
hujan kembali membasahi bumi , terlihat awan dan langit seperti menangis dengan tiap tetesnya air serta kilatan cahaya dan gemuruh yang melanda di atas sana .
Rona yang kala itu tidak mengetahui sebuah kabar yang menggemparkan Jakarta , karena dirinya hanya berdiam diri di dalam kamar . sedangkan orang terdekatnya terlihat cemas , khawatir dan panik menjadi satu .
mama yang kala itu sedang menangis sambil memeluk papa . menumpahkan rasa sesak di dadanya yang melanda , membuat papa hanya bisa memberikan ketenangan dan saling menguatkan . walau sebenarnya papa juga ingin menangisi yang terjadi . namun , papa mencoba untuk menahan air sungai yang sudah menumpuk di kelopak matanya .
" mama harus kuat ini demi Rona , mama harus merahasiakan ini dari Rona . papa akan ke bandara sekarang dan mama tetap di rumah jagain Rona " tutur papa lembut pada mama , kemudian papa menatap ke atas menahan air mata yang ingin jatuh
" tapi...pa .." ucap mama terhenti karena rasa sesak yang melanda hati , membuat mama tak bisa melanjutkan ucapannya
" Uda mama jagain cucu kita dan ingat ! jangan biarkan Rona mengetahui hal ini ? "
" iya papa , papa cepat temukan anak kita . mama takut pa..."
papa pun pergi meninggalkan mama yang masih menangis sambil berdiri . mama hanya bisa menangis dan menangis . memikirkan nasib dan takdir yang di miliki oleh putrinya Rona .
" kenapa hal ini harus terjadi lagi ya Allah , apa .." ucap mama lagi terbata-bata , kemudian mama kembali duduk pada sofa dan menatap layar TV yang masih menyala di sana dengan tangisnya yang tak terhenti
di dalam TV itu menyiarkan sebuah berita yang menggemparkan Jakarta yang memberi duka bagi siapa saja yang memiliki hubungan dengan peristiwa yang di beritakan .
" akibat hujan yang melanda hari ini , sebuah pesawat Air Asia mengalami sebuah masalah yang tiba saja kehilangan kontak dengan pesawat yang lepas landas pada jam 10 : 00 wib siang hari . pesawat Asia mendapatkan kemungkinan terjatuh akibat sabaran petir dan para tim SAR Nasional sedang bergabung untuk menemukan para korban yang terjatuh ...."
Tut !
mama langsung mematikan TV yang menyiarkan berita pesawat yang di tumpangi oleh Vero . mama tak sanggup mendengar apa yang akan di sampaikan oleh seorang wanita reporter TV selanjutnya dan mama hanya menangis tanpa suara . sampai tiba saja terdengar suara yang memanggilnya , membuat Mama terlonjat kaget .
" mama " panggil Rona yang ternyata sudah berdiri di samping sofa
" iya nak , kenapa ? apa kau perlu sesuatu ? " tanya mama sambil berdiri menatap Rona , setelah menghapus dengan kasar air matanya yang telah membasahi pipinya
" mama ko nangis ? " tanya Rona sambil menatap mata mama yang memerah dan pipi yang basah yang masih membekas di wajah mama
" oooo ini , mama tadi nonton film Drakor yang sedih banget . jadinya mama nangis " jawab mama berbohong sambil memamerkan senyumnya pada Rona
" kenapa mama gak aja aku ? aku juga suka nonton film Drakor ma " kata Rona sambil menunjuk wajahnya yang cemberut
" iya de sekali lagi mama aja kamu nonton " tutur mama dengan masih tersenyum semanis mungkin , kemudian mama memeluk Rona . Rona yang di peluk begitu oleh mama hanya tersenyum . kemudian Rona dapat mendengar suara tangis mama lagi membuatnya jadi cemas
" mama "
saat mendengar suara Rona , mama langsung melepaskan pelukannya sebelum Rona merasa curiga dengan sikapnya . Rona pun memperhatikan wajah mama yang basah akibat air mata yang berderai membasahi sang mama .
