
sementara Calista dan Basri sedang dinner di rumah mewah Calista. mereka berdua menikmati hidangan makanan dalam diam , hanya dentingan piring dan sendok yang saling bersautan dan bunyi jarum jam yang menghilangkan keheningan diantara mereka .
setelah selesai dinner , Calista dan Basri duduk di ruang tamu dengan rasa kecanggungan . serta keheningan malam diantara mereka berdua , dan sekali - kali Calista maupun Basri curi-curi Pandangan karena rasa yang begitu canggung akibat hubungan mereka .
" kamu sudah keluarkan dari dunia bawah ? " tanya Calista memecahkan keheningan dan kecanggungan
" sudah kulakukan dan sebuah yang berhubungan dengan itu . sudah selesai dan tidak meninggalkan jejak apa pun " jawab Basri sambil menatap Calista dengan rasa yang begitu canggung
" serta Maskar juga ? "
" iya "
Calista dan Basri kembali diam . membuat Calista merasa jengah dan bosan dengan sikap Basri yang hanya diam . sedangkan Basri tak tau harus berkata apa dan dia lebih memilih diam .
" pantas saja wanita yang dia sukai menikah dengan pria lain . dirinya sangat membosankan , tapi dia juga sangat bertanggung jawab dan tak melupakan tugasnya sebagai umat muslim . apa ini karma buat ku ? karena sempat ingin menghancurkan rumah tangga orang ? dan sempat mencintai pria yang salah . sehingga aku jatuh cintai untuk kedua kali padanya yang membosankan . tapi tak apa , aku akan mengajarinya setelah menikah nanti " dalam hati Calista dengan senyuman menatap Basri di hadapannya dengan sebuah meja persegi yang berukuran kecil di tengahnya
" apa yang dia pikirkan ? kenapa tersenyum begitu dengan menatap ku ? apa Calista ingin membuat rencana lagi ? atau ...." dalam hati Basri menatap Calista dengan rasa was-was , sambil tetap menampilkan senyuman semanis mungkin
Calista dan Basri sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing dan langit semakin pekat karena gelap gulitanya malam . serta hanya kesunyian dan keheningan di antara mereka berdua . bahkan ke dua pelayan Calista berbisik-bisik dan merasa merinding melihat seseorang yang berbeda jenis saling bertatapan dalam keheningan di ruang tamu .
" apa kamu akan tetap diam ? apa tak ada yang ingin kamu katakan ? dan tanyakan ? " cecar Calista yang sangat merasa bosan dengan diamnya Basri , bahkan dia sudah melipat keduanya dan menatap Basri dengan kesal
" apa yang harus ku tanyakan ? " Basri balik bertanya pada Calista , membuat Calista mendengus kesal dan kini menatap Basri dengan dingin
" terserah , apa saja " ketus Calista dingin , membuat Basri merasa tegang sendiri . karena Calista merupakan mantan bosnya dan kini berstatus sebagai calon istrinya
Basri tidak menjawab , tapi dia langsung bangkit dari duduknya . kemudian melangkahkan kakinya mendekat kepada Calista dan kini Basri telah duduk di samping Calista . membuat Calista terkejut dengan tingkah Basri yang secara tiba-tiba dan spontan Calista menggeser duduknya . saat Basri telah duduk di sampingnya dengan tetap menampilkan senyum simpul.
" menurut mu ... aku seperti apa ? " tanya Basri pada akhirnya , karena Basri merasa bingung . kenapa Calista memilihnya ? dirinya hanyalah anak miskin dari seorang petani dikampung. membuat Calista gugup mendengar pertanyaan Basri dan bingung harus berkata apa . tapi rasa gugup itu hanya sementara , dia kembali terlihat biasa saja
" apa aku harus menjawabnya ? " Calista balik bertanya sambil menatap wajah Basri yang kini duduk disampingnya
" harus "
" apa sangat penting ? "
" emmm terserah de " ketus Basri pasrah sambil mengalihkan perhatian dari Calista yang notabenenya sikap Calista yang balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan darinya
Calista tersenyum geli melihat wajah kesal Basri , kemudian Calista berinisiatif untuk lebih dekat pada Basri dengan menggeser duduknya dan bahkan kini Calista sudah sangat dekat serta tak ada lagi jarak . membuat Basri sontak mengalihkan perhatiannya kembali pada Calista , sehingga wajah Calista begitu dekat dengannya yang hanya tinggal beberapa senti lagi .
