
Elsa terlihat melamun di balkon kamarnya. dia melihat dibawah Angela sedang bermain bersama Rere, anak salah satu pembantu di rumah ini yang statusnya single parent. sebenarnya dia begitu bahagia melihat tawa Angela yang bermain bersama Rere, meskipun Rere lebih muda setahun dari dirinya. Angela seperti merasa bahwa dia memiliki seorang adik.
Tapi setelah dipikirannya terlintas apa yang Bianca ucapkan tadi pagi, dia menjadi resah. dia tidak percaya kalau suaminya itu melamar Bianca. terlebih dia juga melihatkan kepada Elsa tentang cincin yang bertengger manis di jari manis Bianca. kenyataan itu membuatnya merasakan sesak didadanya.
Apa benar Jackson melamar Bianca? apa benar mereka akan menikah? lalu bagaimana denganku dan Angela? aku tidak bisa menerima Bianca menjadi maduku. tapi aku juga tidak mau berpisah dengan suamiku karena Angela masih membutuhkannya. tapi aku tidak bisa memberikan Jackson anak lagi karena rahimku yang diangkat. aku harus bagaimana? ratap Elsa.
Tak sadar dia menangis dalam diamnya. ini seperti titik terendah setelah apa yang dia alami saat kehilangan anaknya kemarin. dia sudah kehilangan Angela selama lima tahun, bahkan dia sendiri koma. apa setelah dia sadar dia tidak bisa kembali bersama dengan keluarganya? setelah Angela kembali kenapa dia justru akan kehilangan suaminya?
Dia tersadar dari lamunannya tat kala melihat mobil milik suaminya itu masuk ke halaman rumah mereka. Elsa hendak menyambutnya. tapi matanya menangkap Bianca ikut keluar dari mobil itu. mereka terlihat bergandengan tangan begitu mesra. Elsa keluar dari kamar. dia melihat Jackson dan Bianca dari lantai atas.
Matanya membulat tak percaya tat kala dia melihat tangan Jackson bertengger manis di pinggang Bianca. terlebih sebelum mereka berpisah karena Bianca masuk kedalam kamarnya, Bianca sempat mengecup pipi Jackson dengan mesra. Elsa melihat itu semua dengan menahan tangisnya. dia masuk kedalam kamarnya. dia menangis di balkon kamarnya. menghirup udara sebanyak-banyaknya agar rasa sesak didadanya berkurang.
Elsa mendengar suara pintu dibuka. tapi dia tak kunjung merasakan pelukan dari Jackson setelah Jackson masuk kedalam kamarnya. Elsa berbalik dan melihat Jackson duduk sedang membuka sepatunya. Elsa perlahan berjalan mendekat dan mengumpulkan kekuatan untuk berbicara kepada Jackson. dia menghirup udara banyak untuk menetralkan perasaannya.
"Kamu baru pulang? mau aku siapin air? atau kamu mau langsung makan? aku masakin ya." kata Elsa menahan rasa sesak di dadanya.
"gak perlu. tadi aku sudah makan sama Bianca diluar. kamu makan sendiri aja sama Angela." kata Jackson dingin.
"ohh begitu.. ngomong-ngomong kamu makin dekat ya dengan Bianca." kata Elsa sembari menahan tangisnya agar tak mencuat setelah melihat perlakuan Jackson kepadanya.
"emang kenapa? gak boleh? dia kan juga ibunya Angela. anak aku."
"tapi bukankah Angela itu anak aku?"
"Anak kamu? emangnya kamu yang membesarkan dia? selama lima tahun kamu koma. bahkan kamu gak bangun. kamu bangun setelah Angela dan Bianca hadir dalam hidupku."
"iya, tapi apa kamu lupa? Bianca yang udah mengambil anak aku. Bianca juga yang udah bikin aku koma selama itu. dan kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan setia kepadaku. nyatanya apa? sekarang kamu malah melamar dia kan?" kata Elsa dengan tangisnya. dia tak menyangka Jackson akan berbicara seperti itu.
"kalau iya memang kenapa? kamu mau apa? cerai?"
"iya, aku mau minta cerai." kata Elsa walaupun sebenarnya itu hanya gertakan karena Elsa pun tak ingin bercerai dengan lelaki yang sudah menjadi labuhan terakhirnya itu.
"aku hanya bilang sekali denganmu. jangan pernah kamu berharap untuk bercerai denganku. camkan itu." kata Jackson tepat didepan muka Elsa dengan amarah.
"lalu apa yang harus aku buat? aku harus menerima pernikahan kalian? ku harus menerima Bianca si wanita ular itu menjadi maduku?" kata Elsa tak kalah galak dengan Jackson.
"Iya, kamu harus mau menerimanya. karena bagaimanapun aku juga seorang lelaki. aku juga mau mempunyai keturunan anak laki-laki. dan hanya Bianca yang bisa memberiku keturunan. sedangkan kamu sudah bukan wanita yang sempurna." kata Jackson dengan senyum yang meremehkan.
Elsa hanya bisa menangis dan menundukkan kepalanya. dia merasa begitu sakit saat mendengar itu semua. dia tak pernah menyangka akan mendapatkan perkataan yang sepedas itu dari suaminya sendiri. dia hanya bisa menangis.