" Uda jangan nangis lagi dong mama , nanti cantiknya ilang " tutur Rona sambil menghapus sisa air mata mama dengan ibu jarinya
" iya de , mama gak nangis lagi . kalo gitu mama ke kamar dulu ya ? mama mau lihat anak kamu , Uda bangun belum ? dan kamu nak mau apa ? ko keluar kamar ? " cecar mama dengan masih menampilkan senyum paksanya
" Rona bosan di kamar terus , jadi Rona mau ke dapur untuk ambil jus . tapi , pas dengar mama nangis , Rona urungkan de " jelas Rona menjawab pertanyaan mamanya
" ya Uda , kamu nak kembali ke kamar aja . biar mama yang ambilin jus kamu "
" eh , gak usah ma . Rona aja , ya ma ? "
" iya Uda hati - hati ke dapurnya , mama ke kamar dulu "
mama pun pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas tempat keberadaan Rangga dan Anggita . sedangkan Rona melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil jus yang berada di dalam lemari pendinginan .
setelah Rona sudah meminum jus jeruk dalam sebuah gelas kaca . Rona kembali meletakkan gelas kaca di tempat piring kotor . kemudian Rona mengambil sapu dan sekop . sebelum Rona kembali melangkahkan kakinya , Rona memperhatikan sekitarnya terlebih dulu .
" aman " ucap Rona dengan senyuman
Rona pun berjalan menuju kamarnya yang memang ada di lantai bawa . sesampainya Rona di kamar , Rona membersihkan pecahan kaca yang ada dilantai dengan hati-hati .
" kenapa perasaan ku gak tenang gini ? bahkan gelas pun pecah dari tangan ku sendiri " gumam Rona sambil membersihkan sisa kaca
sebenarnya Rona keluar kamar bukan ingin mengambil jus , melainkan ingin mengambil alat untuk membersihkan gelas yang pecah . karena tanpa sengaja gelas putih bening yang ada dalam genggaman terlepas . sehingga gelas yang awalnya Untu , kini sudah menjadi benda yang tak berguna .
Rona keluar kamar membawa sekop yang berisi pecahan kaca menuju tempat sampah yang berada di depan rumah yang berdekatan dengan gerbang rumah . Rona dengan hati-hati melangkah keluar rumah , menebus hujan yang rintih-rintih dan kemudian membuang pecahan kaca di saat dirinya sudah berdiri didekat tempat sampah .
Oek !
Rona langsung muntah setelah menghirup bau yang begitu menyengat Indra penciumannya .
" Nona ! " seru seorang wanita yang di yakini dirinya adalah seorang pelayan , karena terlihat dari seragam yang dia pakai
pelayan wanita itu membantu Nonanya untuk mengeluarkan isi perut dan setelah merasa sudah tak mual lagi . pelayan wanita pun membantu Rona untuk memasuki rumah dan mendudukkan Rona di kursi meja makan yang memang berdekatan dengan dapur .
" teh jahenya di minum dulu Non " titah pelayan wanita itu lagi sambil menyodorkan pada Rona segelas air
" makasih bik Ija " kata Rona sambil mengambil gelas yang ada di tangan pelayan yang bernama bik Ija
" iya , sama - sama Non . tapi Non , ngapain Nona di dekat tempat sampah ? " tanya bik Ija dengan wajah yang terlihat cemas
" tadi aku buang sampah bik " jawab Rona setelah meneguk habis air teh jahe , kemudian meletakkan gelas di atas meja
" lebih tempatnya si buang kaca pecah " dalam hati Rona
" harusnya Non , panggil saya aja "
" Uda bik , aku tak apa-apa ko . aku ke kamar dulu yang bik "
" kalo gitu ...bibi antar aja ya Non ? "
" tak usah bik , aku bisa sendiri ko "
" baiklah Non , tapi nanti bibi antar makanan ya Non ? "
" iya Uda , bibi buatkan soto ayam aja "
Rona pun pergi ke kamarnya , setelah bik Ija mengaguk menyetujui permintaannya . sedangkan bibi kembali ke dapur untuk membuatkan permintaan Rona . di kamar Rona duduk dengan berselonjorkan kakinya dan kembali melamun menatap jendelanya yang di tembus oleh sinar mentari . memikirkan sang suami tercintanya yang belum memberikan kabar sama sekali .
