
Ditempat lain duduk dua orang lelaki paruh baya yang hampir memasuki umur setengah abad namun masih terlihat tampan dan gagah.
"gimana Van? lo trima gak pinangan anak gue untuk anak bontot lo?" kata Tomy.
"gue sih Terima aja Tom. terlebih Jackson orangnya baik, pekerja keras. tapi gue gak tahu anak gue mau gak. terlebih dia juga punya cinta pertamanya. namanya Evan dari keluarga Tn. Nugraha." kata Elvano sambil memijit keningnya. dia tak menyangka anaknya sudah punya hubungan dengan lelaki lain.
"udah kalau masalah Elsa nya gampang lah nanti biar abangnya yang turun tangan. yang penting gue denger dulu dari mulut lo, lo setuju gak kalau anak lo gue nikahin sama anak gue?" tanya Tomy lagi.
"ya pastinya setujukah Tom. agar kita bisa sahabatan lagi kaya dulu waktu masih SMA." kata Elvano.
"tapi bini lo gimana?"
"udah, bini gue pasti setuju lah. secara yang mau jadi besannya kan sahabatnya sendiri. jadi mana mungkin dia nolak Tom." kata Elvano yakin.
"lo yakin amat kalau bini lo bakal nerima Van." kata Tomy.
"ya yakin dong. masak mau jadi besan sahabat karib gue sendiri harus nolak. terlebih anak lo ganteng tahu Tom." kata Alexa yang ternyata sudah dari tadi menguping pembicaraan mereka.
"Alexa! lo nguping?" tanya Tomy.
"hehehe.. habis penasaran." kata Alexa sambil melihatkan giginya yang rapi putih bersih itu.
***
"guys kalian dimana sih? udah beberapa hari coba gue gak hangout bareng kalian?" kata Elsa menelfon Sian.
"lo dimana sekarang? kita akan kesana." kata Sian ditelfon..
"gue di club biasanya." sahut Elsa lalu mematikan ponselnya.
Elsa tak menunggu waktu lama, selang 30 menit Sian, Meisya dan Rose datang menghampiri. mereka langsung bergabung ke meja yang sudah diduduki oleh Elsa.
"Hai Els." sapa Sian.
"Hai.lo ikut juga? emang laki lo gak ngamuk lo kesini?" tanya Elsa pada Sian..
"gak bakal Els. gue bakal kasih alasan ngidam gue biar dia gak marah. lagian gue juga suntuk semenjak hamil gak boleh ini itu sama laki gue." kata Sian mengelus perut yang masih rata itu.
"ya itu tandanya laki lo sayang sama lo juga buah hatinya." kata Rose.
"kalau gue mah seneng gak boleh ngapa-ngapain. bisa bebas gue mau tidur." kata Mei yang langsung dapat tonyoran kepala dari yang lain.
"kalau itu mah lo nya aja yang demen banget sama yang namanya molor." kata Elsa.
"ehh lo gak ingat lo lagi hamil gitu mau minum? gak gak gak. gue gak mau dimasukkan ke penjara sama laki gila lo kalau sampai lo kenapa-kenapa." kata Elsa.
"iya deh iya. gue minum jus aja." kata Sian yang langsung memesan jus buah kepada pelayan.
"sayang, gue cariin kemana aja gak taunya asyik disini." kata Arian yang tiba-tiba muncul disana bersama Dion dan Mark.
"ehh ada suami. sini gabung." kata Sian.
"lo berdua gak usah ikut gabung. lihat suasana ya. disini gue jomblo sendiri. jangan bikin gue jadi obat nyamuk. oke!" kata Elsa.
"ya udah kalau gitu kita kesana aja yuk."aja Dion pada Rose dan Mey. merekapun pergi meninggalkan Elsa sendiri termasuk Arian yang ngotot membawa sang istri pulang karena gak mau anak mereka kenapa - kenapa.
" iya gak bikin gue jadi obat nyamuk tapi bikin gue jadi kaya orang ilang gini."gerutu Elsa. namun seketika matanya menajam melihat sekumpulan cowok yang terdiri dari 5 orang. dan matanya makin menajam melihat seseorang yang selama seminggu ini tak ada kabar. siapa lagi kalau bukan Evan.
Elsa sedikit menunduk dan memberi aba-aba kepada para bodyguard agar mendekat dan mengelilingi mejanya agar Elsa bisa bersembunyi namun masih mendengar jelas apa yang Evan katakan dimeja yang juga kebetulan berdekatan.
"lo jadi nikah sama Elsa Van?" kata salah satu temannya.
"ya harus jadi dong. masak iya gue udah nyiapin semuanya masak gak jadi nikah sih." jawab Evan.
"lha terus kabar Salsa gimana? mau lo campak ini dia?"
"ya gak lah. gue bakal tetep nikahin Salsa. lo pada kan tahu gue sama Salsa udah tahunan pacaran. dan lo pada juga tahu kalau gue cuma cinta sama Salsa." kata Evan yang membuat Elsa geram mendengarnya.
"lha terus lo ngapain mau nikahin Elsa?"
"ya karena hartanya lah. lo tahu sendiri kan kalau gue cuma punya perusahaan yang tibgkatnya menengah gak seperti keluarga Elsa. terlebih lagi keluarga Salsa yang hanya pemilik yayasan. juga gaya hidup gue sama Salsa yang udah kelewat mewah. butuh biaya gedhe bro. ya gue jadinya deketin Elsa buat gue porot jaja hartanya. kalau udah habis baru deh tuh gue tinggalin dan gue nikah sama Elsa." jawab Evan.
"tapi kan saudara Elsa gak cuma satu, gak mungkin dong kalau hartanya cuma dikasih sama Elsa aja."
"yah lo gak tahu apa usaha bokapnya Elsa? nih ya, abangnya udah diwariskan semua usaha yang ada di luar negeri. kakaknya yang cewek perusahaan yang ada di Indonesia milik bokapnya semua dia yang pegang. sedangkan semua usaha milik nyokapnya Elsa itu bakal jadi hak Elsa kalau dia udah nikah nanti. lo pada tahu kan seberapa besar harta dan kekuasaan keluarga Angkasa?"kata Evan menggebu-gebu tanpa tau bahwa dimeja sebelahnya sudah ada orang yang seperti ingin makan daging manusia.
" jadi lo targetnya keluarga Angkasa dulu?"
"iya, setelah gue bisa dapatin semua usaha Angkasa, baru deh gue perlahan ambil alih usaha Diwangkara."kata Evan sambil tertawa keras diikuti yang lainnya.
Mendengar itu Elsa geram, dia sakit hati bahkan saking sakitnya dihianati oleh orang yang benar-benar dia cintai, dia sampai tak bisa mengeluarkan air mata. dia lalu pergi dari club itu. melakukan motornya dengan kencang. dia ingin pergi melampiaskan semua amarah dan sakit hati.
Dia lalu melajukan motornya ke arena balap motor. sampai disana dia langsung disambut meriah oleh teman - temannya. karena yang berada disana pasti tahu. gadis yang selalu memenangkan lomba balap motor maupun balap mobil. siapa lagi kalau bukan Elsa Mega Angkasa. penerus keluarga Angkasa.