Rona

Rona
Eps. 83



Di sebuah tempat yang di penuhi oleh macam-macam tumbuhan , seperti bunga serta pohon yang terlihat sangat indah seakan seperti berada di sebuah taman bunga dengan sinar mentari yang bercahaya dengan sangat terang dari langit biru dan matahari di atas sana . Seorang pria melangkahkan kakinya dengan kepala yang menoleh ke sana kemari yang seakan sedang mencari sesuatu atau dirinya merasa bingung dengan keberadaannya.


" aku ada di mana ? " tanya pria yang masih melangkah dengan perasaan bingung serta bertanya-tanya


" mas ! Mas Diyan ! " teriak seseorang dengan nada suara wanita


" siapa di sana ? Keluarlah ? Agar aku bisa melihat mu " pria pun ikut berteriak yang ternyata adalah Diyan


Diyan semakin mempercepat langkahnya dengan mengikuti suara yang terus memanggil namanya. Sampai beberapa langkah yang telah jauh , Diyan melihat ada beberapa orang yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.


" Dina " panggil Diyan , saat melihat punggung seorang wanita yang membelakangi dirinya yang berdiri di antara orang-orang yang di lihatnya


" Dina ? Kamu kah itu ? " tanya Diyan dengan tetap berdiri di tempatnya


Segerombolan orang pun membalikkan tubuh mereka. Namun , Diyan tak dapat melihat wajah orang-orang itu. Karena ada sinar cahaya yang seakan sengaja menutupinya. Tapi , Diyan langsung tersenyum melihat seorang wanita yang melangkah ke arahnya dengan senyuman manis yang terukir di wajah cantiknya.


" mas... Kamu dari mana aja ? Aku dari tadi mencari diri mu ? " keluh wanita yang tak lain adalah Dina yang kini Dina sudah berdiri di depan Diyan


" maaf , aku baru bisa menemukan mu di sini " jawab Diyan dan ingin memeluk tubuh ramping sang istri , tapi di hentikan oleh tangan yang berkulit mulus dan putih dan hal itu sungguh membuat Diyan bingung dan terkejut dengan mendapatkan penolakan dari istrinya


" kenapa ? Apa aku tak bisa memeluk diri mu sayang ? " tanya Diyan dengan dahi berkerut dan senyuman tipis di wajah tampannya


" aku mencari mu... Bukan ingin mendapatkan pelukan mu mas Diyan. Aku mencari mu untuk mengucapkan selamat tinggal pada diri mu yang selama ini selalu ada untuk ku " tutur Dina dengan senyuman yang masih terukir sempurna di wajah cantiknya


" maksud mu ? Kamu akan meninggalkan ku sayang ? Kenapa ? Apa aku menyakiti mu lagi ? Ku mohon jangan tinggalin aku sayang , a... Ku.. Sangat menyayangi mu. Aku mohon tetaplah di dekat ku " ujar Diyan dengan perasaan yang sangat kalut mendengar penuturan istri tersayangnya


Dina hanya tersenyum menatap wajah suaminya dan terlihat di sana di mata yang dulu menatapnya tajam dan dingin serta terganti dengan tatapan lembut dan hangat serta ketulusan dan penuh kasih sayang yang kini mata itu telah berkaca-kaca terlihat luka dan rasa takut kehilangan.


" maafkan aku... Aku telah menemukan keluarga ku dan aku memilih mereka dari pada diri mu. Aku sudah menemukan keluarga ku dan aku tak ingin kehilangan mereka lagi. Maafkan aku mas Diyan dan selamat tinggal "


Dina mengatakan itu dengan berjalan mundur dengan senyuman menatap wajah yang terluka di hadapannya. Sedangkan Diyan tak dapat menggerakkan kakinya terasa berat dan kaku yang seakan ada menahan dirinya untuk tetap berdiri di tempatnya.


" Dina... Sayang... Aku mohon kembalilah pada ku. Aku akan turuti semua kemauan mu , tapi ku mohon jangan menjauh dari ku , jangan tinggalkan aku. Aku hampa bila tak ada kamu di dekat ku " tutur Diyan dengan air bening yang telah mengalir dari matanya tanpa mampu di bendung


Kini perasaan Diyan semakin kalut dengan perasaan terluka , takut dan sakit di hatinya. Melihat orang tersayangnya pergi menjauh darinya , meninggalkan dirinya dalam ke terpurukan oleh luka di hatinya. Dunia Diyan semakin ingin runtuh semakin gelap , saat istri tersayangnya telah pergi dengan orang-orang itu.