" raja ku di manakah diri mu ? kenapa kau belum memberikan ku kabar ? tolong jangan membuat ku cemas ? disini aku kembali menantikan kehadiran mu dalam pelukan ku ...apa kau tak merindukan ku ? apa kau di sana baik-baik saja ? " tutur Rona dengan beberapa pertanyaan yang tak dapat terjawab oleh sang suami tercintanya yang pergi meninggalkannya dan belum memberikan kabar sama sekali
sementara di bandara Raka , papa , Jeki , Evan , dan Roky sedang sibuk untuk mencari tau keberadaan Vero yang merupakan adik ipar , anak dan sahabat serta seorang suami dan seorang ayah yang semua orang terdekatnya dan tersayangnya telah mengawatirkan ke selamatan Vero .
" apa sudah ada pentunjuk ? " tanya Evan pada Jeki dengan wajah yang terlihat khawatir
" belum ada sama sekali " jawab Jeki dingin
" bang Raka ! " panggil Roky
" iya apa si Rok ? " tanya Raka dengan tatapan tajam dan wajah yang begitu lesu yang terlihat lelah
" waktu Abang kesini ... Abang ada nanya gitu ? letak jatuh pesawatnya ? " cecar Roky pada Raka dan tentunya semua mata menatap ke arah Raka yang duduk di kursi tunggu umum
" belum tau , ini Abang lagi nunggu seseorang " jawab Raka
" seseorang ? siapa bang ? " tanya Evan penasaran sambil tetap menatap Raka
" lihat aja nanti dan sekarang diam . jangan banyak tanya " hardik Raka ketus pada Jeki , Evan dan Roky . sedangkan papa hanya diam mendengarkan saja , karena dirinya juga tak tau harus berbuat apa di usianya sekarang
" nak , bertahanlah . ingat mama , istri mu Rona dan anak-anak mu yang sedang menunggu ke hadiran mu di rumah . mama sangat terluka mendengar kamu telah mendapat musibah seperti ini dan istri belum tau soal ini . tapi cepatlah kembali , mungkin tak lama lagi istri mu akan tau yang sesungguhnya " dalam hati papa dengan tatapan sendu menatap kedepan serta ke dua tapak tangannya saling menyatu menutup hidung dan mulutnya
selang berapa waktu menunggu kabar atau apa pun yang setidaknya akan membantu Mereka untuk menemukan ke beradaan pesawat jatuh yang di tumpangi oleh Vero . seorang pria datang dengan memakai jas setelan berwarna merah maroon , sehingga dirinya terlihat tampang dan menawan .
" wa'alaikumsalam "
" jangan gitu dong wajahnya , jelek tau Raka pra Sanjaya . sahabat cuek ku " ujarnya dengan disambut cingir kuda pada Raka yang menatapnya
" apa yang kau dapatkan ? " tanya Raka to do point' langsung pada sahabatnya yang berdiri di hadapannya
" kau tak pernah berubah " katanya " aku sudah melacak titik terakhir pesawat Air Asia itu aktif , itu berada di atas perairan XXXXXX dan kemungkinan jatuhnya di hutan XXXXXX . tapi .." kata pria itu dan menjeda Kalimatnya
" tapi apa Rio Ferdinand Sinaga ! " seru Raka dingin yang tak sabaran , karena Sahabatnya yang bernama Rio itu menjeda Kalimatnya . Rio yang sudah mengenal lama Raka , yang merupakan Sahabatnya . dirinya sudah tau , bila Raka sudah memanggil nama lengkapnya itu tandanya Raka sudah marah
" tapi untuk selamat sangatlah kecil , di tambah jatuhnya pesawat di hutan XXXXXX dan itu di dekat perairan XXXXXX " lanjut pria tampan yang bernama Rio sahabat Raka
semua yang mendengar itu terduduk lemas , seakan kaki mereka tak dapat menopang tubuh mereka miliki . sama halnya papa yang kini sudah berderai air mata , papa tak dapat menahan air matanya yang sudah beranak sungai di pelupuk mata .
