
Selama makan, hanya terdengar suara sendok dan garpu berdentingan. namun itu hanya suara sendok dari tangan Leon. sedangkan Bella masih saja diam memandang makanannya. bukannya lapar, namun dia bingung mau memakannya bagaimana. dia memang bisa memasak lobster seperti ajaran Madam Queen, namun dia tak bisa memakannya.
"kenapa tidak dimakan? apa tidak suka?" tanya Leon.
"bukan tidak suka tuan, cuma saya tidak bisa memakannya." kata Bella malu.
"kamu kan yang masak. bagaimana bisa kamu tidak bisa memakannya?" kata Leon.
"saya juga baru belajar memasaknya Tuan. itupun dari Madam Queen. seumur hidup saya belum pernah makan makanan seperti ini Tuan. Saya hanya dari keluarga miskin Tuan. bisa beli daging tiap minggunya saja sudah syukur. apalagi bisa makan dengan lobster seperti ini." kata Bella masih melihat lobster yang utuh diatas piringnya.
"hahaha.. kamu itu polos banget ya. kalau begitu, sini aku ajari makan lobster ala orang biasa, bukan orang dari kalangan bangsawan sepertiku." kata Leon yang langsung mengambil lobster dan membuka cangkangnya dengan tangan.
Bella melotot kan matanya melihat Tuannya makan menggunakan tangan kosong. namun dia memperhatikan Leon memakan lobster nya. akhirnya dengan sedikit ragu Bella mencobanya. dan dia tersenyum senang saat berhasil membuka lobster nya dan memakannya. dia terlihat seperti anak kecil yang senang mendapatkan sebuah permen.
"kamu itu ya, baru makan lobster aja udah senangnya seperti itu. bagimana kalau bisa keliling dunia." kata Leon.
"saya senang karena baru kali ini merasakan lobster Tuan. ternyata enak. nanti kalau gajian saya akan membelikan ini untuk ayah dan adik-adik saya." kata Bella berbinar.
"kamu tidak membelikan ibu kamu juga?" kata Leon.
"Ibu? saya tidak mengenal ibu saya Tuan. saya hanya punya ayah saya. ibu saya pergi meninggalkan ayah saya saat saya masih berumur enam tahun sedangkan kedua adik kembar saya baru berumur tiga tahun. ibu saya meninggalkan ayah saya karena ayah saya bangkrut tuan. " kata Bella sedih.
"ohh maafkan saya Bella. saya tidak tahu. ternyata kita berdua senasib. bahkan aku sudah tidak punya ayah." kata Leon mengingat kembali papi Max.
"lho bukannya Tuan Besar itu Daddy Tuan ya?" tanya Bella yang setaunya kalau Leon anak Jackson dan Elsa.
"mau kuberi tahu sesuatu rahasia yang bahkan istriku saja tidak tahu?" kata Leon serius membuat Bella tanpa sadar menganggukkan kepalanya.
"Dulu kata papi, mami meninggalkan kita saat aku masih berumur dua tahun. papi membesarkanku sendiri. hingga suatu tragedi mencelakakan papi dan membuat papi meninggal. Daddy Jackson dan Mommy Elsa lah yang menjadi orang tua angkat ku setelah papi meninggal. mereka bahkan gak memberikanku saat mamiku memintaku lagi. semua itu karena mami hanya memperalat ku. aku dan Rere Wang hanyalah anak angkat. Tapi tak banyak yang tahu kalau kita berdua anak angkat. karena Daddy dan Mommy memberikan kasih sayang yang begitu tulus layaknya mereka menyayangi Queen, anak kandungnya." kata Leon membuat Bella terpana.
"Berarti kebaikan hati Madam, berasal dari kebaikan orang tuanya ya Tuan." kata Bella mengingat kembali kebaikan Nyonya nya.
"ya.. dia begitu baik. bahkan Rere Wang yang pernah menyakitinya pun, dengan hati yang lapang dia memaafkannya. apa kamu sudah lama ikut Queen?" tanya Leon.
