Rona

Rona
Eps. 90



" Selamat atas pernikahan mu Calista. Semoga kamu dengan pak Basri bahagia " ucap seorang pria yang terasa tak asing di mata Lisa


Lisa sangat tak suka melihat pria yang ada di hadapan sahabatnya , yang saat ini sedang tersenyum padanya juga. Pria yang mengaku telah bertemu dan mengenalnya.


" terima kasih Candra. Telah hadir di pernikahan ku dan semoga kamu menyusul " sahut Calista dengan nada bercanda


" segeralah menikah agar kamu tidak selalu menatap wanita yang sudah jadi milik orang " timpal Basri dengan senyuman kemenangan dan nada sindiran


Pria itu adalah Candra. Candra hanya tersenyum menanggapi yang di katakan oleh sepasang pengantin di depannya. Sedangkan Lisa pun tahu nama pria yang telah mengaku mengenal yang bernama Candra.


" Lisa... Perkenalkan dia Candra Malik Ibrahim , Teman ku waktu kuliah dan Candra... Perkenalkan dia sahabat ku Analisa Syahputri " ujar Calista memperkenalkan sahabatnya dengan pria yang bernama Candra secara bergantian


" hai Cantik. Ternyata nama mu Lisa dan kalo begitu kamu bisa memanggil Candra " kata Candra dengan percaya dirinya mengulurkan tangannya untuk di jabat oleh wanita yang bernama Lisa


" uda tau " ketus Lisa dengan wajah datarnya tanpa menjabat tangan pria di depan , Candra


" Baguslah. Tapi... Bolehkah kita saling mengenal lebih jauh Nona Lisa ! " seru Candra yang masih menatap wajah wanita cantik yang cuek padanya yang mengatakan hal itu dengan terus terang


" saya sibuk. Permisi " sahut Lisa dan berlalu pergi dari panggung pelaminan


Calista dan Basri yang melihat hal itu saling pandang. Calista tidak menduga jika Lisa akan sedingin dan secuek itu pada Candra. Sedangkan Basri merasa senang jika Candra ingin mendekati sahabat istrinya itu dan kemungkinan istrinya aman bersamanya tanpa ada lagi pria yang akan mendekati wanita tercintanya.


" Calista... Apa kamu punya ide untuk bisa mendekati sahabat kamu itu ? " tanya Candra pada Calista , tapi matanya terus menatap punggung Lisa yang sudah menjauh darinya


" Entahlah . Jika kamu benar-benar ingin serius dengannya dan tidak menjadikannya mainan. Aku akan memberitahu mu " ujar Calista dengan tajam menatap dingin pria di depannya


" Beritahukan saja ! Jujur ! Aku ingin mendekatinya dan berharap dia bisa membuat ku melupakan seseorang " terang Candra yang kini sudah kembali menatap Calista


" Maksud mu ? Kau ingin jadikan sahabat ku sebagai pelarian mu "


" Bukan...! Kamu tau kan ? Umur ku sudah tidak muda lagi dan di tambah lagi ! orang tua ku sangat ingin aku segera menikah dan memberikan mereka cucu "


" lamar langsung aja jika langsung ingin menikah " sahut Basri yang sejak tadi diam mendengar pembicaraan istrinya dan Candra


" Diam " ketus Calista tajam dengan nada perintah menatap suaminya yang berdiri di sampingnya dan Basri hanya tersenyum dengan mengagukan kepalanya


" Basri... Ternyata kamu takut istri ya " ejek Candra dengan menertawakan sikap Basri yang langsung nurut perintah Calista


" Saat ini kamu menertawakan ku . Tapi lihat saja kamu ! Kamu pasti akan merasakannya ! " hardik Basri menatap tak suka pada pria yang menertawakan


" itu tidak akan mungkin ! Sekarang aku harus pamit dan ini hadiah untuk pernikahan kalian berdua " ujar Candra sambil memberikan sebuah kota persegi panjang yang berukuran kecil


Candra pergi dari pernikahan Calista dan Basri menuju mobilnya yang tidak jauh terparkir dari acara. Sedangkan sepasang pengantin melanjutkan tugas mereka untuk menyambut ucapan dan salaman dari para tamu yang berdatangan. Sedangkan Lisa sedang menerima telepon dengan seseorang di sudut acara.


