
Pagi harinya.
Bella membuka matanya. dia terbelalak saat tahu kalau dirinya tidur diranjang milik Leon. dia melihat kesamping kalau ternyata Leon tak ada disana. dia berlari keluar mencari dimana Leon berada. dan Bella menemukannya di taman sedang olahraga ringan.
"Tuan.." sapa Bella.
"ohh kamu sudah bangun Bella." kata Leon menghampiri Bella.
"maaf saya terlambat bangun tuan. apakah ada yang tuan inginkan untuk sarapan pagi ini?" tanyanya.
"buatkan aku sandwich saja." kata Leon.
"baik Tuan."
Bella segera ke kamarnya dan membersihkan diri dahulu baru ke dapur untuk menyiapkan susu hangat dan juga sandwich untuk tuannya. selama dia melakukan kegiatan tersebut, dia selalu bergumam sendiri.
"bagaimana bisa semalam aku tertidur dikasur Tuan? ini pasti walking sleep syndrom ku kambuh ini. duh malu-maluin aja. untung para pembantu lainnya belum pada datang. kalau sudah pada datang mau ditaruh dimana mukaku? bisa-bisa mereka lapor Madam agar memecat ku. karena pasti mereka pikir aku menggoda Tuan." gumamnya sendiri tanpa sadar jika Leon sudah berada di belakangnya.
"siapa yang menggoda siapa?" tanya Leon.
Mendengar suara Leon, Bella terlontar kaget sampai tangannya terkena air panas yang hendak dia tuangkan untuk membuat susu hangatnya.
"Ish.. aww.." ringisnya memegangi tangannya yang memerah.
"Kamu terluka Bella. sebentar aku ambil salep luka bakar." kata Leon terlihat sangat khawatir sambil berlari mengambil kotak p3k.
Leon kembali lagi dan langsung mengambil tangan Bella serta mengoleskan salep luka bakar ditangan Bella agar tak melepuh. Leon mengoleskan dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. sesekali meniup tangan Bella saat Bella meringis kesakitan.
"lain kali hati-hati ya. ceroboh sekali sih." kata Leon setelah usai mengoleskan salep.
"kan tadi Tuan yang mengagetkan saya."
"habis kamu tadi ngedumel sendiri."
Bella mengalihkan pandangan dari muka Leon. dia sekilas menangkap jam dinding di samping. dia membelalakkan matanya saat melihat sudah hampir jam sepuluh pagi.
"Astaga Tuan.. ini sudah siang Tuan. kenapa Tuan belum bersiap untuk bekerja?" kata Bella yang langsung berdiri menyiapkan sarapan untuk Leon.
"Bella.. ini kan masih weekend. perusahaan tutup Bella." katanya membuat Bella menghentikan aktivitas nya.
"Astaga maaf Tuan. saya lupa hari. pantas saja para pembantu yang lainnya pada belum kesini." kata Bella baru menyadari kesalahannya.
Leon pun menghampiri Bella. dia mendekati Bella yang tengah menyiapkan sarapan. Dia memperhatikan Bella dengan seksama.
"Bella.. kamu hari ini ada urusan gak?" tanya Leon.
"gak ada Tuan. kenapa?"
"mau gak jalan-jalan sama aku?" kata Leon to the point.
"He? jalan Tuan?" tanya Bella tak percaya.
"iya.. ayolah.. aku butuh refresing Bella. sedangkan Diana malah pergi. kamu temani aku ya. please please.." bujuk Leon.
"tapi Tuan.."
"akan saya belikan kamu lobster untuk ayah dan adik kamu." kata Leon cepat.
Mendengar Leon akan membelikan lobster untuk keluarganya, dengan cepat Bella mengangguk. "Baik Tuan." Bella langsung segera masuk kedalam kamarnya meninggalkan Leon sendiri untuk sarapan.
Bella memilah memilih baju yang sekiranya pantas untuk dipakai jalan-jalan nanti.
"ahh bajuku jelek semua. hanya ini yang mendingan. ya sudahlah. mau bagaimana lagi, punyanya cuma ini." kata Bella melihat dress bunga-bunga kecil selutut berwarna navy itu.
Setelah sarapan pun Leon juga langsung bersiap. dia berniat mengajak Bella ke taman. dia mendengar dari Angela kalau hari ini Angela tengah berada di taman bermain.