" a..pa yang ka..mu laku..kan ? " tanya Basri terbata-bata menatap mata Calista yang begitu indah di matanya karena wajahnya sangat dekat dengan Calista
" menurut mu ? " tanya Calista balik dengan senyuman di bibirnya yang merah cerry , membuat Basri menelan salivanya dengan susah payak
Calista semakin mendekatkan wajahnya , dan seponstang Basri menutup matanya . membuat Calista tersenyum menatap Basri yang memejamkan matanya .
" apa yang kamu pikirkan ? " bisik Calista di telinga Basri dan Basri dapat merasakan nafas hangat Calista yang menerpa kulitnya . membuat Basri kembali membuka matanya dan melihat Calista tersenyum manis dengan wajah yang begitu dekat
" Calista " ucap Basri dengan suara serak sambil berdiri dari duduknya serta wajah yang memerah karena hasratnya . karena dirinya adalah pria normal , dan tentu saja dia akan tergoda dengan tingkah Calista yang begitu tiba-tiba berubah
" kenapa ? " tanya Calista yang ikut berdiri sambil memegang lengan kiri Basri dengan perasaan terkejut dan heran menjadi satu
" apa kamu tau ? apa yang kamu lakukan sekarang ? " hardik Basri dengan suara pelan , tapi penuh penekanan di setiap katanya
" tentu saja aku tau apa yang ku lakukan , emangnya kenapa ? apa itu salah ? "
" iya itu salah "
" salah ? "
" kita belum ada ikatan atau pun hubungan resmi . aku ini pria normal dan aku bisa saja ..." ujar Basri menjeda Kalimatnya dengan wajah yang masih memerah
" bisa apa ? ! " tanya Calista yang belum mengerti maksud Basri
" katakan ! di mana kamar mandinya ? " sarkas Basri sambil menatap Calista yang berdiri di sampingnya dan Calista dapat melihat wajah Basri yang memerah seakan sedang menahan sesuatu membuatnya merasa cemas . sedangkan Basri tak bisa berpikir jernih , karena dirinya sudah tersulut oleh hasrat . tapi dia mencoba menahannya sekuat mungkin
" kamu kenapa ? apa ada yang sakit ? " cecar Calista sambil menangkup wajah Basri dengan kedua tangannya
" katakan ! dimana kamar mandinya ? " sarkas Basri mengulangi perkataannya dan menghiraukan pertanyaan Calista
" bukankah kamu sudah tau di mana kamar mandi ? iya sudahlah , ikut aku ! " pinta Calista sambil menarik tangan kiri Basri , tapi Basri menepisnya . membuat Calista merasa terkejut , cemas dan sedih menjadi satu melihat serta mendengar Basri . sedih karena Basri tak ingin di sentuh olehnya
Basri pun mengikuti langkah Calista dari belakang , dan kini sampailah mereka berdua di kamar ruang tamu yang di tempati Basri untuk shalat kemarin . Basri langsung masuk kamar mandi , kemudian menutupnya dengan keras . sehingga suara pintu dapat terdengar begitu kuat , membuat Calista terlonjat mendengar suara pintu dan kini Calista memilih untuk duduk di sisi ranjang sambil menunggu Basri keluar dari kamar mandi .
" kenapa Basri begitu ? apa aku melakukan kesalahan ? tapi apa ? " gumam Calista bertanya dengan sikapnya yang terlihat polos dan menatap kosong pintu kamar mandi yang tertutup rapat
selang berapa waktu , Basri pun keluar dengan rambut basah serta baju yang sama . serta handuk kecil di tangannya sambil mencoba mengirimkan rambutnya . Calista yang melihat itu sungguh merasa aneh , aneh karena Basri tadi seperti membentaknya dan ternyata hanya ingin mandi . membuat Calista mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya dan bersikap acuh terhadap Basri .