"Dulu waktu pertama kali saya masuk rumah itu, saya baru lulus sekolah menengah pertama. waktu itu saya tidak bisa melanjutkan ke high School karena adik-adik saya baru saja masuk sekolah menengah. akhirnya saya dibawa oleh tante saya ikut bekerja dirumah Madam. namun karena kecintaan saya dengan sekolah, saya bekerja sambil belajar. tepatnya itu tujuh tahun yang lalu..." kata Bella memberi jeda karena telah selesai makan. membawa piring kotornya dan Leon ke wastafel dan kembali berjalan dimeja makan membawa jus untuk Leon.
"..... Dulu waktu itu pembantu baru ada saya dan tante saya dirumah Madam. karena belum semaju ini. hingga akhirnya Madam melihatku belajar disamping kolam sambil mengajak main Nona kecil. Madam pun mendekatiku. hingga akhirnya Madam menyekolahkan saya sampai saya lulus kuliah beberapa bulan lalu. saya ingin bekerja dikantor seperti orang-orang. namun saya tidak enak untuk meminta berhenti dari Madam, karena bagaimanapun saya berhutang budi pada Madam. berkat dia saya bisa bekerja untuk keluarga juga bisa meneruskan sekolah." kata Bella mengingat kembali pertemuannya dengan Nyonya nya itu.
"dia memang malaikat dunia. dia selalu membantu yang kesusahan." kata Leon.
Percakapan mereka terhenti disitu tatkala terdengar klakson diluar. Leon sudah bisa menebak kalau itu Diana. Bella pun undur diri untuk kembali membereskan sisa makanan mereka. sedangkan Leon melangkahkan kakinya keatas. dia sekilas ke balkon untuk melihat Diana pulang bersama siapa. namun dia tak bisa melihatnya karena kaca mobil tersebut terlalu gelap untuk dilihat dari kejauhan.
Dia pun masuk kedalam kamar. Tak lama berselang, Diana masuk kedalam kamar dan melemparkan tas tangannya di ranjang. dia bahkan tak memperhatikan keberadaan Leon di sana.
"darimana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya Leon.
"mau darimana aku itu bukan urusanmu. lagian tadi aku sudah berpesan pada Bella kalau aku mau arisan." kata Diana sembari membersihkan makeupnya.
"tapi apa kamu tidak bisa mengabariku? aku ini suamimu Diana. kamu anggap apa aku, Ha?!" bentak Leon.
Braakk..
Diana berdiri dengan memukul meja rias nya.
"Selama ini aku diam ya kak. jangan buat aku marah ya." kata Diana dengan kasar.
"seharusnya aku yang marah, bukan malah kamu. disini aku yang selalu gak kamu anggap. kenapa malah kamu yang marah?"
"ya wajarlah aku marah. aku ini capek malah diajak berdebat. bukannya melayani ku, mengambilkan minum atau menyiapkan air gitu."
"ehh.. kamu sadar diri dong. selama kita menikah apa kamu pernah melayani ku? kamu sendiri malah mengabaikanku. kamu mengacuhkanku. bahkan untuk menyiapkan air untukku saja pembantu yang menyiapkannya. istriku itu kamu atau Bella sih?" kata Leon tak kalah keras.
"Diana.. Diana mau kemana kau. Diana!" teriak Leon namun Diana enggan untuk kembali. justru saat Leon mengejarnya, Diana sudah menaiki taksi yang dia hadang didepan rumah. Leon mengasak Rambutnya dengan kasar.
***
Dikediaman Madam Queen.
"Bunda... Princess boleh masuk?" kata Princess saat ingin masuk kedalam kamar bundanya yang sedikit terbuka.
"Sini sayang..."
"Bunda..."
"ada apa sayang?" kata Angela mengusak rambut Princess dengan sayang.
"Bunda.. apa Bunda tidak bisa bersatu kembali dengan ayah? kenapa ayah harus pergi lagi." kata Princess dengan mata sendu nya menatap Angela.
"bukannya tidak bisa sayang. namun memang sudah begini garisnya kalau ayah dan bunda memang sudah berbeda jalan." kata Angela dengan lembut.
"tapi kan bunda.. ayah tadi bilang kalau ayah ingin berkumpul bersama kita. bertiga bersama selamanya tak ada yang memisahkan kita."
"benarkah dia bilang begitu sayang?" kata Angela menatap anaknya.
