The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Cold & Late



Sudah sekitar 2 jam yang lalu keluarga Yrene dan Ikhsan datang silih berganti menenangkan dan memeluk Yrene. Sahabat lainnya seperti Adel, Nina, dan Virsa juga datang, mereka juga tak lupa memberikan pelukan hangat pada Maya. Tania sudah pulang terlebih dahulu, namun ia sudah berpesan pada Nina untuk membawakan Maya baju ganti, jaket dan juga selimut. Perhatian dari orang-orang terdekat ini membuat kedua perempuan yang sedang resah menunggu ini merasa lebih baik.


Lampu pintu ruangan resusitasi yang sedari tadi berwarna merah tanda tindakan pada pasien masih berlangsung kini padam. Yrene yang menyadari apa arti dari lampu itu segera berdiri di depan pintu, menanti kabar dari dokter yang akan keluar dari ruangan itu.


Begitu pintu terbuka, seorang dokter tampak menatap serius wajah Yrene. Dokter ini tampak lebih muda daripada Dr. Bimo. Saat ia mulai berbicara, Papa Yrene datang menghampiri.


"Halo, Saya Dr. Adrien, Kondisi vital sudah dapat ditangani, kita akan melanjutkan ke penangangan berikutnya yaitu operasi untuk cedera kepala pasien. Ada beberapa step operasi, tapi kita akan melakukan scan menyeluruh dulu." Sang dokter tampaknya sudah diberi tahu oleh Dr. Bimo mengenai latar belakang Yrene dan Papanya, ia terlihat menunggu komentar mereka.


"Berapa nilai GCS (Glasgow Coma Scale) nya?" tanya Papa Yrene, Dr. Handoko.


Dr. Adrien itu menatap wajah Dr. Handoko dengan ekspresi menyesal dan ia menjawab perlahan, "Very low, tiga, Dokter."


Mendengar jawaban sang dokter, Yrene menutup mulutnya dan mulai terisak. Papa Yrene memeluk anaknya kemudian mengangguk pada Dr. Adrien. "Lakukan semua scan yang dibutuhkan," ujarnya sambil beranjak pergi membawa Yrene yang tengah menangis dalam pelukan Sang Papa.


Maya tidak begitu mengerti percakapan yang ia dengar, tapi melihat Yrene yang mulai menangis histeris membuat hatinya bergetar. Ia sebenarnya ingin sekali bertanya apa arti percakapan itu, tetapi ia tak punya nyali.


Selang beberapa menit, seorang laki-laki datang dan duduk disamping Maya. Saat Maya menoleh, laki-laki itu tersenyum. Wajahnya tak asing bagi Maya, tetapi Maya tak bisa ingat siapa nama pria ini.


"Mbak Maya," sapanya dengan senyum. Pria itu kemudian menjulurkan tangannya, "Giwok".


Ah! Benar, ini adalah orang yang ada dalam team project Ikhsan saat mengunjungi kantor TechnoMedia.


Maya menyambut tangan Giwok dan membalas senyum. Giwok mengalihkan pandangannya ke arah Yrene, lalu merendahkan pundaknya dan berbisik pada Maya.


"Aku di suruh dateng sama Yrene, supaya Mbak Maya ada yang nemenin disini," jelas Giwok sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.


Maya mengangguk, "Terimakasih, Mas."


"May," panggil Yrene sejurus kemudian. "Gue gak bisa nungguin Ikhsan semalaman karena ada Ianvs. Lo disini bareng mas Giwok ya?" pinta Yrene yang dijawab anggukan lemah Maya.


Yrene lalu membereskan beberapa barang bawaan. Ia berpesan pada Maya bahwa Sang Papa akan ada di rumah sakit ini sementara waktu menunggu kabar lanjutan kondisi Ikhsan. Dan jika ada kabar dari rumah sakit yang membutuhkan tandatangan keluarga untuk melakukan tindakan, Yrene akan dihubungi kembali untuk segera datang.