" om " ucap Jeki yang memang dirinya duduk di samping papa sahabatnya itu " harus kuat om " lanjut Jeki sambil mengusap pundak papa sahabat kecilnya
" bagaimana ini Jek ? mamanya sangat mengawatirkannya di rumah dan bahkan istrinya Rona yang sedang ngandung menunggu kehadiran di rumah " tutur papa pada akhirnya mengeluarkan suara hatinya
" Rona tau soal ini om ? " tanya Evan pada papa sahabatnya
" belum tau , papa sengaja meminta mama untuk merahasiakan ini dari Rona " jawab papa sendu
semuanya pun kembali diam , sampai akhirnya beberapa menit Raka kembali berdiri dan menghubungi seseorang .
" siapkan helikopter " bentak Raka pada orang di seberang telpon
" baik pak " jawab orang yang berada di seberang telpon
Tut !
Raka mematikan ponselnya setelahnya dia pergi dari tempat dirinya berdiri tanpa mengatakan apapun pada orang yang bersamanya tadi .
" om , pulanglah . serahkan semuanya pada Allah SWT dan Raka . aku sangat mengenal Raka , bila dia sudah bertindak . maka hal apa pun yang dia kerjakan dan lakukan pasti akan selesai dan pastinya menemukan titik terang " ujar Rio dengan sopan pada papa Vero , agar pria paru baya di hadapannya ini tidak semakin cemas . namun , apa daya hati dan jiwa raga seorang pria paru baya . dirinya hanya bisa mengaguk dengan air mata yang masih berderai membasahi pipi
Jeki pun membantu papa sahabatnya itu berdiri dan disusul yang lainnya untuk pergi ke rumah masing-masing meninggalkan bandara internasional di Jakarta . agar mereka bisa memberikan kabar yang mereka dapat pada seseorang yang menantikan kepulangan mereka di rumah .
sementara di tempat lain , lebih tepatnya dalam mobil . Calista , Lisa , dan Basri baru saja selesai melakukan makan siang mereka dan terlihat waktu sudah menunjukkan jam 2 siang .
" bos , saya mendapatkan info tentang pak Vero " ujar Basri yang memecahkan keheningan dalam mobil
" katakan saja " titah Calista cepat , membuat Basri dan Lisa tersenyum kecut
" pesawat yang di tumpangi oleh pak Vero mengalami peristiwa , pesawatnya jatuh di sekitar perairan XXXXXX . kemungkinannya sangat kecil untuk selamat bos "
Calista dan Lisa yang mendengar kompak merasa terkejut dan hal itu terlihat jelas oleh Basri di wajah mereka melalui kaca spion depan kemudi dan hal itu membuat Basri hanya tersenyum kecut . melihat wajah kedua wanita di belakangnya .
" apa mereka berdua menyukai pria yang sama , pria yang sudah beristri dan bahkan sudah memiliki anak yang menggemaskan . pak Vero kau sangat beruntung , bisa di sukai oleh banyak wanita cantik " dalam hati Basri sambil tatapan matanya kembali menatap ke depan , karena dirinya sedang mengemudikan mobilnya
" apakah sudah berakhir ? " dalam hati Lisa
" secepat ini ? " dalam hati Calista
Calista dan Lisa saling tatap kemudian mereka kembali menatap ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman mereka . mereka sibuk mengotak-gatik ponsel mereka berdua , mencari info soal berita yang mengejutkan mereka berdua . saat mereka sudah mendapatkan berita tersebut dan membacanya . Calista dan Lisa langsung membeku dan mereka tak tau harus berbuat apa dan berkata apa lagi . pria yang mereka sukai dulu di jaman SMA sedang dalam bahaya dan kemungkinannya sangatlah kecil untuk selamat .