" aku gak mau nek ! Aku masih ingin sendiri ! Titik " kesal Lisa pada orang seberang telepon yang tak lain adalah sang nenek tersayangnya


" nenek ingin kamu segera menikah. Jadi terimalah pria pilihan nenek dan anggap ini sebagai permintaan nenek yang terakhir cu " ujar nenek dengan suara khasnya yang terdengar parau


" baiklah nek. Aku akan menikah ! Tapi dengan pria pilihan ku "


" nenek beri kamu waktu dua hari untuk membawa pria pilihan mu di hadapan nenek ! Assalamualaikum "


" wa'Alaikum... "


Tut !


Saat Lisa ingin menjawab salam sang nenek. Sambungan telpon pun sudah terputus sepihak dari seberang. Membuat Lisa merasa sangat kesal dengan keinginan neneknya yang semuanya.


" Andai saja mama dan papa sudah pulang dan tidak sedang di luar kota. Mungkin aku akan tertolong dari keinginan nenek yang menjengkelkan ini " keluh Lisa dengan wajah cemberut kesal


Lisa adalah anak paling kecil dari tiga bersaudara. Hanya tinggal dia yang belum menikah dan sejak kecil dia sudah sangat dekat dengan neneknya , Ibu dari papanya. Lisa sering sekali menuruti keinginan neneknya , tapi jika sudah berhubungan dengan yang namanya pernikahan. Dia dengan keras akan menolak dan berbuat sesuatu atau alasan yang asalkan dia tidak di paksa untuk menikah. Namun , untuk kali ini Lisa pasrah , untuk menikah. Demi neneknya tersayang dan apa lagi neneknya sudah berkata untuk permintaannya yang terakhir. Membuat Lisa dengan terpaksa harus mau , dengan alasan dia memilih prianya sendiri.


Kini Lisa pun langsung melangkahkan kakinya menuju panggung pelaminan. Tempat keberadaan sahabat , dan untuk sementara dia ingin bisa melupakan permintaan sang nenek. Dia bisa melihat , jika Calista dan Basri masih berdiri menyalami para tamu yang berdatangan. Sepasang suami istri itu terlihat bahagia , membuatnya ikut senang melihat kebahagiaan sahabatnya.


" Lisa... Kamu dari mana aja ? " tanya Calista ketika melihat sahabatnya yang kini sudah kembali berdiri di sampingnya


" Gak kemana-mana " jawab Lisa acuh dengan wajah di tekuk


" Kamu kenapa lagi ? Apa masih kesal dengan Candra tadi ? " cecar Calista dengan dahinya yang berkerut menatap wajah sahabatnya yang tidak bersemangat


" Kamu punya pria gak ? Untuk ku jadikan kekasih bohongan " ujar Lisa yang sudah tak punya pilihan meminta pertolongan dari sahabatnya


" Kekasih bohongan ? Apa kamu bercanda ? "


" Apa aku terlihat sedang bercanda ? "


Calista langsung terdiam menatap tak percaya dengan apa yang sahabatnya ucapkan. Sampai seketika dia teringat pada Candra yang ingin dekat pada sahabat.


" Apa ini sebuah kebetulan ? atau Lisa dan Candra berjodoh ? " dalam hati Calista bertanya-tanya . Tak menduga dengan apa yang dia dengar dari sahabat sendiri


Calista yang tak ingin sahabat jadi pelampias membuatnya dilema. Kemudian dia berpikir , jika Lisa dan Candra bisa saling menguntungkan. Tapi ? Apa mungkin sebuah hubungan menjadi sebuah permainan dan lelucon ? Pikir Calista lagi.


