
(Kisah Leon dan Diana)
Semakin dalam kamu mencintai seseorang, maka semakin sakit saat orang yang kamu cintai menghianatimu.
***
Setelah selesai acara tersebut, Leon dan Diana kini tengah berada didalam kamar pengantin. terlihat raut muka lelah pada keduanya. namun Leon tetap memancarkan rona bahagianya. dia memeluk Diana yang tengah hendak melepaskan gaun pengantinnya.
"kak, lepas dulu ihh. aku mau mandi udah gerah banget." kata Diana sedikit ketus.
"sayang.. sebentar aja.. aku kan udah kangen banget sama kamu saat kemarin kita tidak boleh ketemu." kata Leon yang tetap tak ingin melepaskan pelukannya.
"kak! gak usah manja deh. aku tu gerah mau mandi. capek juga tahu gak." bentak Diana.
Leon seketika melepaskan pelukannya dan mundur selangkah menjauhi Diana. dia menatap heran Diana yang baru kali ini membentak nya. meskipun dia mempunyai sifat yang galak namun selama delapan tahun ini baru sekali dia melihat Diana membentak nya.
Leon kaget sekaligus merasakan dadanya begitu nyeri. dia pun mengambil minuman dingin dan membawanya di balkon. dia menenggak minuman itu dalam sekali tenggak. dia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menetralkan perasaannya yang begitu berkecamuk sekarang. entahlah, tapi yang dia rasakan sekarang hanya sesak saat mendengar Diana membentak nya.
Terdengar Diana sudah keluar dari kamar mandi. tanpa menyapa Leon dia langsung naik ke atas ranjang.
"Sayang, aku mau mandi. tolong kamu siapkan baju ganti ku ya." kata Leon dan langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu Diana menjawab.
Setelah lima belas menit Leon berada di dalam kamar mandi, dia keluar. namun dia tak menemukan baju yang dia minta Diana menyiapkannya. dia justru mendapati pemandangan yang semakin membuatnya merasakan sakit hati. dia melihat Diana sudah tidur diatas ranjang dengan menyelimuti tubuhnya. Leon perlahan menghampiri dan membangunkan Diana.
"Sayang... kok udah tidur aja sih. tolong dong ambilin baju kakak." kata Leon tapi Diana tak merespon. "Sayang..." Leon mengusak rambut Diana. dia juga menciumi pipi Diana hingga membuat Diana geli dan membuka matanya.
"apaan sih kak!" bentak Diana yang terlihat kalau dia tak suka tidurnya di ganggu.
"kamu ini yang kenapa sayang. kan tadi kakak udah minta di ambilin baju buat aku tidur." kata Leon.
"kakak ini gak lihat ya kalau aku capek? aku juga bukan pembantu kak disuruh untuk mengambilkan baju kamu. kakak kan punya tangan. ambil aja swndiri. " kata Diana ketus dan kasar lalu kembali menyelimuti tubuhnya dan tidur memunggungi Leon.
Leon yang melihat itu semakin merasakan sakit. dia akhirnya terpaksa mengambil pakaiannya sendiri. dan ikut masuk kedalam selimut yang menyelimuti tubuh Diana setelah memakai pakaiannya. malam ini tak ada kata - kata romantis atau peristiwa bersejarah bagi keduanya. Bahkan Leon ingin memeluk tubuh Diana dalam tidurnya pun Diana justru menepis nya. yang semakin membuatnya sakit, Diana pindah tidur di sofa panjang yang ada dalam kamar tersebut.
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Leon. dia tidak bisa memejamkan matanya. karena dia hanya sendiri diatas ranjang yang sudah dihias indah untuk para pengantin baru tapi sangat pengantin wanita malah menghindarinya. Leon berjalan ke arah balkon. dia memejamkan matanya menghirup dinginnya angin malam itu.
Seharusnya aku bahagia bisa menikahi Diana. tapi kenapa malah seperti ini yang aku dapatkan? Diana memperlakukanku layaknya aku ini bukan suami yang dia cintai. apa memang sudah tak ada lagi cinta untukku? lalu kenapa dia masih mau bersamaku bahkan mau menikah denganku? kenapa dia tak jujur saja?
***
Di kediaman Aurora.
"Uncle..." sama Princess yang melihat Sam berdiri memandang taman bunga di teras samping.
"Hai cantik.. ini sudah malam kenapa kamu belum tidur?" kata Sam menghampiri Princess di kursi samping taman.
"Uncle sendiri kenapa ada disini? kalau Princess udah biasa tidur malam. lagipula besok princess ada jadwal syutingnya siang kok."
"syuting? memang kamu tidak sekolah?"