"benar bunda. bunda.. princess ingin kita bertiga hidup bersama selamanya bunda." kata Princess yang mulai berkaca-kaca matanya.
"Tapi sayang, bunda sudah tak bisa kembali bersama ayah kamu nak.." kata Angela menundukkan kepalanya.
"kenapa bunda?"
"bunda sakit sayang. disini.. bunda sakit disini." kata Angela menunjuk letak hatinya. "bunda sudah merasakan sakit yang amat sakit karena ayah. dan sakit itu tidak akan pernah bisa disembuhkan sayang.." kata Angela.
"baiklah bunda.. tapi bisakah bunda mengabulkan permintaan Princess?"
"apa sayang?"
"wekeend besok, mari kita ke taman bermain bersama ayah bunda. sekali ini saja bunda. Princess ingin merasakan ke taman bermain bersama ayah dan bunda princess. bersama dengan kedua orang tua komplit Princess. bisa kan bund?" kata Princess dengan berharap kalau bunda nya itu mengiyakannya.
Angela menatap anaknya dengan sendu. dia memang belum bisa memberikan sosok seorang ayah untuknya. tapi tidak ada salahnya kan dia membuat anaknya itu tersenyum bersama ayah kandungnya. Angela pun menganggukkan kepalanya. dia menginginkan yang terbaik untuk putrinya. meskipun dia tidak bisa kembali lagi bersama Sam.
Akhirnya weekend pun tiba. Sam, Angela dan Princess pergi ke taman bermain bersama. layaknya seperti presiden, mereka bertiga mendapatkan pengawalan ketat. meskipun risih tapi Angela tak mau anaknya kenapa - kenapa seperti dulu lagi.
Princess dulu pernah hampir diculik saat bermain di taman bermain karena pengawalnya dia suruh untuk berjaga-jaga dengan jarak sepuluh meter darinya. namun untung pengawalnya sigap dan bisa menggagalkan penculikan itu. namun itu juga membuat Angela semakin protektif akan diri Princess. sedangkan Princess menanggapi dengan biasa saja.
Karena baginya para pelayan dan pengawal itu adalah teman. bahkan dia dekat dengan salah satu pengawal pribadinya. dia bahkan menaikkan jabatannya sebagai kepala bodyguard nya. kemanapun Princess pergi, dia pasti selalu ikut. dia juga yang menjadi temannya saat di area syuting. dia bodyguard sekaligus teman bagi Princess. bahkan tak segan-segan Princess menyarankan untuk memberikan bonus lebih kepadanya.
Princess terlihat begitu bahagia bisa bermain bersama ayah dan bunda nya. tangannya tak mau melepaskan tangan ayah dan juga bunda nya yang dia genggam tangan kanan kirinya. dia begitu bahagia melompat kesana kemari. hingga matanya menatap sebuah boneka teddy bear yang begitu besar.
"ayah... Princess mau itu.." kata Princess sambil menunjuk boneka besar.
"mari Tuan silahkan.. hanya lima dolar untuk sepuluh tembakan. jika anda bisa meraih nilai sempurna, anda bisa mendapatkan dia boneka keinginan anda. apapun bonekanya." kata penjaga stand mainan tersebut.
Sam melihat ke arah Angela yang tengah memandangi boneka berbentuk hati berwarna pink itu. dengan tekad kuat, Sam ingin memenangkan permainan itu agar bisa mendapatkan hadiah untuk Princess dan juga Angela.
Sepuluh tembakan dia layangkan tanpa ragu. semua tembakannya mengenai sasaran dan pointnya sempurna. Princess melompat kegirangan saat Sam memenangkan sebuah teddy bear besar berwarna cream itu untuknya. sedangkan mata Angela membulat saat melihat Sam menyodorkan boneka berbentuk hati yang sedari tadi memikat matanya.
"ini untuk anda Madam." kata Sam tulus.
Angela mengambil boneka itu dengan tangannya. namun matanya menatap Sam dengan lekat. tanpa sadar dia memanggil Sam dengan sebutan yang tak seharusnya dia sebut tatkala sekarang dia menyandang status Madam Queen.
"terimakasih bang.." katanya lirih.