" kamu melakukan itu pada siapa saja ? " tanya Basri pada akhirnya menatap Calista yang mengacuhkannya
" melakukan apa ? " tanya Calista balik menatap Basri dengan perasaan kesal
" tadi ? yang mana ? "
" mendekat pada ku , saat di sofa ! "
Calista yang mendengar itu langsung memutar otaknya , Kemudian dia tersenyum mengingat hal itu . Basri yang melihat Calista tersenyum-senyum membuatnya mendengus kesal . karena ulah Calista dia harus mandi lagi dengan rasa dinginnya malam .
" sekali lagi jangan lakukan itu , sebelum kita mempunyai ikatan suci . karena hal itu di larang oleh agama , dan aku belum berhak akan diri mu . di saat kita menikah nanti , kita baru bisa melakukan hal yang lebih dari itu " jelas Basri kemudian menampilkan senyum simpul menatap wajah Calista
Calista yang mendengar itu mencoba mencernanya dan saat dia mengerti . dia langsung tertawa dengan menutup mulutnya , Basri yang melihat Calista tertawa mendengus kesal .
" apa yang lucu ? " ketus Basri kesal , membuat Calista mengentikan tawanya dan kemudian kembali manatap wajah Basri yang masih berdiri di hadapannya
" ok , aku mengerti " sahut Calista sambil berdiri dari duduknya , dan langsung melangkahkan keluar kamar tamu . meninggalkan Basri yang diam mematung dengan rasa kesal
" ternyata kamu kurang agama , dan kamu juga punya sikap polos . aku jadi sangat penasaran , apakah masih ada sesuatu yang lain tentang mu ? sesuatu yang belum ku ketahui ? " ujar Basri menatap pintu kamar yang terbuka lebar
Basri pun langsung keluar , setelah dia melempar handuk kecil di ranjang . kemudian dia langsung menyusul Calista di ruang tamu yang sedang bermain ponselnya . kemudian Basri hanya berdiri menatap Calista , Calista yang merasakan kehadiran seseorang yang tak lain adalah Basri yang merupakan calon suaminya . membuatnya menatap Basri yang berdiri di hadapannya dengan dahi yang mengerut bingung .
" ada apa ? " tanya Calista
" ini sudah malam , aku harus pulang . besok pagi aku akan datang seperti biasa " jawab Basri dengan lembut
" emmm baiklah , terserah kamu saja " sahut Calista lembut , walau berat untuk membiarkan Basri pergi . namun , dia dan Basri juga belum punya ikatan tertentu . sehingga dia hanya bisa dekat dengan Basri hanya sebatas ini
" jangan lakukan hal tadi pada pria mana pun , bila kamu melakukan itu pada pria lain . pasti kamu tau apa yang aku lakukan " ucap Basri penuh penekanan dengan Suara lembut
" apa yang akan kamu lakukan ? " tanya Calista yang pura-pura tak tau sambil dirinya berdiri dari duduk dan menampilkan senyumannya manatap Basri
" aku akan pergi dan tak akan pernah kembali . cukup hanya sekali ! "
" baiklah calon suami ku tercinta "
" apa kamu menggoda ku ? "
" emmm ku rasa ... ya "
Basri yang mendengar kejujuran Calista melelui matanya yang indah , membuat hatinya merasa sangat tenang , sedang dan bahagia. setidaknya rasa kehilangan tidak dia dapatkan lagi , dan Calista tersenyum geli melihat wajah Basri . kemudian tiba saja Basri langsung memeluknya dengan ke hangatannya dan Calista langsung membalas pelukan hangat Basri dengan erat . seakan dirinya juga tak ingin merasa kehilangan lagi , cukup hanya orang tuanya yang pergi darinya dan dia tak ingin pria yang ada dalam dekapannya juga pergi meninggalkannya .
