
#Kisah Diana Dan Leon#
Setelah mengetahui kalau Angela masih hidup dan mengganti nama menjadi Queen, orang tuanya menemani Angela di NYC untuk terapi. Angela semakin rutin menjalani terapi. Jackson dan Elsa juga berterimakasih kepada Jojo karena ternyata selama ini Angela dirawat dengan begitu baik oleh Jojo.
Meskipun ada yang dia sesalkan akan diri Angela sekarang. bukan karena dirinya sekarang masih cacat. tapi karena mereka semua tahu sekarang Angela menjadi pribadi yang tertutup, dingin dan tegas. Angela yang dulu manja, ramah dan hangat kini sudah tak ada. semua merasakan kalau hatinya sudah mati. Angela akan bersikap seperti dulu jika hanya kepada anaknya saja, Princess.
Tidak disangka sudah dua bulan berlalu, Angela menjalani terapi dengan rutin. hingga akhirnya semua usahanya membuahkan hasil. dia kini bisa berjalan meskipun belum bisa berlari tapi seenggaknya dia sudah bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda maupun kruk.
Hal itu tentu saja membuat semuanya bahagia. terlebih anak semata wayangnya, Princess. bahkan saking bahagianya, dia yang dinobatkan sebagai musisi kecil oleh publik pun membuat sebuah pesta untuk merayakan kesembuhan bunda tercintanya tersebut. meskipun dia masih kecil, namun pengaruh di dunia ke artisan begitu berpengaruh. selain karena dia anak pengusaha, dia juga sudah menjadi model sejak kecil dan sekarang dia menjadi musisi muda disana. Entahlah bakat musik itu turun dari siapa tidak ada yang tahu.
"Di.... kamu sudah bisa bahagia kan melihat Queen bisa jalan lagi. apa sekarang kamu belum mau menerima lamaranku?" tanya Leon tiba-tiba membuat Diana kaget. dia hanya terdiam.
Hal itu tak luput dari telinga Angela. Angela pun mendekati Leon dan Diana. dia meneteskan air mata saat memeluk Diana dan Leon bergantian.
"Kalian berdua memang sahabat dan saudara yang paling berharga bagiku. bahkan saat aku masih sakit pun, kamu merelakan kebahagiaanmu demi aku. kamu tak menerima lamaran kakakku sebelum kamu sembuh. sekarang karena aku sembuh, bisa kah pernikahan kalian menjadi kado untukku?" kata Angela.
"Kakak akan dengan senang hati memberinya dek. namun semua itu terserah dengan Diana dek." kata Leon menatap Diana dengan penuh harap. namun Diana hanya menundukkan kepalanya.
"Aku.. aku.. emm.." Diana berkata seperti enggan menjawab.
"tidak apa kalau kamu memang belum mau menerimanya Di. aku tidak akan memaksa." kata Leon. sebenarnya bukan itu yang dia inginkan. dia ingin mendengar bahwa Diana menerimanya. namun dia tak menyangka kalau Diana masih belum mau menerima lamarannya walaupun dia sudah bertunangan.
"Maafkan aku kak." hanya kalimat itu yang terlontar kan dari mulut Diana.
Mendengar itu, Leon menganggap kalau itu jawaban dari Diana yang artinya Diana menolaknya. Leon menganggukkan kepalanya. dia memaksakan untuk tersenyum kepada Diana agar tidak terlihat kalau dia begitu rapuh. Selama delapan tahun dia setia bersama Diana, dia mencintai Diana penuh dengan kasih. hingga akhirnya tiga tahun yang lalu dia bertunangan dengan Diana. walaupun awalnya tunangan itu diusulkan hanya untuk mengikat bisnis keluarga Diana dengannya, namun Leon tak pernah menganggap pertunangan itu hanya sekedar bisnis.
Dia begitu mencintai Diana. sungguh-sungguh mencintainya. semua sikapnya terhadap Diana begitu tulus. bahkan dia rela menunggu Angela sembuh agar Diana mau menerima lamarannya. namun siapa sangka, disaat Angela sudah sembuh dan dia melamar kembali Diana, justru Diana masih enggan menjawabnya. dan hanya perkataan maaf yang terlontar kan. padahal bukan itu yang dia inginkan.
Leon pergi dari pesta itu. dia menuju lantai atas. dia merenungkan kisah percintaannya diatas balkon. selama ini dia memperlakukan Diana dengan begitu baik karena dia tak mau kalau dia mengalami hal serupa seperti Sam dan Rey yang ditinggalkan wanitanya dan menyesal setelah semua terjadi.
Tapi ternyata sikap baiknya kepada Diana justru malah membuatnya tidak bisa mendapatkan Diana seutuhnya. dia merasa usahanya sia-sia belaka. dia merasa selama delapan tahun ini hanya membuang waktunya saja. dia rela tidak ikut orang tuanya ke Amerika dan memilih memulai dari nol di NYC demi tetap bersama Diana. namun semua itu sekarang terasa hambar.
Usaha yang dia bangun demi untuk mendapatkan kata pantas bersanding dengan Diana yang notabene anak seorang pengusaha terkenal di NYC pun kini dia anggap hanya buang-buang tenaga saja. Dia berasa ingin menyerah saja dengan semua yang selama delapan tahun ini dia perjuangkan.
Angela berjalan perlahan mendekati Leon. dia ikut memandang gemerlapnya malam dari arah balkon. dia ingin ikut merasakan apa yang dirasakan kakaknya kini. dia sedikit tahu bagaimana sakitnya menjadi Leon. karena Angela juga pernah merasakan itu.
