
Setelah Reyhan kecil pergi bersama babysitter nya, mereka kembali melanjutkan keliling mall mengikuti kemauan si ibu hamil. ditengah perjalanan dengan menyantap ice cream di tangannya, Angela berkata.
"bang, kenapa ya setelah diingat, kalau anak tadi itu kaya perpaduan nya bang Rey sama kak Eli." kata Angel kepada Sam dan Rey.
"iya ya.. abang juga baru ngeh. Jangan-jangan anak lo Rey?" kata Sam membuat Rey mendelik kesal.
"Ngaco lo bang. gak mungkin lah itu anak gue. ketemu sama Eli aja barusan semenjak kematian Margaret gue udah gak pernah ketemu sama Eli lagi ya. bagaimana bisa kalau gue punya anak dari Eli?" kata Rey menutupi keterkejutan nya.
Apa benar itu anak aku? masa kejadian waktu itu bisa sampai buat Eli hamil sih? pikir Rey dalam benaknya.
Saat mereka keluar dari Mall, tak sengaja Rey melihat Reyhan kecil dan babysitter nya masuk kedalam sebuah mobil mewah. Rey yang melihat itu langsung punya niatan untuk mengikuti kemana mereka turun.
"bang, gue lupa nih. gue ada urusan. gue pulangnya naik taksi aja ya. mungkin gue pulangnya agak malam soalnya." kata Rey beralasan.
"ohh.. ya udah kalau gitu abang sama ipar lo balik duluan. Hati-hati ya." kata Sam menggandeng Angela untuk menuju ke mobilnya terparkir.
Sedangkan Rey sudah menghilang mengikuti mobil tadi dengan taksi yang kebetulan tengah menurunkan penumpangnya didepan mall. dengan begitu penasaran dia mengikuti mobil yang membawa Reyhan kecil.
Rey merasa tak asing melewati jalan ini. dia memutar otaknya untuk mengingat rumah siapa yang akan dia tuju jika sedang melewati jalan ini.
"masak iya bener dia anaknya Eli?" kata Rey.
***
Dilain tempat.
"Selamat datang, silahkan mau pesan apa?" kata waiters itu.
"pesan ice cappucino aja satu ya." kata lelaki itu genit.
Waiters itupun langsung pergi untuk membuatkan pesanan milik pelanggan nya itu. dia selalu mendapati tatapan mata genit setiap ada lelaki yang singgah kesini. bagaimana tidak kalau dia selalu memakai seragam yang press body. lekukan tubuhnya terlihat jelas.
"Rezka, lo masih disini? bukannya jam lo udah selesai dari jam tiga tadi ya?" kata temannya yang menegur Rezka.
Ya dia Rezka Wang. alias Rere. untuk menghidupi dirinya sendiri dia harus banting tulang bekerja setelah pulang sekolah. barang branded yang dia jual dia pergunakan untuk mendaftarkan sekolah di perkampungan yang murah dan tak banyak yang tahu tentang dirinya. lalu sepulang sekolah dia akan bekerja di sebuah cafe. karena dia sekarang tengah libur sekolah dia lembur untuk kerja di cafe.
"ini kan hari minggu. gue libur Sis." kata Rere kepada Siska teman sekaligus rekan kerjanya yang juga sesama satu sekolahan.
"ohh iya gue lupa. habis gue gak lembur sih."
"iya tumben lo gak lembur. kenapa?"
"capek gue Rez. sekali kali lah gak lembur. hehe"
Sebenarnya Rere begitu iri melihat senyum yang lebar dalam diri Siska. setelah kejadian itu berbulan-bulan yang lalu membuat Rere sadar kalau selama ini yang dia pentingin itu bukan lah harta tapi adalah keutuhan keluarga yang begitu menyayangi kita.
Rere menyesal karena telah menyia-nyiakan keluarga yang selama ini membesarkannya dengan penuh kasih dan sayang. dia jadi teringat akan kakaknya Angela yang dulu selalu menyayanginya padahal dia bukan adik kandungnya. tapi rasa sayangnya kepadanya lebih besar daripada rasa sayangnya kepada kedua orang tua dan juga kakaknya Leon.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. jangankan untuk kembali, untuk bertemu atau sekedar melihat keadaan Angela saja Rere merasa tak pantas. dia malu untuk kembali kerumah itu walaupun sekedar bertanya kabar dengan Angela. Siska yang melihat Rere melamun pun langsung paham apa yang terjadi dengan teman baru yang sudah dia anggap saudara sekaligus sahabatnya itu.
"kamu pasti inget sama kakak kamu ya Re?"tanya Siska.
" iya sis. bagaimana ya kabarnya?"kata Rere menerawang ke udara berharap udara bisa memberi kabar bagaimana keadaan kakaknya itu.
"kenapa kamu gak coba untuk kesana saja sih Re daripada kamu kaya gini." usul Siska.
"kamu kan belum mencobanya Rez, kalau kamu belum pernah mencobanya bagaimana kamu bisa tahu kalau mereka akan menolakmu atau gak?" kata Siska.