"Rene, tunggu," panggil Maya sebelum Yrene pergi.


"Dokternya tadi bilang apa soal Ikhsan?"


Yrene menelan ludah, "Ikhsan koma, dan setelah dilakukan scan menyeluruh serta kondisi memungkinkan, operasi akan dilakukan. Mungkin untuk mengangkat bekuan darah, mungkin juga untuk memperbaiki patahan jika ada patahan pada tulang tengkoraknya."


Bulu kuduk Maya refleks meremang mendengar penjelasan Yrene. Pantas saja Yrene menangis histeris saat mendengar kabar dari Dr.Adrien tadi.


"Lo istirahat ya, lo bisa pulang kalau lo mau. Gue akan kabarin kondisi Ikhsan," ujar Yrene lemah.


Maya menggeleng, "Lo yang harus istirahat. Ianvs pasti butuh ibunya."


Yrene mengangguk dan perlahan berlalu bersama Papa dan Mamanya.


***


"Maya, Nak..."


Sebuah sentuhan hangat dan lembut pada pipi Maya yang dingin membangunkan Maya. Entah sejak kapan ia tertidur di kursi tunggu. Maya kemudian membuka matanya dan mendapati wajah seseorang yang ia kenal, ia adalah Ibu dari Ikhsan.


"Bunda?" sapa Maya refleks. Ia kemudian dengan canggung berdiri, merasa sedikit malu tiba-tiba memanggil perempuan berusia lanjut itu dengan panggilan akrab. Dulu, Maya pernah dikenalkan oleh Ikhsan pada Ibunya saat pembagian raport siswa. Ikhsan menyuruh Maya memanggil ibunya dengan sebutan 'Bunda' supaya dianggap anak juga, katanya.


Ibu Ikhsan tersenyum, namun terlihat raut wajahnya juga lelah. Mungkin perjalanan menuju kota ini sudah menghabiskan sebagian besar energinya, terlebih lagi harus menghadapi kondisi putranya yang sekarat.


"Ayo kita pergi dari sini, Ikhsan sudah dipindahkan ke ruang ICU," ajak Bunda Ikhsan.


Merapatkan jaket ke tubuhnya, Maya beranjak berdiri. Bersama-sama, mereka berjalan melewati lorong sepi rumah sakit menuju kamar rawat inap Ikhsan. Udara dingin dan suara langkah yang bergema membawa pikiran Maya jauh. Tiba-tiba ia merasa ngeri membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada Ikhsan. Akan begitu banyak orang yang sedih, Yrene dan keluarganya, sahabatnya, juga keluarga Ikhsan. Maya bahkan memejamkan matanya erat saat membayangkan wajah mungil Ianvs, jika ia harus kehilangan ayah di usia 2 bulan.


Sesampainya di ruang kaca ICU, Maya tak dapat menahan air matanya. Tubuh Ikhsan terlihat pucat bagai mayat. Kepalanya terbungkus kain perban. Kepalanya bahkan tampak bengkak, membiru dan sangat besar. Hampir seluruh badannya dipenuhi kabel monitoring mulai dari kepala, dada, tangan bahkan ujung kakinya. Ruangan yang sunyi itu dipenuhi bunyi 'beep' dan 'nit' yang teratur dari monitor.


Menghela nafas yang berat, Dr. Handoko membalikkan tubuhnya ke arah mereka yang hadir menjenguk Ikhsan. "Ikhsan masih dalam keadaan koma, kita sedang menunggu hasil scan yang baru akan keluar esok pagi. Setelah itu tindakan operasi akan dilakukan."


Dr. Handoko kemudian menambahkan, "Ada baiknya Bapak Ibu ikut saya beristirahat di rumah, saya sudah telfon dan minta orang rumah untuk menyiapkan kamar untuk Bapak Ibu. Yrene dan ianvs juga menginap di rumah saya. Jika ada hal penting, kita bisa bersama-sama kembali ke rumah sakit. Kita yang sudah tua ini sebaiknya jangan terlalu letih, Ikhsan akan butuh banyak bantuan dan perhatian dari kita nantinya. Jadi jangan sampai kita sakit."