"Dek.. menurut kamu, apa yang kurang dari kakak?" kata Leon memulai pembicaraannya dengan Angela.
"emm.. bagi Queen, kakak itu sempurna. kakak ingat gak celotehan Queen waktu Queen masih kecil? dulu Queen bilang kalau Queen ingin punya kekasih seperti kakak. Queen pengen punya kekasih yang tampan, pintar dan baik kaya kakak. bagiku kakak itu lelaki yang sempurna. bahkan kalaupun kakak itu bukan kakakku, aku pasti akan mengejar kakak dan menjadikan kakak suamiku." kata Angela menghibur kakaknya.
"haha.. tapi nyatanya dimatanya kakak tidak berarti dek." kata Leon dengan tawa merananya.
"Kak.. Diana pasti ada alasan tertentu kenapa dia belum mau menerima kamu kak." kata Angela.
"tapi buktinya dia mau menerima pertunangan kalian kan?"
"kamu tidak tahu yang sebenarnya dek. sebenarnya pertunangan itu hanya dilaksanakan oleh keluarga Diana untuk mengikat bisnis diantara dua perusahaan. namun semua itu juga membuat kakak bahagia. kakak pikir dia juga akan bahagia. kakak juga berpikir kalau dia mau menjadi sekretaris kakak karena dia ingin dekat dengan kakak. tapi gak tahunya dia melakukan itu karena perintah orang tuanya. bukan dari hatinya." kata Leon.
"Sekarang biarlah waktu yang menjawabnya kak. semoga Diana bisa melihat cinta kakak yang begitu tulus ini." kata Angela memberi semangat kepada kakak tercintanya itu.
***
Esok harinya, tidak seperti biasanya Leon bangun pagi. dia mengirim pesan kepada sekretaris nya yang tak lain adalah Diana untuk tidak datang ka apartemen seperti biasanya dengan alasan ingin sarapan bersama dengan keluarga.
Hal itu temu membuat Diana curiga. tidak seperti biasanya Leon seperti ini. namun Diana tetap biasa saja. dia tetap menganggap apa yang dia katakan semalam tidak mempengaruhi Leon seperti biasanya. namun ternyata pikiran Diana itu hanyalah sebuah pikirannya seorang saja. Leon semakin berubah.
Sejak pagi itu Leon jarang bertemu dengan Diana secara pribadi. Leon sengaja menjauh dari Diana. bahkan hanya untuk sekedar makan siang diluar seperti biasanya saja Leon sudah tak pernah melakukannya bersama Diana. dia memilih memakan bekalnya sendiri yang di buatkan oleh pembantu yang sengaja dia suruh untuk menyiapkan sarapan dan makan malam kalau pulang dari kerja.
Diana memang merasakan hal yang berbeda dengan sikap Leon. namun dia tak pernah ambil pusing. bahkan dia juga tetap biasa saja dengan hubungan yang sudah semakin jauh dari Leon. Hal ini justru berbanding terbalik dengan Leon. meskipun dia melakukan ini dengan sengaja, namun hati kecilnya tetap sakit saat melihat hubungannya dengan Diana semakin memburuk.
Dia ingin selalu bisa bercengkerama dan bercanda tawa dengan Diana seperti dulu. tapi dia merasa apa yang dia lakukan ini tidak mempengaruhi Diana. justru dia merasa Diana bahagia dengan jauh darinya. ini sungguh membuatnya semakin merasa kalau Diana menjauhinya.
"Kalau menjadi seperti ini, maaf kalau aku memaksamu untuk melakukan hal ini Di. aku hanya tidak ingin kehilangan kamu Di." kata Leon dalam hati.
Hal yang dimaksud Leon adalah membawa orang tuanya untuk melamar Diana secara resmi. orang tua Diana dan Diana sendiri kaget saat melihat kedatangan Leon bersama kedua orang tuanya. Diana sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Kedatangan saya kesini, ingin melamar putri bapak untuk menjadi istri dari anak lelaki saya. apakah bapak merestui nya?" kata Jackson.
Diana diam menunduk. ingin sekali dia berteriak tidak. namun apa yang dia inginkan tak sesuai yang dia harapkan. orang tuanya dengan senang hati ingin langsung menikahkan keduanya.
"tentu.tentu saya menerimanya." kata orang tua Diana membuat Diana menghela nafas kasar.
"kalau begitu kapan kita bisa melangsungkan pernikahan mereka berdua?" tanya Elsa.
"secepatnya lebih baik. bagaimana kalau minggu depan?" jawab papa Diana.
"papa.. itu terlalu cepat pa. aku kan mesti mengurus keperluan ini itu." elak Diana.
"Kamu tidak usah kawatir sayang. aku sudah mengurus semuanya. semuanya sudah siap. tinggal menyebar undangan saja." kata Leon semangat. dia sudah buta. dia tak lagi memperdulikan akan perasaan Diana yang mau menerimanya atau tidak.
"benar apa kata Leon. dia sudah menyiapkan semuanya nak Diana." tempat Jackson.
"bagus kalau begitu. kita tidak perlu lama-lama menunda pernikahan lagi. toh mereka sudah delapan tahun bersama. tidak perlu diragukan lagi cinta mereka. iya kan nak Leon?" kata papa Diana.
"tentu tuan Granger. cintaku untuk Diana tak pernah berkurang."kata Leon bersemangat.