" Tapi kenapa kamu ingin ke kasih bohongan ? " tanya Calista pada akhirnya


" Demi nenek ku. Dia ingin aku segera menikah dan bahkan dia ingin menjodohkan ku " jawab Lisa dengan memberitahukan permintaan sang nenek


" ada satu pria. Tapi apa kamu mau ? "


" Mau ! siapa ? "


" emmm Candra Malik Ibrahim "


" What ! Apa gak ada yang lain "


" Gak . Aku bilangkan cuma satu "


" Huuu... baiklah... Tak masalah " pasrah Lisa yang memang tak punya pilihan


" Ok . Aku akan hubungi dia besok dan kamu tentukan tempat bertemu " ujar Calista dengan tersenyum


" Iya uda. Aku balik aja...untuk acara resepsi nanti aku datang lagi. Assalamualaikum "


" Hati-hati di jalan. Wa'alaikumsalam


" Semoga hubungan mu dengan Candra bukanlah bohongan. Aku berdoa kamu bahagia di dekatnya sahabat ku " dalam hati Calista dengan senyuman yang terukir di bibirnya yang berwarna merah cerry


Lisa pun pergi meninggalkan tempat acara sahabatnya dan akan kembali lagi nanti malam untuk acara resepsi pernikahan sahabatnya. Sedangkan Calista hanya tersenyum melihat kepergian sahabatnya itu yang perlahan bayangannya hilang dari pandangannya.


" kamu liatin apa si ? " ketus Basri yang sejak tadi setia berdiri di samping istrinya. Dengan melihat Calista tersenyum menatap ke arah pintu masuk acara pernikahannya


" menurut kamu ide ku bagus tidak dengan mendekatkan Lisa dan Candra ? " tanya Calista balik menatap wajah pria di sampingnya dan menghiraukan pertanyaan sang suaminya.


" O ... Ternyata begitu " ucap Basri yang mengerti dengan apa yang sejak tadi di tatap istrinya " ide kamu sangat bagus dan aku harap hubungan mereka bukan sekedar bohongan. Tapi benar-benar saling menginginkan. Agar Candra tidak menatap wanita cantik ku ini " jelasnya menjawab pertanyaan sang istri dengan langsung memeluknya. Membuat Calista malu dengan apa yang dilakukan pria yang telah resmi menjadi suaminya di depan semua tamu undangan dengan memeluk dirinya


" Lepas... Ada banyak tamu yang lihat kita " ujar Calista dengan berusaha melepaskan tangan kekar suaminya yang melingkar di perutnya


" Yakin ? " tanya Basri dengan senyuman nakalnya. Namun tak dapat di lihat Calista. Karena mata Calista menatap pada tamu yang tertawa dan tersenyum melihatnya


" Iya . Cepat lepas " jawab Calista cepat tanpa ragu dengan pipi yang memerah seperti kepiting rebus


" Kali ini aku lepaskan. Tapi tidak untuk nanti " bisik Basri pas di telinga sang istri dan langsung melepaskan pelukannya


" Uda gak sabar malam pertama ! "


" Bentar lagi aja ! Nunggu malam "


" Iya nak. Malam nanti gak enak kalo sekarang "


Sementara di tempat lain , kala siang yang tak lama lagi segera sore , Dina merasa bosan di rumah dengan dirinya berdiam diri di dalam kamar yang hanya mengandalkan TV , Ponsel dan laptop yang masih membuatnya bosan.


" Enaknya ngapain ya ? Rasanya sangat membosankan sekali " keluh Dina dengan lesu yang kini dirinya duduk bersandar pada kepala ranjangnya


Dina pun akhirnya memilih keluar kamar sambil membawa ponsel di tangan kanannya. Melangkah menuju dapur untuk membuat sesuatu dan tiba saja ponselnya berdering menandakan telpon masuk. Yang tertera pada layar ' Mas Diyan ' . Membuat rasa bosannya hilang begitu saja dan senyuman merekah tampil di bibir manisnya.


" sayang " terdengar suara pria di seberang telepon


" Iya mas Diyan " jawab Dina dengan senyuman senang menerima telepon dari suami tersayangnya


" lagi apa ? Apa sudah makan belum ? "


" belum. Kamu lagi apa mas ? "


" aku lagi nelpon istri ku tersayang "


" uda pintar gombal ya sekarang "


" bukan gombal sayang... Emang nyatanya aku nelpon istri ku tersayangkan "


" emmmm apa tidak ada pasien ? "


" gak. Karena itu aku bisa telponan sama kamu atau kamu kesini aja de "


" aku ngapain ke sana ? "


" nemenin aku "


" malas. Nanti kamu ada pasiennya dan aku mala di cuekin "


" emm iya juga ya... Atau aku pulang aja "


" jangan ! "


" kenapa ? Apa kamu gak suka bila aku pulang cepat ? "


" emmmm suka si. Tapi apa boleh ? "


" untuk kamu pasti boleh sayang... Ya uda. Tunggu aku , aku segera memeluk mu istri ku "


" aku menantikan kepulangan mu suami ku "


Tut !