Leon keluar menunggu diruang tamu. dia memakai celana bahan berwarna hitam dan sweater berwarna navy. entah bisa kebetulan juga dengan ynag dipakai oleh Bella. Dress warna navy. saat Leon dan Bella saling tatap dan merasa kalau warna bajunya sama mereka pun tergelak. Leon pertama kali menghentikan tawanya. Dia memperhatikan Bella yang terlihat sedikit memoleskan make up di wajah naturalnya. dia telihat lebih cantik dan anggun.
"umm iya Tuan, apakah ketebalan?" tanya Bella memegang pipi dan juga bibirnya. "akan saya hapus kalau ketebalan Tuan. jujur saya tidak bisa ber make up seperti Nyonya." lanjutnya.
"jangan.. make up kamu masih terlihat natural. bahkan lebih dari kata biasa jika dibandingkan dengan Diana. kamu juga terlihat cantik." katanya membuat pipi Bella memerah malu.
Akhirnya merekapun berangkat dan Leon mengabari Angela kalau dia ingin menyusul ke taman bermain. Leon mengabari itu karena jadwal satu hari ini taman bermain tersebut di pesan khusus oleh Angela hanya untuk Princess.
Leon sampai disana lalu bertemu dengan Angela. Angela menatap Leon heran. itu karena ada Bella disisinya, bukan Diana istrinya. Angela menarik tangan Leon untuk menanyakan ini.
"Maksud kakak apa? kenapa bawa Bella bukan Diana?" tanyanya terlihat tak suka. "kakak lupa? kakak ini suaminya Diana kak. bagaimana kata keluarga Diana kalau kakak menggandeng wanita lain. pembantunya sendiri lagi." lanjutnya.
"memang kenapa dek? selama hampir sebulan ini kakak hanya diam. Diana sama sekali tak pernah menganggap kakak itu suaminya. dia tak pernah melayani kakak. dia tak pernah mau tidur dengan kakak. setiap kakak pergi kerja dia pasti akan langsung pergi. setiap hari dia pulang lebih malam dibandingkan dengan kakak. kakak tak pernah diperhatikan dek." kata Leon membuat Angela kaget. dia yakin kalau kakaknya tak mungkin berbohong dengan apa yang dia katakan. karna itu bukanlah sifat kakaknya.
"Lalu kalau kakak tahu Diana akan seperti ini kenapa kakak masih tetap ingin menikahinya kak?"
"kakak pikir kalau dia akan berubah setelah menikah. namun ternyata itu lebih parah. bahkan dia bilang, kalau kakak ingin dilayani, maka suruh Bella untuk melayani kakak. jadi jangan salahkan kakak kalau pada akhirnya kakak menaruh perasaan kepada Bella." kata Leon.
"tapi kak. Bella itu masih kecil. dia juga masih polos. sedikitpun dia tidak mengenal namanya cinta. dia belum pernah pacaran kak. yang dia tahu dia hanya menjadi tulang punggung keluarga. Queen mohon jangan sakiti dia kak. jangan permainkan dia." kata Angela. dia tak ingin kakaknya menyesali perbuatannya seperti sahabat - sahabatnya.
"siapa bilang kakak hanya mau mempermainkan nya. sejak semalam, dia rela begadang hanya demi merawatku, sedangkan Diana malah pergi meninggalkanku, mulai saat itu Bella lah istriku. bukan Diana." kata Leon mantap.
"tapi kak, kalau kamu memang yakin dengan Bella, ceraikan lah Diana kak. jangan buat Bella sakit untuk menanggung beban sebagai orang ketiga. dia juga punya keluarga kak. kasihan keluarganya kalau sampai tulang punggung keluarganya harus menderita." Angela masih terus menasehati Leon..
"akan kakak dengarkan nasihat kamu dek. tapi beri kakak waktu. kakak tidak bisa dengan mudah untuk menceraikan Diana. kakak mesti mencari bukti kesalahan Diana. kalau perlu dialah sendiri yang mengajukan perceraian itu." kata Leon mengakhiri perdebatan itu dan berlalu menghampiri Bella.
Leon pun membawa Bella pergi berkeliling berpisah dengan Angela. sedangkan Angela kembali dengan muka masam. Sam melihat itupun dia berinisiatif untuk mendekati Angela.