Langit yang kian cerah dan kini telah mendung serta gemuruh langit yang menggelegar di langit yang tertutupi oleh awan hitam. Seakan semesta tau dengan perasaan hati Diyan yang di landa oleh kesedian di jiwanya serta raganya telah bersimpuh di tanah , seakan tubuhnya tak bertulang sehingga dia hanya bisa bersimpuh dengan lututnya yang menyentuh tanah serta air mata yang tak henti berderai karena di tinggalkan oleh orang terkasihnya.


" Dina " teriak Diyan dengan sangat keras menatap langit gelap yang tertutup awan hitam


Bumi pun akhirnya menangis bersamaan dengan Diyan yang terus menyebutkan nama Dina di mulutnya serta air mata yang berlinangan . Tubuh Diyan telah basah oleh air yang semakin deras membasahi tubuh kekarnya.


" Dina kembalilah... Jangan tinggalkan aku "


Diyan terus berucap dalam tidurnya , Diyan terus bergumam menyebut kalimat itu berulang. Sampai akhirnya Dina bangun karena gangguan dari sang suami yang tertidur di sampingnya dengan posisi tidur terlentang serta air bening yang membasahi sudut matanya. Dina yang melihat wajah suaminya yang terlihat terluka di raut wajahnya dengan mata yang masih terpejam.


" Mas... Mas Diyan " panggil Dina berulang-ulang berusaha membangun suaminya dari alam mimpinya


Diyan pun membuka matanya dan dapat melihat wajah cantik istrinya yang berada di hadapannya. Diyan langsung bangun dan langsung memeluk erat tubuh Dina. Dina yang di peluk dengan tiba-tiba sangat terkejut dan tidak siap dengan perlakuan tiba dari suaminya. Sehingga Dina kembali terbaring di bawah tubuh Diyan dan Diyan tetap memeluk erat istrinya.


Dina membalas pelukan suaminya , mencoba menenangkan dengan mengelus lembut rambut hitam yang berada dalam dekapannya.


" Mas " panggil Dina lembut


" ku mohon jangan tinggalkan aku " ucap Diyan dengan suara bergetar dan tetap memeluk erat tubuh istrinya


" aku tidak akan pernah meninggalkan mu "


Dina hanya bisa diam ketika tak ada lagi suara dari suaminya hanya dekapan hangat dengan penuh kelembutan dengan mencoba menenangkan yang masih terus berlanjut yang Dina dan Diyan lakukan.


" mimpi buruk seperti apa yang membuat mas Diyan terluka seperti ini ? Apakah ada hubungannya dengan ku ? Atau ada hubungan dengan masa lalu ? " dalam hati Dina bertanya-tanya


" syukurlah... Itu hanya mimpi. Dina... aku tidak akan melepaskan mu sayang . Kamu hanya milik ku dan kamu ada hanya untuk ku. Aku tak akan biarkan orang lain atau siapa pun membawa mu dari ku. Aku sangat menyayangimu " dalam hati Diyan


Selang satu jam Dina dan Diyan berpelukan sampai pada akhirnya terlepas oleh Diyan , karena dirinya sudah merasa sangat tenang. Dina kini menatap wajah suami yang sudah kembali seperti biasa tidak ada lagi raut yang menyimpan luka atau pun ketakutan seperti tadi. Namun , posisi ke duanya saling berhadapan dengan saling menatap wajah serta menatap netral mata yang terkunci dengan keadaan Dina yang berbaring terlentang dan Diyan yang terus menatap wajah istrinya.


CUP


Diyan mengecup bibir ranum dan perlahan mengecap rasa di dalamnya. Dina yang awal terkejut dengan mata terbelalak perlahan terpejam menikmati permainan bibir yang di lakukan oleh suaminya dan bahkan tangannya sudah mengusap lembut rambut suaminya.


" morning kiss " ucap Diyan tersenyum manis , setelah melepaskan pungutan bibirnya dan kemudian dia bangkit serta langsung melangkah keluar kamar


Dina terdiam dengan mata yang berkedip dan kemudian duduk dengan menatap kepergian suaminya yang meninggalkan kamarnya.