Sambungan telpon pun mati. Dina kembali melanjutkan membuat sesuatu di dapur dengan wajahnya yang tersenyum bahagia . Selang beberapa menit , Dina telah selesai membuat makanan kesukaannya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang Tv untuk menonton film dalam TV dengan dirinya kini telah meletakkan bokongnya di sofa empuk yang warna coklat.


Dina sibuk menonton sambil menguyah mie pasta dengan duduk di sofa sambil menunggu ke pulangan suaminya. Tidak lama kemudian terdengar suara kleson mobil depan rumahnya. Namun , dia tak bangun dari duduk , dia tetap melanjutkan menonton Tv.


" ternyata lebih bagus menjadi Tv. Terus di perhatiin kamu , tanpa ingin menyambut suami mu ini "


Dina yang mendengar suara suaminya hanya menatap sekilas pada pria yang berdiri di samping sofa , tetap acuh . Diyan yang melihat sikap istrinya hanya bisa tersenyum tipis merasa gemas dengan istri tersayangnya.


Tanpa Dina tau , bila Diyan semakin mendekatkan wajahnya dan bela tapak tangan menangkup ke dua pipinya. Sehingga Dina dengan jelas bisa melihat wajah suaminya yang sedang tersenyum nakal padanya.


" apa... Yang akan ka.. Mu lakukan ? " tanya Dina terbata-bata seakan ada yang mencegat di kerongkongannya dan tubuhnya terasa kaku. Bahkan dia bisa merasakan nafas hangat yang menerpah pori kulit wajahnya cantiknya


Cup


Diyan tidak menjawab dan mala langsung mengecup bibir pink istrinya . Kecupan bibirnya , perlahan menjadi sebuah ciuman lembut yang menggairahkan dan perlahan Dina pun terlena dengan kedua tangannya berkalung di leher suaminya. Tubuhnya perlahan mulai berbaring , perlahan dan pasti Diyan sudah menindih tubuhnya. Sehingga suara kecapan terdengar dengan begitu jelas.


Dina berdesis dan mendesak. Saat Diyan mulai turun di leher jenjangnya dan bahkan tangan Diyan sudah nakal bergeriyal di tubuhnya. Meremas kedua bola kembar di dadanya , membuat Dina semakin mendesak panjang. Namun , tiba saja Diyan menghentikan aksinya bersamaan dengan itu desakan Dina hilang entah kemana.


" Mas ! Mau kemana !? " teriak Dina melihat suaminya berlari menaiki tangga menuju kamar mereka. Membuat rasa kesal dan kecewa menjadi satu. Karena suaminya menghentikan permainan yang membuatnya merasakan nikmat Nirwana


Dina pun mengikuti suaminya ke kamar. Tapi , dia tidak melihat suaminya dan dia dapat mendengar suara dari kamar mandi. Menduga bila suaminya berada di kamar mandi dan dia semakin merasa sangat kesal. Tidak lama kemudian Diyan keluar dari kamar mandi dan dia dapat melihat wajah kesal istrinya yang kini duduk di pinggir ranjangnya sambil melipat tangannya.


" Jangan gitu wajahnya sayang. Jelek... " ucap Diyan sambil melangkah mendekati istrinya dan duduk di sampingnya yang saat ini dia hanya memakai jubah mandi warna putih


" Bodoh amat " ketus Dina cuek dengan wajah kesalnya


" Kamu lagi halangankan ? " tanya Diyan dengan nada lemah lembut sambil memegang kedua sisi pundak istrinya


" Iya . Terus ? " Dina tetap acuh balik bertanya pada suaminya


" Jika sudah selesai. Aku kasih kamu servis semau kamu sayang "


Mendengar itu Dina langsung menatap wajah suaminya dengan senyuman merekah dan Diyan juga tersenyum dengan mengaguk kepalanya. Sungguh Diyan sangat senang dengan sikap polos istrinya. Dina kemudian memeluk tubuh suaminya dengan erat.