Bahkan dia kini telah duduk di lantai. dia bersimpuh dengan air mata yang tak bisa terbendung. dia menangis sampai tak menyadari bahwa Jackson keluar. bahkan sampai saat Angela masuk bersama Rere dan ibunya yang notabene pembantu dirumah itupun Elsa masih bersimpuh dilantai.
"Ya ampun.. Nyonya!" teriak pembantu itu.
"Mommy, mommy kenapa nangis?" tanya Angela yang sedih melihat Mommy nya menangis.
"sayang, kamu mau ikut Mommy pergi dari sini?"
"tapi kita akan pergi kemana Mommy? apa kita akan pergi bersama Daddy?"
"Angela gak mau pisah sama Daddy, tapi Angela juga gak mau Mommy pergi. dan Angela gak mau tinggal sama mama." kata Angela sedikit terisak.
"lalu kamu mau bagaimana sayang? ikut Mommy ya."
"iya Mommy, Angela mau ikut Mommy."
Mendengar itu Elsa lalu memeluk Angela dan mulai bergegas. saat keluar kamar, dia juga melihat Rere dan Zahra ibunya membawa tas besar milik mereka.
"Zahra? kamu mau kemana?"
"saya ingin ikut Nyonya. kemanapun Nyonya pergi, saya ingin ikut Nyonya. saya tidak bisa membiarkan Nyonya mengurus Non Angel sendiri." kata Zahra.
"terimakasih kamu mau setia sama saya. ya sudah kalau gitu, kita pergi sekarang." kata Elsa.
Mereka berempat turun dari lantai atas bertepatan dengan terbukanya pintu kamar Bianca di samping ujung tangga. Elsa melihat Jackson merangkul Bianca dengan mesra dan Bianca juga memeluk pinggang Jackson.
"kalian mau kemana?" tanya Jackson dingin tanpa melepaskan tangannya pada Bianca.
"aku mau keluar dari rumah ini. kalau kamu bilang aku harus menerima dia masuk kedalam rumah tangga kita, maka kamu harus menerima aku dan Angela keluar dari rumah ini. karena sampai kapanpun aku tidak bisa melihat kalian berdua bermesraan didepanku. jadi biarkan aku keluar." kata Elsa menahan tangisnya. dia tak mau terlihat rapuh didepan Angela.
"oke. gak papa. justru dengan adanya kamu keluar dari rumah ini, jadi tidak ada yang mengganggu kemesraan ku dengan Bianca." kata Jackson enteng.
"kamu lihat kan Elsa? Jackson sekarang sudah memilihku. jadi silahkan kamu keluar dari rumah ini. silahkan bawa anak sial kamu itu dan pembokat kamu itu. silahkan, pintu keluar ada didepan sana." kata Bianca dengan angkuhnya.
Elsa melangkah meninggalkan mereka berdua dengan menahan sakit di dadanya. dia menggandeng tangan Angela begitu erat. kini hanya Angela yang bisa menguatkannya.
"Mommy, kita mau kemana Mom?"
"kita sekarang pergi ke apartemen Om Maxime ya sayang."
"Asyik... Angela akan bertemu sama Leon." kata Angela tertawa. melihat tawa Angela, hati Elsa sedikit tenang. Leon adalah anak satu-satunya Maxime dengan Marian. namun Marian pergi meninggalkan mereka setelah dirinya terkenal menjadi artis papan atas di Hollywood. bahkan dia tak mengakui tentang statusnya sebagai seorang janda setelah meminta cerai kepada Maxime. bahkan dia juga tak mengakui keberadaan Leon. Jadi kini Maxime tinggal seorang diri bersama Leon disini, Leon diasuh oleh orang yang sudah mengasuh Maxime dari dulu. jadi tiap Maxime keluar bertugas, Leon selalu bersama pengasuhnya. dan Leon tak pernah menuntut banyak pada Maxime karena dia adalah anak yang pintar dan pengertian.
"kak Angi," panggil Rere. itu panggilan kesayangan Rere terhadap Angela. "Leon itu siapa?"
"Leon itu abang aku. nanti aku kenalin dia sama kamu. dia tidak punya adik jadi kamu nanti juga bisa menjadi adiknya seperti aku sama dia." kata Angela. mendengar percakapan Angela dan Rere membuat Zahra bertanya.
"Nyonya, apa tidak masalah jika Rere menjadi terlalu dekat dengan Non Angela dan Den Leon nantinya?" kata Zahra takut.
"apa yang kamu takutkan Zahra? aku tak pernah melarang mereka berteman kepada siapapun."
"tapi kita berbeda status dengan Nyonya."
"kamu tak perlu takut. didunia memang status kita berbeda, saya majikan dan kamu bawahan saya. tapi di mata Tuhan, bukankah kita semua sama?" kata Elsa menerbitkan senyum manisnya.
Zahra sungguh terharu. dia tak pernah berpikir bagaimana bisa perempuan secantik dan sebaik majikan nya ini justru malah disakiti dan dikhianati oleh suaminya sendiri?