Dr. Handoko lalu beralih pandangan pada Maya dan Giwok, "Mas Giwok dan Maya akan menunggui disini, benar?" tanyanya.


"Iya benar, Om," sahut Maya.


"Ok, Mas Giwok, minta tolong jagain Maya ya. Ini Maya sahabat Yrene, sudah saya anggap anak saya sendiri juga," pinta Dr. Handoko yang dijawab anggukan serius oleh Giwok.


Kedua orangtua Ikhsan dan Dr. Handoko lalu berpamitan pulang, meninggalkan Ikhsan pada penjagaan Maya dan Giwok.


"Mbak May, tidurlah di sofa tunggu yang panjang itu. Saya masih ada urusan sebentar. Kalau ada apa-apa cari saya saja, saya telfonan di luar ya. Takut mengganggu kalau disini," ujar Giwok sopan, kemudian pergi dengan langkah yang bergema.


Di ruang tunggu itu, tinggallah Maya sendirian berdiri menatap tubuh Ikhsan yang tak sadarkan diri. Jemari Maya bergetar saat menyentuh kaca pembatas dari ruang ICU Ikhsan. Sedikit sulit melihat bagaimana rupa Ikhsan sebab wajahnya yang bengkak tertutupi oleh selang bantu nafas dan perban di kepala.


Maya menyandarkan kepalanya pada kaca pembatas dan berbisik, "San, maafin gue. Please, wake up." Embun nafas Maya menutupi wajahnya yang mulai basah oleh air mata yang hangat.


Setelah puas menatap tubuh Ikhsan, Maya duduk di sofa tunggu. Matanya yang telah banyak menangis perlahan memberat. Udara dingin memeluk Maya, menghantarkan ia pada lelap dan mimpi. Tentang Ikhsan.


***


Maya sadar, ia sedang berada dalam mimpi. Ia bahkan merasa bahwa tubuhnya tak berjejak pada lantai yang ada dibawah. Maya lalu menatap sekelilingnya, ada pemandangan yang tak asing baginya.


Ada sebuah panggung besar, seingat Maya ini adalah panggung khas yang ada di pensi SMA nya dulu. Saat itu Maya ingat, dia sedang meliput acara pensi. Sesaat, situasi di panggung terlihat ramai dengan band yang sedang memainkan sebuah lagu.  Namun entah kenapa, situasi tiba-tiba sepi dan hanya Maya yang ada di depan panggung.


Kemudian, ada Ikhsan menaiki panggung tersebut dan menatap Maya yang berdiri seorang diri membeku. Ia lalu terlihat memperbaiki posisi mic dan mulai memetik gitarnya. Seingat Maya, dulu saat pensi SMA Ikhsan juga pernah bernyanyi di panggung, tapi di mimpi Maya kali ini, Ikhsan mengganti lagunya.


"Bunga beri aku satu kesempatan lagi


Jangan sampai ku mengemis padamu


Bunga ku berjanji kali ini akan kutepati


Karna aku lelaki" Ihsan-Bunga


"Mbak Maya!" Tubuh Maya terguncang oleh Giwok yang tampak panik.


"Mbak, bangun! Ikhsan! Ikhsan!" Maya membuka matanya lebar saat Giwok menyebut nama Ikhsan. Cepat Maya berdiri dan menolehkan wajahnya pada ruang kaca ICU, seluruh ruangan ditutup tirai oleh orang-orang yang ada di dalam.


Dari sela tirai, tubuh Maya gemetar melihat beberapa dokter dan perawat bergerak cepat entah berbuat apa di ruangan Ikhsan.


"Tadi, monitor Ikhsan, bunyi beep panjang," lirih Giwok sambil terduduk lemas.


***


Mohon doanya untuk Ikhsan ya :')


Jangan lupa vote, like dan komentarnya.


Love, Author.