" Aku mau lagi " ucap Dina layaknya anaknya meminta permen pada ayahnya. Membuat Diyan semakin gemas saja , namun dia juga merasa tidak suka. Karena bisa saja dia akan berakhir di kamar mandi seperti tadi untuk menuntaskan harsat birahinya yang bergelorah


" Nanti sayang. Bila kamu sudah selesai halangannya " bujuk Diyan dengan penuh perhatian karena menghadapi sikap polos istrinya


" Sekarang ! Aku sangat menyukai rasanya " rengek Dina dengan masih memeluk tubuh kekar suaminya


" Tunggu kamu berhenti halangan sayang. Plis... Mau ya ! Aku janji de , kasih kamu servis sepuas kamu. Tapi , tidak sekarang " tutur Diyan dengan sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap wajah istrinya


" Kenapa gak bisa sekarang ? " tanya Dina pada akhirnya. Membuat Diyan menelan saliva dengan kasar dan tak mungkin dia mengatakan " main lima jari atau Solo di kamar mandi "


" Aku bisa pusing dan tersiksa sayang " jawab Diyan . Karena istrinya sangat polos dan tak tau dengan hal yang berhubungan dengan ranjang apa lagi yang Vulgar


" Pusing ? Tersiksa? Maksudnya ? " cecar Dina bingung dan khawatir mendengar kata tersiksa dari mulut suaminya


" Lain kali aku jelasin. Tapi , tidak untuk sekarang sayang... Aku mau makan. Lapar " keluh Diyan sambil mengelus perutnya dengan wajah memeles


" Ok . Baiklah... Kamu ingin di buatin apa ? " tanya Dina mengalah. Ketika melihat wajah memelas suaminya yang membuatnya tidak tega


" Kari Ayam " jawab Diyan


" Segera siap ! Tunggu sebentar " sahut Dina dan kemudian melangkah keluar kamar


Dina berkutak di dapur , sedangkan Diyan baru keluar dari kamarnya dengan memakai celana pendek dan baju kaos oblong , baju rumahannya. Dia duduk di meja makan memperhatikan istrinya yang memasak dengan rambut yang di ikat asal seperti ekor kuda. Ketika sudah selesai Dina memasak , dia langsung menghidangkan masakannya di meja untuk suami tersayangnya.


" Silahkan di nikmati suami ku " ucap Dina dengan senyuman , setelah menghidangkan masakannya di piring suaminya


" Suapini " pinta Diyan yang tanpa di duga Dina yang begitu manja


" Makan sendiri aja mas " bujuk Dina dengan pura-pura menolak dengan dirinya sudah duduk di samping suaminya


" Suapin atau aku gak makan sama sekali " ketus Diyan layaknya anak kecil yang merajuk pada ibunya. Karena tak menuruti kemauannya


" Kamu kayak anak kecil mas " ejek Dina pada suaminya. Tapi , dia akhirnya mau menyuapi suaminya yang seakan menyuapi anak sendiri


" Kamu uda makan ? " tanya Diyan di sela kunyahannya


" Siang tadi uda " jawab Dina


Diyan dan Dina pun memutuskan menonton Tv bersama. Ketika sudah menyelesaikan acara makannya tadi dan kini Diyan hanya membaringkan kepalanya di paha istrinya dan Dina sekali-kali mengelus kepala suaminya. Hari ini Diyan benar-benar sangat manja dan itu membuat Dina merasa senang juga merasa geli dengan tidak menduganya pada sifat suaminya yang seiring waktu berubah-ubah.


" Entah kenapa aku merasa kamu akan segera menjauh dari ku...dan aku berharap kamu selalu ada di dekat ku. Istri ku tersayang " dalam hati Diyan. Kemudian dia menelusupkan kepalanya di perut istrinya dengan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya


Dina membiarkan apa yang suaminya itu lakukan. Walau tak di pungkiri hal itu membuatnya geli dan dia hanya mencoba menahannya dengan tetap sibuk menonton TV yang menyiarkan film Romantis Korea.


...Bersambung ...