" bos " panggil Basri , sehingga membuat Calista dan Lisa mengdongakkan kepala mereka menatap ke Basri yang membelakangi mereka
" sekarang kita akan pergi kemana bos ? " tanya Basri dengan santainya
" pulang " satu kata itu lah yang mampu di ucapkan oleh Calista dan Lisa hanya diam saja
Basri pun langsung menuruti keinginan bosnya . dia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas standar . tak butuh waktu lama mobil pun sampai di depan teras rumah mewah Calista .
Calista dan Lisa langsung turun begitu saja tanpa mengatakan apa pun dan memasuki rumah dengan tergesa-gesa .
" apa kita harus membatalkan rencana ? " tanya Lisa pada akhirnya sambil menatap Calista yang sudah duduk di sopa ruang tamu
" entahlah " jawab Calista singkat
" Calista ! please , bisa tidak . itu kalimat di panjangin sikit aja " ketus Lisa kesal pada sahabatnya
" bila Rona sudah kehilangan Vero , mungkin kita harus membatalkan rencana yang kita buat " ujar Calista sambil menatap Lisa yang berdiri di hadapannya dengan wajah datar
" terserah kamu aja de , kalo gitu aku pulang . by ! "
Lisa pun pergi meninggalkan Calista sendiri di ruang tamu yang duduk diam bersandar pada sopa . Lisa yang sudah pergi dengan motor ke sayangnya , membuat Basri bingung sendiri . sampai akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke rumah menemui bosnya itu .
" bos " panggil Basri saat sudah melihat Calista yang duduk melamun di sopa ruang tamu
" ada apa Bas ? " tanya Calista setelah tersadar mendengar suara Basri
" apa bos baik-baik saja ? "
" emm saya baik "
" apa bos perlu sesuatu ? sebelum saya pergi "
" kau mau kemana ? "
" pulang bos "
" buatkan saya coklat panas "
Basri hanya mengangguk , menuruti perkataan bosnya itu . Basri pergi ke arah dapur , sedangkan Calista berdiri dan pergi menuju kamarnya yang berada di lantai atas untuk membersihkan dirinya yang terasa gerah .
Basri yang sudah selesai membuat coklat panas , dan bersamaan dengan itu Calista menuruni tangga dengan memakai kaos pink dan celana jeans pendek sebatas lutut . membuat Basri mematung melihat penampilan bosnya yang begitu menggemaskan .
" berhenti menatap ku " hardik Calista pada Basri yang kini Calista sudah duduk di kursi meja makan
" maaf bos " sahut Basri dan kembali menunduk kepalanya , tanpa menyadari senyum simpul Calista
" untuk mu mana ? " tanya Calista sambil menatap segelas coklat panas
" saya tak usah bos "
" buatlah untuk mu , dan temani saya "
" tapi bos ..."
" apa kau tuli ! "
Basri pun kembali ke dapur dan membuat satu lagi coklat panas . setelah selesai Basri membuat coklat panas , dia hanya berdiri sambil dengan sedikit-sedikit meneguknya .
" duduk lah ! " seru Calista sambil menatap Basri yang berdiri di dapur
Basri langsung menuruti saja , dan Calista hanya tersenyum menatap Basri yang sejak tadi hanya menunduk dengan terduduk di hadapannya dengan berbatas meja persegi dengan hiasan buah-buahan dalam wadah kaca di tengah meja .
Calista dan Basri hanya diam saling menikmati coklat panas milik mereka berdua . di temani kesunyian yang mereka ciptakan sendiri , serta di temani oleh bunyi jarum jam di rumah mewah Calista .
...Bersambung...