih dekat lagi ke arah Maya, menyisakan jarak yang cukup dekat. Tetapi gadis itu tak juga memadamkan letup amarahnya. Galang akhirnya menyerah, ia tak mungkin berkelit didepan si empunya akar masalah.
"Iya, gue memang ketemu dan bicara sama Yrene..." kalimat itu akhirnya meluncur dari bibir Galang. There's no way to turn back now, batinnya.
"But why? Kalau lo menemui Ikhsan, gue masih bisa pahami. Tapi kena Yrene, Lang?!!" pekik Maya.
Galang memejamkan Mata, menahan marahnya yang terpancing karena suara tinggi Maya. Ia menggenggam tangannya, berusaha tetap tenang.
"Menurut lo, kenapa Ikhsan bisa bilang cinta sama lo sementara dia sudah beristri? Kenapa after all this time, dia masih bisa menyimpan perasaan pada lo? Kalau dia cinta sama lo, lalu perasaan apa yang di curahkan sama istrinya? hah?!" Galang sedang memaki dirinya sendiri karena sudah lepas kontrol, sebagian dirinya berteriak dikepala agar berhenti saja berbicara. Tapi terlanjur, kesal sudah meluncur dari ujung lidahnya.
"Yrene baru saja melahirkan dan punya bayi. Menurut lo, selama Ikhsan nidurin istrinya siapa yang ada dipikiran dia? Yrene? atau elo, May?! Siapa yang dia cintai?!" Galang tak membutuhkan jawaban dari Maya, logikanya sebagai laki-laki mendesak dirinya untuk menyadarkan Maya. Bahwa Maya saat ini butuh diberi sudut pandang lain.
"Istrinya, Istrinya berhak tau, Maya. Yrene berhak tau bahwa selama ini hati Ikhsan masih menyimpan rasa pada lo. Bahwa selama ini Ikhsan bermain hati, dan menduakan Yrene dengan mencintai lo di hatinya.."
Plakk!!
Sebuah tamparan mendarat pada pipi kiri Galang.
Galang mengatupkan keras rahangnya, membuat tulang dagu pria itu jelas membentuk bingkai wajahnya .Tamparan itu tak akan menghentikannya berbicara. Inilah saatnya ia menjalankan niatnya membantu Maya.
Sekilas tadi Galang menangkap pandangan mata Maya yang melebar, tak percaya Galang mampu berpikiran dan berkata seperti itu. Ia sungguh sudah menghancurkan kesan lelaki terhormat dengan berbicara soal rumah tangga orang lain saat ini.
"Ikhsan, dia tak akan pernah bisa berpaling dari lo.." Galang sengaja menggantung kalimatnya, memberi jeda agar Maya menatap mata Galang. Saat mata mereka bertemu, Galang kembali membuka mulutnya.
"Dia butuh rangkulan istrinya agar bisa pergi dari lo. Dia butuh sepenuhnya perhatian dan cinta yang sungguh besar dari istrinya, agar meninggalkan lo, Maya. Dia gak akan sanggup jika sendirian melupakan perempuan seperti lo..." ucap Galang dengan suara yang pelan dan lembut.
Maya menurunkan bahunya, baru menyadari niatan dari Galang. Juga baru saja mendapat sebuah sudut pandang baru. Apa yang dikatakan Galang bisa saja merupakan hal yang benar. Dirinya saja begitu sulit melupakan cinta pertamanya. Tentu Ikhsan juga merasakan hal yang sama. Bantuan dari Yrene sebagai istrinya pasti akan sangat menolong Ikhsan tidak berlama-lama terpuruk.
Mendapati Maya tetap diam, Galang melangkah maju lagi. Jarak mereka begitu dekat sekarang. Ia lalu memegang pundak gadis didepannya.
"May, sudah cukup. Berhentilah terus-menerus mengkhawatirkan orang lain, baik Ikhsan ataupun Yrene. Sebagai suami istri, itulah ujian dan masalah yang mereka harus selesaikan. Toh faktanya lo bukan pihak ke 3 yang berusaha merebut suami orang! Gue bersaksi bahwa lo bukan perempuan seperti itu, demi tuhan." Galang masih menatap Maya yang mulai mengigit bibirnya sendiri. Air matanya mulai turun membasahi pipinya.