" Dasar " ucap Dina kesal , karena Diyan menciumnya selalu dengan tiba-tiba dan terus membuat jantungnya berdetak kencan serta tubuhnya yang sudah memegang akibat dari sentuhan yang Diyan lakukan padanya


" tapi... Kenapa tadi rasanya aku sangat ingin lebih ya. Lebih ? Tapi Seperti apa ? " ujar Dina dengan polosnya yang belum mengerti dengan perasaannya yang merasakan aneh saat merasakan ciuman dari suaminya


Dina pun memutuskan untuk segera mandi , saat melihat jam 7 di dinding kamarnya. Dengan cepat Dina mandi dan menyiapkan sarapan pagi kemudian dia melangkah menaiki tangga untuk ke kamar Diyan. Namun , di tengah tangga terlihat suaminya sudah rapi dengan pakaian kemeja biru serta celana panjang berwarna putih.


" ayo sayang , aku sudah rapi " kata Diyan sambil menarik tangan istrinya ketika sudah di dekat Dina


Dina hanya mengaguk dalam diamnya mengikuti langkah suaminya menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama dan kali ini di penuh dengan kehangatan tak ada sikap dingin dan cuek. Membuat Dina sangat senang dan Diyan ikut senang dengan senyuman.


" sayang " panggil Diyan , setelah menyelesaikan makannya dan kini telah menatap wajah istri yang juga selesai makan


" apa mas ? " sahut Dina menatap wajah suaminya


" mulai sekarang kita akan tidur sekamar di kamar atas. Apa kamu keberatan ? " ujar Diyan menatap serius wajah wanita cantik di hadapannya


" baiklah. Aku ikut mau kamu saja dan aku juga mau izin untuk menemui sahabat ku. Bolehkan ? " kata Dina minta persetujuan suaminya setelah menyetujui keinginan suaminya


" boleh , tapi ingat jangan ke tempat itu lagi " pinta Diyan dengan nada lembut tapi tatapan matanya , menatap serius wajah istrinya


" iya aku tidak ke situ lagi. Aku sudah jera dengan kemarahan mu itu " sindir Dina pada suaminya


" uda. Kalo gitu aku berangkat dan kamu harus pulang sebelum aku pulang " pinta Diyan lagi menghiraukan sindiran dari suaminya


Diyan pun berdiri dari duduk di kursinya dan Dina ikut berdiri dari duduknya. Kemudian ke duanya melangkah menuju pintu bersama.


" hati-hati di luar , pulang sebelum diri ku " ujar Diyan lagi mengingat istrinya


Diyan kembali mendekap tubuh ramping Dina dan kemudian mencium kening Dina dengan lembut setelahnya mengecup bibir ranum sang istri tersayangnya. Membuat hati Dina semakin senang dengan perlakuan Diyan yang semakin di luar dugaannya. Dina pun mengecup punggung tangan suaminya dan kemudian melambaikan tangannya dengan Diyan yang sudah berjalan mundur menuju mobilnya.


Setelah kepergian Diyan , Dina pun kembali menuju dapur untuk membersihkan peralatan makanan dan Dapur. Kemudian dia lanjutkan membersihkan setiap sudut rumah , karena sudah dua hari rumahnya belum dia bersihkan. Setelah tugas rumah selesai , Dina kembali menuju kamar untuk berganti baju dan kemudian pergi meninggalkan rumah dengan sudah dia mengunci pintunya.


Dalam perjalanan Dina hanya mendengar musik di radio mobilnya. Selang beberapa menit dia menghentikan mobilnya di parkiran restoran. Kemudian dia melangkah meninggalkan parkiran dan memasuki restoran mewah. Dapat Dina melihat , bila sudah ada ke dua sahabatnya yang menunggu dirinya dan tentunya dia serta sahabatnya sudah janjian lewat telpon tadi di rumah.