"Princess, kamu main sama uncle Morgan dan bodyguard lainnya ya. ayah mau bicara penting sama bunda kamu." kata Sam lembut.
"baik ayah." Princess pun bermain bersama separuh bodyguard yang dibawa Angela. meskipun disewa penuh oleh Angela, namun banyak anak pengusaha yang bisa masuk dengan undangan dari Princess. jadi tetap saja taman bermain itu ramai.
"Madam, ada masalah kah dengan Leon?" tanya Sam pelan.
"Huh.... kak Leon baru saja bercerita tentang kehidupan rumah tangganya Tuan. saya tidak tahu harus bagaimana." kata Angela melihat kearah Sam.
"Saya rasa biarlah Leon berkelana dengan hatinya dulu. biar dia memantapkan pilihan untuk bertahan dengan Diana atau bersama yang lain." kata Sam memberi saran.
"tapi disini kak Leon mau menyeret Bella Tuan. anda lihat kan tadi kak Leon menggandengnya?"
"maksud Madam.." Sam mencoba mencari tahu apa maksud Angela dan dia membungkam mulutnya.
"iya, dia berniat ingin serius dengan Bella karena selama ini Bella lah yang melayaninya. dia ingin menceraikan Diana dan menikahi Bella. saya takut kalau itu hanya pelampiasan biasa Tuan. saya takut Bella tersakiti. Bella masih kecil dan polos. dia tidak tahu masalah cinta cintaan seperti ini Tuan."
"Biarlah waktu yang akan menjawab seperti apa nantinya kisah cinta mereka Madam." kata Sam.
"emm.. kurasa jika kita sedang bersama seperti ini, sangat tidak baik untuk berbicara formal. panggil saja saya Queen." kata Angela.
"baiklah. kalau begitu panggil saja saya Sam. karena saya lebih tua, saya lebih suka dipanggil..."
"Abang..." potong Angela membuat Sam kaget. "jangan kaget. saya hanya sering mendengar Tuan dan Nyonya Rey memanggil anda seperti itu." kata Angela berkilah.
"hahaha ya ya ya.. kupikir kalau anda.. maaf maksudnya kamu orang Indonesia. soalnya saat kamu memanggilku abang, kamu terlihat fasih." kata Sam.
"aku mempelajarinya dari mereka. Indonesia? aku hanya mendengar namanya saja. belum pernah kesana. namun aku suka masakan Indonesia. seperti yang Mommy Elsa buatkan." kata Angela lagi untuk menyakinkan bahwa dia bukan dari Indonesia.
"sungguh? nanti kalau Princess libur, berliburlah ke Indonesia. akan ku sambut kalian berdua dirumahku. pasti Bundaku juga senang dengan kedatangan kalian. apalagi saat melihat Princess. pasti bunda bahagia sekali. karena selama ini bunda ingin punya cucu perempuan. namun adiknya Hans juga lelaki. jadi hanya menunggu dariku."
"lalu kenapa kamu tidak menikah lagi bang?"
"maukah kuceritakan sedikit penyesalanku?" kata Sam.
"dengan senang hati."
"istriku meninggal bunuh diri karena dia mengira kalau aku cinta wanita lain. namun aku sendiri baru menyadari kalau aku mencintai istriku setelah istriku pergi. kata terakhirnya sebelum dia pergi, dia berharap kalau aku akan bahagia dengan wanita itu. namun karena aku sadar kalau aku mencintainya, akhirnya sampai sekarang aku tak pernah mau menikah. karena aku merasa akan semakin menyakitinya jika aku hidup bahagia dengan wanita lain. itulah sebabnya aku masih bertahan dengan kesendirian. aku berpikir biarlah hidupku kesepian dengan sendiri, karena aku yakin Angela akan datang kembali." kata Sam panjang lebar.
Abang benar.. ini aku Angela. aku sudah kembali bang. tapi maaf.. aku belum bisa untuk memenuhi keinginanmu. aku masih menunggu hatiku agar tidak ragu lagi saat menerimamu. aku hanya ingin ikhlas untuk menerimamu menjadi suamiku lagi bang. aku mohon tunggu aku sampai aku membuka kembali hati ini untukmu bang. karena menerimamu, bagiku bukan sebuah kemudahan seperti membalikkan telapak tangan.