Maya lalu mengangkat wajahnya, "Lang... Gue harus ngomong apa ke Yrene? Gue harus minta maaf tapi, tapi gue takut, Lang. Gue gak pernah berniat ada diantara mereka. Gue juga gak berdaya masih menyimpan perasaan cinta ke Ikhsan. Seandainya gue bisa melupakan dan membenci Ikhsan pasti sudah gue lakukan dari dulu. Tapi gue gak punya kendali terhadap perasaan ini, Lang. Tolongin gue, Tolongin gue ngadepin Yrene. Gue juga gak mau semua sahabat-sahabat gue salah paham ke gue." Runtuh sudah kekuatan Maya, ia jatuh dalam pelukan Galang. Menangis sejadi-jadinya, sepuas-puasnya.
Meski Galang mulai merasakan hangat dari basah air mata Maya, ia tidak perduli. Ia sudah berikrar akan membantu Maya, jangankan dada atau bahunya ia korbankan. Lebih dari itu pun, Galang siap. Ia hanya berharap ini adalah usahanya agar terbebas dari rasa bersalah dan traumanya pada Ratri yang sudah bertahun-tahun lamanya.
"May, lo tenang aja. Gue akan membantu lo menghadapi Yrene. Ntah itu Yrene, Ikhsan atau sahabat-sahabat lo lainnya. Gue gak takut. Lo gak perlu takut. Lo gak salah. Gak ada yang bisa di salahkan dari menyimpan rasa cinta pada seseorang." Galang kini melingkar kan tangannya pada bahu Maya yang masih menangis. Pelan, tangan Galang mengelus kepala belakang gadis itu untuk menenangkannya.
"Ayo kita hadapi bersama, May. Tuhan dan semesta pasti akan membantu." ucap Galang lagi dengan lembut.
Maya mengangguk dan melepaskan dirinya dari pelukan Galang. Dengan mata sembab yang masih basah dan wajah memerah, ia menatap Galang.
"Sorry, I was so mad at you. Dipikiran gue lo terlalu jauh ikut campur. Gue gak pernah tau kalau lo udah memikirkan sampai sejauh itu."
Galang tersenyum, "It's okay, It's okay. Lo lupa ya kalau gue ini pinter baca keadaan, May? Kalau gue gak pinter, gak mungkin gue bisa bisa punya kantor media berita sendiri dan jadi CEO di usia muda gini." ujar Galang sambil mengusap air mata di pipi Maya.
Sejenak, ada rasa canggung diantara mereka. Ya Galang yang merasa melewati batas telah bersikap layaknya pantas melakukan hal sedekat itu, Ya Maya yang merasa malu sudah menampar sekaligus menangis di pelukan bosnya hingga membuat kemeja Galang kini basah oleh air mata dan mungkin ingusnya.
"Gue anter lo pulang aja, ya?" tanya Galang lembut. Maya langsung mengangguk, ia sungguh ingin istirahat hari ini.
Galang segera mengambil kunci mobil dari atas mejanya dan menghampiri Maya. Ia menangkap ekspresi ragu pada Maya.
"May? Kenapa?"
"Thank you, Galang. Thank you for everything you did to me." desah Maya.
Galang tersenyum, "My pleasure, Maya."
Maya menatap mata Galang yang masih tersenyum.
"Shall we?" tanya pria itu.
Maya mengangguk dan berjalan di belakang Galang.
Sambil berjalan dan menatap punggung bidang bosnya, Maya membantin. "I'm truly thank you for what you did, Lang. And I do feel safe in your arm."
***
**Halo pembaca yang baik 🙋
Terimakasih sudah selalu memberikan perhatian dan dukungan yang menghangatkan hati dan jiwa author untuk terus menulis dan up episodenya.
Mohon dukungannya terus ya dengan like, beri kesan di komentar, vote dan share ya kalau ada waktu 🥰😘 kiss**~