" sorry " satu kata terucap dari bibir merah Dina dengan senyuman menatap sahabatnya dan langsung duduk di sofa di antara ke dua teman


" is okay Dina gue tersayang " sahut Gita dengan memeluk Dina dan di ikuti oleh Mila dengan senyuman senang menyambut sahabat tersayang


" gimana hubungan Lo dengan si kutup es ? " tanya Mila kepo setelah melepaskan pelukannya dan kembali duduk di samping Dina


" dan... Jangan - jangan Lo udah melakukan itu bersama suami kutup es Lo ? " timbal Gita yang ikut kepo dengan sahabatnya dan tanpa sengaja Gita dapat melihat kiss mar di leher Dina berwarna merah yang terlihat sudah mau pudar


" kali ini gue sungguh tak menduga dengan perubahan dirinya semenjak malam itu. Dia jadi lembut dan hangat kepada gue dan sepertinya mas Diyan jadi mulai posesif " jawab Dina dengan senyuman senang membayangkan yang terjadi selama belakangan hari ini. Namun , seketika senyum hilang ketika mengingat Kevin mantan kekasihnya dan Firna teman kuliah suaminya yang menyimpan perasaan untuk suaminya


" Din ? Kenapa lagi ? apa ada masalah lagi kah ? " cecar Gita melihat wajah sahabatnya yang tadi senyum kini mala terlihat sedih dan kesal


" ada. Mantan Gue dan Firna teman kuliah mas Diyan "


" ooo itu rintangan Lo . Aku tak punya solusi " sahut Mila dengan wajah polosnya


" mantan Lo ? Emang kenapa ? " timbal Gita bingung menatap Dina


" kemarin gue dan mas Diyan ke bandung selama dua hari untuk liburan. Kata mas Diyan kan cuma liburan dan saat di sana dia mala bernostalgia "


" terus ? " potong Mila cepat membuat Dina dan Gita gemas sendiri


" Mila diam dong " ketus Gita " lanjutkan Din ! " pinta Gita menatap kembali Dina


" mas Diyan mengatakan pada gue ... untuk memulai rumah tangga bersama dan dia menerima gue jadi istrinya serta dia juga belajar ingin mencintai gue dan bahkan dia sujud di hadapan gue hanya untuk mengatakan hal itu. Terus dia memakaikan gue sebuah kalung dengan berbandul huruf D dan gue membuat syarat untuk melihat kesungguhannya. Syarat Gue hanya usahanya dalam satu bulan untuk melakukan apa yang telah di katakan dan sebenar gue memberikan syarat itu untuk membalas dia selama 6 bulan ini "


" O em Ji ! Dina Lo kasih pelet apa tu si kutup es ! " seru Mila memotong cerita Dina


" Diam " ucap Dina dan Gita serentak dengan menatap tajam sahabatnya yang tingkat keponya sangat tinggi , membuat Mila tersenyum kikuk


" okey . Gue diam " celutuk Mila sambil tangannya seperti memutar kunci di bibirnya untuk tertutup rapat. Dina pun kembali menarik nafas untuk melanjutkan ceritanya


" ke esokan paginya gue dan Mas Diyan tanpa sengaja bertemu Kevin mantan pacar gue di pinggir jalan tempat jualan bubur ayam yang kami sedang sarapan. Di situ , Diyan mulai keluar sifat dinginnya dan bahkan tangan gue langsung di tariknya dan Kevin juga menarik tangan gue satunya. Kemudian mas Diyan entah mengapa dia melepaskan tangan gue dan membiarkan Kevin berbicara pada gue . Karena pertemuan dengan Kevin , mas Diyan langsung mendiamkan gue sepanjang pulang ke jakarta sampai dia langsung membawa gue ke pantai dan ketika malamnya wanita gatal yang bernama Firna tu bertemu dengan mas Diyan dan gue . Karena itu aku dan mas Diyan tak jadi menginap di pondok dan memilih pulang ke rumah " ujar Dina menyelesaikan ceritanya panjang lebar


Gita dan Mila terdiam dan berusaha mencerna ke pikiran mereka. Memahami dan mengerti dari cerita Dina. Kemudian beberapa menit terdiam , Gita pun tersenyum setelah mengerti dengan cerita sahabatnya.


" jadi kalian berdua bulan madu dan di tengah bulan madu kalian berdua ada orang dari masa lalu yang merusak kebahagiaan Lo dengan suami kutup es Lo " ujar Gita dengan tersenyum bahagia , karena keinginan sahabatnya sudah terkabulkan. Yaitu menjalin rumah tangga seperti suami istri pada umumnya


" iya begitu de , gue takut jika Kevin atau Firna mencoba merusak rumah tangga gue yang sudah menghangat dan bahkan aku sudah sangat bahagia dengan perubahan mas Diyan " keluh Dina pada sahabatnya