"baiklah sis. aku akan mempertimbangkan usulmu kali ini." kata Rere.
"nah itu baru Rezka ku."
***
Pagi ini Rere sengaja ijin untuk tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. sebenarnya dia hanya ingin menemui keluarga Wang. terlebih Angela yang sudah dia sakiti paling dalam. dia berdiri agak jauh tapi bisa melihat dengan jelas keluar masuknya kendaraan dari gerbang utama rumah mewah milik keluarga Wang.
"Duh kenapa mobilnya kak Angela gak keluar juga sih. ehh tunggu, kak angel kan udah nikah sama bang Sam. pasti dia sedang berada di rumahnya bang Sam." kata Rere yang langsung pergi mencari taksi untuk segera berangkat ke rumah keluarga Surya Atmaja.
Sesampainya disana dia kembali menguntit dari keluar. dan kebetulan gerbang utama langsung bisa melihat kedalam pintu utama. Disana Rere bisa melihat mantan calon mertuanya, Melati tengah bercakap dengan seseorang yang sedikit terhalang oleh tiang rumah membuat Rere tak bisa melihat siapa disana.
Namun saat melati berdiri, dia langsung bisa melihat siapa yang sedang berbicara dengan melati. matanya langsung memanas. cairan bening keluar dengan sendirinya saat melihat seorang wanita hamil tua sedang kesusahan berjalan. siapa lagi kalau bukan Angela.
Rere menangis sambil menahan dadanya yang terasa sesak dan bergejolak. dia ingin berlari memeluk kakaknya tapi dia urungkan. namun hatinya juga lega saat tahu kalau kakak dan calon keponakannya baik-baik saja. dia begitu bahagia. Tapi bagaimana caranya nanti dia ingin meminta maaf kepada Angela.
***
Siang ini Angela berencana untuk pergi ke kantor suaminya. karena dia begitu ingin makan bersama dengan suaminya kala itu. Dia sudah berdandan secantik mungkin untuk bertemu dengan suaminya itu. dia memakai dress warna putih dengan corak bunga warna pink cerah. dia juga memakai sepatu flat karena selama hamil semua sepatu berhak milik Angel dibakar oleh suami, kakak dan sahabatnya yang menyayangi Angel.
Awalnya Angel menangis karena semua sepatu itu sepatu bermerk. tapi dengan alasan mereka bisa membelikan yang lebih mahal lagi nantinya saat Angela sudah melahirkan jadi Angela mengikhlaskan saja apa yang mereka berempat lakukan. toh itu semua juga berhubungan dengan keselamatannya.
Angela terlihat begitu cantik dengan make up naturalnya dan rambut yang dia gerai. dia berjalan santai saat sampai didepan perusahaan. saat dia sedang berjalan, bertepatan dengan dua orang wanita dengan pakaian sexy dan riasan menor. mereka mendahului Angela.
Semua karyawan menunduk saat melihat Angela namun kedua wanita didepan Angela salah paham. mereka berdua mengira kalau para karyawan menundukkan kepalanya kepada mereka berdua.
"tuh kan lihat boss. mereka tu hormat kepada boss karena sebentar lagi boss akan jadi nyonya perusahaan ini." kata wanita yang terlihat seperti asistennya itu.
"kamu benar. sekarang kita ke atas menemui sang pujaan hati." kata wanita itu.
Angela yang mendengar itu hanya diam saja. dia tak berkomentar sedikitpun. sebenarnya hatinya dongkol karena ucapan wanita itu yang katanya ingin menjadi nyonya perusahaan ini. tidak tahukah mereka kalau nyonya yang sebenarnya sedang berada dalam satu lift yang sama?
Dua wanita itu melirik Angela dengan tatapan sinis nya. mereka melihat perut Angela yang buncit dan rantang ditangan Angela.
"Anda mau mengajak makan siang suami anda ya?" kata wanita itu. Angela yang merasa ditanya pun menjawab dengan terpaksa ramah.
"iya, suami saya suka tak mau makan kalau gak bareng saya." kata Angela.
"memangnya suami anda bekerja sebagai apa?"
"aduh kurang tahu ya Nona, soalnya saya jarang bertanya kepada suami saya." kata Angela membuat mata wanita itu melotot.
"heh. sembarangan kamu panggil aku nona. panggil aku N.Y.O.N.Y.A. kamu tidak tahu kan kalau aku ini calon istri wakil presdir disini? jadi panggil aku Nyonya. Nyonya Silvi." kata wanita itu membuat Angela menahan senyumnya.
"Baik Nyonya Silvi." kata Angela menekan ucapannya.
Bertepatan dengan itu lift terbuka dilantai paling atas tempat ruangan presdir dan wakilnya Sam berada. Wanita yang bernama Silvi itu mendahului Angela. sedangkan Angela masih mengikuti mereka dengan senyum penuh artinya.
"lo boleh sombong saat bertemu gue tadi di lift. tapi lo akan mati berdiri saat tahu gue siapa nanti." batin Angela.