" tetaplah bersama ku , jangan pernah pergi dan meninggalkan ku . cukup hanya sekali ... karena hati ku sudah terisi penuh dengan nama mu dan aku sangat mencintaimu Calista . calon istri ku tercinta " tutur Basri lembut dengan tetap memejamkan mata dalam pelukannya yang hangat dengan Calista
" aku tidak akan pernah pergi atau pun meninggalkan mu . karena aku yakin ... aku tak salah memilih mu dan aku juga sangat mencintai mu . tetaplah disisi ku Basri , calon suami mu tercinta " kata Calista yang juga memejamkan mata dengan tetap memeluk erat tubuh kekar Basri
selang beberapa menit mereka berpelukan , Calista dan Basri pun melepaskan pelukannya mereka . kini Calista dan Basri saling bertatapan dengan lekat . kemudian mata Basri turun di bibir ranum milik Calista .
" aku tak sabar ingin merasakan manisnya " kata Basri sambil mengusap lembut bibir Calista dengan ibu jarinya , membuat Calista bersemu merah seperti kepiting rebus di pipinya
" katanya tunggu ada ikatan suci " sahut Calista dengan nada mengejek
" baiklah , kita percepatkan saja pernikahannya . aku sudah tidak sabar ingin merasakan malam yang panjang "
" jika orang tua mu setuju , aku tak masalah "
" kalo begitu besok kita ke kampung ku , bagaimana menurut mu ? "
" setuju "
" bagus , kalo begitu kamu harus siap-siap untuk ku makan " kata Basri dengan menampilkan senyum simpulnya , membuat Calista mendengus mendengar perkataan Basri
" awas saja jika akan sampai kenapa-napa . sekarang pulanglah , ini sudah sangat malam " ujar Calista mengalihkan pembicaraan , karena dia tau . pasti ujung-ujungnya tak akan ada habisnya membicarakan soal pernikahan mereka berdua
" baiklah sayang ku , assalamualaikum "
" emm hati-hati jangan ngebut-ngebut , wa'alaikumsalam "
Basri pun pergi menuju mobilnya yang setia menunggunya di teras depan rumah Calista dan Calista hanya mengantar Basri sampai depan pintu . saat mobi Basri tak terjangkau oleh pandangannya yang telah melewati gerbang rumahnya , Calista langsung masuk ke rumah dengan tak lupa menutup pintu serta menguncinya .
Calista langsung menaiki tangga menuju kamar tidurnya . sesampainya di atas ranjang , Calista tidur dengan posisi terlentang serta tersenyum-senyum menatap langit kamarnya di malam ini yang begitu indahnya . mengingat apa yang terjadi dengan dirinya dan Basri . seperti seorang wanita yang baru pertama kali jatuh cinta . namun , seketika senyumnya pudar , saat mengingat rencana mereka ingin menemui orang tua Basri di kampung halaman .
" semoga orang tua Basri merestui hubungan ku dengan Basri dan tak menolak diri ku untuk hadir di antara mereka . ya ! semoga saja " tutur Calista dengan menyakinkan hatinya dan pikirannya bila dirinya pasti berhasil mendapatkan hati orang tua Basri , agar memberikan restu untuk pernikahannya dengan Basri
Calista terus menatap langit kamar dan perlahan matanya mulai terpejam . sampai akhirnya dia tertidur lelap memasuki mimpi indah di atas ranjangnya yang empu . sedangkan Basri baru saja sampai di apartemennya dan dia langsung menuju kamarnya di lantai dua dengan dirinya tak lupa mengunci pintu utama dan kini Basri sudah berbaring di atas ranjangnya dengan posisi telentang menatap langit kamar dengan senyuman manisnya mengingat hal-hal dirinya dan Calista .
" sungguh ! aku tak sabar . rasanya aku ingin sekali membawanya tadi , ke KUA untuk menjalin hubungan yang lebih serius dan resmi tentunya . tapi aku harus bisa membuat orang tua ku merestui hubungan ku dengan Calista , setelah mendapat restu . aku kan langsung menikahinya tanpa menundah hari lagi " kata Basri dengan perasaan yang begitu menggebu-gebu akan rasa bahagianya karena kehadiran Calista di hidupnya
Basri pun terus menatap langit kamar , membayangkan kehidupan berumah tangga dengan Calista nantinya . terlihat dia tersenyum-senyum , seperti seorang anak remaja yang sedang kasmaran . sampai selang beberapa menit dia pun terlelap tidur memasuki alam mimpi yang indah .
...Bersambung...