" kamu tenang saja Dina gue tersayang. Serahkan saja pada sahabat Lo ini. Jika suatu hari orang itu datang... Kami yang akan bertindak. Iya Gak Git ? " ujar Mila yang kini kembali bersuara lagi


" pastinya dong. Bila nanti si mantan Lo itu datang. Gue Gita Wirjawan yang akan maju dan membuat dia mencintai gue . Agar rumah tangga Lo dan si kutup es selamat " celoteh Gita dengan di sambut tawa garing dari sahabatnya


" PD bangat " sahut Mila


" Narsis " timbal Dina


" biarin " ketus Gita dan ikut tertawa garing bersama sahabatnya


" eh Din ? Kamu belum jawab pertanyaan gue tadi " kata Gita ketika menghentikan tawanya dan kemudian menatap Dina


" pertanyaan yang mana Git ? " tanya Dina dengan mengeryitkan keningnya


" Lo... Uda lakukan itu kan dengan sekutup es ? " tanya Gita balik dengan masih menatap wajah sahabatnya


" lakukan apa ? "


" jangan ngelah . Plis cerita dong gimana rasanya? "


" rasa apa ? " tanya Dina lagi yang masih merasa bingung dengan pertanyaan sahabatnya


" tanda merah di leher Lo itu apa ? Jika bukan karena sudah berbuat begituan " sunggut Gita kesal dengan kepolosan sahabatnya


" a... Anu.. Ini... " ucap Dina malu sambil menutupi lehernya dengan kedua tangannya yang terdapat kiss mar dengan warna merah


" Dina " ketus Gita yang mulai tak sabaran


" huuuu. Ini kemarin malam dan Gue sama mas Diyan baru sebatas bibir " kata Dina pada akhirnya dan baru menyadari bila suaminya telah meninggal tanda kepemilikan dilihatnya , saat mendengar perkataan sahabatnya yang membuatnya sangat malu . Membuat Gita dan Mila menatap tak percaya pada sahabatnya


" cuma sebatas bibir aja ? " tanya Mila menatap Dina dengan tak percaya


" emang Lo gak ingin merasakan surga duniawi ? " timbal Gita yang kesal dengan sikap kepolosan sahabatnya


" surga duniawi ? Maksudnya gimana si ? Emang kenapa hanya sebatas bibir ? " cecar Dina dengan wajah bingungnya


" Lo ini polos bangat ya ? Coba lihat Google dan Ketik di situ ! hubungan suami istri " ujar Gita memberitahu pada sahabatnya


Dina pun langsung menuruti perkataan sahabatnya dan saat membaca beberapa kalimat yang ada di layar benda pipi di tangannya. Seketika pipinya langsung merah melihat beberapa gambar dan tubuhnya seakan menegang hanya melihat saja.


" bagaimana jika melakukannya ? Melihat ini saja aku sudah menegang. Apa rasa nya.... Dina sadar-sadar " dalam hati Dina dengan pikirannya yang sudah mulai berpikiran negatif


Gita dan Mila pun tersenyum geli melihat wajah merah padam sahabat mereka yang masih saja menatap benda pipi yang ada di tapak tangannya Dina.


" uda jangan di bayangin " kata Mila dan langsung membuyarkan lamunannya Dina. Seketika Dina langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya


" nanti ceritain kalo uda ya Din dan sekarang kita makan dulu. Gue uda lapar ni " sahut Gita dengan terkekeh geli melihat wajah merah sahabatnya yang sedang menahan rasa malu


Dina hanya diam mendengar ledekan dari sahabatnya. Mereka bertiga pun memulai memesan makanan , karena semenjak ke datangan Dina tadi mereka belum memesan makanan. Karena mereka lebih dulu bercerita dengan mendengarkan cerita sahabat mereka dan hal itu sudah menjadi ke biasaan mereka bertiga semenjak kuliah bersama.


Hari kala di siang , Dina bersama sahabatnya hanya menghabiskan waktu di restoran mewah saling curhat tanpa ada yang di tutup. Dina sungguh sangat senang memiliki sahabat seperti Gita dan Mila yang selalu mau mendengar keluh kesahnya serta sebaliknya pun berbegitu. Sehingga jika mereka memiliki masalah , akan memberikan solusi , saran dan terkadang ditengah pembicaraan mereka bertiga di selingi tawa dan senyuman yang terukir manis di wajah cantik mereka bertiga.


...Bersambung...