"ohh maafkan uncle. ohh iya cantik.. boleh kah uncle tanya sesuatu?" tanya Sam.
"boleh. mau tanya apa uncle?"
"apa benar kalau ayah kamu sudah meninggal?" Sam bertanya perlahan.
"pasti bunda yang bilang sama Uncle kalau Ayah Princess udah meninggal ya?" tanya balik Princess dan hanya dijawab anggukan oleh Sam. "Entah lah itu benar atau bohong. selama ini Bunda hanya selalu bilang kalau Ayah pergi meninggalkan kita. tapi setiap bunda ditanya orang lain pasti selalu menjawab kalau Ayah Princess udah meninggal. Princess sendiri bingung, mana yang benar dari kedua fakta yang dilontarkan Bunda. tapi hanya satu yang pasti. Bunda menjadi Ayah yang baik bagi Princess." kata Princess dengan tenang. Sma tertegun melihat ketenangan anak berumur delapan tahun itu. kedewasaannya tak sesuai dengan umurnya.
"andai Ayah kamu ada, pasti dia akan bangga dengan kamu cantik. kamu menjadi anak yang mandiri.. anak yang pintar dan berprestasi." kata Sam memuji Princess.
"kalau uncle yang jadi Ayah Princess, akankah uncle juga bangga?" tanya Princess menatap Sam dengan sendu.
"tentu. uncle akan bangga sekali denganmu." kata Sam dengan mata berbinar.
"bolehkah Princess memeluk uncle?"
"ofcourse.." kata Sam yang langsung merentangkan tangannya menyambut pelukan Princess.
Keduanya merasakan detak jantung yang sama. keduanya merasakan kenyamanan layaknya memeluk anak atau ayahnya sendiri.
Kasihan sekali anak sekecil ini harus tak mengenal ayahnya. pikir Sam dalam hati.
Benar.. uncle Sam ayahku. tidak salah lagi. kenyamanan ini hanya aku dapat saat memeluk uncle Sam. Ayah... ini aku anakmu... maafkan aku Ayah tidak bisa bilang kepadamu. aku tak mau membuat bunda sedih kalau hanya aku yang Ayah Terima nantinya. batin Princess. dia menitikkan air matanya pertama kali untuk menangisi ayahnya.
***
Beberapa hari setelah pernikahan Leon, Sam beserta rombongan pulang ke Indonesia. Leon sendiri sudah pindah ke rumah barunya bersama Diana. Diana kini tak lagi menjadi sekretaris pribadi Leon. dia tidak memperbolehkan Diana bekerja.
Angela merasakan kesepian setelah kepergian Sam dan rombongan. ternyata hatinya masih tak bisa lepas dari Sam. ternyata dia masih begitu mencintai Sam. apalagi saat melihat Sam begitu dekat dengan Princess. dia begitu bahagia. meskipun dia yakin kalau Sam tidak mengetahui perihal Princess itu anak kandungnya. karena selama disini, setelah mengetahui fakta kalau Queen memanglah Queen, Sam tak pernah lagi menyebut Angela.
"sayang... kenapa kamu melamun?" sapa Angela terhadap anaknya.
"Princess kesepian bunda. kemarin kan disini ramai. sekarang Princess kesepian lagi. kenapa sih kita tidak bisa mendapatkan keluarga seperti teman-teman princess yang lain?"
Deg.
"maksud kamu apa sayang?"
"mau sampai kapan bunda menyembunyikan semuanya dari Princess bunda? apakah Princess tidak punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dari Ayah?"
"bukannya kamu tidak mempunyai hak sayang. tapi Ayah kamu udah pergi. Ayah kamu udah meninggal." kata Angela menahan tangisnya.
"bohong.. bunda bohong. Ayah masih hidup. uncle Sam Ayah princess." kata Princess seketika membuat Angela diam. "kenapa bunda diam? benar kan apa yang Princess katakan kalau Uncle Sam ayh Princess. Kenapa bunda bohong? kenapa bunda gak mau jujur sama princess bunda.. kenapa?" tuntut Princess.
"bukannya bunda tak mau nak. bunda hanya takut kamu akan pergi dari bunda. karena selamanya bunda tak diharapkan oleh Ayah kamu. yang dia inginkan hanya kamu seorang. bunda tak mau kehilangan kamu nak. bunda sayang sama kamu. bunda takut kamu diambil olehnya."
"gak bunda. Princess yakin kalau Ayah mencintai bunda. Ayah gak mungkin memisahkan princess dari bunda. princess yakin kalau yang Ayah inginkan adalah keluarga utuh kita bunda. princess mohon.. ayo kita kembali bersama Ayah bunda.. princess ingin Ayah.." kata Princess dengan tangisnya memohon terhadap Angela.